Asal Muasal Desa Panglipuran: Cerminan Budaya dan Pengelolaan Aset yang Baik
Novan Prihendarto
Kamis, 14 November 2024 |
3074 kali
Desa Panglipuran, sebuah desa adat di Kabupaten Bangli, Bali,
telah lama dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Kerapian dan
keasrian lingkungannya mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat setempat yang
menjunjung tinggi kebersamaan, tradisi, serta penghormatan terhadap alam. Desa
ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata yang mendunia, tetapi juga menjadi
contoh nyata bagaimana budaya dan pengelolaan aset suatu daerah dapat
mencerminkan karakter masyarakat, sejalan dengan ungkapan Sri Mulyani
Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia, bahwa “Pengelolaan aset
suatu negara (daerah) mencerminkan budaya masyarakatnya.”
Sejarah dan Filosofi Desa Panglipuran
Asal muasal Desa Panglipuran berasal dari kata “Pangeling”
dan “Pura” yang berarti mengenang leluhur. Masyarakat desa ini dikenal menjaga
nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, terutama dalam
hal hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia
dengan Tuhan. Tiga konsep utama yang sering dikenal sebagai Tri Hita Karana
(keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan) sangat dijaga dalam kehidupan
sehari-hari di Panglipuran.
Desa ini telah ada sejak zaman Kerajaan Bangli dan dahulu
merupakan tempat peristirahatan raja. Hingga kini, keaslian arsitektur dan tata
ruang desa masih dipertahankan. Rumah-rumah penduduk tertata rapi, dengan pintu
gerbang seragam yang mencerminkan keteraturan dan kebersamaan warga. Penghuni
desa tetap memegang teguh nilai-nilai adat dan budaya, seperti menjaga
kebersihan, melestarikan lingkungan, dan melaksanakan gotong royong.
Cerminan Budaya Lewat Pengelolaan Aset
Desa Panglipuran menjadi contoh konkret bagaimana pengelolaan
aset daerah yang baik mencerminkan budaya dan kearifan lokal. Dalam konteks
ini, “aset” bukan hanya berarti kekayaan fisik seperti tanah atau bangunan,
tetapi juga warisan budaya yang terjaga dan dilestarikan. Lingkungan yang
bersih dan rapi di Panglipuran adalah hasil dari kesadaran kolektif masyarakat
tentang pentingnya menjaga tanah dan rumah yang mereka tempati, bukan hanya
untuk mereka, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Sri Mulyani sering
menekankan pentingnya pengelolaan aset negara secara profesional dan
bertanggung jawab. Hal ini sangat relevan di Panglipuran, di mana masyarakat
secara turun-temurun menjaga tanah adat mereka sebagai wujud dari rasa tanggung
jawab dan cinta terhadap lingkungan. Pengelolaan desa ini tidak hanya dilakukan
oleh pemerintah daerah, tetapi terutama oleh warga yang menjalankan tata cara
adat yang ketat dalam menjaga kebersihan dan keseimbangan lingkungan.
Inspirasi dari Desa Panglipuran untuk Pengelolaan Aset
Nasional
Desa Panglipuran mengajarkan bahwa pengelolaan aset, baik
aset negara maupun aset daerah, tidak hanya soal infrastruktur atau properti,
tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memperlakukan lingkungan dan budaya
mereka. Ketika aset negara dikelola dengan baik, seperti yang ditunjukkan oleh
masyarakat Desa Panglipuran, maka tercermin pula kualitas budaya dan kearifan
lokal yang dimiliki oleh bangsa tersebut.
Melalui pengelolaan desa yang konsisten menjaga kerapian dan
keasriannya, Desa Panglipuran memberikan inspirasi bahwa aset bukan hanya soal
nilai materi, tetapi juga nilai kebudayaan yang menjadi warisan tak ternilai.
Pandangan ini sejalan dengan semangat yang disampaikan oleh Sri Mulyani dalam
pengelolaan aset negara: bahwa pengelolaan yang baik mencerminkan karakter dan
nilai-nilai masyarakat itu sendiri. Desa Panglipuran menjadi salah satu contoh
bagaimana budaya yang kuat dapat mendukung pengelolaan aset secara bijak dan
berkelanjutan.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |