Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Lahat
Investasi Saham Bersumber Dari Dana Pinjaman Bank, Untung Atau Buntung?

Investasi Saham Bersumber Dari Dana Pinjaman Bank, Untung Atau Buntung?

Wilda Novrati Lesi
Selasa, 25 Maret 2025 |   5711 kali

(Opini) Wilda Novrati Lesi,  Lahat, 2024

Investasi Saham Bersumber Dari Dana Pinjaman Bank,

Untung Atau Buntung?

 

Imbal hasil atau tingkat keuntungan yang tinggi merupakan hal yang paling menarik dalam berinvestasi dengan instrumen saham. Keuntungan yang ditawarkan tersebut menjadi daya tarik para investor untuk berinvestasi saham. Daya tarik ini yang membuat sebagian investor berfikir untuk mencari modal melalui pinjaman bank dan kemudian berinvestasi saham.

Dalam ilustrasi dengan perhitungan yang diasumsikan keuntungan yang diperoleh dari kenaikan rata-rata masing-masing saham per 5 (lima) tahun dengan contoh saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) perubahan kenaikan saham tersebut sejak tahun 2020 hingga 2024 adalah 45%(2) sedangkan bunga pinjaman Bank Mandiri KPR/Multiguna masa fixed 2-3 tahun dengan minimal waktu kredit  5 tahun sebesar 8,60%(3) secara teknis maka jika melakukan pinjaman pada Bank Mandiri sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan kemudian diinvestasikan melalui saham maka dalam kurun waktu lima tahun pengembalian pinjaman beserta bunga diselesaikan melalui capital gain dan/atau deviden. Perlu diingat bahwa investasi saham termasuk investasi jangka panjang yang penempatan dana untuk periode yang lama, biasanya lebih dari 5 tahun sehingga imbal hasil yang diperoleh signifikan.

Dari ilustrasi tersebut, 5 (lima) tahun yang dilalui akan melewati kemungkinan-kemungkinan, sehingga beberapa hal harus dilakukan analisis:

1.      Fluktuasi harga saham selama kurun waktu lima tahun

Banyak hal yang mempengaruhi harga saham, sehingga kenaikan dan penurunan saham ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan pasar, semakin besar keuntungannya maka semakin besar pula resiko kerugiannya. Tidak ada satu emiten pun dapat menjamin selama kurun waktu lima tahun masa holding saham akan stabil dengan keuntungan/imbal hasil flat (capital gain dan deviden) yang diinginkan. Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok di empat tahun terakhir(3), hal ini dipengaruhi oleh geopolitik, isu perdagangan antara Amerika dan China, perkembangan teknologi, pengaruh kebijakan suku bunga The Fed dan yang paling dirasakan adalah efek dari pandemi Covid-19. Tidak ada ketenangan dalam kurun waktu lima tahun berjalannya investasi melalui pinjaman bank dengan berbagai sentimen negatif yang dapat mempengaruhi terhadap pasar

 2.      Kondisi keuangan investor

Sebelum memulai investasi, ada 3 (tiga) tahapan yang sebaiknya dilakukan untuk mengukur kekuatan dalam berinvestasi(4), Langkah pertama adalah mengelola cashflow, investasi saham dengan menggunakan dana dingin dan memastikan bahwa kebutuhan primer sudah terpenuhi adalah tindakan positif dalam mengelola cashflow, psikologis investor juga berkaitan dengan ketenangan dalam mengatur kebutuhan terkait keuangan dan mengelola investasi. Langkah kedua adalah tidak memiliki utang konsumtif, menyelesaikan utang konsumtif sehingga investasi dengan menggunakan dana pinjaman bank hanya akan menambah resiko apabila terjadi kegagalan dalam investasi, utang bank merupakan utang konsumtif yang harus dilunasi terlebih dahulu sebelum berinvestasi. Langkah ketiga adalah mulai memiliki dana darurat, dana darurat adalah dana cadangan yang akan digunakan apabila terjadi hal-hal diluar rencana, apabila telah terkumpul dana darurat atau dapat secara parallel melakukan investasi untuk mencapai tujuan sesuai ilustrasi tersebut diatas 

3.      Resiko (resiko investasi dan resiko pinjaman)

Setiap tindakan selalu ada resiko, namun perlu diperkirakan cara-cara untuk meminimalisir dan mengelola resiko. Dalam hal investasi terdapat resiko kegagalan. Seperti halnya bisnis, setiap pebisnis tidak selalu sukses menjalankan bisnisnya sehingga dalam berinvestasi saham perlu diantisipasi saat terjadi capital loss, resiko likuiditas, resiko inflasi atau resiko kebangkrutan.

Selain itu resiko pinjaman tetap menjadi tanggung jawab peminjam, setelah mengalami kegagalan dalam berinvestasi saham, maka resiko pinjaman tetap harus dibayar dan dilunasi. Ini awal mula kondisi debitur terlilit utang, mengajukan pinjaman untuk membayar pinjaman lainnya.

Dari ketiga faktor tersebut, penulis berpendapat investasi melalui instrumen keuangan berupa saham dengan modal pinjaman dari pihak perbankan tidak direkomendasikan. Gunakan dana dingin atau idle fund untuk berinvestasi sehingga dalam menghadapi resiko kegagalan investasi akan lebih realistis. Penulis juga berpendapat bahwa pinjaman bank yang bertujuan untuk scale up bisnis merupakan hal yang wajar dan biasa dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan akan lebih menguntungkan dengan melakukan pinjaman untuk mengembangkan usahanya dari pada menggunakan modal sendiri(5). Ditelisik dari sisi segi efisiensi dan opportunity, mari kita ilustrasikan sebagai berikut:

1.    Ilustrasi scale up bisnis dengan modal sendiri

Perusahaan akan mengembangkan bisnis dengan mengandalkan modal sendiri melalui profit yang diperoleh dari bisnis eksisting, dengan mengasumsikan asset bisnisnya adalah 2,5miliar, maka butuh waktu pada tahun ketiga untuk membuka cabang baru. Nah dengan menggunakan modal sendiri, perusahaan tersebut melewatkan waktu selama 2 (dua) tahun untuk mengumpulkan modal dan mengembangkan usaha. Hal ini yang disebut dengan melewatkan momentum dan opportunity cost yang harus dibayar perusahaan

Aset Bisnis

2.5 Miliar

Profit Bisnis eksisting perbulan

20.000.000

Butuh modal

500.000.000

Tahun :

 

1

240.000.000

2

240.000.000

3

Baru bisa buka cabang

 

2.    Ilustrasi scale up bisnis dengan modal Pinjaman

Sedangkan, perusahaan yang mengembangkan bisnis dengan menggunakan pinjaman dari bank, dapat langsung membuka cabang untuk mengembangkan bisnisnya, dengan pertimbangan bahwa pinjaman bank yang diambil masih dalam persentase sehat liability sekitar (20-30%) asset perusahaan sehingga perbankan juga akan cepat memproses dalam memberikan pinjaman. Ditahun pertama pinjaman dibayarkan dengan profit bisnis eksisting berikut dengan bunga pinjaman, kemudian ditahun kedua sisa pinjaman menjadi 240.000.000 dan telah mendapatkan net profit sebesar 51.200.000 jika perhitungan terus dilanjutkan pada tahun ketiga maka pinjaman telah selesai dibayarkan.

Aset Bisnis

2.5 Miliar

Profit Bisnis eksisting perbulan

20.000.000

Butuh modal

500.000.000

Tahun 1 :

 

Dana pinjaman bank

500.000.000

Bunga pinjaman 12%

60.000.000

Profit bisnis lama/eksisting

240.000.000

Extra profit dari cabang baru (new bisnis)

80.000.000

Tahun 2 :

 

Dana pinjaman bank

240.000.000

Bunga pinjaman 12%

28.800.000

Profit bisnis lama/eksisting

240.000.000

Extra profit dari cabang baru (new bisnis)

80.000.000

Net Profit

51.200.000

 

Mengembangkan bisnis dari pinjaman memiliki keuntungan yaitu memanfaatkan momentum yang sedang rame/viral masih diimbangi dengan cabang bisnis tambahan, kesempatan untuk mengembalikan pinjaman dengan cepat dan tidak perlu menggunakan modal sendiri. 

Selain dengan pinjaman bank, Perusahaan juga dapat mencari modal dengan menawarkan kepemilikan sahamnya baik secara terbuka maupun tertutup. Jika perusahaan tersebut menawarkan kepemilikan sahamnya terbatas pada sejumlah orang tertentu disebut juga perusahaan tertutup dan perusahaan terbuka yang menawarkan kepemilikan sahamnya kepada masyarakat umum dan terdaftar dalam bursa efek. Nama lain dari penawaran kepemilikan saham secara terbuka tersebut adalah IPO (Initial Public Offering). Tujuan IPO yaitu mendapatkan dana tambahan untuk melancarkan operasional perusahaan atau mempercepat kegiatan ekspansi perusahaan. Lebih lanjut terkait IPO dan syarat-syarat perusahaan dapat melantai di bursa efek akan dijelaskan secara detail pada kesempatan berikutnya.

 

  Sumber:

1.   Tradethatswing, september 2024, average historical stock market return for S&P 500 (5 year up to 150 year) tanggal diakses 9 Oktober 2024 (https://tradethatswing-com.translate.goog/average-historical-stock-market-returns-for-sp-500-5-year-up-to-150-year-averages/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Stock Market Average Yearly Return for the Last 30 Years,including dividends) is 7.998%)

2. Investing.com bank Central Asia Tbk (BBCA) Data Histori tahun 2020-2024 tanggal akses 9 Oktober 2024 (https://id.investing.com/equities/bnk-central-as-historical-data)

3. BankMandiri, oktober 2024, suku bunga dasa kredit rupiah. tanggal diakses 9 Oktober 2024 (https://www.bankmandiri.co.id/suku-bunga-dasar-kredit)

4.   CNBCIndonesia, May 2023, Kinerja IHSG 10 Tahun Terakhir, di 4 Tahun Ini Jeblok. Tanggal diakses 9 Oktober 2024 (https://www.cnbcindonesia.com/market/20230515085445-17-437268/kinerja-ihsg-10-tahun-terakhir-di-4-tahun-ini-jeblok#:~:text=Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan pasar,meroket tumbuh 22,29%.)

5.    ZapFinance, November 2023, Perfect on Planing with zap finance

6. AlbertusAxel,November 2023, Terkadang kredit ke bank itu lebih menguntungkan disbanding menabung untuk mengembangkan bisnis.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon