Sistem Perencanaan Kinerja: Balanced Scorecard (BSC)
Evisari Eresti Melani
Kamis, 09 April 2026 |
95 kali
Perencanaan kinerja
merupakan proses penyusunan rencana kinerja sebagai penjabaran dari sasaran dan
program yang telah ditetapkan dalam rencana strategis, yang dilaksanakan oleh
instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan tahunan. Tujuan dari perencanaan
kinerja adalah menciptakan kerangka kerja yang jelas dan terstruktur untuk
mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam perencanaan kinerja, Kementerian Keuangan menggunakan sistem manajemen kinerja berbasis Balanced Scorecard (BSC). Balanced Scorecard (BSC) adalah kerangka kerja (framework) yang membantu organisasi menerjemahkan strategi menjadi tujuan-tujuan operasional untuk memperbaiki perilaku dan kinerja organisasi. Scorecard (Kartu Skor) sebagai pencatat skor hasil kinerja dan merencanakan skor yang hendak diwujudkan.
Sedangkan pengertian Balanced (Berimbang) ini, kinerja
diukur secara berimbang (keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka
panjang, internal dan eksternal). Balanced scorecard memberi
perusahaan elemen yang dibutuhkan untuk berpindah dari paradigma ‘selalu
tentang finansial’ menuju model baru yang mana hasilnya menjadi titik awal
untuk review, mempertanyakan, dan belajar tentang strategi yang
dimiliki. Tujuannya untuk memberikan pandangan yang lebih komprehensif kepada
para manajer dengan melengkapi ukuran finansial melalui matriks tambahan yang mengukur kinerja
di berbagai bidang seperti kepuasan pelanggan, inovasi produk,
dan lainnya.
Dalam Balanced Scorecard, kinerja organisasi diukur melalui empat
perspektif utama yang saling terkait, yaitu:
1.
Perspektif Keuangan
Perspektif
ini memperhatikan indikator keuangan seperti pendapatan, laba bersih, dan
pengembalian modal. Perspektif ini menggambarkan apakah organisasi mencapai
tujuan keuangan dan memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Pengukuran
kinerja keuangan menunjukan apakah perencanaan, implementasi dan pelaksanaan
serta strategi memberikan perbaikan mendasar. Perbaikan tersebut dapat
berupa gross operating income, return on investement atau economic
value-added. Prinsip balanced scorecard ( BSC ) harus ada
keseimbangan antara perspektif keuangan dan perspektif non keuangan karena perspektif
keuangan tidak bisa bekerja tanpa adanya perspektif non-keuangan misalnya saja
laba yang diperoleh perusahaan karena produk tersebut memiliki nilai manfaat
bagi konsumen atau bisa saja karena faktor SDM dan proses
bisnis dari perusahaan tersebut.
Pengukuran
perspektif keuangan bisa dilakukan dengan analisis rasio keuangan. Misalnya
dengan menganalisis tren keuangan, common size value antara
perusahaan dan pesaing, dan rasio keuangan seperti; rasio liabilitas, rasio
aktivitas, rasio hutang, rasio keuntungan, dan rasio solvabilitas.
2.
Perspektif Pelanggan
Perspektif
ini berfokus pada kepuasan pelanggan dan kemampuan organisasi untuk memenuhi
kebutuhan dan harapan pelanggan. Indikator yang digunakan bisa berupa tingkat
kepuasan pelanggan, pangsa pasar, atau tingkat retensi pelanggan. Dalam
perspektif pelanggan, perusahaan perlu terlebih dahulu menentukan segmen pasar
dan pelanggan yang menjadi target. Selanjutnya, perusahaan menentukan alat ukur
yang terbaik untuk mengukur kinerja dari tiap unit operasi dalam upaya mencapai
target finansial. Apabila suatu unit bisnis ingin mencapai kinerja keuangan
yang besar dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan dan menyajikan suatu
produk baru atau jasa yang bernilai lebih baik kepada pelanggan. Tolak ukur
pelanggan dibedakan dalam 2 (dua) kelompok yaitu core measurement group (kelompok
inti) dan customer value proposition (kelompok
penunjang).
3.
Perspektif Proses Internal
Perspektif
ini menyoroti efisiensi dan efektivitas proses internal organisasi. Dalam
perspektif ini, diidentifikasi indikator kunci yang berkaitan dengan
proses-proses yang menghasilkan produk atau layanan, termasuk inovasi,
kualitas, dan produktivitas. Tiap perusahaan mempunyai proses dan nilai
yang unik bagi pelanggannya. Secara umum, hal tersebut terbagi menjadi 3
prinsip dasar prespektif proses bisnis internal, yaitu:
a.
Proses Inovasi
Proses
inovasi adalah bagian terpenting dalam keseluruhan proses produksi. Tapi ada
juga perusahaan yang menempatkan inovasi di luar proses produksi. Dalam proses
inovasi itu sendiri terdiri atas dua komponen, yaitu: identifikasi
keinginan pelanggan, dan melakukan proses perancangan produk yang sesuai dengan
keinginan pelanggan.
b.
Proses Operasi
Proses
operasi adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan yang dapat dilihat dari
perencanaan, pembentukan bahan mentah hingga menjadi produk jadi, proses marketing,
hingga proses transaksi antara perusahaan dan pembeli. Proses ini menekankan
kepada penyampaian produk kepada pelanggan secara efisien, tepat waktu, dan
berdasarkan fakta yang menjadi fokus utama dari sistem pengukuran kinerja
sebagian besar organisasi.
c.
Pelayanan Purna Jual
Layanan
purna jual merupakan layanan yang diberikan oleh perusahaan atau bisnis kepada
konsumen sebagai jaminan mutu produk yang telah dibeli oleh konsumen. Banyak
bentuk layanan purna jual misalnya layanan konsultasi, perbaikan, perawatan,
hingga garansi.
4.
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif
ini mengukur kemampuan organisasi untuk belajar, beradaptasi, dan meningkatkan
kapabilitasnya. Perspektif ini mencakup aspek seperti pengembangan karyawan,
manajemen pengetahuan, dan kemampuan inovasi. Perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan mencakup 3 prinsip kapabilitas yang terkait dengan kondisi intemal
perusahaan, yaitu:
a.
Kapabilitas Pekerja
Kapabilitas
pekerja adalah merupakan bagian kontribusi pekerja pada perusahaan. Sehubungan
dengan kapabilitas pekerja, ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh manajemen:
1)
Kepuasan pekerja
Kepuasan
pekerja merupakan prakondisi untuk meningkatkan produktivitas, tanggungjawab,
kualitas, dan pelayanan kepada konsumen. Unsur yang dapat diukur dalam kepuasan
pekerja adalah keterlibatan pekerja dalam mengambil keputusan, pengakuan, akses
untuk mendapatkan informasi, dorongan untuk bekerja kreatif, dan menggunakan inisiatif,
serta dukungan dari atasan.
2)
Retensi pekerja
Retensi
pekerja adalah kemampuan imtuk mempertahankan pekerja terbaik dalam perusahaan.
Di mana kita mengetahui pekerja merupakan investasi jangka panjang bagi
perusahaan. Jadi, keluamya seorang pekerja yang bukan karena keinginan
perusahaan merupakan loss pada intellectual capital dari perusahaan. Retensi
pekerja diukur dengan persentase turnover di perusahaan.
3)
Produktivitas pekerja
Produktivitas
pekerja merupakan hasil dari pengaruh keseluruhan dari peningkatan keahlian dan
moral, inovasi, proses internal, dan kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah untuk
menghubungkan output yang dihasilkan oleh pekerja dengan jumlah pekerja yang
seharusnya untuk menghasilkan output tersebut.
b.
Kapabilitas Sistem Informasi
Adapun
yang menjadi tolak ukur untuk kapabilitas sistem inforaiasi adalah tingkat
ketersediaan informasi, tingkat ketepatan informasi yang tersedia, serta jangka
waktu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan
c.
Iklim Organisasi
Iklim organisasi merupakan salah satu mendorong timbulnya motivasi, dan pemberdayaan adalah penting untuk menciptakan pekerja yang berinisiatif. Adapun yang menjadi tolak ukur hal tersebut di atas adalah jumlah saran yang diberikan pekerja.
Sistem BSC ini bertujuan menerjemahkan visi, misi, tujuan, dan strategi ke dalam kerangka operasional serta untuk membantu mewujudkan kinerja organisasi dan pegawaj yang maksimal. Keberhasilan suatu organisasi dalam meningkatkan kinerja di antaranya dapat diukur melalui pencapaian target kinerja yang ditetapkan dalam dokumen perencanaan kinerja. Dalam perencanaan kinerja juga mempertimbangkan manajemen risiko melalui proses analisis kondisi eksternal dan internal. Penyusunan dokumen perencanaan kinerja merupakan bagian dari implementasi sistem perencanaan strategis.
Sumber:
KMK 300/KMK.01/2022
tentang Manajemen Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan
https://www.talenta.co/blog/mengenal-perencanaan-kinerja-komponen-manfaat-dan-cara-mengelolanya/
https://www.jurnal.id/id/blog/balanced-scorecard/
Penulis : Marlita Dewanti
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |