A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXX(/var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022/portaldjkn_2022bu6pbgo4q098llkbsnd7ejd2ig8igona): failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 176

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: XXXXXXXXXXXXX(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions/ci_sessions_2022)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 143

Backtrace:

File: /home/piesa/webdjkn/application/controllers/Unit_kerja.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/piesa/webdjkn/index.php
Line: 326
Function: require_once

Website DJKN
  Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Denpasar
Pelestarian Kerajinan Uang Kepeng dan Lukisan Kamasan Klungkung: Warisan Leluhur yang Berharga

Pelestarian Kerajinan Uang Kepeng dan Lukisan Kamasan Klungkung: Warisan Leluhur yang Berharga

Novan Prihendarto
Kamis, 17 Oktober 2024 |   851 kali

Pada masa kerajaan di Bali, uang kepeng—koin berbentuk bulat dengan lubang di tengah dan bertuliskan huruf China di kedua sisinya—digunakan sebagai alat transaksi. Hingga kini, uang kepeng masih memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Bali, khususnya dalam berbagai upacara keagamaan seperti Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusia Yadnya.

Salah satu desa yang tetap melestarikan warisan kerajinan uang kepeng adalah Desa Kamasan, terletak di Kabupaten Klungkung. Desa ini terkenal dengan keahliannya dalam seni dan kerajinan, termasuk lukisan klasik gaya Kamasan yang menggambarkan cerita pewayangan dan mitologi Hindu. Kerajinan uang kepeng di desa ini telah dijalankan sejak zaman leluhur, namun saat ini jumlah pengrajin yang mampu memproduksi uang kepeng asli semakin menurun.

Kelangkaan uang kepeng asli China di Bali menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan uang kepeng untuk berbagai keperluan adat dan agama. Melihat kondisi ini, seorang pengrajin lokal bernama Pak Made Sukma tergerak untuk melestarikan warisan ini. Beliau memulai usaha yang bergerak di bidang produksi uang kepeng demi menjaga tradisi leluhur tetap hidup.

Tak hanya memproduksi uang kepeng, Pak Made Sukma juga mengajak warga sekitar, termasuk warga berkebutuhan khusus, untuk bergabung dalam usahanya. Bersama-sama, mereka membuat lukisan dan uang kepeng, yang selain berperan melestarikan tradisi, juga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat Desa Kamasan. Usaha ini telah membantu meningkatkan pendapatan warga setempat, menciptakan peluang kerja, dan mempertahankan warisan budaya yang sangat berharga.

Lukisan Kamasan sendiri merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang tidak terpisahkan dari sejarah Desa Kamasan. Lukisan ini umumnya menggunakan media kanvas atau kulit kayu, dan teknik pengerjaannya diwariskan secara turun-temurun. Dengan terus menggabungkan produksi uang kepeng dan seni lukisan Kamasan, Pak Made Sukma tidak hanya menjaga keberlangsungan budaya, tetapi juga memperkenalkan kekayaan warisan leluhur kepada generasi muda.

Melalui usahanya, Pak Made Sukma berharap kerajinan uang kepeng dan lukisan Kamasan tetap eksis dan mendapatkan apresiasi yang lebih luas. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa kerajinan ini tidak hilang di telan waktu, tetapi terus berkembang dan menjadi salah satu identitas budaya Bali yang unik.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon