Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 1 50-991    ID | EN      Login Pegawai
 
KPKNL Pamekasan > Artikel
Desain Grafis untuk Memaksimalkan Konten di Media Sosial
Muhammad Mukti Abadi
Selasa, 30 November 2021   |   11444 kali

Saat ini perkembangan teknologi sudah semakin maju dari tahun ke tahun. Hal ini menjadikan informasi juga semakin mudah diakses. Dengan adanya teknologi pada ponsel yang semakin berkembang, aplikasi dalam ponselpun ikut berkembang. Salah satunya adalah pada aplikasi sosial media.

 

Berdasarkan survei yang diambil dari databoks.katadata.co.id, dari populasi masyarakat Indonesia pada Januari 2019 sebanyak 268,2 juta jiwa, pengguna aktif media sosial telah mencapai 150 juta pengguna. Hal ini menandakan bahwa ada lebih dari 50% penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial.

 

Melihat besarnya potensi pengguna media sosial di Indonesia saat ini, beberapa pihak ternyata mulai memanfaatkannya. Salah satunya untuk kepentingan beriklan dan memasarkan produk melalui berbagai macam platform media sosial. Selain untuk kepentingan beriklan, kini media sosial juga mulai banyak digunakan oleh perusahaan/instansi untuk mengenalkan atau meningkatkan citra diri perusahaan/instansi mereka ke masyarakat umum.

 

Salah satu bentuk konten pada media sosial adalah konten gambar. Konten ini lebih menarik dilihat daripada konten berupa tulisan atau video yang memerlukan waktu untuk mencerna informasi di dalamnya. Walaupun demikian, banyaknya konten berupa gambar di sosial media ternyata juga cepat membuat para pengguna media sosial menjadi jenuh. Akibatnya minat untuk mengetahui informasi melalui sebuah gambar di sosial media akan menurun apabila gambar atau ilustrasi yang ditampilkan tidak begitu menarik.

 

Desain grafis dapat membantu para content creator agar desain yang mereka buat menjadi lebih menarik. Menurut wikipedia, desain grafis atau rancang grafis adalah proses komunikasi menggunakan elemen visual, seperti tipografi, fotografi, serta ilustrasi yang dimaksudkan untuk menciptakan persepsi akan suatu pesan yang disampaikan. Bidang ini melibatkan proses komunikasi visual dan desain komunikasi.

 

Desain grafis memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut:

 

1.    Sebagai penyampai pesan lewat visual agar lebih mudah dibaca.

2.    Mendesain bukan hanya menggambar atau mendekorasi, namun ada kandungan komunikasi di dalamnya.

3.    Desain komunikasi visual mengharuskan desainer untuk tidak hanya memahami bagaimana cara membuat grafis, tetapi juga memahami konteks yang akan diolah.

4.    Desain boleh saja “wah”, tetapi jika tidak ada makna dan pesan yang bisa langsung tersampaikan, maka hasilnya akan percuma.

 

Dalam desain grafis, bentuk dari sebuah desain dipengaruhi oleh bebarapa hal. Bentuk desain ini tentunya akan memengaruhi bagaimana pembaca menangkap isi pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat desain. Beberapa hal yang mempengaruhi bentuk dari sebuah desain yaitu:

 

1.    Pembaca

Pembaca dari kelompok sosial tertentu akan memiliki pemahaman yang berbeda saat melihat sebuah desain grafis dibandingkan dengan kelompok sosial yang lain.

2.    Peruntukan Desain

Peruntukan desain dibedakan menjadi 2, yaitu untuk pihak internal dan eksternal. Desain yang dibuat untuk kepentingan internal dalam perusahaan/instansi tentunya akan berbeda dengan desain yang dibuat untuk kepentingan pihak eksternal. Tidak hanya sifat dari informasinya saja yang berbeda, namun juga pemahaman terhadap informasi yang disampaikan juga akan berbeda antara kedua pihak tersebut.

3.    Rentang Umur

Rentang umur menentukan tingkat pemahaman dari informasi pada desain yang ingin disampaikan. Umumnya generasi milenial sekarang lebih memahami informasi dan berita terkini dari generasi yang lebih tua. Selain itu, minat generasi milenial terhadap desain pada postingan di media sosial sangat tergantung dari corak atau bentuk desain yang ditampilkan.

4.    Tema dan Waktu Publikasi Desain   

Tema desain akan menentukan bagaimana hasil akhir dari desain yang akan dibuat. Misalnya untuk tema edukatif, bentuk desain yang disampaikan dapat menampilkan ilustasi berupa peralatan menulis, atau hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan untuk waktu dari publikasi desain sendiri dapat dibedakan menjadi dua, apakah desain tersebut harus segera dipublikasikan atau publikasi dapat dilakukan kapan saja.

5.    Bentuk Publikasi Desain

Bentuk publikasi desain dapat berupa publikasi cetak dan digital. Untuk desain dalam bentuk publikasi cetak, format pemilihan warna dapat menggunakan format CMYK, sehingga warna yang ditampilkan pada saat melakukan desain akan sama dengan warna yang dihasilkan saat dicetak. Di sisi lain, apabila desain hanya dipublikasikan secara digital, desainer dapat menggunakan format warna RGB. Format warna ini memungkinkan desain memiliki banyak pilihan warna dibandingkan format CMYK.

6.    Jenis Platform yang Digunakan

Saat ini platform untuk menampilkan atau mempublikasikan desain bermacam-macam. Contohnya saja untuk platform media sosial ada Instagram, Facebook, dan Twitter. Masing-masing platform ini memiliki format dan kebijakan tersendiri tentang konten bisa diunggah dan bagaimana cara memaksimalkan desain kontennya.

7.    Sifat Desain

Sifat dari desain bermacam-macam, tergantung dari tema dari desain. Misalnya desain untuk menginformasikan tentang penyerapan APBN, maka desain yang digunakan wajarnya menggunakan desain yang formal.

 

Agar desain dapat menarik perhatian dari pembaca, desainer perlu memperhatikan komposisi-komposisi dan elemen pada desain. Berikut ini adalah prinsip hirarki pada desain grafis agar desain yang dihasilkan dapat menarik.

 

1.    Size dan Scale

Ukuran objek pada desain yang lebih besar belum tentu akan efektif dalam upaya untuk menyampaikan informasi dari sebuah desain. Pada dasarnya elemen yang lebih besar pada sebuah desain akan menarik perhatian lebih besar daripada elemen yang lebih kecil. Dengan memerhatikan besar kecilnya objek pada sebuah desain, maka akan tercipta keseimbangan dalam desain. Selain itu, hal tersebut juga dapat meningkatkan fokus dari pembaca.

2.    Color dan Contrast

Warna yang kontras biasanya akan lebih menarik perhatian pembaca daripada warna yang kusam. Dengan mengombinasikan warna yang sesuai, desainer dapat meningkatkan fokus pembaca, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.

3.    Typographics Hierarchy

Pengaturan besar-kecil dan tata letak dari penulisan kata akan menentukan ketertarikan dari pembaca dalam memahami isi desain. Penggunaan huruf yang terlalu kecil dan cenderung “ramai” akan menurunkan minat pembaca dalam memahami isi desain. Hierarki tipografi yang dibuat dari teks dengan berbagai ukuran, bobot, dan spasi atau kombinasi dari setiap elemen akan menciptakan komposisi keseluruhan yang mudah dibaca dan dipahami.

4.    Spacing

a.   Rule of Space

Desain yang baik untuk dibaca adalah desain yang memiliki ruang kosong. Desainer harus dapat menata dan mengatur komposisi elemen-elemen dalam desain agar desain memiliki ruang kosong. Ruang kosong ini berfungsi untuk memberikan “ruang bernapas” bagi audiens, sehingga mereka dapat terfokus pada elemen-elemen yang memang mengandung informasi dalam sebuah desain.

b.   Page-scanning Patterns

Saat melihat sebuah desain, audiens akan cenderung memindai halaman dengan pola tertentu. Berikut ini adalah beberapa pola umum yang sering dipakai oleh kebanyakan orang dalam memindai sebuah informasi, khususnya dalam bentuk infografis.

1)   F-Patterns

Pola ini dilakukan dengan cara memindai halaman dari kiri ke kanan bagian atas dan mengulanginya lagi untuk setiap baris teks hingga mencapai bagian bawah halaman.

2)   Z-Patterns

Pola ini dilakukan dengan cara memindai halaman secara cepat dengan melirik dari bagian atas kiri ke kanan, lalu turun ke bagian bawah kiri, dan terus diulangi hingga mencapai bagian bawah halaman

5.    Proximity

Menempatkan elemen-elemen yang saling berkaitan secara berdekatan akan memberikan kesan kepada audiens bahwa elemen-elemen tersebut terkait.

6.    Negative Space

Negatif space atau ruang kosong tidak hanya membuat informasi lebih mudah bagi pembaca untuk mencernanya, tetapi juga menciptakan fokus karena membantu memusatkan perhatian pada elemen tertentu pada sebuah desain. Bahkan desainer yang kreatif dapat memanfaatkan ruang kosong ini untuk menampilkan visual tambahan pada negative space ini.

7.    Alignment

Alignment adalah bagian dari struktur di mana elemen ditempatkan dalam suatu desain. Ini menentukan bahwa komponen visual baik itu teks atau gambar, tidak diposisikan secara asal di seluruh komposisi.

8.    Rule of Odds

Rule of odds memungkinkan desainer untuk menekankan gambar tertentu dengan menempatkannya di tengah-tengah kelompok. Dengan menempatkan jumlah yang sama dari benda-benda serupa di kedua sisi titik fokus utama hasilnya jelas menunjuk ke elemen visual paling penting, yang terletak di tengah.

9.    Repetition

Pengulangan komponen-komponen dalam sebuah desain akan meningkatkan pemahaman dan menciptakan kesatuan. Contohnya pengulangan beberapa font, warna, bentuk, ukuran sebuah komponen dari desain akan menciptakan ciri khas dari desain yang diciptakan.

10.  Leading Line

Leading line adalah komponen yang berupa garis-garis baik tampak secara nyata ataupun tidak pada sebuah desain yang berfungsi untuk mengarahkan audiens agar fokus terhadap suatu objek atau hal yang ingin disampaikan dalam sebuah desain. Leading line dapat mengarahkan pandangan audiens terhadap hal yang ingin di highlight oleh desainer. 

11.  Rule of Third

Tidak hanya dapat digunakan dalam dunia seni dan fotografi, rule of third dapat diterapkan dalam sebuah desain. Rule of third atau aturan satu pertiga adalah aturan yang digunakan untuk meningkatkan keseimbangan komposisi secara keseluruhan. Hal ini dilakukan dengan cara membagi komposisi desain menjadi kisi-kisi dalam sebuah desain menjadi kotak-kotak dengan sembilan bagian yang terpisah.

12.  Perspective

Dengan memanfaatkan perspektif, desainer dapat lebih menampilkan pesan yang ingin di sampaikan kepada audiens. Contohnya adalah dengan mengatur besar kecilnya elemen dalam desain. Objek yang lebih besar akan terlihat lebih dekat daripada objek yang berukuran lebih kecil.

 

Pada akhirnya, desain yang bagus bukanlah desain sekadar indah dan terlihat bagus. Lebih dari itu, desain yang baik adalah desain yang isinya dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca. Selain itu, agar para pembaca tertarik dengan informasi yang disampaikan, akan lebih baik lagi jika desain yang dibuat memperhatikan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip pembuatan sebuah desain. Desain yang menarik tidak hanya dapat menarik minat para pembaca untuk mengetahui informasi di dalam sebuah desain, namun juga dapat memudahkan pembaca dalam mengolah informasi yang terdapat di dalamnya.

 

 

Sumber:


Materi Diklat Kehumasan BPPK Kementerian Keuangan


https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/08/berapa-pengguna-media-sosial-indonesia


https://visme.co/blog/visual-hierarchy/#grids-organize-a-design


https://www.jagodesain.com/2019/02/prinsip-hirarki-desain-grafis.html


https://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis


https://lineindesign.medium.com/be-a-designer-who-can-also-help-with-writing-copy-2f4ea02a5646

 

Penulis: Muhammad Mukti Abadi, Pelaksana pada Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Pamekasan

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami | Oppini