Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Makassar
Tinjauan Kurang Optimalnya Tingkat Laku Lelang pada lelang.go.id: Perspektif Marketing dan Branding

Tinjauan Kurang Optimalnya Tingkat Laku Lelang pada lelang.go.id: Perspektif Marketing dan Branding

Gusnadi
Senin, 03 November 2025 |   362 kali

Abstrak

Lelang.go.id merupakan platform digital resmi pemerintah yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) sebagai sarana pelaksanaan lelang Barang Milik Negara, barang rampasan, serta aset lainnya. Meskipun memiliki legitimasi tinggi dan dukungan kelembagaan kuat, tingkat laku lelang pada platform ini masih kurang optimal. Artikel ini menganalisis penyebab utama belum optimalnya tingkat laku tersebut dari perspektif marketing dan branding, dengan menyoroti kurangnya strategi promosi, lemahnya citra merek (brand image), dan rendahnya kepercayaan publik terhadap proses lelang daring pemerintah. Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek pemasaran dan branding berperan krusial dalam membentuk persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap sistem lelang negara.


Pendahuluan

Sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan kekayaan negara, lelang berfungsi tidak hanya sebagai sarana pengalihan hak atas aset, tetapi juga sebagai mekanisme optimalisasi nilai ekonomi dari kekayaan negara. Melalui lelang.go.id, DJKN telah melakukan transformasi digital terhadap proses lelang, menggantikan model konvensional menjadi sistem daring yang lebih efisien dan transparan. Namun, data menunjukkan bahwa tingkat laku atau persentase keberhasilan lelang masih tergolong belum memuaskan di berbagai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Permasalahan ini menimbulkan pertanyaan mendasar:
mengapa aset yang telah dipublikasikan secara terbuka melalui platform resmi pemerintah tidak menarik minat pembeli?. Untuk menjawabnya, pendekatan marketing dan branding menjadi kunci, karena keberhasilan penjualan aset publik tidak hanya bergantung pada prosedur hukum dan nilai limit, tetapi juga pada bagaimana produk tersebut dikomunikasikan, dipersepsikan, dan dipercaya oleh publik.

1.      Analisis Faktor Marketing terhadap Kurang Optimalnya Tingkat Laku Lelang

Faktor pemasaran (marketing) berperan penting dalam memengaruhi keputusan calon pembeli untuk berpartisipasi dalam lelang. Berdasarkan pendekatan marketing mix (4P) — Product, Price, Place, dan Promotion. Berikut ini adalah analisis penyebab rendahnya minat terhadap lelang.go.id.

a.      Product (Produk Lelang) 

Aset yang dilelang di lelang.go.id memiliki karakteristik yang sangat beragam, mulai dari kendaraan, properti, hingga barang rampasan. Namun, seringkali deskripsi aset tidak disertai dengan foto berkualitas tinggi, informasi legalitas yang lengkap, atau penjelasan potensi ekonominya. Calon pembeli kesulitan menilai nilai riil aset, sehingga menurunkan minat partisipasi.

b.      Price (Harga atau Nilai Limit)

Penetapan harga limit yang terlalu tinggi dibandingkan nilai pasar aktual menjadi salah satu penyebab utama tidak lakunya lelang. Ketidaksesuaian antara nilai limit dan persepsi harga wajar membuat pembeli menilai bahwa risiko membeli di lelang negara terlalu besar. Dalam banyak kasus, harga tidak fleksibel dan kurang mencerminkan mekanisme pasar yang dinamis.

c.      Place (Akses dan Kemudahan)

Meskipun lelang.go.id bersifat daring, tidak semua masyarakat memahami cara berpartisipasi dalam sistem lelang elektronik. Proses registrasi, pembayaran jaminan, dan prosedur administratif masih dirasa kompleks bagi calon pembeli baru. Selain itu, banyak aset yang dilelang berlokasi jauh dari calon pembeli potensial, sehingga mengurangi daya tarik partisipasi.

d.      Promotion (Promosi dan Eksposur Publik)

Promosi lelang selama ini cenderung formal dan terbatas pada pengumuman di situs web resmi atau media sosial DJKN. Belum ada strategi promosi digital yang kuat seperti kampanye terpadu di media sosial, kolaborasi dengan influencer, atau pendekatan edukatif berbasis konten. Akibatnya, masyarakat umum tidak merasa terlibat atau tertarik untuk mengikuti lelang negara.

 

2.      Faktor Branding dan Persepsi Publik terhadap lelang.go.id

Branding menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap lelang.go.id. Dalam konteks pengelolaan aset negara, brand trust dan brand image memainkan peranan besar dalam menentukan tingkat partisipasi masyarakat.

a.      Brand Awareness (Kesadaran Merek)

Banyak masyarakat belum mengenal lelang.go.id sebagai marketplace resmi pemerintah. Kesadaran publik masih kurang karena sosialisasi lebih menekankan aspek hukum dan prosedural, bukan nilai manfaat dan peluang ekonominya. Hal ini menyebabkan lelang.go.id dipersepsikan sebagai “tempat pelelangan barang sitaan,” bukan sebagai “pasar peluang aset resmi milik negara.”

b.      Brand Image (Citra Merek)

Citra lelang.go.id saat ini masih identik dengan proses birokratis, lambat, dan penuh syarat administratif. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan komunikasi publik yang modern, platform ini dapat diposisikan sebagai simbol transparansi dan efisiensi pengelolaan aset negara.

c.      Brand Trust (Kepercayaan Merek)

Kepercayaan publik menjadi elemen kunci. Banyak calon peserta ragu terhadap proses lelang karena kurangnya testimoni, data keterbukaan hasil, dan edukasi publik. Masyarakat perlu diyakinkan bahwa sistem lelang negara aman, akuntabel, dan bebas intervensi. Tanpa kepercayaan ini, branding yang kuat tidak akan terbentuk.

 

3.      Strategi Penguatan Marketing dan Branding lelang.go.id

Untuk meningkatkan tingkat laku lelang, diperlukan integrasi strategi pemasaran dan branding yang modern, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan perilaku masyarakat digital. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:

a.      Rebranding dan Komunikasi Publik

DJKN perlu melakukan kampanye rebranding dengan mengubah persepsi publik bahwa lelang.go.id bukan hanya sarana hukum, tetapi juga pasar peluang investasi. Kampanye dengan tagline seperti “Aset Negara, Kesempatan Anda!” dapat memperkuat citra positif platform ini.

b.      Penguatan Promosi Digital dan Storytelling Aset 

Setiap aset lelang harus dipromosikan dengan pendekatan storytelling yang menarik: narasi tentang potensi aset, nilai ekonomis, dan keamanannya. Gunakan media sosial, video pendek, serta konten visual profesional untuk menjangkau generasi muda dan pelaku usaha kecil.

c.      Edukasi Publik dan Transparansi Proses 

Masyarakat perlu diberi pemahaman yang mudah tentang cara mengikuti lelang, risiko, dan manfaatnya. Video tutorial, webinar, dan kampanye edukatif dapat meningkatkan literasi lelang. Selain itu, publikasi data statistik tingkat laku, jumlah peserta, dan testimoni pemenang dapat membangun kepercayaan publik.

d.      Kolaborasi dan Kemitraan Strategis

DJKN dapat berkolaborasi dengan marketplace besar atau asosiasi bisnis untuk memperluas jangkauan peserta. Misalnya, integrasi promosi aset dengan platform seperti OLX atau Tokopedia, atau kerja sama dengan asosiasi real estate dan otomotif nasional.

e.      Optimalisasi Pengalaman Pengguna (User Experience)

Situs lelang.go.id perlu tampil lebih intuitif, mobile-friendly, dan dilengkapi fitur pencarian cerdas, notifikasi aset favorit, serta rekomendasi berdasarkan minat pengguna. Pengalaman pengguna yang baik memperkuat citra profesional dan modern platform.

 

4.      Dampak Strategi Marketing dan Branding terhadap Peningkatan Tingkat Laku Lelang

Jika strategi marketing dan branding diterapkan secara konsisten, beberapa dampak positif yang dapat diharapkan antara lain:

·           Peningkatan partisipasi masyarakat karena meningkatnya kesadaran dan kemudahan akses. 

·           Peningkatan kepercayaan publik terhadap profesionalisme DJKN dan KPKNL.

·           Optimalisasi penerimaan negara dari hasil lelang yang lebih efisien.

·           Terbentuknya citra positif pemerintah sebagai pengelola aset yang modern, transparan, dan adaptif.


Kesimpulan

Kurang optimalnya tingkat laku lelang pada lelang.go.id tidak semata-mata disebabkan oleh faktor harga atau regulasi, tetapi juga karena lemahnya pendekatan marketing dan branding. Platform ini perlu diposisikan ulang bukan hanya sebagai sarana administratif, tetapi sebagai brand publik yang mencerminkan profesionalisme, transparansi, dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan memperkuat strategi promosi digital, rebranding, dan komunikasi publik berbasis kepercayaan, lelang.go.id dapat bertransformasi menjadi marketplace aset negara yang tidak hanya efisien, tetapi juga diminati masyarakat luas. Pada akhirnya, keberhasilan branding dan marketing lelang.go.id akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan penerimaan negara dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan kekayaan negara.

 

Penulis : Angga Hapsa Pradipta

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon