Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Parepare
Ancaman Bahaya dari Sampah Plastik

Ancaman Bahaya dari Sampah Plastik

Rimadhani Salsabilla Fadhilah
Rabu, 13 September 2023 |   2910 kali

Ketergantungan pakai plastik?

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada satu benda yang dapat mempermudah aktifitas hidup kita namun memiliki ancaman bahaya yang sangat besar bagi lingkungan. Benda tersebut tahan air, sangat mudah digunakan, sangat ringan untuk dibawa, memiliki berbagai macam ukuran, dan berbagai kemudahan lainnya. Tapi begitulah manusia setiap diberi berbagai macam kemudahan timbulah rasa menyepelekan dan meremehkan. Tidak peduli apakah barang tersebut memiliki pengaruh buruk bagi lingkungan jika dikelola dengan tidak baik. Apalagi di zaman modern ini, manusia dituntut untuk menjadi pribadi yang praktis, tidak ribet. Pergi ke warung membeli 1 butir telur saja pakai plastik, membeli makanan dengan wadah styrofoam dan dibungkus dengan kantong plastik lagi. Sudah berapa yang dihabiskan 1 orang dalam 1 hari dalam pemakaian plastik?

Pengelolaan Sampah di Indonesia Masih Buruk

Pengelolaan sampah plastik di Indonesia tidak bisa jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja, katakan saja disini pemerintah. Mau regulasi sekuat apapun dikeluarkan, jika kebiasaan masyarakat terhadap sampah plastik masih minim, sungguh permasalahan sampah plastik tidak akan terselesaikan. Jumlah produksi dan konsumsi plastik yang meningkat, tidak dibarengi dengan proses daur ulang yang memadai. Ini menjadi tantangan utama bagi pengelolaan sampah di Indonesia. Masih banyak daerah di Indonesia yang belum menyediakan paling tidak tempat sampah ditempat umum. Tempat sampah yang ideal adalah tempat sampah yang mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik, anorganik, serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Dikutip dari portal website milik Pemerintah Kota Surakarta, pengertian dari sampah organik adalah sampah yang dikategorikan bisa membusuk atau terurai dengan sendirinya. Sampah jenis ini terdiri dari bahan basah yang tidak tahan lama dan cepat membusuk. Biasanya, sampah organik berasal dari sisa makanan, daun kering, sayuran, kotoran hewan, dan masih banyak lainnya. Sampah organik dikatakan sebagai sampah ramah lingkungan dan dapat bermanfaat untuk bahan pembuatan pupuk tanaman, seperti pupuk kompos dan pupuk kandang. Umumnya, jenis sampah organik ditandai dengan tempat sampah yang berwarna hijau. Sementara, sampah anorganik diartikan sebagai bahan tidak terpakai yang sukar membusuk. Misalnya, botol kaca, plastik kemasan, kaleng bekas, besi berkarat, dan lain sebagainya. Apabila tertimbun di tanah dalam waktu yang lama, berpotensi menyebabkan kerusakan unsur-unsur tanah tersebut. Sehingga, hewan atau tumbuhan yang notabene bertempat tinggal di dalam tanah, lama-kelamaan akan hilang. Hal ini memicu terjadinya lapisan tanah yang gersang, bahkan tidak subur. Selain itu, klasifikasi sampah yang lain, yakni sampah dari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Jenis sampah B3 diantaranya cairan pembersih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilap kayu, pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembasmi serangga, batu baterai, dan lain-lain. B3 merupakan sampah yang mengandung zat beracun, oleh karena itu sampah jenis ini sangat berbahaya dan secara langsung maupun tidak dapat merusak kesehatan dan lingkungan.

Akibat dari tidak adanya pemilahan sampah yang baik akan berimbas kepada pengelolaan sampah itu sendiri. Produsen atau industri yang membutuhkan bahan sampah plastik untuk menjalankan bisnisnya pun harus rela melakukan impor sampah plastik dari luar negeri yang notabene memiliki pengelolaan sampah yang lebih baik. Pengelolaan yang lebih terstruktur dan memperhatikan jenis-jenis sampah yang akan dibuang. Karena beda jenis sampah akan berbeda pula penanganannya. Hal ini akan berimbas makin banyaknya sampah yang masih menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau bahkan berserakan di lingkungan, dan lebih parah lagi akan berakhir di lautan.

Mulai dari diri sendiri

Perubahan yang besar bermula dari hal-hal kecil. Mulai rubah kebiasaan buruk dengan melihat konsekuensi jangka panjangnya. Kita sebagai manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal dan pikiran. Akal yang sehat akan dengan mudah membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Perilaku buruk yang mana dianggap remeh oleh banyak orang (re: buang sampah sembarangan) jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan berakibat fatal. Kondisi tempat tinggal kita saat ini (re: bumi) sudah memprihatinkan. Suhu yang kian naik, perubahan iklim yang tidak terkendali, gejala global warming yang makin menjadi. Jangan menjadi makhluk yang egois. Bagaimana kelangsungan hidup generasi yang akan datang jika keadaan bumi makin tidak layak untuk dihuni?

Mulai dari diri sendiri, membuang sampah pada tempatnya. Jika tidak menemukan tempat sampah ditempat umum, simpanlah dulu atau masukkan disaku celana. Jangan membuang sampah sembarangan hanya karena dalih belum menemukan tempat sampah. Kurangi pemakaian plastik sekali pakai, mulai beralih pada kantong/wadah dengan bahan yang lebih ramah lingkungan misalnya paper bag dan tas kain. Dapat digunakan berulang kali dan tentunya ramah lingkungan. Sebagai pegawai ASN yang melakukan pekerjaan secara WFO, dapat mengurangi pemakaian air minum kemasan dan beralih menggunakan botol tumbler yang dapat diisi ulang. Selain itu, mulailah untuk tidak menggunakan kembali sedotan plastik, disamping bahan dasarnya yang tidak dapat terurai secara hayati, sedotan plastik dapat secara tidak sengaja hanyut terbawa ke laut dapat mencemari dan menganggu habitat makhuk hidup disana. Hal lain yang dapat dilakukan adalah menghindari membeli makanan dan minuman kemasan plastik. Usahakan untuk tidak membeli produk dalam kemasan sachet, namun belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah. Ayo, mulai dari diri kita sendiri, orang-orang disekitar kita dan masyarakat luas dapat bergerak menciptakan lingkungan hidup yang lebih layak untuk dihuni!

Ditulis oleh: Rimadhani Salsabilla Fadhilah (Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Parepare)

Referensi:

https://surakarta.go.id/?p=24210

https://dlh.semarangkota.go.id/solusi-asyik-kurangi-sampah-plastik/

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon