Investasi Saham Bersumber Dari Dana Pinjaman Bank, Untung Atau Buntung?
Wilda Novrati Lesi
Selasa, 25 Maret 2025 |
5711 kali
(Opini) Wilda
Novrati Lesi, Lahat, 2024
Investasi
Saham Bersumber Dari Dana Pinjaman Bank,
Untung
Atau Buntung?
Imbal
hasil atau tingkat keuntungan yang tinggi merupakan hal yang paling menarik
dalam berinvestasi dengan instrumen saham. Keuntungan yang ditawarkan tersebut
menjadi daya tarik para investor untuk berinvestasi saham. Daya tarik ini yang
membuat sebagian investor berfikir untuk mencari modal melalui pinjaman bank
dan kemudian berinvestasi saham.
Dalam
ilustrasi dengan perhitungan yang diasumsikan keuntungan yang diperoleh dari kenaikan
rata-rata masing-masing saham per 5 (lima) tahun dengan contoh saham Bank
Central Asia Tbk (BBCA) perubahan kenaikan saham tersebut sejak tahun 2020
hingga 2024 adalah 45%(2) sedangkan bunga pinjaman Bank Mandiri KPR/Multiguna
masa fixed 2-3 tahun dengan minimal waktu kredit 5 tahun sebesar 8,60%(3) secara teknis
maka jika melakukan pinjaman pada Bank Mandiri sebesar Rp.100.000.000,-
(seratus juta rupiah) dan kemudian diinvestasikan melalui saham maka dalam
kurun waktu lima tahun pengembalian pinjaman beserta bunga diselesaikan melalui
capital gain dan/atau deviden. Perlu diingat bahwa investasi saham termasuk
investasi jangka panjang yang penempatan dana untuk periode yang lama, biasanya
lebih dari 5 tahun sehingga imbal hasil yang diperoleh signifikan.
Dari ilustrasi tersebut, 5
(lima) tahun yang dilalui akan melewati kemungkinan-kemungkinan, sehingga beberapa
hal harus dilakukan analisis:
1. Fluktuasi
harga saham selama kurun waktu lima tahun
Banyak hal yang mempengaruhi
harga saham, sehingga kenaikan dan penurunan saham ditentukan oleh kekuatan
penawaran dan permintaan pasar, semakin besar keuntungannya maka semakin besar
pula resiko kerugiannya. Tidak ada satu emiten pun dapat menjamin selama kurun
waktu lima tahun masa holding saham akan stabil dengan keuntungan/imbal
hasil flat (capital gain dan deviden) yang diinginkan. Kinerja
indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok di empat tahun terakhir(3),
hal ini dipengaruhi oleh geopolitik, isu perdagangan antara Amerika dan China,
perkembangan teknologi, pengaruh kebijakan suku bunga The Fed dan yang paling
dirasakan adalah efek dari pandemi Covid-19. Tidak ada ketenangan dalam kurun
waktu lima tahun berjalannya investasi melalui pinjaman bank dengan berbagai
sentimen negatif yang dapat mempengaruhi terhadap pasar
2. Kondisi keuangan investor
Sebelum memulai investasi, ada 3 (tiga) tahapan yang sebaiknya dilakukan untuk mengukur kekuatan dalam berinvestasi(4), Langkah pertama adalah mengelola cashflow, investasi saham dengan menggunakan dana dingin dan memastikan bahwa kebutuhan primer sudah terpenuhi adalah tindakan positif dalam mengelola cashflow, psikologis investor juga berkaitan dengan ketenangan dalam mengatur kebutuhan terkait keuangan dan mengelola investasi. Langkah kedua adalah tidak memiliki utang konsumtif, menyelesaikan utang konsumtif sehingga investasi dengan menggunakan dana pinjaman bank hanya akan menambah resiko apabila terjadi kegagalan dalam investasi, utang bank merupakan utang konsumtif yang harus dilunasi terlebih dahulu sebelum berinvestasi. Langkah ketiga adalah mulai memiliki dana darurat, dana darurat adalah dana cadangan yang akan digunakan apabila terjadi hal-hal diluar rencana, apabila telah terkumpul dana darurat atau dapat secara parallel melakukan investasi untuk mencapai tujuan sesuai ilustrasi tersebut diatas
3. Resiko
(resiko investasi dan resiko pinjaman)
Setiap tindakan selalu ada
resiko, namun perlu diperkirakan cara-cara untuk meminimalisir dan mengelola resiko.
Dalam hal investasi terdapat resiko kegagalan. Seperti halnya bisnis, setiap
pebisnis tidak selalu sukses menjalankan bisnisnya sehingga dalam berinvestasi
saham perlu diantisipasi saat terjadi capital loss, resiko
likuiditas, resiko inflasi atau resiko kebangkrutan.
Selain itu resiko pinjaman
tetap menjadi tanggung jawab peminjam, setelah mengalami kegagalan dalam
berinvestasi saham, maka resiko pinjaman tetap harus dibayar dan dilunasi. Ini
awal mula kondisi debitur terlilit utang, mengajukan pinjaman untuk membayar
pinjaman lainnya.
Dari ketiga faktor tersebut,
penulis berpendapat investasi melalui instrumen keuangan berupa saham dengan
modal pinjaman dari pihak perbankan tidak direkomendasikan. Gunakan dana dingin
atau idle fund untuk berinvestasi sehingga dalam menghadapi resiko
kegagalan investasi akan lebih realistis. Penulis juga berpendapat bahwa
pinjaman bank yang bertujuan untuk scale up bisnis merupakan hal yang
wajar dan biasa dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan akan lebih menguntungkan
dengan melakukan pinjaman untuk mengembangkan usahanya dari pada menggunakan
modal sendiri(5). Ditelisik dari sisi segi efisiensi dan opportunity,
mari kita ilustrasikan sebagai berikut:
1. Ilustrasi scale up bisnis dengan modal sendiri
Perusahaan akan mengembangkan bisnis dengan mengandalkan modal sendiri melalui profit yang diperoleh dari bisnis eksisting, dengan mengasumsikan asset bisnisnya adalah 2,5miliar, maka butuh waktu pada tahun ketiga untuk membuka cabang baru. Nah dengan menggunakan modal sendiri, perusahaan tersebut melewatkan waktu selama 2 (dua) tahun untuk mengumpulkan modal dan mengembangkan usaha. Hal ini yang disebut dengan melewatkan momentum dan opportunity cost yang harus dibayar perusahaan
|
Aset
Bisnis |
2.5
Miliar |
|
Profit
Bisnis eksisting perbulan |
20.000.000 |
|
Butuh
modal |
500.000.000 |
|
Tahun : |
|
|
1 |
240.000.000 |
|
2 |
240.000.000 |
|
3 |
Baru
bisa buka cabang |
2. Ilustrasi scale up bisnis dengan modal Pinjaman
Sedangkan, perusahaan yang
mengembangkan bisnis dengan menggunakan pinjaman dari bank, dapat langsung
membuka cabang untuk mengembangkan bisnisnya, dengan pertimbangan bahwa
pinjaman bank yang diambil masih dalam persentase sehat liability
sekitar (20-30%) asset perusahaan sehingga perbankan juga akan cepat memproses
dalam memberikan pinjaman. Ditahun pertama pinjaman dibayarkan dengan profit
bisnis eksisting berikut dengan bunga pinjaman, kemudian ditahun kedua sisa
pinjaman menjadi 240.000.000 dan telah mendapatkan net profit sebesar
51.200.000 jika perhitungan terus dilanjutkan pada tahun ketiga maka pinjaman
telah selesai dibayarkan.
|
Aset
Bisnis |
2.5
Miliar |
|
Profit
Bisnis eksisting perbulan |
20.000.000 |
|
Butuh
modal |
500.000.000 |
|
Tahun 1
: |
|
|
Dana
pinjaman bank |
500.000.000 |
|
Bunga
pinjaman 12% |
60.000.000 |
|
Profit
bisnis lama/eksisting |
240.000.000 |
|
Extra
profit dari cabang baru (new bisnis) |
80.000.000 |
|
Tahun 2
: |
|
|
Dana
pinjaman bank |
240.000.000 |
|
Bunga
pinjaman 12% |
28.800.000 |
|
Profit
bisnis lama/eksisting |
240.000.000 |
|
Extra
profit dari cabang baru (new bisnis) |
80.000.000 |
|
Net
Profit |
51.200.000 |
Mengembangkan bisnis dari pinjaman memiliki keuntungan yaitu memanfaatkan momentum yang sedang rame/viral masih diimbangi dengan cabang bisnis tambahan, kesempatan untuk mengembalikan pinjaman dengan cepat dan tidak perlu menggunakan modal sendiri.
Selain dengan pinjaman bank, Perusahaan
juga dapat mencari modal dengan menawarkan kepemilikan sahamnya baik secara
terbuka maupun tertutup. Jika perusahaan tersebut menawarkan kepemilikan
sahamnya terbatas pada sejumlah orang tertentu disebut juga perusahaan tertutup
dan perusahaan terbuka yang menawarkan kepemilikan sahamnya kepada masyarakat
umum dan terdaftar dalam bursa efek. Nama lain dari penawaran kepemilikan saham
secara terbuka tersebut adalah IPO (Initial Public Offering). Tujuan IPO
yaitu mendapatkan dana tambahan untuk melancarkan operasional perusahaan atau
mempercepat kegiatan ekspansi perusahaan. Lebih lanjut terkait IPO dan
syarat-syarat perusahaan dapat melantai di bursa efek akan dijelaskan secara detail
pada kesempatan berikutnya.
Sumber:
1. Tradethatswing, september 2024, average
historical stock market return for S&P 500 (5 year up to 150 year) tanggal
diakses 9 Oktober 2024 (https://tradethatswing-com.translate.goog/average-historical-stock-market-returns-for-sp-500-5-year-up-to-150-year-averages/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Stock Market Average Yearly Return for the Last 30 Years,including dividends) is 7.998%)
2. Investing.com bank Central Asia Tbk (BBCA) Data
Histori tahun 2020-2024 tanggal akses 9 Oktober 2024 (https://id.investing.com/equities/bnk-central-as-historical-data)
3. BankMandiri, oktober 2024, suku bunga dasa kredit
rupiah. tanggal diakses 9 Oktober 2024 (https://www.bankmandiri.co.id/suku-bunga-dasar-kredit)
4. CNBCIndonesia, May 2023, Kinerja IHSG 10 Tahun
Terakhir, di 4 Tahun Ini Jeblok. Tanggal diakses 9 Oktober 2024 (https://www.cnbcindonesia.com/market/20230515085445-17-437268/kinerja-ihsg-10-tahun-terakhir-di-4-tahun-ini-jeblok#:~:text=Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan pasar,meroket tumbuh 22,29%.)
5. ZapFinance, November 2023, Perfect on Planing
with zap finance
6. AlbertusAxel,November 2023, Terkadang kredit ke
bank itu lebih menguntungkan disbanding menabung untuk mengembangkan bisnis.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |