Dari Informasi Menjadi Edukasi: Strategi Komunikasi melalui Media Sosial
Putri Dewi Astuti
Selasa, 29 September 2026 |
22 kali
Era digital adalah
masa yang penuh tantangan, karena kehidupan masyarakat saat ini telah dipenuhi
oleh media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, X, hingga YouTube. Masifnya
penggunaan media sosial membuat arah kebijakan publikasi organisasi ikut
mengalami perubahan. Edukasi yang awalnya dilakukan dengan metode manual kini
berubah menjadi digital dan berkembang melalui media sosial. Media sosial pun
menjadi salah satu sarana dalam penyebaran informasi sekaligus branding bagi
suatu instansi.
Berdasarkan data
statistik jumlah konten yang dipublikasikan oleh KPKNL Dumai, terlihat adanya
kenaikan dan penurunan dalam penggunaan media sosial dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2022 terdapat 151 konten yang dipublikasikan, kemudian meningkat sekitar
50 konten pada tahun 2023. Peningkatan tersebut semakin pesat pada tahun 2024,
dengan jumlah konten yang telah diunggah mencapai 312 konten. Namun demikian,
terjadi penurunan jumlah konten pada tahun 2025.
Kenaikan
dan penurunan jumlah konten tersebut tidak terlepas dari kebijakan organisasi.
Pada tahun 2025, telah ditetapkan pengaturan terkait pengelolaan media sosial
melalui Keputusan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor 1/KN/2025 tentang
Pedoman Pengelolaan Media Sosial di Lingkungan DJKN. Adanya pedoman tersebut
menjadi landasan dalam pelaksanaan strategi komunikasi melalui media sosial
agar dapat berjalan secara lebih optimal dan terukur. Dengan demikian, tidak
seluruh kegiatan organisasi harus dipublikasikan melalui media sosial, tetapi
perlu disesuaikan dengan tujuan, sasaran, dan strategi komunikasi yang telah
ditetapkan.
Sejalan
dengan perkembangan tersebut, jumlah pengguna media sosial juga semakin
meningkat. Di era digital, masyarakat cenderung memilih cara yang mudah dan
cepat dalam memperoleh informasi. Kondisi ini kemudian menjadi tantangan baru
bagi organisasi dalam menyuguhkan informasi sekaligus membangun branding
kantor.
Instansi
pemerintah pun berlomba-lomba menyajikan konten edukasi dengan metode yang
berbeda dari sebelumnya. Jika pada era sebelumnya informasi mengenai instansi
pemerintah cenderung disampaikan secara formal dan kaku, saat ini informasi
mulai dikemas dengan gaya yang lebih ringan, menarik, namun tetap tepat
sasaran.
Namun
demikian, banyaknya konten edukasi yang berseliweran di media sosial belum
tentu sebanding dengan engagement dari stakeholder. Semakin banyak konten yang
diproduksi juga menghadirkan tantangan lain, yaitu apakah konten yang diberikan
benar-benar sesuai dan tepat sasaran atau justru menjadi bagian dari content
overload.
Oleh
karena itu, dalam memberikan konten kepada stakeholder maupun masyarakat luas
diperlukan langkah strategis. Konten yang memiliki substansi berat perlu
dikemas seringan mungkin agar informasi dapat lebih mudah diterima dan proses
edukasi kepada khalayak dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan.
Lalu,
yang menjadi pertanyaan adalah: apakah banyaknya konten yang diproduksi
sudah sebanding dengan ketercapaian tujuan strategi komunikasi?
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |