Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Manado
Desa Wisata Budo, Sulawesi Utara: Memahami Keindahan Alam, Budaya Lokal, dan Kearifan Tradisional yang Menakjubkan

Desa Wisata Budo, Sulawesi Utara: Memahami Keindahan Alam, Budaya Lokal, dan Kearifan Tradisional yang Menakjubkan

N/a
Kamis, 31 Agustus 2023 |   3901 kali

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, keindahan alam, dan warisan tradisional. Salah satu tempat yang mencerminkan kekayaan ini adalah Desa Wisata Budo, yang terletak di provinsi Sulawesi Utara. Desa Wisata Budo adalah contoh nyata bagaimana alam yang memukau, budaya lokal yang kaya, dan kearifan tradisional dapat berpadu dalam harmoni, menciptakan pengalaman wisata yang luar biasa. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang Desa Wisata Budo, menjelajahi segala aspek yang membuatnya unik dan menarik, serta menyoroti pentingnya mempromosikan ekowisata berkelanjutan dan pelestarian budaya lokal.

Bagian 1 : Potret Provinsi Sulawesi Utara

1.1 Keanekaragaman Alam dan Budaya

Sulawesi Utara dikenal sebagai provinsi yang memiliki kekayaan alam dan kebudayaan yang luar biasa. Dengan panorama pegunungan yang megah, pantai indah, dan kehidupan laut yang mempesona, provinsi ini menawarkan beragam pilihan destinasi wisata.

1.2 Keberagaman Etnis dan Budaya

Sulawesi Utara dihuni oleh berbagai suku dan etnis seperti suku Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Sangir. Setiap suku memiliki budaya, bahasa, dan adat istiadat yang khas, menciptakan lapisan keberagaman yang menarik untuk dijelajahi.

Bagian 2 : Mengenal Desa Wisata Budo

2.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas

Desa Wisata Budo terletak di daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Meskipun terletak di pedalaman, desa ini semakin mudah diakses berkat pembangunan infrastruktur jalan yang berkembang.

  • Sebelah Utara berbatas dengan laut Sulawesi
  • Sebelah Timur berbatas dengan desa Budo
  • Sebelah Selatan berbatas dengan wilayah Talawaan atas & Talawaan Bantik
  • Sebelah Barat berbatas dengan laut Sulawesi dan desa Minaesa

2.2 Tujuan dan Konsep Desa Wisata

Desa Wisata Budo bukan sekadar destinasi liburan biasa. Tujuan utama Desa Wisata adalah mempromosikan ekowisata berkelanjutan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan alam dan masyarakat setempat.

Bagian 3 : Keindahan Alam Desa Wisata Budo

3.1 Pemandangan Pegunungan yang Memukau

Salah satu daya tarik utama Desa Wisata Budo adalah pemandangan pegunungan yang menghijau dan memukau. Udara segar dan alam yang masih alami menciptakan lingkungan yang ideal untuk bersantai dan merenungi keindahan alam. Disana terdapat Gunung Dapi dapi dan Gunung Piring

a.     Gunung Dapi-dapi memilki tanaman kelapa, cengkih, pala, pisang dan juga woka, dimana menjadi salah satu penghasilan terbanyak dari Masyarakat Desa Budo itu sendiri, selain itu di area pegunungan Dapi-dapi memiliki banyak tanaman herbal yang berguna untuk menjadi Obat herbal bagi Masyarakat Desa Budo. Pemandangan di bukit Gunung Dapi-dapi sangatlah indah Wisatawan bisa langsung melihat pemandangan Sunrise di pagi hari dan juga Sunset di sore hari, ketinggian gunung ini -+ 300 Meter dari permukaan laut, Pemerintah Desa Budo sudah membuka Gunung Dapi-Dapi sebagai Destinasi Atraksi Wisat Tracking, jadi apabila ada wisatawan lokal maupun asing yang datang mendaki, akan di pandu langsung oleh Guide Pendaki dari Desa Budo, Selain itu yang menjadi salah satu keunikan bagi Desa Budo, yaitu Tanaman Woka yang menjadi salah satu ikonnya Desa Budo, dimana seluruh Jaga/Dusun berlomba lomba untuk menghiasi halaman rumah mereka dengan membangun sebuah Pondok-pondok kecil 

b.     Gunung Piring memilki pemandangan yang sama denga Gunung Dapi-Dapi dimana Kedua Gunung tersebut memilki pemandangan yang sama, perbuedaan ketinggian Gunung Dapi-Dapi dan Gunung Piring hanya berbeda sedikit. Air bersih yang masyarakat Desa Budo milki adalah air bersih yang di ambil dari mata air Gunung Piring, dimana Pemerintah Desa Budo membuat pipa-pipa dari Gunung Piring hingga sampai ke rumah warga agar mempermudah masyarakat untuk mendapatkan iar besih.

3.2  Air Terjun Budo dan Hutan Mangrove Keajaiban Alam 

Air Terjun Budo adalah salah satu daya tarik yang paling terkenal di desa ini. Dengan ketinggian yang mengesankan dan gemuruh air yang mengalir, air terjun ini menciptakan panorama yang spektakuler. Selain itu terdapat hutan mangrove yang sangat luas. Desa Budo memiliki hutan mangrove (bakau) yang sangat besar, dengan memilki luas sebesar 3000 meter persegi, Adapun Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove yang sampai sekarang Desa Budo Miliki yaitu :

1.       1,   1.   Mangrove Sebagai Penyimpan Karbon

Sebagaimana ekosistem hutan lainnya, ekosistem mangrove mempunyai peran sebagai penyerap karbondioksida (CO2) dari udara. Menurut Donato et al. (2012): Deforestasi dan perubahan tata guna lahan saat ini menyebabkan emisi karbondioksida (CO2) sekitari 8–20% yang bersumber dari kegiatan manusia di tingkat global, menempati posisi kedua setelah pembakaran bahan bakar fosil.Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara meningkatkan peran hutan sebagai penyerap CO2 melalui sistem pengelolaan hutan alam dan hutan tanaman yang sinergis dengan fungsi sosial dan nilai ekonomi hutan tersebut.

 2.       Mangrove Sebagai Tempat Pendidikan & Penelitian

Sudah banyak Universitas di Sulawesi Utara yang mendatangi Desa Budo untuk membuat Penelitian, sebagiannya dari Dinas Kehutanan Sulawesi Utara yang datang untuk studi banding agar mengetahui lebih dekat tentang Mangrove. Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang bersifat unik, sebab melingkupi ekosistem darat dan laut dimana didalamnya terdapat beragam biota daratan dan akuatik.Kondisi yang khas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pendidikan dan penelitian baik yang berhubungan dengan faktor biofisik ataupun faktor sosial ekonomis untuk menunjang pengelolaan sumberdaya hayati yang rasional di daerah pesisir. 

 3.     Mangrove Sebagai Ekowisata

Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Bentuk pariwisata ini telah menjadi salah satu kegiatan ekonomi global yang terbesar. Suatucara untuk membayar konservasi alam dan meningkatkan nilai lahan-lahan dalam kondisi alami. “Ekowisata sesungguhnya adalah suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan lingkungan, ekonomi dan social” (Lindberg 1995).

3.3 Keanekaragaman Flora dan Fauna

Desa Wisata Budo juga menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. Keberagaman hayati ini memberikan pengalaman yang unik bagi para pengunjung yang tertarik dengan ekologi alam. Selain memiliki kekayaan flora khususnya mangrove, dimana terdapat 9 (sembilan) jenis mangrove yaitu mangrove merah, api-api hitam, bakau kurap, avicennia lanata (api-api), avicennia marina (api-api putih), acrostichum aureum, kandelia candel, candelia obevata, rizhopora lamaroki juga kekayaan fauna khususnya laut dan bawah laut seperti fork fish, lion fish, crocodile fish, crab, octopus dan sea horse.

Desa Budo juga memilki pemandangan di bawah laut yang tidak kalah indah dengan Taman Laut yang ada di Sulawesi Utara, Selain keindahan dari Pegunungan, Bawah Laut Desa Budo memilki keindahan spesie-spesies yang sangat di minati bagi para Photographer Underwater Manca Negara, Sebut saja salah satunya adalah Pygmy Seahorse. Hewan kecil indah ini memilki ukuran kurang lebih 2 cm, dan tidak semua taman laut memlki spesies ini, Hewan kecil ini Memiliki nama Latin yaitu Hippocampus bergibantiPygmy Seahorse ini memang nyata, dan di Indonesia pun kita dapat menemukannya di beberapa tempat, sepeti Sulawei, Bali & Papua, dan Pygmy Seahorse ini mempunyai bebrapa jenis, yang salah satunya adalah bergibanti pygmy seahorse yang terdiri dari 2 varian warna yang di kenal, yaitu abu-abu dengan tuberkel merah dan kuning dengan tuberkel oranye.


Bagian 4 : Kekayaan Budaya dan Tradisi

4.1 Pertemuan Budaya Beragam

Desa Wisata Budo adalah contoh yang hidup tentang keberagaman budaya. Berbagai suku dan etnis yang tinggal di desa ini membawa serta tradisi, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda.

4.2 Seni dan Kerajinan Lokal

Masyarakat desa terlibat dalam seni dan kerajinan tradisional. Produk-produk ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menceritakan cerita tentang budaya lokal. Seperti berbagai bentuk cenderamata kerajinan anyaman dari bahan ginto (rumput liar lokal) seperti topi, keranjang, hiasan dinding. Desa Budo memilki seni tari Masamper, Pato-pato & Musik Traditional Gitar Mama, yang sering dipakai ketua ada penyambutan tamu, atau acara-acara khusus. Masamper adalah kesenian tradisional masyarakat Noorder Einlanden dalam bahasa Belanda yang berarti pulau-pulau lebih utara atau populer disebut Nusa Utara, atau Sangihe, Talaut dan Sitaro. Masamper merupakan kegiatan bernyanyi bersama-sama secara berkelompok dan saling berbalas-balasan nyanyian.

Kesenian Masamper merupakan grup seni bernyanyi yang memadukan dua unsur utama, yaitu vokal dan sentuhan geraka harus seirama, disertai dengan gerak tari dari si pembawa lagu (pengaha) dalam tradisi Masamper, tidaklah sekadar menyanyi bersama anggota. Bagian tengah lokasi masamper dibiarkan kosong, menjadi tempat bagi mereka yang mendapat giliran memimpin lagu.

Pada hakekatnya Masamper merupakan media pengungkapan jiwa, mengekspresikan jati diri dan secara khusus memiliki nilai yang universa, religius, interaksi sosial, historis, cinta bangsa dan tanah air, pendidikan dan identitas kultural. Sedangkan Pato-Pato memilki pengerian yang hampir sama dengan Masamper, perbedaannya adalah Pato-Pato membentuk satu barisan panjang dan mendengarkan aba-aba dari Pangatasen (Dirigen) dan menari sambil bernyanyi. Desa Budo sering mengutus Group Masamper untuk mengikuti Lomba Masamper Tingkat Kabupaten dan sampai sekarang ini Desa Budo sering menjuarai lomba tersebut. Desa Budo memilki 2 Group Masamper yang terdiri dari 15 - 20 orang, ada Group Kaum Bapak (Pria) dan Juga Group Kaum Ibu (Wanita) dengan lagu-lagu dan tarian yang banyak dikuasai. Sedangkan Musik Traditional Gitar Mama sering di pakai pada saat jamuan para tamu

 

4.3 Upacara Adat dan Tradisi

Desa Wisata Budo juga dikenal dengan upacara adat dan tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini. Ini mencakup upacara perkawinan, ritual keagamaan, dan perayaan budaya. Desa Budo memiliki budaya yaitu Upacara Adat Tulude yang dilakukan setiap awal tahun baru, biasanya dilaksanakan bulan Januari atau Februari, Tulude atau sering juga disebut dengan Kunci Tahun, sudah menjadi BUdaya Desa Budo dari zaman Hukum Tua Pertama, yang sampai sekarang masih di laksanakan. Dalam Upacara Adat Tulude, Masyarakat bersama-sama mendoakan Desa untuk kedepannya lebih baik, agar terhindar dari bencana, menolak segala yang jahat yang ada di Desa tersebut, Upacara ini sangatlah sakral menurut kepercayaan, karena apabila salah memotong Kue Tamu atau Tumpeng akan ada masalah yang datang, dan ini sudah banyak terjadi di Desa-desa lainnya, Kue Tamu Adat Tulude ini harus dipotong secara adat, sebelum memotongnya harus berdoa untuk desa. Kue Tamu Adat ini biasanya dibuat Segitiga panjang yang bahan bakunya adalah Nasi Kuning ataupun Waji (Beras Ketan, Gula merah dan Rempah-rempah lainnya).  

Bagian 5: Ekowisata Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat

5.1 Prinsip Ekowisata Berkelanjutan

Desa Wisata Budo mengambil pendekatan ekowisata berkelanjutan dengan fokus pada pelestarian lingkungan alam, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan ekologi.

5.2 Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat Lokal

Dengan adanya wisatawan yang datang, masyarakat setempat mendapatkan peluang ekonomi baru, seperti menjual kerajinan tangan, menyediakan akomodasi, dan memberikan layanan sebagai pemandu wisata.

5.3 Pemberdayaan Perempuan dan Pemuda

Desa Wisata Budo juga memberikan peluang bagi perempuan dan pemuda untuk terlibat dalam industri pariwisata, menciptakan dampak positif pada inklusivitas dan kesetaraan gender.

Bagian 6: Hasil Positif dan Dampak bagi Masyarakat

6.1 Peningkatan Kesadaran Lingkungan

Dengan pendekatan ekowisata, masyarakat Desa Wisata Budo semakin sadar tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan.

6.2 Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Melalui program pelatihan dan pendidikan, masyarakat lokal mendapatkan keterampilan dan pengetahuan baru yang mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.

6.3 Pengenalan Budaya Lokal Pada Pengunjung

Wisatawan yang datang ke Desa Wisata Budo juga mendapatkan pengalaman mendalam tentang budaya lokal dan tradisi masyarakat setempat.

Bagian 7: Tantangan dan Harapan

7.1 Tantangan Pelestarian Lingkungan

Desa Wisata Budo masih perlu menghadapi tantangan seperti pengelolaan sampah dan penggunaan air yang berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

7.2 Harapan Masa Depan

Harapan untuk Desa Wisata Budo adalah menjadi contoh global dalam pengelolaan ekowisata berkelanjutan dan pelestarian budaya lokal. Desa Wisata Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, sebagai satu-satunya Desa di Sulawesi Utara yang masuk 50 besar pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2022, dan berhasil meraih Juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2022 kategori Digital dan Kreatif.

Kesimpulan

Desa Wisata Budo di Sulawesi Utara adalah contoh yang mengilustrasikan bagaimana keindahan alam, kekayaan budaya, dan kearifan tradisional dapat diintegrasikan dalam ekowisata berkelanjutan. Dengan mempromosikan kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal, desa ini membuktikan bahwa pariwisata dapat menjadi sarana untuk menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang. Desa Wisata Budo adalah destinasi yang menginspirasi, mengedukasi, dan memberdayakan, memberikan dampak positif yang berkelanjutan.

(Arip Budiyanto Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Plt. Kepala Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Manado) 


Referensi:

 

https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/budo, diakses tanggal 31 Agustus 2023

https://www.speednews-manado.com/2022/10/desa-budo-raih-juara-1-anugerah-desa-wisata-indonesia-adwi-tahun-2022-kategori-digital-dan-kreatif/, diakses tanggal 31 Agustus 2023

 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon