Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Palu
Langkah-Langkah Ini Dapat Kamu Lakukan Untuk Melanjutkan Perjuangan Kartini Dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender

Langkah-Langkah Ini Dapat Kamu Lakukan Untuk Melanjutkan Perjuangan Kartini Dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender

Rahmadhani Puspa Dewi
Rabu, 14 Mei 2025 |   4205 kali

Apa Itu Kesetaraan Gender?
Kesetaraan gender adalah kondisi perempuan dan laki- laki menikmati status yang setaraan dan memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak- hak asasi dan potensinya pembangunan di segala bidang kehidupan. Kesetaraan gender dapat juga diartikan adanya kesamaan kondisi bagi laki- laki maupun perempuan dalam memperoleh kesempatan serta hak- haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatana politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan pertahanan keamanan serta kesamaan dalam menikmat hasil pembangunan. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki- laki memiliki akses, kesempatan, berpartisipasi dan control atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. 


Relevansi Perjuangan Kartini Dengan Kesetaraan Gender Di Indonesia Saat Ini

Perjuangan Kartini sangat relevan dengan konteks kesetaraan gender saat ini, Kartini sebagai pelopor atas kemauan untuk berkembang dan berjuang untuk mendapatkan hak yang sama (diberikan kesempatan oleh keluarganya) dan awal mula emansipasi wanita yang memperjuangkan pendidikan, pemberdayaan dan kesetaraan gender tanpa kekerasan. Raden Ajeng (RA) Kartini adalah pelopor perjuangan kesetaraan gender di Indonesia sejak awal abad ke-20, khususnya sejak tahun 1908. Kartini percaya bahwa kunci kemajuan suatu bangsa terletak pada pendidikan. Oleh karena itu, semua orang harus memiliki akses yang sama terhadap pendidikan tanpa adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, keturunan, status sosial, dsb.
 
Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan pemikiran terkait dengan perjuangan bagi perempuan. Keinginan untuk kebebasan dan kemandirian perempuan yang diperjuangkan oleh Kartini mencakup kebebasan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan menolak institusi pernikahan poligami. Hal tersebut lah yang dapat dipahami sebagai emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh Kartini. Semangatnya menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan dan berbagai bidang lainnya seperti pekerjaan, politik, kehidupan sosial dsb. Kartini juga menjadi inspirasi bagi perempuan masa kini untuk terus berjuang melawan diskriminasi dan stereotip gender serta memperjuangkan kesetaraan di berbagai sektor kehidupan. Sehingga perempuan saat ini diharapkan selalu berjuang untuk mendapatkan akses yang sama di berbagai sektor. Dengan demikian jika berkeinginan untuk maju, maka usahakanlah dan perjuangkan karena kita berhak memperoleh kesempatan yang setara di berbagai sektor kehidupan untuk dapat berkembang.
 

Tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia masa kini bukan berbeda, namun lebih kompleks. 
Tantangan-tantangan tersebut antara lain:
- Stereotip dan bias gender, pandangan terkait perempuan yang dianggap kurang tegas dan fisik yang lebih lemah membuat masih seringnya ditemui penempatan pekerjaan pada perempuan yang lebih bersifat administratif dibandingkan yang bersifat lapangan sehingga cukup membatasi perkembangan dalam karirnya. Kemudian terdapat kasus kekesalan jika penumpang kereta laki-laki yang duduk. Penulis merasa orang-orang tidak perlu kesal, karena yang lelah bukan hanya perempuan, di kereta atau transportasi umum biasanya hanya memprioritaskan bagi ibu hamil, lansia, orang tua yang membawa anak kecil, penyandang disabilitas. Bukan memprioritaskan perempuan, beda kaitannya dengan gerbong khusus perempuan yang fungsinya lebih kepada mengurangi kasus pelecehan yang sering terjadi dan berfokus kepada kenyamanan. Bias ini cukup membuat perempuan menjadi menanggung peran ganda untuk pekerjaan dan rumah tangga. Sebagai contoh di kantor saya, semua pejabat fungsional (yang biasa turun ke lapangan) berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan pejabat perempuan lebih bersifat administratif seperti Kepala Seksi, bendahara, dsb. Laki-laki seringkali berkesempatan fokus bekerja di lapangan meninggalkan rumah beberapa hari, sedangkan pekerja perempuan, selain bekerja juga mengurus rumah tangga dan anak.
- Peluang pekerjaan, banyak perusahaan yang memiliki kriteria pekerja laki-laki atau wanita yang belum menikah. Karena menganggap wanita yang sudah menikah nantinya dapat menemui interupsi seperti hamil, melahirkan dsb yang mungkin dianggap dapat mengganggu kelancaran usaha.
- Keterwakilan yang cukup rendah dalam hal porsi politik dan ekonomi
- Masih cukup banyak ditemukan sistem patriarki yang dapat menghambat perempuan untuk berkembang.
 

Langkah-langkah konkret yang dapat diambil oleh generasi muda untuk melanjutkan perjuangan Kartini dalam mewujudkan kesetaraan gender di berbagai sektor kehidupan, diantaranya:
- Senantiasa meningkatkan pendidikan dan kompetensi. Jika ada peluang, ambil. Ada tawaran beasiswa, daftar. Ada pelatihan keterampilan, ikuti. Karena hal tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan dapat berkontribusi untuk masa depan.
- Lawan stereotip dan diskriminasi. Berani bersuara untuk memperjuangkan hak yang setara di berbagai aspek kehidupan.Tidak mengapa laki-laki bekerja di salon, instruktur senam, penari dsb. Begitupun perempuan, tidak mengapa jika menjadi supir, kepala daerah, arsitek, tukang parkir dsb. 
- Lawan Patriarki, jika anda seorang Bapak atau laki-laki, lakukan pekerjaan rumah, contohkan kepada anak-anak bahwa laki-laki bukan hanya bekerja, namun  juga ikut mendidik dan mengurus anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Begitupun perempuan, harus berani bersuara dan berpendapat, berbagi pekerjaan rumah tangga, meningkatkan pendidikan demi kemajuan pribadi dan anak-anaknya. 
- Aktif dalam gerakan yang memperjuangkan hak kesetaraan gender, menjadi duta dan/atau anggota Pengarusutamaan Gender (PUG) merupakan salah satu cara ikut aktif memperjuangkan kesetaraan gender di organisasi. Namun tidak harus perlu menjadi duta PUG, siapapun berhak aktif dalam memperjuangkan kesetaraan gender.



Referensi:
https://jurnal.inkadha.ac.id/index.php/kariman/article/download/362/258/1210
Ilustrasi Gambar: https://id.pinterest.com/pin/592293788527073411/ 
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon