Belajar Pengelolaan Kinerja dan Mitigasi Risiko dari Film Oppenheimer
Mahmud Ashari
Senin, 18 Maret 2024 |
522 kali
Seminggu yang lalu, dalam
perhelatan Piala Oscar, film Oppenheimer berhasil menggemparkan dunia. Sejak
mendapatkan 13 nominasi dari 23 kategori yang tersedia, Oppenheimer diprediksi
menjadi film yang akan membawa piala terbanyak di ajang penghargaan Oscar kali
ini. Dan prediksi itu terbukti dengan keberhasilan film garapan Christopher
Nolan menyabet tujuh Piala Oscar, beberapa kategori yang dimenangkanpun
merupakan ketegori bergengsi seperti aktor terbaik, aktor pendukung pria
terbaik, sutradara terbaik, dan film terbaik.
Bagi sebagian orang, dengan
durasi tiga jam dan phasing cerita yang lambat, film
Oppenheimer akan membosankan untuk ditonton. Namun, Christopher Nolan mempunyai
segudang alasan kenapa Oppenheimer memang harus dikemas seperti itu dan
berhasil menciptakan film biopik yang tidak biasa. Film biopik
yang harusnya bisa menjadi simpel tapi tidak ditangan Nolan. Film ini disulap
seperti roller coaster yang megah penuh dengan emosi karena
penceritaannya yang non-linear dan multi plot.
Film Oppenheimer menceritakan
perjalanan hidup J. Robert Oppenheimer yang kerap disebut sebagai penemu bom
atom pertama di dunia. Film ini merupakan karya adaptasi dari novel yang terbit
tahun 2005 berjudul American Prometheus karya Kai Bird dan Martin J. Sherwin.
Terlepas dari decak kagum penonton menyaksikan plot twist dan permainan
apik para pemeran serta orkrestasi oleh Christopher Nolan, penulis mencatat
bahwa dibalik kejeniusan maupun pemasalahan pribadi Robert Oppenheimer yang
diperankan Cillian Murphy, jika diperhatikan secara seksama, terdapat sisi
pengelolaan kinerja dan mitigasi risiko yang membalut cerita di film ini.
Dalam salah satu plot,
Brigjen Leslie Groves (diperankan oleh Matt Damon, yang terkenal dalam film
Bourne Identity) merekrut Oppenheimer untuk memimpin Proyek Manhattan, sebuah proyek
yang bertujuan untuk mengembangkan bom atom. Groves sebagai pemberi perintah
memberikan target yang menantang yaitu bulan Juli 1945 sebuah bom atom harus
sudah bisa disiapkan oleh Oppenheimer. Oppenheimer dengan mempertimbangkan sisi
pengukuran kebutuhan waktu riset dan tahapan pengembangan, meminta waktu sampai
bulan September 1945. Dan setelah berdiskusi antara Groves (atasan) dan
Oppenheimer (bawahan) disepakati proyek bom atom tersebut ditargetkan selesai
Agustus 1945.
Selain itu, Oppenheimer juga
meminta secara spesifik untuk disediakan sumber daya dan logistik, mulai dari
alokasi anggaran yang mencukupi, tim ilmuwan (fisikawan dan matematikawan),
serta lahan kosong yang jauh dari permukiman warga sebagai lokasi riset. Kalkulasi
dari kebutuhan disampaikan secara terukur oleh Oppenheimer kepada Groves.
Anggaran untuk membiayai riset disanggupi oleh Groves untuk disediakan dalam
dokumen anggaran departemen pertahanan. Jumlah para ahli yang dihimpun dalam
tim Oppenheimer di-state dalam daftar dan disanggupi juga oleh Groves.
Lokasi untuk riset disebutkan secara detail ukuran, batasan, dan geografisnya
oleh Oppenheimer dan selanjutnya disepakati disediakan oleh Groves sebuah
wilayah yang dikemudian hari menjadi populer, yaitu wilayah Los Amos.
Selain sisi pengelolaan
kinerja, fillm Oppenheimer juga secara jelas menunjukkan adanya mitigasi risiko
yaitu pada adegan uji tes bom atom, yang dilabeli dengan Trinity. Dalam salah
satu plot, tim yang dipimpin Oppenheimer secara rinci menyusun daftar
risiko saat akan melaksanakan Trinity. Tim mempertimbangkan risiko cuaca,
risiko perubahan arah angin, risiko gangguan keamanan dari suku asli di sekitar
Los Amos. Tim juga membuat protokol dan alternatif jika uji coba Trinity gagal,
misalnya bom yang diuji coba tidak meledak atau jika eksplosivitas ledakan
diluar prediksi. Selain itu, tim juga melakukan tindakan preventif dengan
menghitung terlebih dahulu perimeter yang aman dari jangkauan eksplosivitas
serta radiasi ledakan bom atom.
Setelah uji coba berhasil
dilaksanakan, prinsip-prinsip dalam pengelolaan kinerja maupun mitigasi risiko
tidak berhenti begitu saja diterapkan oleh tim Oppenheimer. Tim diberikan beban
dan target yang semakin tinggi, sesuai salah satu prinsip pengelolaan kinerja yaitu
penerapan target yang menantang. Selain itu, mitigasi juga terus dilakukan
khususnya mitigasi atas kebocoran informasi proyek Manhattan, antisipasi atas
risiko replikasi bom atom oleh negara-negara lain, serta potensi bencana
sebagai dampak dari reaksi berantai yang ditimbulkannya.
Bagi penulis, durasi tiga jam
yang dibutuhkan untuk melahap sebuah film dengan phase lambat seperti
Oppenheimer, sangat sepadan dengan kualitas dan multi plot twist serta ibroh
yang dapat dipetik dari film tersebut. Oppenheimer dalam sebuah majalah Time
terbitan 1954 dijuluki sebagai bapak bom atom, hal ini membuktikan betapa
jeniusnya dia. Namun sejenius-jeniusnya seorang Oppenheimer, dirinya tetap
melaksakanan pengelolaan kinerja yang dibarengi dengan mitigasi risiko untuk mencapai
tujuan dari sebuah proyek yang dibebankan di pundaknya. Kalau Oppenheimer saja
melakukan pengelolaan kinerja dan risiko, masak kita nggak
sih?
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |