Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Jambi
Menjaga Cinta Tanah Air Aparatur Sipil Negara Milenial di Era Media Sosial

Menjaga Cinta Tanah Air Aparatur Sipil Negara Milenial di Era Media Sosial

Sunadi
Kamis, 19 September 2024 |   1203 kali

Penulis: Darnadi

Kepala KPKNL Jambi

 

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,  saat ini komposisi ASN di Indonesia didominasi oleh generasi Y atau millennial sebanyak 52%. Pada bulan Agustus 2023 lembaga survey Populix merilis hasil survei yang  menyatakan 65% masyarakat Indonesia merasakan penurunan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda. Hasil survey tersebut juga diperkuat dari hasil survey kepada responden generasi z yang menyatakan 64% merasakan penurunan semangat nasionalisme dan responden generasi y atau millennial merasakan penurunan nilai nasionalisme sebanyak 67%. Kondisi tersebut tentunya memprihatinkan karena generasi merekalah yang akan meneruskan tongkat kepemimpinan dan penyelenggaraan negara di masa yang akan datang. Dengan fakta bahwa 52% ASN adalah millennial maka diperlukan upaya yang sistematis untuk menanamkan nilai nilai Pancasila dan nasionalisme khususnya untuk ASN muda atau millennial.

 

Urgensi Nilai Nilai Pancasila dan Nasionalisme

Pancasila sebagai dasar negara mengandung nilai nilai yang menjiwai  visi dan misi negara. Pancasila memberikan arah perjuangan dan orientasi perjalanan negara ke depan. Nilai-nilai Pancasila telah menjadi inspirasi para pendiri bangsa dalam merumuskan visi dan misi negara. Visi dan misi negara telah dinyatakan secara jelas  dalam Pembukaan UUD 1945, hal tersebut menunjukan bahwa para founding fathers Negara Indonesia merupakan negarawan yang mempunyai visi jauh ke depan. Dalam pembukaan UUD 1945 telah dirumuskan visi negara yaitu “menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” serta misi negara yaitu (1) melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa , dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Visi dan misi  tersebut tentunya merupakan mandat yang  terus menerus diupayakan untuk diwujudkan selama negara ini masih berdiri.

Dalam konteks pencapaian visi dan misi negara,  pemerintah mempunyai peran sebagai lokomotif yang menggerakkan seluruh komponen bangsa. Pemerintah mempunyai kewenangan untuk membuat aturan yang mengikat seluruh warga negara. Dengan demikian melalui kewenangan tersebut pemerintah dapat mengatur seluruh aspek kehidupan dan komponen bangsa untuk menuju satu tujuan.  Kewenangan pemerintah diwujudkan dalam kebijakan pemerintah yang disusun oleh aparatur negara. Oleh karena itu semangat nasionalisme dan Pancasila harus terus dipupuk dan diwariskan kepada para pembuat kebijakan atau aparatur negara, agar kebijakan yang dibuat mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan semangat nasionalisme.

Dalam perjalanan Bangsa Indonesia, harus diakui bahwa nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme semakin lama semakin pudar. Dalam era perjuangan untuk meraih kemerdekaan atau di awal kemerdekaan nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme sangat kuat ternanam dalam jiwa seluruh rakyat Indonsia. Hal tersebut dapat dipahami karena saat itu seluruh bangsa Indonesia mempunyai musuh yang sama yaitu penjajah dan mempunyai harapan yang sama untuk meraih kemerdekaan. Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan dinamika dalam kehidupan, ancaman terhadap negara mengalami perubahan. Bahkan dalam situasi tertentu ancaman terhadap negara tidak secara langsung dirasakan. Ancaman  tersebut saat ini tidak hanya berbentuk fisik namun ancaman juga melalui dunia maya atau media sosial. Perang tidak lagi secara fisik tetapi perang cyber, musuh tidak lagi kasat mata bahkan masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan tanpa terasa.

Dalam dunia modern media sosial selain memberikan nilai positif juga dapat dilihat sebagai sebuah ancaman serius untuk ketahanan nasional. Media sosial sangat mudah untuk menggerus nilai-nilai kebangsaan dan nilai nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila dan jiwa nasionalisme dengan mudah terkontaminasi dengan nilai dan budaya baru yang kontraproduktif untuk kelangsungan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai dan budaya baru tersebut sangat mudah masuk dalam setiap ruang dan aspek kehidupan tanpa mengenal batasan.

Perilaku era modern yang sudah kita rasakan di kalangan generasi muda di antaranya sikap individulisme, apatis terhadap sekitar, menurunnya semangat kerja sama, mudah menyerah dan bergaya hidup hedon. Sikap tersebut tak terkecuali juga telah merasuki penyelenggara negara terutama kalangan ASN muda. Indikasi perilaku tersebut dapat kita lihat dari fenomena perilaku sebagai berikut:

§  Gaya hidup konsumerisme yang dipicu oleh gempuran promosi produk-produk  melalui medsos merupakan embrio  perilaku korup yang perlu diwaspadai di kalangan ASN muda.

§  Penggunaan medsos yang berlebihan bahkan melupakan identitas sebagai ASN yang terikat pada kode etik.

§  Tumbuhnya sikap individualisme di kantor yang menyebabkan interaksi antar pegawai menjadi berkurang sehingga menghambat sinergi.

§  Mudahnya penyebaran informasi yang bersifat konfidensial  serta rawan terjadi kebocoran data baik pribadi maupun kantor.

§  Penggunaan fasilitas kantor untuk media sosial. 

Perilaku tersebut tentu akan mempengaruhi kinerja organisasi dan secara umum akan mempengaruhi kredibilitas pemerintah. Hal tersebut sangat tidak kondusif serta membahayakan ketahanan negara. Kinerja aparatur negara  erat kaitannya dengan ketahanan nasional karena akan secara langsung mempengaruhi tingkat kepuasan terhadap pemerintah. Bahkan kinerja pemerintah juga menjadi salah satu unsur penyebab menurunnya nasionalisme yang mengancam ketahanan nasional.  Beberapa hal yang menjadi penyebab menurunnya nasionalisme di kalangan generasi muda antara lain:

§  Kekecewaan kepada pemerintah di antaranya  akibat tingginya tingkat korupsi yang salah satu sebabnya adalah gaya hidup konsumerisme dan hedonisme.

§  Demokratisasi yang melampaui batas etika dan sopan santun yang menyebabkan longgarnya etika penggunaan media sosial, serta gaya hidup individualistik.

§  Tertinggalnya Indonesia dari negara lain untuk beberapa aspek kehidupan menyebabkan timbulnya rasa apatis dari kalangan millennial.

Faktor-faktor tersebut merupakan tantangan bagi ASN muda untuk melakukan perubahan persepsi tersebut untuk selanjutnya membuktikan bahwa persepsi tersebut tidak benar sehingga akan tumbuh rasa cinta kepada Indonesia di kalangan generasi muda yang lain. Mereka harus membuktikan kinerja dan menjadi role model bagi masyarakat dalam implementasi jiwa nasionalisme. Mereka harus mampu menjadi penggerak kesadaran untuk mencintai, mempertahankan dan memperjuangkan bangsa Indonesia serta meningkatkan potensi untuk mempertahankan, mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa.

 

Peran Kepemimpinan Dalam Menumbuhkan Nasionalisme dan Nilai Pancasila.

Salah satu peran mendasar pemimpin dalam sebuah organisasi adalah memahami karakter yang dipimpin untuk kemudian memimpin, mengarahkan dan membina anak buah untuk mencapai tujuan organisasi. Dari fakta bahwa 52% ASN adalah millennial dan 62?ri millennial merasakan penurunan nasionalisme maka diperlukan kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan yang dapat mempertahankan dan menumbuhkan rasa nasionalisme serta nilai-nilai Pancasila khususnya untuk ASN muda. Beberapa tindakan/perilaku serta peran pemimpin untuk menanamkan jiwa nasionalisme di kalangan ASN millennial diantaranya adalah sebagai berikut:

a.    Pemimpin menjadi role model

Menjadi role model atau teladan merupakan syarat mutlak untuk memimpin ASN muda. Usia yang masih muda memerlukan sosok yang dapat menjadi contoh dalam berpikir dan bertindak. Dalam konteks menanamkan jiwa nasionalisme dan jiwa Pancasila pemimpin harus mampu mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam tugas kepemimpinannya.

b.    Menciptakan situasi yang dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila dan Nasionalisme.

Penanaman suatu nilai memerlukan proses yang panjang dan diperlukan habituasi sehingga dapat terinternalisasi atau dapat menjadi DNA. Untuk itu pemimpin mestinya dapat membuat desain agar nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme tertanam. Habituasi tersebut harus terstruktur dalam sebuah agenda rutin. Contoh kecil yang dapat dilakukan misalnya memperdengarkan lagu-lagu nasional dan lagu kebangsaan dan pembacaan doa sebelum jam kerja dimulai.

c.     Kepemimpinan yang mendorong perekat dan menjaga kebhinnekaan Indonesia.

Sebagai negara dengan lebih dari 17.500 pulau dan sekitar 360 suku bangsa maka  potensi ASN yang akan dipimpin mempunyai latar belakang primordial yang berbeda beda sangat besar. Perbedaan tersebut tentunya berpotensi menjadi hambatan dalam sinergi. Seorang pemimpin hendaknya mampu menjadikan kebhinnekaan Indonesia menjadi kebanggan bersama dan sekaligus potensi dalam melakukan sinergi.

d.    Menciptakan sistem pengawasan dan monitoring kinerja

Dalam konteks pelayanan publik kinerja ASN menjadi indikator tingkat kepercayaan masyarakat sekaligus bagian dari memperkuat ketahanan nasional. Pemimpin semestinya mampu melakukan pengawasan dan monitoring kinerja bawahan untuk memastikan integritas terjaga dan pelayanan publik berjalan dengan baik.  

 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon