Langka! Dua Perayaan Agama Terjadi Bersamaan, Tapi Suasananya Bikin Haru
Dendy Yuhartono
Rabu, 09 April 2025 |
472 kali
Tahun 2025 menjadi momen
istimewa di Pangkalpinang karena Ceng Beng dan Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah
jatuh berdekatan waktunya. Dalam suasana penuh sukacita dan kekhusyukan, dua
tradisi besar—satu dari budaya Tionghoa dan satu dari umat Muslim—berlangsung
hampir bersamaan dan justru memperlihatkan betapa eratnya toleransi di kota
ini.
Masyarakat Tionghoa yang
melaksanakan ziarah makam tetap memberi ruang dan menghormati kegiatan umat
Muslim yang sedang mempersiapkan dan merayakan Idulfitri. Begitu pula
sebaliknya, umat Muslim turut menghargai perayaan Ceng Beng. Banyak kisah
hangat terjadi, mulai dari warga Muslim yang membantu mengatur lalu lintas di
area pemakaman Tionghoa, hingga warga Tionghoa yang mengirimkan bingkisan
lebaran untuk tetangga Muslim mereka.
Di beberapa lingkungan,
terlihat pemandangan warga yang berbeda keyakinan saling mengucapkan selamat,
saling berbagi makanan, dan bahkan saling menjaga ketertiban bersama. Ini
menjadi bukti nyata bahwa perbedaan budaya dan agama bukanlah penghalang untuk
hidup berdampingan, melainkan kekayaan yang saling melengkapi.
Ceng Beng atau Qing Ming
Festival, yang secara harfiah berarti "jernih dan terang", adalah
hari ziarah makam dalam tradisi Tionghoa yang telah dipraktikkan selama ribuan
tahun. Perayaan ini biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April, saat musim semi
tiba di Tiongkok. Di Indonesia, termasuk di Pangkalpinang, perayaan ini tetap
dipertahankan sebagai bagian penting dari budaya Tionghoa meskipun jauh dari
negeri asalnya.
Tradisi ini melambangkan rasa
bakti kepada orang tua dan leluhur, serta menjadi waktu untuk merefleksikan
nilai-nilai kehidupan, mengenang jasa pendahulu, dan menjaga harmoni keluarga.
Di Pangkalpinang, upacara Ceng
Beng dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Keluarga-keluarga Tionghoa akan
bersama-sama mengunjungi makam leluhur mereka, membersihkan area makam, menabur
bunga, dan membakar dupa sebagai bentuk penghormatan. Tidak jarang mereka juga
membawa makanan kesukaan leluhur, serta membakar uang kertas (kertas
sembahyang) dan replika barang-barang kebutuhan sebagai simbol persembahan di
alam baka.
Salah satu lokasi yang ramai
dikunjungi saat Ceng Beng adalah komplek pemakaman Tionghoa di kawasan Air Itam
dan Girimaya. Sejak pagi hari, suasana makam dipenuhi oleh keluarga yang datang
dengan pakaian rapi, membawa perlengkapan sembahyang dan bunga segar.
Tradisi Ceng Beng tidak hanya
bermakna spiritual, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial di masyarakat
Pangkalpinang. Banyak generasi muda yang ikut serta, belajar tentang silsilah
keluarga dan pentingnya menjaga hubungan dengan leluhur. Di sisi lain, Ceng
Beng juga memperlihatkan keragaman budaya yang harmonis, apalagi ketika
berlangsung berdampingan dengan hari raya besar umat Islam.
Organisasi budaya dan tokoh
masyarakat dari lintas agama pun aktif mengampanyekan pentingnya toleransi dan
penghormatan lintas tradisi. Pemerintah kota juga memberi dukungan logistik dan
keamanan agar seluruh perayaan berjalan lancar dan damai.
Upacara Ceng Beng dan perayaan Idulfitri di tahun 2025 memperlihatkan wajah Pangkalpinang sebagai kota dengan semangat toleransi yang tinggi. Tradisi leluhur dan keimanan umat dapat berjalan beriringan, saling menghormati dalam suasana damai. Ini adalah contoh nyata bahwa keragaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.
(WDP/DY)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |