Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Lhokseumawe
Belajar Pengelolaan Kinerja dan Mitigasi Risiko dari Film Oppenheimer

Belajar Pengelolaan Kinerja dan Mitigasi Risiko dari Film Oppenheimer

Mahmud Ashari
Senin, 18 Maret 2024 |   524 kali

Seminggu yang lalu, dalam perhelatan Piala Oscar, film Oppenheimer berhasil menggemparkan dunia. Sejak mendapatkan 13 nominasi dari 23 kategori yang tersedia, Oppenheimer diprediksi menjadi film yang akan membawa piala terbanyak di ajang penghargaan Oscar kali ini. Dan prediksi itu terbukti dengan keberhasilan film garapan Christopher Nolan menyabet tujuh Piala Oscar, beberapa kategori yang dimenangkanpun merupakan ketegori bergengsi seperti aktor terbaik, aktor pendukung pria terbaik, sutradara terbaik, dan film terbaik.

Bagi sebagian orang, dengan durasi tiga jam dan phasing cerita yang lambat, film Oppenheimer akan membosankan untuk ditonton. Namun, Christopher Nolan mempunyai segudang alasan kenapa Oppenheimer memang harus dikemas seperti itu dan berhasil menciptakan film biopik yang tidak biasa. Film biopik yang harusnya bisa menjadi simpel tapi tidak ditangan Nolan. Film ini disulap seperti roller coaster yang megah penuh dengan emosi karena penceritaannya yang non-linear dan multi plot.

Film Oppenheimer menceritakan perjalanan hidup J. Robert Oppenheimer yang kerap disebut sebagai penemu bom atom pertama di dunia. Film ini merupakan karya adaptasi dari novel yang terbit tahun 2005 berjudul American Prometheus karya Kai Bird dan Martin J. Sherwin. Terlepas dari decak kagum penonton menyaksikan plot twist dan permainan apik para pemeran serta orkrestasi oleh Christopher Nolan, penulis mencatat bahwa dibalik kejeniusan maupun pemasalahan pribadi Robert Oppenheimer yang diperankan Cillian Murphy, jika diperhatikan secara seksama, terdapat sisi pengelolaan kinerja dan mitigasi risiko yang membalut cerita di film ini.

Dalam salah satu plot, Brigjen Leslie Groves (diperankan oleh Matt Damon, yang terkenal dalam film Bourne Identity) merekrut Oppenheimer untuk memimpin Proyek Manhattan, sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan bom atom. Groves sebagai pemberi perintah memberikan target yang menantang yaitu bulan Juli 1945 sebuah bom atom harus sudah bisa disiapkan oleh Oppenheimer. Oppenheimer dengan mempertimbangkan sisi pengukuran kebutuhan waktu riset dan tahapan pengembangan, meminta waktu sampai bulan September 1945. Dan setelah berdiskusi antara Groves (atasan) dan Oppenheimer (bawahan) disepakati proyek bom atom tersebut ditargetkan selesai Agustus 1945.

Selain itu, Oppenheimer juga meminta secara spesifik untuk disediakan sumber daya dan logistik, mulai dari alokasi anggaran yang mencukupi, tim ilmuwan (fisikawan dan matematikawan), serta lahan kosong yang jauh dari permukiman warga sebagai lokasi riset. Kalkulasi dari kebutuhan disampaikan secara terukur oleh Oppenheimer kepada Groves. Anggaran untuk membiayai riset disanggupi oleh Groves untuk disediakan dalam dokumen anggaran departemen pertahanan. Jumlah para ahli yang dihimpun dalam tim Oppenheimer di-state dalam daftar dan disanggupi juga oleh Groves. Lokasi untuk riset disebutkan secara detail ukuran, batasan, dan geografisnya oleh Oppenheimer dan selanjutnya disepakati disediakan oleh Groves sebuah wilayah yang dikemudian hari menjadi populer, yaitu wilayah Los Amos.

Selain sisi pengelolaan kinerja, fillm Oppenheimer juga secara jelas menunjukkan adanya mitigasi risiko yaitu pada adegan uji tes bom atom, yang dilabeli dengan Trinity. Dalam salah satu plot, tim yang dipimpin Oppenheimer secara rinci menyusun daftar risiko saat akan melaksanakan Trinity. Tim mempertimbangkan risiko cuaca, risiko perubahan arah angin, risiko gangguan keamanan dari suku asli di sekitar Los Amos. Tim juga membuat protokol dan alternatif jika uji coba Trinity gagal, misalnya bom yang diuji coba tidak meledak atau jika eksplosivitas ledakan diluar prediksi. Selain itu, tim juga melakukan tindakan preventif dengan menghitung terlebih dahulu perimeter yang aman dari jangkauan eksplosivitas serta radiasi ledakan bom atom.

Setelah uji coba berhasil dilaksanakan, prinsip-prinsip dalam pengelolaan kinerja maupun mitigasi risiko tidak berhenti begitu saja diterapkan oleh tim Oppenheimer. Tim diberikan beban dan target yang semakin tinggi, sesuai salah satu prinsip pengelolaan kinerja yaitu penerapan target yang menantang. Selain itu, mitigasi juga terus dilakukan khususnya mitigasi atas kebocoran informasi proyek Manhattan, antisipasi atas risiko replikasi bom atom oleh negara-negara lain, serta potensi bencana sebagai dampak dari reaksi berantai yang ditimbulkannya.

Bagi penulis, durasi tiga jam yang dibutuhkan untuk melahap sebuah film dengan phase lambat seperti Oppenheimer, sangat sepadan dengan kualitas dan multi plot twist serta ibroh yang dapat dipetik dari film tersebut. Oppenheimer dalam sebuah majalah Time terbitan 1954 dijuluki sebagai bapak bom atom, hal ini membuktikan betapa jeniusnya dia. Namun sejenius-jeniusnya seorang Oppenheimer, dirinya tetap melaksakanan pengelolaan kinerja yang dibarengi dengan mitigasi risiko untuk mencapai tujuan dari sebuah proyek yang dibebankan di pundaknya. Kalau Oppenheimer saja melakukan pengelolaan kinerja dan risiko, masak kita nggak sih?

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon