Malam yang Panjang di Kota Makassar: Kisah Resilience, Agility, dan Versatility Tim Penagihan Piutang Negara KPKNL
Indriani Aryanti Syahruddin
Senin, 01 September 2025 |
56 kali
Kota
Makassar (29/8), Pagi ini, kami bertiga dari tim penagihan piutang negara KPKNL
Makassar. Iling Saidah sebagai Kasi Piutang Negara, serta staf Piutang Negara
Syamsul Ratu Loly dan Abdi Negara berangkat menuju Kabupaten Takalar dengan
semangat tinggi untuk menjalankan tugas negara. Tepat pukul 09.00 WITA,
perjalanan dimulai. Jalanan bersahabat, udara cerah, dan seluruh agenda
penagihan di Takalar dapat kami tuntaskan sesuai rencana. Sekitar pukul 15.00
WITA, kami bergerak kembali ke Kota Makassar untuk melanjutkan agenda
berikutnya.
Saat
kembali ke kota, salah satu anggota tim harus kembali ke kantor karena tugas
mendesak, sehingga tersisa kami berdua melanjutkan pekerjaan. Kegiatan berjalan
lancar hingga menjelang sore. Namun, ketika hendak pulang, tepat satu kilometer
sebelum kantor, kami dihadang kondisi yang tak terduga, demonstrasi besar yang
memadati jalanan, disertai pembakaran yang menghambat arus lalu lintas.
Kemacetan parah memaksa kendaraan berhenti total. Kendaraan berhenti hampir
tanpa celah untuk bergerak. Klakson bersahutan, motor-motor menyelinap di
sela-sela mobil, dan wajah-wajah penat tampak dari setiap jendela kendaraan
yang terjebak.
Jam
terus berputar. Pukul 18.00, 19.00, hingga lewat pukul 20.00 WITA, kemacetan
masih mengikat kuat. Kami tidak bisa kembali ke kantor untuk melaporkan hasil
tugas, bahkan untuk sekadar pulang ke rumah pun masih menjadi harapan yang
jauh. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang bercampur kesabaran, terjebak di
antara lampu merah yang tak kunjung hijau dan kerumunan massa yang belum juga
bubar.
Di
situasi ini, kami diuji untuk menunjukkan resilience yaitu kemampuan bertahan
dan tetap fokus dalam menghadapi tantangan berat. Meskipun arus macet panjang
dan suasana mencekam, kami tidak menyerah. Kami tetap berkomitmen untuk
menjalankan tugas negara.
Kemudian,
kami menggunakan agility dengan kelincahan dan adaptasi cepat untuk mencari
solusi alternatif. Kami berkoordinasi melalui telepon untuk mengatur ulang
jadwal pelaporan dan komunikasi dengan kantor, memastikan informasi tetap
tersampaikan walau tidak bisa hadir fisik tepat waktu. Kami juga memanfaatkan
waktu yang ada untuk menyusun laporan secara cepat dan merencanakan langkah
berikutnya, memaksimalkan setiap kesempatan di tengah keterbatasan.
Selain
itu, kami mengaplikasikan versatility yaitu kemampuan beradaptasi dengan
berbagai peran dan situasi. Dalam kondisi darurat seperti ini, kami tak hanya
bertugas sebagai penagih, tapi juga sebagai pengamat situasi, evaluator risiko,
dan pengelola komunikasi, agar amanah tetap terlaksana tanpa mengabaikan
keselamatan diri.
Malam
ini terasa begitu panjang. Di tengah keramaian yang bising, ada kesunyian yang hanya
dapat didengar dalam hati, menunggu tanpa kepastian, berharap esok hari jalanan
kembali ramah, dan Makassar kembali tenang.
Di
tengah hiruk-pikuk yang menguji ketahanan mental dan fisik, kami belajar betapa
pentingnya memiliki ketangguhan, kelincahan, dan fleksibilitas, dan dibalik
semua keterbatasan ini, ada satu keyakinan yang tetap menyala bahwa tugas
mengabdi untuk negara harus tetap dijalankan. Rintangan di jalan mungkin
menghambat langkah, tetapi tidak akan pernah memadamkan semangat untuk
menuntaskan amanah. Ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan kepada negara harus
terus berjalan, tak terhalang oleh rintangan apapun.
#timpublikasi##kpknlmakassarEwako#
Foto Terkait Berita