KULAT PELAWAN, JAMUR UNIK KHAS BANGKA BELITUNG
Wahyu Dwi Prasetya
Jum'at, 27 Desember 2024 |
6654 kali
Jamur atau yang dikenal dalam bahasa latin fungi telah
lama digunakan oleh manusia sebagai makanan sejak 3000 tahun lalu. Di Mesir,
jamur merupakan makanan khusus raja, lalu berkembang menjadi makanan umum
karena rasanya yang enak. Di Cina jamur sendiri juga digunakan sebagai bahan
obat-obatan sejak 2000 tahun lalu. Di Indonesia sendiri jamur mulai masuk dan
dikenal masyarakat luas sejak tahun 1970.
Jamur merupakan organisme yang termasuk dalam kingdom
fungi dan tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan
sendiri untuk berfotosintesis, jamur dapat tumbuh dengan di batang kayu atau
tumpukan sampah organik. Tubuh buah jamur tersusun dari komponen dasar yang
disebut hifa. Hifa merupakan struktur menyerupai benang tersusun membentuk
jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi
tubuh buah (Wijaya, 2014). Kekayaan alam Indonesia akan berbagai jenis jamur
cukup banyak dikenal, salah satunya adalah jamur pangan.
Diperkirakan di dunia terdapat sekitar 1,5 juta – 3 juta
spesies jamur, sedangkan di Indonesia sendiri menurut data dari Kehati pada
tahun 2019, diperkirakan Indonesia memiliki sekitar 86.000 spesies Jamur. Di
Indonesia, tepatnya di Kepulauan Bangka Belitung terdapat satu varietas
unggulan jamur pangan yang dikenal masyarakat sekitar Kulat Pelawan atau yang
dikenal dalam bahasa latin Heimiporus sp. Kulat pelawan sendiri
merupakan salah satu bahan pangan khas Bangka Belitung yang muncul pada musim tertentu.
Nama Jamur Pelawan diambil dari habitat tempat tumbuh
dari jamur itu sendiri yang tumbuh berada disekitar pohon pelawan yang
merupakan pohon endemik di Kepualauan Bangka Belitung. Jamur pelawan segar
memiliki warna pink merona, mirip seperti pohon pelawan, berukuran sekitar 5 cm
dan memiliki mahkota berwarna merah. Menurut warga sekitar yang sering berburu
kulat pelawan, walau sekilas kulat pelawan terlihat berwarna pink, tapi bila
diperhatikan jamur pelawan sehat memiliki tudung berwarna oranye kemerahan yang
merona. Seperti jenis jamur lainnya, jamur pelawan atau yang lebih dikenal
masyarakat sekitar kulat pelawan memiliki umur yang relatif pendek sekitar 2-3
hari.
Kulat pelawan sendiri menurut warga sekitar memiliki rasa
serta aroma yang begitu menggugah selera. Sehingga banyak warga yang sering
rajin berburu kulat pelawan untuk dimasak menjadi gulai dan lainnya. Rasa dari
kulat pelawan sendiri tergolong cukup unit seperti perpaduan antara jamur
kuping dan jamur merang, tidak sekenyal jamur kuping tapi tidak selembut jamur
merang. Tapi hal itu tidak mudah, karena kulat pelawan hanya tumbuh pada waktu
tertentu yaitu saat musim hujan. Dan yang menarik warga sekitar mempercayai
bahwa syarat tumbuh di musim hujan yang disertai oleh petir. Tapi hal tersebut
belum dapat diketahui kebenarannya.
Karena kelangkaan jamur tersebut membuat harga kulat
pelawan yang sudah dikeringkan memiliki harga yang cukup fantastis sekitar
diatas Rp 1 – 2 juta untuk harga perkilogramnya. Hal ini membuatnya sering
disamakan dengan truffle karena tergolong jamur mahal. Tapi harga tersebut bisa
tembus menyentuh harga Rp5-6 juta perkilogram untuk kulat pelawan kering disaat
jamur sedang tidak musim dan sulit didapatkan.
Jamur pelawan sendiri hingga saat ini masih sulit untuk dibudidayakan seperti truffle. Jamur pelawan memiliki kondisi khusus dimana ia tumbuh dan bersimbiosis dengan pohon pelawan. Dan juga tantangan terbesar dalam pertumbuhan jamur ini adalah pemanasan global karena pertumbuhan jamur ini memerlukan suhu yang tepat. Kenaikan suhu sedkit saja akan menyebabkan jamur tak dapat berkembang dengan baik. Dan tentu bukan hanya jamur pelawan, termasuk juga jamur-jamur lainnya akan sulit tumbuh bila suhu udara meningkat. (Yeyen Artika)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |