Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Jakarta V
DJKN Sehat dan Bugar: Menjaga Aset Negara, Jangan Lupa Jaga Aset Raga

DJKN Sehat dan Bugar: Menjaga Aset Negara, Jangan Lupa Jaga Aset Raga

Popi Damayanti
Jum'at, 16 Oktober 2026 |   59 kali

Kementerian Keuangan sekarang sedang gencar mengkampanyekan pola hidup sehat kepada para pegawai, hal ini terlihat dengan terbitnya Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor SE-4/MK.1/2024 tentang Panduan Pelaksanaan Program Kesehatan dan Kebugaran Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan.

 Dasar hukum terbitnya Surat Edaran tersebut adalah:

1.  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 429/KMK.01/2022 tentang Penguatan Budaya di Lingkungan Kementerian Keuangan.

2.      Keputusan Menteri Keuangan Nomor467 Tahun 2023 tentang  Pedoman Pembinaan Mental di Lingkungan Kementerian Keuangan.

3.      Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor SE-234/MK.01/2011 tentang Jam Krida Olah Raga.

 

Menindaklanjuti Surat Edaran tersebut, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) menerbitkan Nota Dinas Nomor ND-2339/KN.1/2026 yang salah satu isinya menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tdak Menular Tahun 2026, terdapat pegawai yang memiliki faktor risiko Penyakit Tidak Menular seperti pra hipertensi, hipertensi, overweight, obesitas, lingkar perut berlebih, kolesterol tinggi, dan asam urat tinggi. Melihat kondisi pegawainya seperti itu, DJKN segera meluncurkan Program “DJKN Sehat dan Bugar” yang menghimbau seluruh pegawainya untuk membiasakan pola hidup sehat, olahraga rutin, konsumsi makanan sehat, dan pemeriksaan kesehatan berkala.

 

Berbagai alternatif kegiatan seperti yang tercantum dalam Nota Dinas tersebut kelak hasilnya dimonitor, dievaluasi lalu dilaporkan kepada Sekretariat DJKN c.q. Bagian Sumber Daya Manusia secara tahunan.

 

Terlepas dari terbitnya Surat Edaran hingga diluncurkannya Program “DJKN Sehat dan Bugar”, masalah kesehatan seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing pegawai. Ada atau tidak adanya himbauan, masing-masing dari kita seharusnya sudah mulai membiasakan pola hidup sehat. Karena sehat atau sakit, kita sendiri yang merasakannya.

 

Beberapa pegawai di unit tertentu dengan beban kerja yang berlebih, tentu paling rentan terkena penyakit jika tidak bisa mengatur pola hidupnya sedemikian rupa. Misalkan pekerjaan mengolah data hasil penilaian hingga menyusun laporan, membuat pegawai tersebut harus duduk terus menerus di depan Laptop atau Personal Computer. Selain melelahkan mata, juga memicu berbagai masalah kesehatan serius pada bagian tubuh lainnya seperti gangguan otot dan tulang, gangguan sirkulasi darah, sampai kelelahan mental (stress dikejar deadline). Belum lagi jika pegawai tersebut duduk terus sambil ngemil, maka bisa terkena obesitas.

 

Sebetulnya tubuh kita memiliki signal otomatis (alarm alami) yang kadang tanpa kita sadari menyuruh kita untuk berhenti dari kegiatan yang melelahkan. Misal menguap dan mengantuk, itu tandanya kita harus tidur bukan malah menyeduh kopi supaya mata melek terus. Atau perut terasa keroncongan, berarti waktunya harus makan. Konsentrasi makin menurun berartinya waktunya healing alias jalan-jalan.

 

Jika kita terus mengabaikan alarm alami ini (misalnya dengan memaksakan diri atau mengonsumsi kafein berlebih), tubuh akan mengalami kelelahan kronis yang bisa menurunkan sistem imun dan memicu berbagai penyakit. Menghormati alarm tubuh adalah kunci menjaga kesehatan jangka panjang.

 

Sehat itu sebetulnya murah, namun akan menjadi mahal jika kita terkena penyakit. Tidak perlu menunggu terbitnya Surat Edaran atau himbauan pelaksanaan Program DJKN sampai aktivitas hidup sehat kita harus dimonitor dan dilaporkan ke atasan, karena kesehatan itu aset tunggal pemberian Tuhan yang perlu kita jaga baik baik.

 

Kerja keras demi negara boleh, tapi jangan lupa jaga kesehatan kita. Karena pada akhirnya, investasi terbaik dalam hidup adalah menjaga kesehatan kita sendiri, karena dampak langsungnya akan kembali ke diri kita. Sebagaimana slogan popular work-life balance, kita harus mampu menarik garis batas yang tegas antara dedikasi profesional dan hak tubuh untuk beristirahat. Pengabdian yang paling mulia sekalipun tidak akan berjalan optimal tanpa raga yang sehat.

Ayo seimbangkan kerja keras kita di kantor dengan menjaga kesehatan fisik dan mental kita. Jadi, mau olahraga atau jalan-jalan kemana weekend ini? 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon