Ancaman Bahaya dari Sampah Plastik
Rimadhani Salsabilla Fadhilah
Rabu, 13 September 2023 |
2910 kali

Ketergantungan
pakai plastik?
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada satu benda yang dapat
mempermudah aktifitas hidup kita namun memiliki ancaman bahaya yang sangat
besar bagi lingkungan. Benda tersebut tahan air, sangat mudah digunakan, sangat
ringan untuk dibawa, memiliki berbagai macam ukuran, dan berbagai kemudahan
lainnya. Tapi begitulah manusia setiap diberi berbagai macam kemudahan timbulah
rasa menyepelekan dan meremehkan. Tidak peduli apakah barang tersebut memiliki
pengaruh buruk bagi lingkungan jika dikelola dengan tidak baik. Apalagi di
zaman modern ini, manusia dituntut untuk menjadi pribadi yang praktis, tidak
ribet. Pergi ke warung membeli 1 butir telur saja pakai plastik, membeli
makanan dengan wadah styrofoam dan dibungkus dengan kantong plastik lagi. Sudah
berapa yang dihabiskan 1 orang dalam 1 hari dalam pemakaian plastik?
Pengelolaan
Sampah di Indonesia Masih Buruk
Pengelolaan sampah plastik di Indonesia tidak bisa
jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja, katakan saja disini
pemerintah. Mau regulasi sekuat apapun dikeluarkan, jika kebiasaan masyarakat
terhadap sampah plastik masih minim, sungguh permasalahan sampah plastik tidak
akan terselesaikan. Jumlah
produksi dan konsumsi plastik yang meningkat, tidak dibarengi dengan
proses daur
ulang yang memadai. Ini menjadi tantangan
utama bagi pengelolaan sampah di
Indonesia. Masih banyak daerah di Indonesia yang belum
menyediakan paling tidak tempat sampah ditempat umum. Tempat sampah yang ideal
adalah tempat sampah yang mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik, anorganik,
serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Dikutip dari portal website milik Pemerintah Kota
Surakarta,
pengertian dari sampah organik adalah sampah yang dikategorikan bisa membusuk
atau terurai dengan sendirinya. Sampah jenis ini terdiri dari bahan basah yang
tidak tahan lama dan cepat membusuk. Biasanya, sampah organik berasal dari sisa
makanan, daun kering, sayuran, kotoran hewan, dan masih banyak lainnya. Sampah
organik dikatakan sebagai sampah ramah lingkungan dan dapat bermanfaat untuk
bahan pembuatan pupuk tanaman, seperti pupuk kompos dan pupuk kandang. Umumnya,
jenis sampah organik ditandai dengan tempat sampah yang berwarna hijau. Sementara,
sampah anorganik diartikan sebagai bahan tidak terpakai yang sukar membusuk.
Misalnya, botol kaca, plastik kemasan, kaleng bekas, besi berkarat, dan lain
sebagainya. Apabila tertimbun di tanah dalam waktu yang lama, berpotensi
menyebabkan kerusakan unsur-unsur tanah tersebut. Sehingga, hewan atau tumbuhan
yang notabene bertempat tinggal di dalam tanah, lama-kelamaan akan hilang. Hal
ini memicu terjadinya lapisan tanah yang gersang, bahkan tidak subur. Selain
itu, klasifikasi sampah yang lain, yakni sampah dari Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3). Jenis sampah B3 diantaranya cairan pembersih kaca/jendela,
pembersih lantai, pengkilap kayu, pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen
pakaian, pembasmi serangga, batu baterai, dan lain-lain. B3 merupakan sampah
yang mengandung zat beracun, oleh karena itu sampah jenis ini sangat berbahaya
dan secara langsung maupun tidak dapat merusak kesehatan dan lingkungan.
Akibat dari tidak adanya pemilahan sampah yang baik
akan berimbas kepada pengelolaan sampah itu sendiri. Produsen atau industri
yang membutuhkan bahan sampah plastik untuk menjalankan bisnisnya pun harus
rela melakukan impor sampah plastik dari luar negeri yang notabene memiliki
pengelolaan sampah yang lebih baik. Pengelolaan yang lebih terstruktur dan
memperhatikan jenis-jenis sampah yang akan dibuang. Karena beda jenis sampah
akan berbeda pula penanganannya. Hal ini akan berimbas makin banyaknya sampah
yang masih menggunung di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) atau bahkan berserakan di lingkungan, dan lebih parah
lagi akan berakhir di lautan.
Mulai dari diri
sendiri
Perubahan yang besar bermula dari hal-hal kecil. Mulai
rubah kebiasaan buruk dengan melihat konsekuensi jangka panjangnya. Kita
sebagai manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal dan pikiran. Akal
yang sehat akan dengan mudah membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Perilaku buruk yang mana dianggap remeh oleh banyak orang (re: buang sampah
sembarangan) jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan
berakibat fatal. Kondisi tempat tinggal kita saat ini (re: bumi) sudah
memprihatinkan. Suhu yang kian naik, perubahan iklim yang tidak terkendali,
gejala global warming yang makin
menjadi. Jangan menjadi makhluk yang egois. Bagaimana kelangsungan hidup
generasi yang akan datang jika keadaan bumi makin tidak layak untuk dihuni?
Mulai dari diri sendiri, membuang sampah pada
tempatnya. Jika tidak menemukan tempat sampah ditempat umum, simpanlah dulu
atau masukkan disaku celana. Jangan membuang sampah sembarangan hanya karena
dalih belum menemukan tempat sampah. Kurangi pemakaian plastik sekali pakai,
mulai beralih pada kantong/wadah dengan bahan yang lebih ramah lingkungan
misalnya paper bag dan tas kain. Dapat digunakan berulang kali dan tentunya
ramah lingkungan. Sebagai pegawai ASN yang melakukan pekerjaan secara WFO,
dapat mengurangi pemakaian air minum kemasan dan beralih menggunakan botol
tumbler yang dapat diisi ulang. Selain itu, mulailah untuk tidak menggunakan
kembali sedotan plastik, disamping bahan dasarnya yang tidak dapat terurai
secara hayati, sedotan plastik dapat secara tidak sengaja hanyut terbawa ke
laut dapat mencemari dan menganggu habitat makhuk hidup disana. Hal lain yang
dapat dilakukan adalah menghindari membeli makanan dan minuman kemasan plastik. Usahakan untuk tidak membeli produk
dalam kemasan sachet, namun belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk
mengurangi sampah. Ayo, mulai dari diri kita sendiri, orang-orang
disekitar kita dan masyarakat luas dapat bergerak menciptakan lingkungan hidup
yang lebih layak untuk dihuni!
Ditulis oleh: Rimadhani Salsabilla Fadhilah (Pelaksana Seksi Hukum dan
Informasi KPKNL Parepare)
Referensi:
https://surakarta.go.id/?p=24210
https://dlh.semarangkota.go.id/solusi-asyik-kurangi-sampah-plastik/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel