Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Manado
Belajar Integritas dari Sang Proklamator: Soekarno-Hatta

Belajar Integritas dari Sang Proklamator: Soekarno-Hatta

N/a
Minggu, 20 Agustus 2023 |   27596 kali

Bulan Agustus ini mengingatkan kita kepada peristiwa bersejarah yang diperingati setiap tahunnya yaitu Proklamasi Kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan didampingi Drs. Mohammad Hatta merupaka tonggak perjuangan bangsa Indonesia yang telah lepas dari penjajahan bangsa lain, menjadi suatu negara yang berdiri sejajar dengan negara lainnya. Namun banyak orang mengatakan bahwa kemerdekaan yang kita dapatkan baru sebatas kemerdekaan dari sudut pandang berdirinya suatu negara. Banyak hal lain yang kita rasakan belum Merdeka, salah satunya adalah merdeka dari korupsi. Kasus korupsi yang masih banyak terjadi membuat kita bertanya tanya  apakah ini merupakan budaya yang diwariskan oleh pendiri, para tokoh bangsa kita? Padahal kalau kita mau belajar dari sejarah para tokoh bangsa akan kita temukan contoh integritas dalam kehidupan mereka, diantaranya adalah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

 

1.       Ir. Soekarno-Biarlah Diri Merana Asalkan Negara Tetap Terjaga

 

Ir. Soekarno (Bung Karno) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulung Agung. Di kota itulah ia mulai bersekolah, namun pindah ke Mojokerto, mengikuti kedua orangtuanya. Bung Karno mengembuskan napas terakhir pada 21 Juni 1970 karena sakit ginjal yang dideritanya sejak 1965. Masa-masa akhir hayatnya terbilang merana karena dijadikan tahanan politik oleh Orde Baru yang berkuasa kala itu.

Akhir tragis dan tak mengenakkan dialami Ir. Sukarno selaku Presiden Republik Indonesia. Tak lama setelah mosi tak percaya parlemen bentukan Nasution pada 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai presiden baru, Bung Karno menerima surat perintah untuk segera meninggalkan istana. Ada rasa sedih yang menjalar di tubuhnya. Namun, ia harus rela dan mengalah. Meski merasa dikhianati, Bung Karno tak memendam dengki, apalagi sampai terlintas untuk melakukan pembalasan. Bakti kepada negeri tetap dijunjungnya tinggi-tinggi. Dengan tegas, ia memperingatkan anak anaknya untuk tak membawa apa pun yang bukan milik pribadi. “Mana kakak-kakakmu?” tanya Bung Karno kepada Guruh, putra beliau. “Mereka pergi ke rumah ibu (Fatmawati),” jawab Guruh. “Mas Guruh, bapak sudah tidak boleh tinggal di istana ini lagi. Kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain. Itu punya negara!” tandas Bung Karno yang lantas menyampaikan hal serupa kepada para ajudannya.

Salah satu ajudan Bung Karno kala itu bertanya, “Kenapa Bapak tidak melawan? Kenapa dari dulu Bapak tidak melawan?” Mendengar pertanyaan itu, Bung Karno menjawab, “Kalian tahu apa... Kalau saya melawan, nanti perang saudara. Perang saudara itu sulit. Jikalau perang dengan Belanda, kita jelas... Hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak... Lebih baik saya robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara!”

Saat akhirnya meninggalkan istana, Bung Karno pun hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Dengan menumpang VW kodok, ia minta diantarkan ke rumah Fatmawati di bilangan Sriwijaya, Kebayoran.

Usai menjabat presiden dan terusir dari istana, Bung Karno bisa dikatakan merana. Ia tak punya apa-apa. Selama ini, ia hanya sibuk berbuat untuk bangsa dan negara. Ia tak sempat punya waktu untuk memikirkan diri sendiri, apalagi menimbun kekayaan. Beberapa kali, Bung Karno harus mencari utangan. Salah satunya ketika hendak menikahkan Sukmawati.

Kisah lainnya ketika suatu saat berjalan-jalan keliling kota, Bung Karno berhasrat membeli duku. “Tri, aku ingin duku,” kata Bung Karno kepada Putu Sugianitri, ajudan yang menemaninya. “Uangnya mana?” tanya Nitri. Bung Karno menjawab, “Sing ngelah pis. Aku tak punya uang.”  Nitri membuka dompetnya. Untuk membeli sekilo duku, uangnya masihlah cukup. Ia lantas mendatangi tukang duku dan meminta dukuduku itu dibawa ke arah Bung Karno. “Mau pilih mana, Pak? Manis-manis nih,” kata tukang duku itu. Bung Karno menjawab, “Coba kamu cari yang enak.”. Tukang duku terhenyak ketika mendengar suara yang dirasa sangat akrab di telinganya itu. “Lha, itu kan suara Bapak... Bapak... Bapak..!” seru si tukang duku sembari berlari ke arah teman-temannya. “Ada Pak Karno! Ada Pak Karno!”

Bung Karno tertawa dalam hati. Namun, dia khawatir tukang duku dan teman-temannya nanti diburu tentara karena dianggap mendukung dirinya. “Tri, cepat jalan...” Bung Karno pun berlalu dan melupakan duku yang diidamkannya. Baginya, keselamatan orang lain, apalagi rakyat kecil, lebih berharga dari beberapa butir duku yang diinginkannya.

 

2.       Drs. Mohammad Hatta-Setiap Perbuatan Adalah Demi Negara Yang Dicintai, Janganlah Berkhianat

 

 

Kisah hidup Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta) penuh warna. Dia lahir di Bukttinggi, 12 Agustus 1902, dalam keluarga yang dipengaruhi dua hal berbeda. Ayahnya berasal dari keluarga ulama, sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang. Namun, Hatta yang terlahir dengan nama Mohammad Athar tak lama menikmati belaian sang ayah. Saat Hatta berumur tujuh bulan, sang ayah meninggal dunia.

Bung Hatta meninggal pada 14 Maret 1980 setelah dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jenazahnya kemudian dikebumikan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Jujur, sederhana, dan teguh memegang prinsip. Begitulah kepribadian Mohammad Hatta. Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia yang juga seorang dokter, menjadi saksi hal tersebut ketika mendampingi Bung Hatta berobat ke luar negeri pada 1970-an. “Waktu singgah di Bangkok dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Bung Hatta bertanya kepada sekretarisnya, Pak Wangsa, jumlah sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat. Ternyata sebagian uang masih utuh karena ongkos pengobatan tak sebesar dari dugaan. Segera Hatta memerintahkan mengembalikan uang sisa itu kepada pemerintah via Kedubes RI di Bangkok,” ungkap Mahar.

Hal serupa juga dilakukan Bung Hatta sesaat setelah lengser dari posisinya sebagai wakil presiden. Kala itu, Sekretaris Kabinet Maria Ulfah menyodorkan uang Rp6 juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Namun, dana itu ditolaknya. Bung Hatta mengembalikan uang itu kepada negara.

Bung Hatta melakukan itu karena tak ingin meracuni diri dan mengotori jiwanya dengan rezeki yang bukan haknya. Dia selalu teringat pepatah Jerman, Der Mensch ist, war es iszt, sikap manusia sepadan dengan caranya mendapat makan.

Kisah lainnya tentang menjaga rahasia negara, bahkan dari orang yang paling dekat yaitu istrinya. “Aduh, Ayah! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu akan ada penotongan uang? Ya.., uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tak bisa lagi, tak ada harganya.” Kalimat penyesalan itu terlontah dari mulut Rahmi Hatta, istri wakil presiden saat itu, Mohammad Hatta. Ibu Rahmi pantas kecewa. Demi membeli sebuah mesin jahit, sedikit demi sedikit ia menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun, ketika tabungannya sudah cukup untuk membeli mesin jahit idamannya, tiba-tiba saja pemerintah mengeluarkan kebijakan senering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Alhasil, nilai tabungan Ibu Rahmi pun menurun dan tak lagi cukup untuk membeli mesin jahit. Ibu Rahmi merasa dikhianati karena justru Bung Hatta yang mengumumkan senering tersebut.

Keluhan sang istri yang akrab dipanggil Yuke itu tak membuat Bung Hatta marah. Dengan tenang, dia berujar, “Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu, kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memeri tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!”

“Kepentingan negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit demi kepentingan seluruh negara. Kita coba nabung lagi, ya.”

Seperti wajarnya manusia biasa, Mohammad Hatta juga memiliki impian yang berkaitan dengan materi. Salah satunya, dia begitu mengidamkan sepatu Bally. Pada 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi. Harganya tentu saja tidaklah murah. Potongan iklan yang memuat alamat penjual sepatu itu menjadi saksi bisu keinginan sang wakil presiden. Demi sepatu itu, Bung Hatta berusaha menabung. Namun, uang tabungannya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan.

Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tak pernah bisa memiliki sepatu Bally idamannya itu. Sebenarnya bisa saja Bung Hatta merealisasikan keinginannya. Dia tinggal meminta bantuan orang lain untuk membelikan sepatu itu. Namun, bagi Bung Hatta, itu mencederai prinsip hidup dan kesetiaannya kepada negara.

Mudah mudahan kisah proklamator kemerdekaan tersebut dapat menjadi teladan bagi kita bagaimana menjaga integritas. Dirgahayu ke-78 Republik Indonesia, Terus Melaju Untuk Indonesia Maju. Merdekaa!!

(Arip Budiyanto Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Plt. Kepala Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Manado)


Sumber:

Tim KPK (EBook). ORANGE JUICE FOR INTEGRITY Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi, 2014.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon