Realisasi APBN Regional Provinsi Sulawesi Tengah s.d. 30 Juni 2025: APBN dalam Kerangka Stabilisasi dan Akselerasi Pembangunan
Rahmadhani Puspa Dewi
Kamis, 31 Juli 2025 |
318 kali
Di tengah
ketidakpastian ekonomi global, Indonesia terus mengupayakan stabilitas melalui pengelolaan
fiskal yang hati-hati dan adaptif, dengan fokus pada penguatan belanja
produktif dan perlindungan sosial. Pada level nasional, APBN diarahkan untuk
menjaga daya beli masyarakat, mendukung transformasi ekonomi, dan mempercepat
pembangunan infrastruktur. Di tingkat daerah, termasuk Sulawesi Tengah, sinergi
APBN dan APBD menjadi krusial untuk memastikan efektivitas belanja publik,
memperkuat pelayanan dasar, dan mendorong sektor-sektor prioritas guna
meningkatkan daya saing serta ketahanan ekonomi wilayah.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada Q1 2025 sebesar 8,69 persen
(yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 4,87
persen (yoy). Pertumbuhan ekonomi yang signifikan ini disumbang oleh Lapangan
Usaha Industri Pengolahan terutama komoditas besi baja, nikel dan kokas dan
Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan terutama dari belanja pegawai yang
menggunakan APBD Pemerintah Sulawesi Tengah.
Sampai dengan 30 Juni 2025, pendapatan APBN telah terealisasi sebesar
Rp3,14 triliun atau 41,78 persen dari target dengan pertumbuhan sebesar 1,41
persen (yoy). Pendapatan APBN didominasi oleh penerimaan pajak dalam negeri
dengan realisasi sebesar Rp1,51 triliun (terkontraksi 10,27 persen yoy).
Sementara dari sisi belanja APBN, sampai dengan 30 Juni 2025 telah terealisasi
sebesar Rp10,37 triliun atau 39,89 persen dari pagu dengan kontraksi
pertumbuhan sebesar 13,31 persen yoy. Realisasi belanja APBN didominasi oleh
belanja TKD dengan rincian realisasi belanja DAU sebesar Rp4,93 triliun, DAK
Non Fisik sebesar Rp1,14 triliun, DBH sebesar Rp926,4 miliar, Dana Desa sebesar
Rp817,1 miliar, DID sebesar Rp43,8 miliar dan DAK Fisik sebesar Rp11,5 miliar.
Dari sisi pengelolaan APBD, sampai dengan 30 Juni 2025 pendapatan daerah
Provinsi Sulawesi Tengah telah terealisasi sebesar Rp7,65 triliun atau 29,77
persen dari target dengan pertumbuhan sebesar 13,38 persen yoy. Pendapatan
daerah Provinsi Sulawesi Tengah masih didominasi dari pendapatan transfer
sebesar Rp6,08 triliun. Kondisi ini menunjukkan kemandirian fiskal Provinsi
Sulawesi Tengah masih rendah di angka 19,90 persen atau bergantung pada dana
transfer pemerintah pusat. Selanjutnya dari sisi belanja APBD, Provinsi
Sulawesi Tengah telah merealisasikan belanja sebesar Rp7,41 triliun atau 27,80
persen dari pagu belanja dengan pertumbuhan sebesar 8,16 persen yoy. Belanja
masih didominasi oleh belanja pegawai sebesar Rp4,21 triliun atau 56,76 persen
dari total belanja APBD Provinsi Sulawesi Tengah.
Berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja s.d. 30 Juni 2025, maka
APBN Regional Provinsi Sulawesi Tengah mencatatkan defisit sebesar Rp7,23
triliun dan APBN Provinsi Sulawesi Tengah mencatatkan surplus sebesar Rp245,10
miliar.
Kinerja fiskal Sulawesi
Tengah hingga pertengahan tahun 2025 menunjukkan peran strategis sinergi antara
APBN dan APBD dalam menjaga keberlanjutan pembangunan daerah. Meski APBN
mencatatkan defisit akibat tingginya belanja dibandingkan pendapatan, APBD
Sulawesi Tengah justru mencatatkan surplus, mengindikasikan efektivitas
pengelolaan keuangan daerah dalam merespons kebutuhan belanja publik. Namun
demikian, dominasi belanja pegawai dan rendahnya kemandirian fiskal menunjukkan
perlunya penguatan kapasitas pendapatan asli daerah serta efisiensi dalam
alokasi belanja agar dapat menciptakan struktur fiskal yang lebih sehat dan
berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah daerah
perlu terus mendorong diversifikasi ekonomi dan penguatan sektor-sektor
unggulan seperti industri pengolahan agar dapat meningkatkan basis penerimaan
pajak dan mengurangi ketergantungan terhadap dana transfer pusat. Selain itu,
optimalisasi belanja produktif dan investasi publik yang berkualitas harus
menjadi prioritas dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi daerah,
meningkatkan kualitas layanan publik, serta menciptakan dampak pembangunan yang
inklusif dan berdaya saing tinggi di Sulawesi Tengah.
Foto Terkait Berita