Memaknai Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dalam Semangkuk Coto Manggala
Elisabeth Sangayu Puthu Krisnawati
Senin, 08 Juni 2026 |
23 kali
Bagi masyarakat Pangkalan Bun-Kotawaringin Barat, Coto Manggala tidak hanya sekadar hidangan penghilang lapar di pagi hari. Sajian berkuah kaldu gurih dengan bahan dasar singkong atau dalam bahasa Kotawaringin yaitu manggala ini adalah identitas, tradisi, dan kebanggaan daerah. Namun, jika ditelaah lebih dalam, semangkuk hidangan hangat ini rupanya menyimpan filosofi yang sangat selaras dengan pedoman kerja yang dipegang teguh oleh setiap insan Kementerian Keuangan. Sebagai bagian dari keluarga Kementerian Keuangan yang mengabdi di daerah berarti menyatu dengan budayanya. Memahami Nilai-Nilai Kementerian Keuangan tidak melulu harus melalui diklat formal di ruang rapat, lebih dari itu nilai-nilai tersebut justru sering kali tercermin kuat dalam kearifan lokal yang ada di sekitar kita.

Berikut adalah bagaimana kelima Nilai Kementerian Keuangan terepresentasikan dengan indah dalam proses pembuatan hingga penyajian semangkuk Coto Manggala:
Bahan utama Coto Manggala adalah singkong, komoditas lokal yang tumbuh subur di tanah sendiri. Singkong tampil secara autentik dan jujur apa adanya, tanpa harus dipoles menyerupai bahan pangan yang mewah, namun tetap memiliki tempat yang penting di meja makan.
Refleksi Kerja: Ini adalah wujud nyata dari nilai Integritas. Sebagai aparatur negara, kita dituntut untuk bekerja dengan jujur, tulus, dan transparan. Integritas berarti menjaga martabat institusi tanpa kepalsuan, berakar kuat pada prinsip moral, dan selalu melakukan hal yang benar dalam mengelola keuangan maupun kekayaan negara.
Mengolah singkong yang bertekstur keras menjadi empuk yang pas tanpa membuatnya hancur di dalam kuah perlu keahlian, pengalaman, dan takaran yang pas. Tidak sembarang orang bisa menghasilkan tekstur manggala yang sempurna.
Refleksi Kerja: Hal ini merepresentasikan Profesionalisme. Dalam menjalankan tugas pokok, baik itu pelayanan lelang, penilaian aset, maupun pengurusan piutang negara, setiap proses harus dieksekusi dengan tingkat akurasi dan kompetensi terbaik. Bekerja tuntas sesuai keahlian dan Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah kunci untuk menghasilkan layanan yang bermutu.
Coto Manggala tidak akan menjadi hidangan istimewa jika hanya mengandalkan singkong rebus. Kelezatannya justru lahir dari perpaduan harmonis antara kuah kaldu, irisan seledri, taburan bawang goreng, potongan sayap atau ceker ayam, dan perasan jeruk nipis yang menyatu di dalam satu mangkuk.
Refleksi Kerja: Inilah makna sejati dari Sinergi. Dalam birokrasi pemerintahan, tidak ada satupun unit kerja yang bisa meraih target sendirian. Keberhasilan sebuah instansi diperoleh dari hasil kolaborasi yang harmonis antar-pegawai, lintas-seksi, hingga kerja sama yang solid dengan berbagai stakeholders di daerah.
Menyajikan semangkuk Coto Manggala yang masih mengepul hangat merupakan bentuk keramahtamahan warga Kotawaringin Barat. Hidangan ini memberikan rasa nyaman, mengenyangkan, dan menghangatkan siapa pun yang menyantapnya.
Refleksi Kerja: Ini adalah esensi dari Pelayanan. Melayani masyarakat bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban administratif, melainkan hadir dengan sikap yang ramah, responsif, dan memberikan solusi yang "menghangatkan". Kepuasan pengguna jasa adalah muara dari setiap fasilitas dan kemudahan layanan yang kita berikan.
Di masa lampau, singkong mungkin hanya dipandang sebagai makanan substitusi yang sederhana. Namun, melalui proses penyempurnaan resep dari generasi ke generasi, singkong berhasil ditransformasikan menjadi Coto Manggala menjadi sebuah ikon kuliner berkelas yang menaikkan citra dan menggerakkan ekonomi daerah.
Refleksi Kerja: Nilai Kesempurnaan menuntut kita untuk selalu melakukan perbaikan berkelanjutan. Sebagaimana singkong yang dapat naik kelas, aset-aset negara yang ada juga harus terus dioptimalkan melalui inovasi, agar mampu memberikan kontribusi dan nilai tambah yang maksimal bagi negara dan masyarakat.
Dengan melestarikan kearifan lokal dan mengelola kekayaan negara ternyata memiliki tarikan napas yang sama. Melalui Coto Manggala, kita diingatkan bahwa pengamalan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan bukanlah konsep yang ada di awang-awang, melainkan prinsip hidup yang membumi. Dari Kotawaringin Barat, kita belajar bahwa dedikasi untuk negeri bisa dimulai dari menghargai, menjaga, dan mengoptimalkan apa yang ada di sekitar kita. -Seksi Hukum dan Informasi
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel