Analisis Spasial: Mengetahui Potensi Aset secara On-Desk
Ni Luh Nyoman Arini Asriwijayanti
Kamis, 27 Agustus 2026 |
104 kali
Penggunaan
istilah Analisis Highest and Best Uses (HBU) sering kali dipakai dalam diskursus
optimalisasi BMN ataupun pengelolaan kekayaan negara. Secara umum konsep
analisis HBU ialah tinjauan atas suatu objek dari perspektif legalitas, fisik,
finansial dan produktivitas maksimal. Namun, persepsi kita terhadap analisis HBU ialah analisis harus dilakukan
oleh penilai pemerintah atau yang memiliki kompetensi di bidang penilaian,
dilakukan secara site-visit, dan membutuhkan waktu analisis yang lama.
Hal ini tentu berisiko kehilangan kesempatan pemanfaatan BMN tersebut. Dengan
tantangan berupa terbatasnya anggaran, serta kebutuhan akan kajian HBU yang
mendesak bagi manajemen sebagai basis awal dalam pengambilan kebijakan
optimalisasi BMN, diperlukan suatu pendekatan metode analisis yang dapat
dilakukan secara on-desk menggunakan data sekunder yang tersedia. Salah
satu alternatif metode dalam penentuan HBU ialah menggunakan analisis spasial.
Analisis spasial dalam hal ini ialah analisis kuantitatif
untuk menentukan pola dan hubungan dari suatu lokasi dengan menggunakan data
GIS (Geographic Information Systems)
1. Analisis Night-Time
Lights (NTL)
Kita mungkin
pernah melihat peta perbandingan cahaya malam antara Korea Utara dengan Korea
Selatan, dengan Korea Selatan terlihat lebih terang secara signifikan
dibandingkan dengan Korea Utara. Hal ini menandakan bahwa aktivitas ekonomi di
Korea Selatan lebih tinggi dibandingkan Korea Utara. Menjadikan cahaya malam
sebagai proxy aktivitas ekonomi selaras dengan beberapa
hasil penelitian akademis (Chen
2. Kernel
Density Estimation (KDE)
Untuk
mengukur tingkat komersialisasi suatu aset, kita biasanya akan mengidentifikasi
fasilitas/sarana dan prasarana yang berada di sekitar lokasi aset. Analisis KDE
melakukannya dengan perhitungan statistik, yaitu mengukur tingkat kepadatan Points
of Interest (POI)/aglomerasi pada radius tertentu dari lokasi aset. Melalui
analisis KDE, kita akan mengetahui klaster dari POI sekitar aset seperti
fasilitas perbelanjaan (supermarket dan restoran), fasilitas layanan publik
(rumah sakit dan sekolah) ataupun fasilitas pariwisata. Analisis KDE juga mampu
menyediakan visualisasi tingkat kepadatan POI dengan heatmap.
3. Zonasi, Kesesuaian Lahan dan Tutupan Lahan
Untuk menentukan kesesuaian legalitas zoning pada
lokasi aset, penggunaan analisis spasial tentu makin relevan. Dengan alat bantu
seperti QGIS/ArcGIS ataupun menggunakan Python, kita bisa
mengidentifikasi zoning dengan menimpa (overlay) lokasi
aset dengan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang disediakan oleh
Pemerintah Daerah. Peta RTRW berfungsi sebagai referensi kesesuaian penggunaan
lahan dengan peraturan, sehingga kita dapat mengetahui apakah penggunaan lahan
aset telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan, untuk mengetahui kondisi
tutupan lahan/penggunaan lahan terkini berdasarkan citra satelit, kita
dapat memanfaatkan data ESA WorldCover pada Google
Earth.
4.
Analisis Aksesibilitas
Istilah lokasi, lokasi, lokasi yang sering dijumpai mengindikasikan
bahwa bagaimana lokasi aset berperan vital dalam penentuan produktivitas
maksimal dari suatu aset. Selain KDE, aksesibilitas bisa menjadi proxy pendukung untuk mengukur kualitas lokasi aset. Untuk mengukur seberapa
tinggi tingkat aksesibilitas lokasi aset, beberapa variabel yang dapat
digunakan antara lain panjang jalan, intersection/street connectivity dan jumlah Transit-Oriented Development (TOD)/titik layanan
transportasi umum. Data terkait indikator aksesibilitas dapat diperoleh melalui
OpenStreetMap.
Selain keempat indikator
di atas, dalam analisis spasial dapat ditambahkan indikator lain sesuai dengan
karakteristik ekonomi, sosial, ataupun geografis dari daerah setempat, antara
lain indikator kerawanan bencana dari peta InaRISK BNPB, atau analisis waktu
tempuh/jarak antara POI (catchment area).
Walaupun analisis
spasial memiliki keunggulan yaitu dapat dilakukan secara on-desk dan efisien, tingkat
keakuratan ataupun kemutakhiran data tergantung pada data sekunder yang
digunakan. Meskipun data sekunder dari OpenStreetMap tersedia secara
gratis, informasi pada sumber peta berbayar mungkin lebih lengkap dan terkini. Kebijakan
Program Satu Peta yang saat ini dilaksanakan oleh DJKN dapat mengakselerasi
pemutakhiran informasi data spasial aset di Indonesia, sehingga akan
meningkatkan ketersediaan dan kualitas data (GIS) dalam melaksanakan analisis
spasial.
Analisis spasial dalam penentuan HBU tidak serta-merta
menjadi pengganti analisis HBU sebagaimana diatur dalam Kepdirjen Kekayaan
Negara Nomor 136/KN/2024 tentang Pedoman Analisis HBU. Analisis spasial dapat
dijadikan sebagai analisis awal, sebelum dilakukan
analisis HBU yang lebih komprehensif dengan peninjauan lapangan. Analisis
spasial mampu memberikan overview dan visualisasi potensi
suatu aset secara cepat dan berbasis
data kepada manajemen, sebagai kajian pendukung dalam pengambilan kebijakan
optimalisasi pengelolaan BMN.
Penulis: I Gede Ari Erawan (KPKNL Denpasar)
Referensi
Anselin,
L., & Getis, A. (1992). Spatial statistical analysis and geographic
information systems. In Ann Reg Sci (Vol. 26 ).
Chen,
X., & Nordhaus, W. D. (2011). Using luminosity data as a proxy for economic
statistics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 108(21),
8589–8594. https://doi.org/10.1073/pnas.1017031108
Elvidge, C. D., Baugh, K., Zhizhin, M., Hsu, F. C., & Ghosh, T. (2017). VIIRS night-time lights. International Journal of Remote Sensing, 38(21), 5860–5879. https://doi.org/10.1080/01431161.2017.1342050
Henderson,
J. V., Storeygard, A., & Weil, D. N. (2012). Measuring Economic Growth from
Outer Space. American Economic Review, 102(2), 994–1028.
https://doi.org/10.1257/aer.102.2.994
Mellander,
C., Lobo, J., Stolarick, K., & Matheson, Z. (2015). Night-Time Light Data:
A Good Proxy Measure for Economic Activity? PLOS ONE, 10(10),
e0139779. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0139779
Puspita
Trianjani, M., Alam, S., & Ashdaq, M. (2026). Implementation of Hotspot
Analysis Using the Kernel Density Estimation (KDE) Algorithm for WebGIS-Based
Visualization of Culinary MSME Businesses: A Case Study of Makassar City. Journal
of Digital Business and Innovation Management, 5(1).
https://doi.org/10.26740/jdbim.v5i1.73813
Ch
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel