Desa Wisata Budo, Sulawesi Utara: Memahami Keindahan Alam, Budaya Lokal, dan Kearifan Tradisional yang Menakjubkan
N/a
Kamis, 31 Agustus 2023 |
3901 kali
Pendahuluan
Indonesia
merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, keindahan alam, dan warisan
tradisional. Salah satu tempat yang mencerminkan kekayaan ini adalah Desa
Wisata Budo, yang terletak di provinsi Sulawesi Utara. Desa Wisata Budo adalah
contoh nyata bagaimana alam yang memukau, budaya lokal yang kaya, dan kearifan
tradisional dapat berpadu dalam harmoni, menciptakan pengalaman wisata yang
luar biasa. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang Desa Wisata Budo,
menjelajahi segala aspek yang membuatnya unik dan menarik, serta menyoroti
pentingnya mempromosikan ekowisata berkelanjutan dan pelestarian budaya lokal.
Bagian 1 : Potret Provinsi Sulawesi Utara
1.1 Keanekaragaman Alam dan Budaya
Sulawesi
Utara dikenal sebagai provinsi yang memiliki kekayaan alam dan kebudayaan yang
luar biasa. Dengan panorama pegunungan yang megah, pantai indah, dan kehidupan
laut yang mempesona, provinsi ini menawarkan beragam pilihan destinasi wisata.
1.2 Keberagaman Etnis dan Budaya
Sulawesi
Utara dihuni oleh berbagai suku dan etnis seperti suku Minahasa, Bolaang
Mongondow, dan Sangir. Setiap suku memiliki budaya, bahasa, dan adat istiadat
yang khas, menciptakan lapisan keberagaman yang menarik untuk dijelajahi.
Bagian 2 : Mengenal Desa Wisata Budo
2.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas
Desa Wisata Budo terletak di daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Meskipun
terletak di pedalaman, desa ini semakin mudah diakses berkat pembangunan
infrastruktur jalan yang berkembang.
2.2 Tujuan dan Konsep Desa Wisata
Desa Wisata
Budo bukan sekadar destinasi liburan biasa. Tujuan utama Desa Wisata adalah
mempromosikan ekowisata berkelanjutan yang memberikan dampak positif bagi
lingkungan alam dan masyarakat setempat.
Bagian 3 : Keindahan Alam Desa Wisata Budo
3.1 Pemandangan Pegunungan yang Memukau
Salah satu
daya tarik utama Desa Wisata Budo adalah pemandangan pegunungan yang menghijau
dan memukau. Udara segar dan alam yang masih alami menciptakan lingkungan yang
ideal untuk bersantai dan merenungi keindahan alam. Disana terdapat Gunung Dapi
dapi dan Gunung Piring
a. Gunung
Dapi-dapi memilki tanaman kelapa, cengkih, pala, pisang dan juga woka, dimana
menjadi salah satu penghasilan terbanyak dari Masyarakat Desa Budo itu sendiri,
selain itu di area pegunungan Dapi-dapi memiliki banyak tanaman herbal yang
berguna untuk menjadi Obat herbal bagi Masyarakat Desa Budo. Pemandangan di
bukit Gunung Dapi-dapi sangatlah indah Wisatawan bisa langsung melihat
pemandangan Sunrise di pagi hari dan juga Sunset di sore hari, ketinggian
gunung ini -+ 300 Meter dari permukaan laut, Pemerintah Desa Budo sudah membuka
Gunung Dapi-Dapi sebagai Destinasi Atraksi Wisat Tracking, jadi apabila ada
wisatawan lokal maupun asing yang datang mendaki, akan di pandu langsung oleh
Guide Pendaki dari Desa Budo, Selain itu yang menjadi salah satu keunikan bagi
Desa Budo, yaitu Tanaman Woka yang menjadi salah satu ikonnya Desa Budo,
dimana seluruh Jaga/Dusun berlomba lomba untuk menghiasi halaman rumah mereka
dengan membangun sebuah Pondok-pondok kecil
b. Gunung Piring memilki pemandangan yang sama denga Gunung Dapi-Dapi dimana Kedua Gunung tersebut memilki pemandangan yang sama, perbuedaan ketinggian Gunung Dapi-Dapi dan Gunung Piring hanya berbeda sedikit. Air bersih yang masyarakat Desa Budo milki adalah air bersih yang di ambil dari mata air Gunung Piring, dimana Pemerintah Desa Budo membuat pipa-pipa dari Gunung Piring hingga sampai ke rumah warga agar mempermudah masyarakat untuk mendapatkan iar besih.
3.2 Air Terjun Budo dan Hutan Mangrove Keajaiban Alam
Air Terjun
Budo adalah salah satu daya tarik yang paling terkenal di desa ini. Dengan
ketinggian yang mengesankan dan gemuruh air yang mengalir, air terjun ini
menciptakan panorama yang spektakuler. Selain itu terdapat hutan mangrove yang
sangat luas. Desa Budo memiliki hutan mangrove (bakau) yang sangat besar,
dengan memilki luas sebesar 3000 meter persegi, Adapun Fungsi dan Manfaat Hutan
Mangrove yang sampai sekarang Desa Budo Miliki yaitu :
1.
1, 1. Mangrove Sebagai Penyimpan Karbon
Sebagaimana ekosistem hutan
lainnya, ekosistem mangrove mempunyai peran sebagai penyerap karbondioksida
(CO2) dari udara. Menurut Donato et al. (2012): Deforestasi dan perubahan tata
guna lahan saat ini menyebabkan emisi karbondioksida (CO2) sekitari 8–20% yang
bersumber dari kegiatan manusia di tingkat global, menempati posisi kedua
setelah pembakaran bahan bakar fosil.Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara
meningkatkan peran hutan sebagai penyerap CO2 melalui sistem pengelolaan hutan
alam dan hutan tanaman yang sinergis dengan fungsi sosial dan nilai ekonomi
hutan tersebut.
2. Mangrove Sebagai Tempat Pendidikan & Penelitian
Sudah banyak Universitas di
Sulawesi Utara yang mendatangi Desa Budo untuk membuat Penelitian, sebagiannya
dari Dinas Kehutanan Sulawesi Utara yang datang untuk studi banding agar
mengetahui lebih dekat tentang Mangrove. Ekosistem mangrove adalah
ekosistem yang bersifat unik, sebab melingkupi ekosistem darat dan laut dimana
didalamnya terdapat beragam biota daratan dan akuatik.Kondisi yang khas
tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pendidikan dan penelitian baik yang
berhubungan dengan faktor biofisik ataupun faktor sosial ekonomis untuk
menunjang pengelolaan sumberdaya hayati yang rasional di daerah pesisir.
3. Mangrove Sebagai Ekowisata
Ekowisata adalah suatu bentuk
perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi
lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.
Bentuk pariwisata ini telah menjadi salah satu kegiatan ekonomi global yang
terbesar. Suatucara untuk membayar konservasi alam dan meningkatkan nilai
lahan-lahan dalam kondisi alami. “Ekowisata sesungguhnya adalah suatu perpaduan
dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan lingkungan, ekonomi dan
social” (Lindberg 1995).
3.3 Keanekaragaman Flora dan Fauna
Desa Wisata Budo juga menjadi rumah bagi berbagai
jenis flora dan fauna endemik. Keberagaman hayati ini memberikan pengalaman
yang unik bagi para pengunjung yang tertarik dengan ekologi alam. Selain memiliki
kekayaan flora khususnya mangrove, dimana terdapat 9 (sembilan) jenis mangrove yaitu
mangrove merah, api-api hitam, bakau kurap, avicennia lanata (api-api), avicennia
marina (api-api putih), acrostichum aureum, kandelia candel, candelia
obevata, rizhopora lamaroki juga kekayaan fauna khususnya laut dan
bawah laut seperti fork fish, lion fish, crocodile fish, crab,
octopus dan sea horse.
Desa Budo juga memilki pemandangan di bawah laut
yang tidak kalah indah dengan Taman Laut yang ada di Sulawesi Utara, Selain
keindahan dari Pegunungan, Bawah Laut Desa Budo memilki keindahan
spesie-spesies yang sangat di
minati bagi para Photographer Underwater
Manca Negara, Sebut saja salah satunya adalah Pygmy Seahorse. Hewan
kecil indah ini memilki ukuran kurang lebih 2 cm, dan tidak semua taman laut
memlki spesies ini, Hewan kecil ini Memiliki nama Latin yaitu Hippocampus
bergibanti, Pygmy Seahorse ini memang nyata, dan di Indonesia
pun kita dapat menemukannya di beberapa tempat, sepeti Sulawei, Bali &
Papua, dan Pygmy Seahorse ini mempunyai bebrapa jenis, yang salah
satunya adalah bergibanti pygmy seahorse yang terdiri dari 2 varian
warna yang di kenal, yaitu abu-abu dengan tuberkel merah dan kuning dengan
tuberkel oranye.
Bagian 4 : Kekayaan Budaya dan Tradisi
4.1 Pertemuan Budaya Beragam
Desa Wisata
Budo adalah contoh yang hidup tentang keberagaman budaya. Berbagai suku dan
etnis yang tinggal di desa ini membawa serta tradisi, bahasa, dan adat istiadat
yang berbeda.
4.2 Seni dan Kerajinan Lokal
Masyarakat desa terlibat dalam seni dan kerajinan
tradisional. Produk-produk ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga
menceritakan cerita tentang budaya lokal. Seperti berbagai bentuk cenderamata
kerajinan anyaman dari bahan ginto (rumput liar lokal) seperti topi, keranjang,
hiasan dinding. Desa Budo memilki seni tari Masamper, Pato-pato & Musik
Traditional Gitar Mama, yang sering dipakai ketua ada penyambutan tamu, atau
acara-acara khusus. Masamper adalah kesenian tradisional
masyarakat Noorder Einlanden dalam bahasa Belanda yang
berarti pulau-pulau lebih utara atau populer disebut Nusa Utara, atau Sangihe,
Talaut dan Sitaro. Masamper merupakan kegiatan bernyanyi bersama-sama
secara berkelompok dan saling berbalas-balasan nyanyian.
Kesenian Masamper merupakan grup seni bernyanyi
yang memadukan dua unsur utama, yaitu vokal dan sentuhan geraka harus seirama,
disertai dengan gerak tari dari si pembawa lagu (pengaha) dalam tradisi
Masamper, tidaklah sekadar menyanyi bersama anggota. Bagian tengah lokasi
masamper dibiarkan kosong, menjadi tempat bagi mereka yang mendapat giliran
memimpin lagu.
Pada hakekatnya Masamper merupakan media
pengungkapan jiwa, mengekspresikan jati diri dan secara khusus memiliki nilai
yang universa, religius, interaksi sosial, historis, cinta bangsa dan tanah
air, pendidikan dan identitas kultural. Sedangkan Pato-Pato memilki pengerian
yang hampir sama dengan Masamper, perbedaannya adalah Pato-Pato membentuk satu barisan panjang dan mendengarkan aba-aba dari Pangatasen
(Dirigen) dan menari sambil bernyanyi. Desa Budo sering mengutus Group Masamper
untuk mengikuti Lomba Masamper Tingkat Kabupaten dan sampai sekarang ini Desa
Budo sering menjuarai lomba tersebut. Desa Budo memilki 2 Group Masamper yang
terdiri dari 15 - 20 orang, ada Group Kaum Bapak (Pria) dan Juga Group Kaum Ibu
(Wanita) dengan lagu-lagu dan tarian yang banyak dikuasai. Sedangkan Musik
Traditional Gitar Mama sering di pakai pada saat jamuan para tamu.
4.3 Upacara Adat dan Tradisi
Desa Wisata Budo juga dikenal dengan upacara adat
dan tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini. Ini mencakup upacara
perkawinan, ritual keagamaan, dan perayaan budaya. Desa Budo memiliki budaya yaitu Upacara Adat Tulude
yang dilakukan setiap awal tahun baru, biasanya dilaksanakan bulan Januari atau
Februari, Tulude atau sering juga disebut dengan Kunci Tahun, sudah menjadi
BUdaya Desa Budo dari zaman Hukum Tua Pertama, yang sampai sekarang masih di
laksanakan. Dalam Upacara Adat Tulude, Masyarakat bersama-sama mendoakan Desa
untuk kedepannya lebih baik, agar terhindar dari bencana, menolak segala yang
jahat yang ada di Desa tersebut, Upacara ini sangatlah sakral menurut kepercayaan,
karena apabila salah memotong Kue Tamu atau Tumpeng akan ada masalah yang
datang, dan ini sudah banyak terjadi di Desa-desa lainnya, Kue Tamu Adat Tulude
ini harus dipotong secara adat, sebelum memotongnya harus berdoa untuk desa.
Kue Tamu Adat ini biasanya dibuat Segitiga panjang yang bahan bakunya adalah
Nasi Kuning ataupun Waji (Beras Ketan, Gula merah dan Rempah-rempah
lainnya).
Bagian 5: Ekowisata
Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat
5.1 Prinsip Ekowisata Berkelanjutan
Desa Wisata
Budo mengambil pendekatan ekowisata berkelanjutan dengan fokus pada pelestarian
lingkungan alam, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan ekologi.
5.2 Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat Lokal
Dengan
adanya wisatawan yang datang, masyarakat setempat mendapatkan peluang ekonomi
baru, seperti menjual kerajinan tangan, menyediakan akomodasi, dan memberikan
layanan sebagai pemandu wisata.
5.3 Pemberdayaan Perempuan dan Pemuda
Desa Wisata
Budo juga memberikan peluang bagi perempuan dan pemuda untuk terlibat dalam
industri pariwisata, menciptakan dampak positif pada inklusivitas dan
kesetaraan gender.
Bagian 6:
Hasil Positif dan Dampak bagi Masyarakat
6.1 Peningkatan Kesadaran Lingkungan
Dengan
pendekatan ekowisata, masyarakat Desa Wisata Budo semakin sadar tentang
pentingnya menjaga alam dan lingkungan.
6.2 Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Melalui
program pelatihan dan pendidikan, masyarakat lokal mendapatkan keterampilan dan
pengetahuan baru yang mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
6.3 Pengenalan Budaya Lokal Pada Pengunjung
Wisatawan
yang datang ke Desa Wisata Budo juga mendapatkan pengalaman mendalam tentang
budaya lokal dan tradisi masyarakat setempat.
Bagian 7:
Tantangan dan Harapan
7.1 Tantangan Pelestarian Lingkungan
Desa Wisata
Budo masih perlu menghadapi tantangan seperti pengelolaan sampah dan penggunaan
air yang berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
7.2 Harapan Masa Depan
Harapan untuk Desa Wisata Budo adalah menjadi contoh global dalam
pengelolaan ekowisata berkelanjutan dan pelestarian budaya lokal. Desa Wisata
Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, sebagai satu-satunya Desa di
Sulawesi Utara yang masuk 50 besar pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia
(ADWI) Tahun 2022, dan berhasil meraih Juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia
(ADWI) Tahun 2022 kategori Digital dan Kreatif.
Kesimpulan
Desa Wisata
Budo di Sulawesi Utara adalah contoh yang mengilustrasikan bagaimana keindahan
alam, kekayaan budaya, dan kearifan tradisional dapat diintegrasikan dalam
ekowisata berkelanjutan. Dengan mempromosikan kelestarian lingkungan dan
pemberdayaan masyarakat lokal, desa ini membuktikan bahwa pariwisata dapat
menjadi sarana untuk menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang.
Desa Wisata Budo adalah destinasi yang menginspirasi, mengedukasi, dan
memberdayakan, memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
(Arip Budiyanto Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Plt. Kepala Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Manado)
Referensi:
https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/budo, diakses tanggal 31 Agustus
2023
https://www.speednews-manado.com/2022/10/desa-budo-raih-juara-1-anugerah-desa-wisata-indonesia-adwi-tahun-2022-kategori-digital-dan-kreatif/, diakses tanggal 31 Agustus
2023
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |