Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Denpasar
Mengenang Perjuangan Masyarakat Bali di Monumen Bajra Sandhi

Mengenang Perjuangan Masyarakat Bali di Monumen Bajra Sandhi

N/a
Selasa, 31 Maret 2020 |   9753 kali

Upaya Indonesia dalam meraih kemerdekaan di masa lampau tidaklah mudah. Terjangan gempuran yang dilakukan oleh pihak Belanda memicu terjadinya gejolak perlawanan dari rakyat kerajaan dan kesultanan di Indonesia. Menggunakan taktik adu domba, Belanda berhasil mengecoh rakyat Indonesia sehingga terjadilah perpecahan di kerajaan-kerajaan tersebut.

Pulau Bali pada masa itu turut menjadi salah satu daerah perjuangan melawan Belanda. Tidak sedikit pahlawan yang menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan, seperti I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ketut Jelantik, dan I Gusti Ketut Pudja. Bali menjaga basis bawah dari serangan Belanda dengan peperangannya yang terkenal antara lain Perang Jagaraga di tahun 1848-1849, Perang Kusamba di tahun 1849, Perlawanan Rakyat Banjar di tahun 1868, Perang Puputan Badung di tahun 1906, Puputan Klungkung di tahun 1908, dan Perang Puputan Margarana di tahun 1946.

Demi melestarikan sejarah dan sebagai penghargaan atas perjuangan semeton/rakyat Bali serta para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia, diberikanlah nama jalan, pendirian monumen, nama lapangan terbang, dan sebagainya. Apresiasi tersebut juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk mempelajari dan meneladani wujud rela berkorban, cinta tanah air, dan cinta persatuan dan kesatuan yang dilakukan para tokoh dalam mengemban nama Indonesia hingga meraih kemerdekaan. Salah satu bentuk penghargaan terbesar yang dibangun oleh masyarakat bali di daerah Niti Mandala, Denpasar, dikenal dengan istilah Monumen Perjuangan Rakyat Bali.

Dalam kesempatan yang menarik ini, Tim Humas KPKNL Denpasar menyempatkan diri beranjangsana ke Monumen Bajra Sandhi. Ditemui oleh Bapak Nyoman Subawa selaku Staf UPTD (Unit Pelaksana Tugas Daerah) Bagian Informasi, kami mendapatkan pencerahan dan banyak masukan terkait latar belakang pendirian monumen tersebut. Berawal dari sayembara yang dicetuskan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, sebagai Gubernur Provinsi Bali pada masa itu. Beliau mengadakan Pesta Kesenian Bali di tahun 1981 yang menjadi agenda rutin setiap tahunnya dan menyelenggarakan sayembara desain Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Yang menarik adalah pemenang sayembara ini merupakan generasi muda bernama Ida Bagus Gede Yadnya yang berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Udayana. Bulan Agustus 1988, diletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan monument setelah sekian tahun dilakukan penyempurnaan atas desain yang telah dibuat. Pembangunan cukup memakan waktu yang lama karena terjadinya hambatan pada anggaran dan depresiasi uang Rupiah di tahun 1997. Tahun 2003, Monumen Perjuangan Rakyat Bali selesai dibangun secara keseluruhan, mulai dari bangunan gedung, taman, hingga diorama di dalamnya yang berisi sejarah Bali dari masa ke masa. Pada tanggal 14 Juni 2003, Presiden RI Megawati Soekarno Putri meresmikan Monumen Perjuangan Rakyat Bali bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-25. Sejak saat itu, monumen yang terletak di pusat Kota Denpasar tersebut menjadi monumen yang dibanggakan dan dapat dikunjungi oleh masyarakat umum.

Banyak falsafah yang menggambarkan alasan pembangunan Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Falsafah Lingga-Yoni yang melambangkan simbol kesuburan dan kesejahteraan, dimana pertemuan antara Lingga yang berarti Lambang Purusa (pria) dan Yoni yang berarti Lambang Pradana (wanita). Bapak Nyoman Subawa menceritakan, monumen ini juga berlatarkan falsafah yang berasal dari Kitab Adi Parwa yaitu kisah Pemutaran Mandara Giri (Gunung Mandara) di Ksirarnama (Lautan Susu). Kisah ini menceritakan bahwa para Dewa dan Raksasa/Daitya mencari Tirta Amertha (air kehidupan abadi) dengan jalan memutari Gunung Mandara. Pemutaran Gunung Mandara yang dilakukan tidaklah mudah. Para Dewa memegang ekor Naga Besuki yang menjadi perumpamaan tali pengikat dan pemutar gunung, sedangkan para Daitya memegang bagian kepala. Untuk menjaga dasar Gunung Mandara yang dirupakan sebagai Akupa (kura-kura), Dewa Siwa menahan dengan menduduki bagian atas gunung. Rintangan yang dilalui dalam memutar Gunung Mandara akhirnya membuahkan hasil. Secara berturut-turut keluarlah Ardha Candra (Bulan Sabit), Dewi Sri dan Laksmi, Kuda Uchaisrawah (Kuda Terbang), Kastuba, Mani (Pohon Kebahagiaan), dan yang terakhir keluar Dewi Dhanwantari yang membawa Tirta Amertha. Secara filosofis, kisah ini merefleksikan pesan bagi generasi muda untuk selalu bekerja keras, ulet, tekun, dan gotong royong dalam meraih keberhasilan.

Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini dibangun di area Niti Mandala Denpasar, tepatnya di Lapangan Puputan Margarana. Bangunan monumen ini berbentuk seperti Bajra (genta) atau lonceng suci (Sandhi) yang digunakan oleh pendeta agama Hindu saat mengucapkan mantra dalam upacara persembahyangan sehingga sering juga dikenal dengan nama Monumen Bajra Sandhi. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menjelaskan, monumen yang menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) ini terdapat 33 (tiga puluh tiga) unit diorama di dalamnya. Diorama tersebut menggambarkan keadaan masyarakat Bali sejak Masa Prasejarah, Masa Sejarah, Masa Bali Kuno, Masa Bali Madya, Masa Penjajahan, hingga Masa Perjuangan merebut Kemerdekaan. Seluruh penggambaran diorama ditampilkan dalam bentuk tiga dimensi dengan dilengkapi berbagai model boneka manusia, binatang, dan pelengkap lainnya. Tak lupa terdapat informasi tertulis dengan aksara Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris yang berisi penjelasan setiap diorama. Penyuguhan diorama ini bertujuan agar pengunjung Monumen Bajra Sandhi dapat memahami dan mempelajari alam, situasi, dan suasana Bali pada saat itu.

Bapak Nyoman Subawa, merunut dari diorama yang ditampilkan juga bercerita, bahwa sejak Abad 8 M masyarakat Bali sudah mulai mengenal agama dan kebudayaan. Datangnya Mpu Kuturan pada Abad 11 M membawa Bali memahami konsep Khayangan Tiga dan paham Tri Murti yang menyatukan berbagai aliran agama atau sekte-sekte yang ada pada waktu itu. Mpu Kuturan juga menata kembali konsep kesempurnaan bangunan pemujaan di Bali mulai dari yang paling sederhana. Tahun 1338 M merupakan jaman peralihan Dalem Bedahulu, dimana Kerajaan Bali pada waktu itu dipimpin oleh tokoh bernama Patih Kebo Iwa. Kejayaan kerajaan di Bali berlanjut sampai dengan abad 17-19 M dengan peninggalannya yang saat ini masih terawat dengan baik, seperti Taman Kerthagosa di Klungkung, Taman Sukasada di Karangasem, dan Taman Ayun di Mengwi.

Sejak Abad 18M, kondisi Bali tidak begitu baik. Peperangan terjadi kesekian kalinya. Perang Jagaraga yang terjadi pada 1848-1849 dipimpin oleh Patik Djelantik sebagai perlawanan untuk tidak takluk terhadap Belanda. Perlawanan rakyat Buleleng saat itu berbuah hasil, menggunakan siasat supit urang, perang pertama berjalan lancar dan banyak menghasilkan korban dari pihak Belanda karena ketidaktahuan mereka akan strategi yang diluncurkan masyarakat Bali. Ekspedisi kedua pada 15 April 1849 di bawah pimpinan Jenderal Michiels dan Overste De Brau, pasukan Belanda kembali menyerang wilayah Buleleng yang mengakibatkan laskar Patih Djelantik banyak yang gugur. Setelah takluknya Buleleng, Kerajaan Klungkung sudah memperkirakan sasaran Belanda selanjutnya. 24 Mei 1849, Belanda menyerang Puri Kusamba dan karena kurangnya persenjataan, berakibat Kerajaan Klungkung mundur dari peperangan. Keesokan paginya, pasukan istimewa Kusamba melakukan serangan mendadak dengan sasaran Jenderal Michiels. Alhasil, paha kiri Jenderal Michiels remuk terkena peluru, dan ia meninggal setelah kakinya diamputasi.

Tanggal 20 September 1906, Kota Denpasar dihujani tembakan dari Meriam Belanda dari pantai Sanur. Penyerangan ini merupakan bentuk kekesalan Belanda karena menyatakan banyak barang yang hilang dan dicuri oleh penduduk sekitar Padang Galak, Sanur. Padahal rakyat Sanur telah bersedia memberi pertolongan dan menyerahkan muatan kembali ke Kapal Dagang Srikomala. Belanda meminta tebusan kemudian mengarahlah pada peperangan yang dikenal sebagai Puputan Badung.

Masuknya pasukan Jepang ke Bali pada 1942 yang pada awalnya dianggap sebagai alat untuk mengusir penjajah Belanda, malah berlanjut menjadi mimpi buruk baru bagi masyarakat Bali. Jepang menggerakkan kerja paksa (Romusha) untuk kepentingan memenangkan perang dunia 2. Pada tahapan selanjutnya setelah dimulainya era awal kemerdekaan, diketahui bahwa Berita Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta tidak langsung terdengar di Bali. Hal tersebut baru terealisasi pada tanggal 23 Agustus 1945 dengan Mr. I Gusti Ketut Pudja diberi mandat menjadi Gubernur Sunda Kecil. Beliau berangkat menggunakan jalur darat menuju Bali untuk menyampaikan berita kemerdekaan. Keesokan paginya diadakan upacara bendera dan penggantian seluruh bendera Jepang yang menempel di kantor-kantor kerajaan menjadi bendera Indonesia. Pada 5 Juli 1946, pertempuran Tanah Aron melawan Belanda dimulai dan dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Dalam pertempuran tersebut tidak ada korban satupun dari laskar I Gusti Ngurah Rai. Pada tanggal 20 Nopember 1946 terjadi pertempuran sengit yang dikenal dengan Puputan Margarana antara pasukan Ciung Wanara dibawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai yang gugur bersama pasukannya, dengan serdadu Belanda. Pada masa perang berakhir, Bali mulai bangkit dan berperan mengisi kemerdekaan Indonesia dengan membangun daerah Bali berlandaskan kebudayaan yang dijiwai Agama Hindu pada beberapa bidang seperti Pariwisata, Pertanian, Pendidikan, serta Kebudayaan.

Mengenang jasa para pahlawan dalam membawa Indonesia merdeka dan menjaganya dari serangan negara asing, Monumen Perjuangan Rakyat Bali menjadi bukti nyata akan sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus tetap melestarikan sejarah dan mengamalkan pesan baiknya di kehidupan sehari-hari. Akan sia-sia pengorbanan para pahlawan apabila kita tidak memaknainya untuk membangun Indonesia yang lebih berbudaya dan tertata di mata dunia. (Tim Humas KPKNL Denpasar)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon