Belajar Integritas dari Sang Proklamator: Soekarno-Hatta
N/a
Minggu, 20 Agustus 2023 |
27596 kali
Bulan Agustus ini
mengingatkan kita kepada peristiwa bersejarah yang diperingati setiap tahunnya
yaitu Proklamasi Kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno
dan didampingi Drs. Mohammad Hatta merupaka tonggak perjuangan bangsa Indonesia
yang telah lepas dari penjajahan bangsa lain, menjadi suatu negara yang berdiri
sejajar dengan negara lainnya. Namun banyak orang mengatakan bahwa kemerdekaan
yang kita dapatkan baru sebatas kemerdekaan dari sudut pandang berdirinya suatu
negara. Banyak hal lain yang kita rasakan belum Merdeka, salah satunya adalah
merdeka dari korupsi. Kasus korupsi yang masih banyak terjadi membuat kita
bertanya tanya apakah ini merupakan
budaya yang diwariskan oleh pendiri, para tokoh bangsa kita? Padahal kalau kita
mau belajar dari sejarah para tokoh bangsa akan kita temukan contoh integritas
dalam kehidupan mereka, diantaranya adalah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad
Hatta.
1. Ir.
Soekarno-Biarlah Diri Merana Asalkan Negara Tetap Terjaga
Ir. Soekarno (Bung Karno) lahir di Surabaya, Jawa Timur,
pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman
Rai. Ia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulung Agung. Di kota
itulah ia mulai bersekolah, namun pindah ke Mojokerto, mengikuti kedua
orangtuanya. Bung Karno
mengembuskan napas terakhir pada 21 Juni 1970 karena sakit ginjal yang
dideritanya sejak 1965. Masa-masa akhir hayatnya terbilang merana karena
dijadikan tahanan politik oleh Orde Baru yang berkuasa kala itu.
Akhir tragis dan tak mengenakkan dialami Ir. Sukarno selaku
Presiden Republik Indonesia. Tak lama setelah mosi tak percaya parlemen
bentukan Nasution pada 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai presiden baru,
Bung Karno menerima surat perintah untuk segera meninggalkan istana. Ada rasa
sedih yang menjalar di tubuhnya. Namun, ia harus rela dan mengalah. Meski merasa dikhianati, Bung Karno tak
memendam dengki, apalagi sampai terlintas untuk melakukan pembalasan. Bakti
kepada negeri tetap dijunjungnya tinggi-tinggi. Dengan tegas, ia memperingatkan
anak anaknya untuk tak membawa apa pun yang bukan milik pribadi. “Mana kakak-kakakmu?” tanya Bung Karno
kepada Guruh, putra beliau. “Mereka pergi ke rumah ibu (Fatmawati),” jawab
Guruh. “Mas Guruh, bapak sudah tidak boleh tinggal di istana ini lagi. Kamu
persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain. Itu punya
negara!” tandas Bung Karno yang lantas menyampaikan hal serupa kepada para
ajudannya.
Salah satu ajudan Bung Karno kala itu
bertanya, “Kenapa Bapak tidak melawan? Kenapa dari dulu Bapak tidak melawan?”
Mendengar pertanyaan itu, Bung Karno menjawab, “Kalian tahu apa... Kalau saya
melawan, nanti perang saudara. Perang saudara itu sulit. Jikalau perang dengan
Belanda, kita jelas... Hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa
sendiri tidak... Lebih baik saya robek dan hancur daripada bangsa saya harus
perang saudara!”
Saat akhirnya meninggalkan istana, Bung Karno pun hanya
mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Dengan menumpang VW kodok,
ia minta diantarkan ke rumah Fatmawati di bilangan Sriwijaya, Kebayoran.
Usai menjabat presiden dan terusir dari istana, Bung Karno
bisa dikatakan merana. Ia tak punya apa-apa. Selama ini, ia hanya sibuk berbuat
untuk bangsa dan negara. Ia tak sempat punya waktu untuk memikirkan diri
sendiri, apalagi menimbun kekayaan. Beberapa kali, Bung Karno harus mencari
utangan. Salah satunya ketika hendak menikahkan Sukmawati.
Kisah lainnya ketika suatu saat berjalan-jalan keliling
kota, Bung Karno berhasrat membeli duku. “Tri, aku ingin duku,” kata Bung Karno
kepada Putu Sugianitri, ajudan yang menemaninya. “Uangnya mana?” tanya Nitri.
Bung Karno menjawab, “Sing ngelah pis. Aku tak punya uang.” Nitri membuka dompetnya. Untuk membeli sekilo
duku, uangnya masihlah cukup. Ia lantas mendatangi tukang duku dan meminta
dukuduku itu dibawa ke arah Bung Karno. “Mau pilih mana, Pak? Manis-manis nih,”
kata tukang duku itu. Bung Karno menjawab, “Coba kamu cari yang enak.”. Tukang duku terhenyak ketika mendengar
suara yang dirasa sangat akrab di telinganya itu. “Lha, itu kan suara Bapak...
Bapak... Bapak..!” seru si tukang duku sembari berlari ke arah teman-temannya.
“Ada Pak Karno! Ada Pak Karno!”
Bung Karno
tertawa dalam hati. Namun, dia khawatir tukang duku dan teman-temannya nanti
diburu tentara karena dianggap mendukung dirinya. “Tri, cepat jalan...” Bung
Karno pun berlalu dan melupakan duku yang diidamkannya. Baginya, keselamatan
orang lain, apalagi rakyat kecil, lebih berharga dari beberapa butir duku yang
diinginkannya.
2.
Drs. Mohammad Hatta-Setiap
Perbuatan Adalah Demi Negara Yang Dicintai, Janganlah Berkhianat
Kisah hidup Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta) penuh warna.
Dia lahir di Bukttinggi, 12 Agustus 1902, dalam keluarga yang dipengaruhi dua
hal berbeda. Ayahnya berasal dari keluarga ulama, sedangkan ibunya berasal dari
keluarga pedagang. Namun, Hatta yang terlahir dengan nama Mohammad Athar tak
lama menikmati belaian sang ayah. Saat Hatta berumur tujuh bulan, sang ayah
meninggal dunia.
Bung Hatta meninggal pada 14 Maret 1980 setelah dirawat di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jenazahnya kemudian dikebumikan di TPU
Tanah Kusir Jakarta Selatan.
Jujur, sederhana, dan teguh memegang prinsip. Begitulah
kepribadian Mohammad Hatta. Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia
yang juga seorang dokter, menjadi saksi hal tersebut ketika mendampingi Bung
Hatta berobat ke luar negeri pada 1970-an. “Waktu singgah di Bangkok dalam perjalanan
pulang ke Jakarta, Bung Hatta bertanya kepada sekretarisnya, Pak Wangsa, jumlah
sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat. Ternyata sebagian uang masih
utuh karena ongkos pengobatan tak sebesar dari dugaan. Segera Hatta
memerintahkan mengembalikan uang sisa itu kepada pemerintah via Kedubes RI di
Bangkok,” ungkap Mahar.
Hal serupa juga dilakukan Bung Hatta sesaat setelah lengser
dari posisinya sebagai wakil presiden. Kala itu, Sekretaris Kabinet Maria Ulfah
menyodorkan uang Rp6 juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan
operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Namun, dana itu ditolaknya.
Bung Hatta mengembalikan uang itu kepada negara.
Bung Hatta melakukan itu karena tak ingin meracuni diri dan
mengotori jiwanya dengan rezeki yang bukan haknya. Dia selalu teringat pepatah
Jerman, Der Mensch ist, war es iszt, sikap manusia sepadan dengan caranya
mendapat makan.
Kisah lainnya tentang menjaga rahasia negara, bahkan dari
orang yang paling dekat yaitu istrinya. “Aduh, Ayah! Mengapa tidak bilang
terlebih dahulu akan ada penotongan uang? Ya.., uang tabungan kita tidak ada
gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tak bisa lagi, tak ada harganya.”
Kalimat penyesalan itu terlontah dari mulut Rahmi Hatta, istri wakil presiden saat
itu, Mohammad Hatta. Ibu Rahmi pantas kecewa. Demi membeli sebuah mesin jahit,
sedikit demi sedikit ia menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan
Bung Hatta.
Namun, ketika tabungannya sudah cukup untuk membeli mesin
jahit idamannya, tiba-tiba saja pemerintah mengeluarkan kebijakan senering
(pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Alhasil, nilai tabungan Ibu
Rahmi pun menurun dan tak lagi cukup untuk membeli mesin jahit. Ibu Rahmi
merasa dikhianati karena justru Bung Hatta yang mengumumkan senering tersebut.
Keluhan sang istri yang akrab dipanggil Yuke itu tak
membuat Bung Hatta marah. Dengan tenang, dia berujar, “Yuke, seandainya Kak
Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan
kepada ibumu. Lalu, kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan
memeri tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!”
“Kepentingan negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha
memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguhpun
saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada
siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit demi kepentingan seluruh negara. Kita coba
nabung lagi, ya.”
Seperti wajarnya manusia biasa, Mohammad Hatta juga
memiliki impian yang berkaitan dengan materi. Salah satunya, dia begitu
mengidamkan sepatu Bally. Pada 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu
tinggi. Harganya tentu saja tidaklah murah. Potongan iklan yang memuat alamat
penjual sepatu itu menjadi saksi bisu keinginan sang wakil presiden. Demi
sepatu itu, Bung Hatta berusaha menabung. Namun, uang tabungannya tidak pernah
mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk
membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan.
Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tak pernah bisa memiliki
sepatu Bally idamannya itu. Sebenarnya bisa saja Bung Hatta merealisasikan
keinginannya. Dia tinggal meminta bantuan orang lain untuk membelikan sepatu
itu. Namun, bagi Bung Hatta, itu mencederai prinsip hidup dan kesetiaannya
kepada negara.
Mudah mudahan kisah proklamator kemerdekaan tersebut dapat
menjadi teladan bagi kita bagaimana menjaga integritas. Dirgahayu ke-78
Republik Indonesia, Terus Melaju Untuk Indonesia Maju. Merdekaa!!
(Arip
Budiyanto Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Plt. Kepala Seksi Hukum dan
Informasi KPKNL Manado)
Sumber:
Tim
KPK (EBook). ORANGE JUICE FOR INTEGRITY Belajar Integritas kepada Tokoh
Bangsa. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi, 2014.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |