Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Pangkal Pinang
Thong Ngin Fang Ngin Djit Djong : Simbolis Persatuan Etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung

Thong Ngin Fang Ngin Djit Djong : Simbolis Persatuan Etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung

Muhammad Ilham Aldavi
Selasa, 30 Juli 2024 |   2937 kali

Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi dengan bentuk kepulauan yang ada di Indonesia. Dengan total luas mencapai 16.424 km2, Bangka Belitung juga terbagi lagi menjadi dua pulau besar yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil lainnya. Bangka Belitung dikenal dengan negeri laskar pelangi, julukan tersebut muncul dari karya novel dengan judul Laskar Pelangi oleh Andera Hirata yang bercerita tentang perjuangan anak-anak di Bangka Belitung terkhusus di Belitung.

 

Selain itu, Bangka Belitung juga dikenal dengan salah satu provinsi yang memiliki keberagaman etnis, suku, agama, dan ras. Dibuktikan dengan adanya semboyan atau filosofi “Thong Ngin Fang Ngin Djit Djong” ataupun “Fang Ngin Thong Ngin Djit Djong” yang memiliki makna Thong Ngin berarti Tionghoa, Fang Ngin berarti Melayu dan Djit Djong yang berarti sama atau satu.  Filosifis ini muncul karena spirit kebersamaan antara etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung yang dicetuskan oleh duta tokoh pendiri Provinsi kepulauan Bangka Belitung yakni Amung Tjandra dan Romawi Latief.

 

Munculnya istilah ini berlatar belakang dari rasa toleransi, kesatuan, dan keharmonisan serta kebersamaan dua etnis utama yang ada di Bangka Belitung, Tionghoa dan Melayu. Tionghoa dan Melayu hidup saling berdampingan dan menghargai tanpa rasa diskriminasi dan sukuisme.

 

Namun, sebelum terbentuknya Bangka Belitung, terdapat filosifis yang sama persis seperti Thong Ngin Fang Ngin Djit Djong.  Yaitu, Thong Ngin Fang Ngin Qin Ngin yang berarti Tionghoa dan Melayu Bersaudara. Filosofis itu muncul dikarenakan mayoritas suku tionghoa yang datang ke Bangka Belitung bekerja sebagai penambang timah yang menikahi masyarakat lokal melayu bangka. Mayoritas masyarakat yang menikah tetap menetap di Bangka Belitung  dan tidak kembali ke China.


Hingga pada akhirnya hubungan kekeluargaan, kekentalan, dan keharmonisaan darah tersebut membentuk kekerabatan yang sangat kuat sehingga yang awalnya filosofis lama yaitu Thong Ngin Fang Ngin Qin Ngin menjadi tidak relevan dan lebih sering menggunakan filosofis Thong Ngin Fang Ngin Djit Djong. (Rizqi Rahmatsyah)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon