Realisasi APBN Regional Provinsi Sulawesi Tengah s.d. 31 Mei 2025: APBN dalam Kerangka Stabilisasi dan Akselerasi Pembangunan
Rahmadhani Puspa Dewi
Kamis, 26 Juni 2025 |
167 kali
Palu, Juni 2025
Gejolak
ekonomi global dan domestik masih berlangsung dan diperparah dengan munculnya
ketegangan geopolitik internasional. Prospek pertumbuhan ekonomi dan
perdagangan internasional belum menunjukkan potensi pemulihan. Di tingkat
nasional, PMI manufaktur Indonesia masih terkontraksi dan fenomena ini turut
dialami oleh mayoritas negara lainnya.
Ketegangan
dan dinamika global tentunya memiliki residual dalam ekonomi regional Sulawesi
Tengah. Ketidakstabilan menghadirkan disinsentif bagi para pelaku ekonomi,
menjadikan investor dan pengusaha untuk menahan keputusan keuangannya.
Pada Q1
2025, ekonomi Sulawesi Tengah mengalami pertumbuhan yang relatif lebih rendah
dari biasa, sekitar 8,69 persen (yoy). Di tingkat nasional, proyeksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia turut
terkoreksi, menjadi 4,7 persen (yoy) untuk 2025. Di tengah dinamika yang ada,
pencapaian pertumbuhan ekonomi regional di angka 9 s.d. 12 persen tentu manjadi
penuh tantangan.
Di sini,
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara berkomitmen untuk mewujudkan
target pertumbuhan ekonomi sembari mendorong peningkatan kualitas kesejahteraan
masyarakat. Melalui berbagai kebijakan fiskal, pemerintah hadir untuk
memberikan stimulus dan mendorong akselerasi pembangunan.
Hingga 31
Mei 2025, pendapatan negara berhasil terhimpun sebesar Rp2,55 T hingga 31 Mei
2025, sekitar 33,97 persen dari target. Di sisi lain, realisasi belanja hingga
31 Mei 2025 adalah sebesar Rp8,32 T (32,04 persen dari pagu) yang terdiri dari
realisasi belanja KL sebesar Rp1,85 triliun (25,65 persen dari pagu) dan TKD
sebesar Rp6,47 T (34,49 persen dari pagu). Pada segi pengelolaan fiskal daerah,
realisasi pendapatan mencapai 24,70 persen, sekitar Rp6,35 T per Mei 2025, naik
sebesar 15,38 persen (yoy) yang didorong oleh peningkatan pada semua komponen
pendapatan sedangkan realisasi belanja sebesar Rp5,46 triliun atau 20,48 persen
dari pagu yang ada, naik 14,69 persen (yoy).
Untuk
mendorong peningkatan transaksi di ekosistem ekonomi regional, khususnya pada
triwulan II 2025, pemerintah pusat melakukan refocussing, relokasi, dan membuka
blokir anggaran​. Pembukaan blokir anggaran K/L di Sulteng mencapai sekitar
Rp670 M (per Mei 2025) untuk Belanja Barang & Belanja Modal K/L yang
berpotensi terhadap peningkatan permintaan di sektor konstruksi, akomodasi,
agrikultur, dan penyediaan makan-minum. Terlebih lagi, Kemendagri juga telah
memberikan izin kepada seluruh pemerintah daerah kembali menggelar kegiatan
hingga rapat di hotel dan restoran sehingga diharapkan industri pada 2 sektor
yang terpukul akibat efisiensi anggaran pemerintah dapat kembai bergeliat
mempertahankan lapangan usaha perhotelan dan restoran dan juga rantai pasok
makanan serta minuman.
Belanja
Pemerintah sebagai Penopang Ekonomi, Namun perlu dikawal efektivitasnya.
Peningkatan belanja regional yang konsisten bisa menjadi stimulus penting bagi
ekonomi daerah, terutama jika belanja tersebut dialokasikan untuk sektor-sektor
produktif seperti infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan. Namun, efektivitas
dan efisiensi belanja menjadi sangat krusial, terutama di tengah gejolak
ekonomi dan tantangan dalam menghimpun pendapatan negara. Lonjakan belanja di
akhir tahun dapat menjadi stimulus kuat untuk PDRB melalui peningkatan
permintaan agregat (konsumsi dan investasi) di kuartal terakhir dan berpotensi
mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di periode tersebut. Namun,
kecenderungan penumpukan belanja di akhir tahun meninggalkan ruang untuk
perbaikan perencanaan dan eksekusi anggaran di awal tahun.
Selain
untuk mendorong operasional satuan kerja, belanja pemerintah turut berfungsi
untuk menciptakan permintaan secara sektoral. Oleh karena itu, stimulus fiskal,
baik dari segi supply & demand, menjadi momentum untuk mendorong
transaksi perputaran ekonomi sehingga akuntabilitas dan penguatannya perannya
perlu untuk diakselerasi. Hanya dengan sinergi dan kolaborasi multi-stakeholder,
kita dapat menghadirkan manfaat anggaran pemerintah dengan nyata dan menyentuh
kepada kesejahteraan masyarakat.
Analisis dan kajian lebih mendalam terkait kinerja fiskal
dan perekonomian Sulteng, khususnya telaah makro pelaksanaan anggaran dan
kaitan implementasi kebijakan fiskal dengan pencapaian output dan outcome
yang terwujud dalam capaian indikator perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,
kami sajikan dalam publikasi yang berjudul Kajian Fiskal Regional (KFR) Tahunan
2024 Provinsi Sulawesi Tengah atau kunjungi link s.id/KFRSulteng_Tahunan_2024.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tengah (Kanwil DJPb
Sulteng), Jalan Tj. Dako No.15, Palu.
Foto Terkait Berita