Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Pangkal Pinang
Langka! Dua Perayaan Agama Terjadi Bersamaan, Tapi Suasananya Bikin Haru

Langka! Dua Perayaan Agama Terjadi Bersamaan, Tapi Suasananya Bikin Haru

Dendy Yuhartono
Rabu, 09 April 2025 |   472 kali

Tahun 2025 menjadi momen istimewa di Pangkalpinang karena Ceng Beng dan Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah jatuh berdekatan waktunya. Dalam suasana penuh sukacita dan kekhusyukan, dua tradisi besar—satu dari budaya Tionghoa dan satu dari umat Muslim—berlangsung hampir bersamaan dan justru memperlihatkan betapa eratnya toleransi di kota ini.

Masyarakat Tionghoa yang melaksanakan ziarah makam tetap memberi ruang dan menghormati kegiatan umat Muslim yang sedang mempersiapkan dan merayakan Idulfitri. Begitu pula sebaliknya, umat Muslim turut menghargai perayaan Ceng Beng. Banyak kisah hangat terjadi, mulai dari warga Muslim yang membantu mengatur lalu lintas di area pemakaman Tionghoa, hingga warga Tionghoa yang mengirimkan bingkisan lebaran untuk tetangga Muslim mereka.

Di beberapa lingkungan, terlihat pemandangan warga yang berbeda keyakinan saling mengucapkan selamat, saling berbagi makanan, dan bahkan saling menjaga ketertiban bersama. Ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan budaya dan agama bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan kekayaan yang saling melengkapi.

Ceng Beng atau Qing Ming Festival, yang secara harfiah berarti "jernih dan terang", adalah hari ziarah makam dalam tradisi Tionghoa yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun. Perayaan ini biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April, saat musim semi tiba di Tiongkok. Di Indonesia, termasuk di Pangkalpinang, perayaan ini tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari budaya Tionghoa meskipun jauh dari negeri asalnya.

Tradisi ini melambangkan rasa bakti kepada orang tua dan leluhur, serta menjadi waktu untuk merefleksikan nilai-nilai kehidupan, mengenang jasa pendahulu, dan menjaga harmoni keluarga.

Di Pangkalpinang, upacara Ceng Beng dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Keluarga-keluarga Tionghoa akan bersama-sama mengunjungi makam leluhur mereka, membersihkan area makam, menabur bunga, dan membakar dupa sebagai bentuk penghormatan. Tidak jarang mereka juga membawa makanan kesukaan leluhur, serta membakar uang kertas (kertas sembahyang) dan replika barang-barang kebutuhan sebagai simbol persembahan di alam baka.

Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi saat Ceng Beng adalah komplek pemakaman Tionghoa di kawasan Air Itam dan Girimaya. Sejak pagi hari, suasana makam dipenuhi oleh keluarga yang datang dengan pakaian rapi, membawa perlengkapan sembahyang dan bunga segar.

Tradisi Ceng Beng tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial di masyarakat Pangkalpinang. Banyak generasi muda yang ikut serta, belajar tentang silsilah keluarga dan pentingnya menjaga hubungan dengan leluhur. Di sisi lain, Ceng Beng juga memperlihatkan keragaman budaya yang harmonis, apalagi ketika berlangsung berdampingan dengan hari raya besar umat Islam.

Organisasi budaya dan tokoh masyarakat dari lintas agama pun aktif mengampanyekan pentingnya toleransi dan penghormatan lintas tradisi. Pemerintah kota juga memberi dukungan logistik dan keamanan agar seluruh perayaan berjalan lancar dan damai.

Upacara Ceng Beng dan perayaan Idulfitri di tahun 2025 memperlihatkan wajah Pangkalpinang sebagai kota dengan semangat toleransi yang tinggi. Tradisi leluhur dan keimanan umat dapat berjalan beriringan, saling menghormati dalam suasana damai. Ini adalah contoh nyata bahwa keragaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis dan saling menghargai. 

(WDP/DY)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon