Mengapa Mengakui Kesalahan Bisa Terasa Sulit? Memahami pertahanan diri, empati, dan profesionalisme di lingkungan kerja
Corry Wulandari
Selasa, 26 Mei 2026 |
10 kali
Mengapa Mengakui Kesalahan Bisa Terasa Sulit?
Memahami pertahanan diri, empati, dan profesionalisme di lingkungan kerja
Penulis: Lien W lestari
Kita mungkin pernah berada di situasi ketika melihat seseorang begitu yakin bahwa dirinya benar. Keyakinan itu tampak kokoh, sampai-sampai ruang untuk pendapat lain terasa sempit. Bahkan ketika orang lain hanya ingin memperjelas, bukan menyalahkan, respons yang muncul tetap defensif. Lalu ketika kemudian terbukti ada kekeliruan, hal itu perlahan menghilang begitu saja—seolah tidak pernah terjadi. Apakah ini tentang ego, atau hanya cara melindungi dirinya sendiri? Mengapa bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa begitu berat? Karena hanya menebak-nebak, situasi ini sering membuat kita perlu kreatif bersikap.
Namun, bagaimana jika situasi sulit mengakui kesalahan ini terjadi di tempat kerja? Hubungan antara pegawai akan terpengaruh, komunikasi bisa terasa dingin, muncul rasa tidak nyaman, bahkan perlahan kepercayaan pun bisa terkikis. Dampaknya tidak berhenti pada relasi personal. Dalam konteks pekerjaan, kesalahan yang tidak segera diakui berpotensi memperbesar persoalan dan memperburuk situasi.
Pada masa sekarang, setiap pekerja dituntut untuk memberikan performa terbaiknya. Namun, capaian dan target kerja sering kali bukan satu-satunya ukuran kepuasan seseorang dalam bekerja. Tidak sedikit orang berusaha membangun citra diri agar dipandang kompeten, dapat diandalkan, dan memiliki rekam jejak yang baik di lingkungan profesionalnya. Dalam situasi seperti ini, penilaian orang lain menjadi sesuatu yang cukup memengaruhi rasa percaya diri.
Karena itu, kesalahan dapat dirasakan sebagai sesuatu yang memalukan. Bukan hanya soal hasil kerja yang keliru, tetapi juga kekhawatiran dianggap tidak kompeten, gagal, atau mengecewakan. Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa seperti memberi celah pada citra diri yang selama ini dijaga. Mungkin itulah sebabnya respons defensif sering muncul, bahkan ketika sebenarnya situasi masih bisa diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka.
Respons defensif mungkin menjadi reaksi pertama yang muncul secara alami ketika seseorang merasa tertekan oleh sebuah kesalahan atau konflik. Sebelum seseorang mampu berpikir lebih jernih dan mengambil langkah yang lebih kompleks, menghindari pembahasan, menyangkal, atau mencari pembenaran sering kali terasa sebagai pilihan yang paling mudah dan aman secara emosional. Dalam psikologi, respons seperti ini dikenal sebagai mekanisme pertahanan diri, yaitu cara seseorang melindungi dirinya dari rasa malu, takut, atau tidak nyaman. Beberapa bentuk yang cukup sering muncul antara lain denial (penyangkalan), avoidance (menghindari situasi atau pembicaraan tertentu), dan rationalization atau rasionalisasi (mencari alasan yang membuat tindakannya terasa lebih dapat diterima).
Denial yaitu kecenderungan menyangkal atau menganggap suatu masalah tidak terlalu serius agar rasa beban emosional terasa lebih ringan. Misalnya, ketika terjadi kekeliruan dalam interaksi dengan rekan kerja, seseorang mungkin memilih menganggap situasi tersebut hanyalah kesalahpahaman kecil meskipun dampaknya sudah dirasakan oleh orang lain. Selanjutnya avoidance, yaitu menghindari pembahasan maupun situasi yang dapat memicu tekanan emosional. Dalam beberapa situasi, avoidance juga muncul karena seseorang belum siap menghadapi konsekuensi dari sebuah konflik atau persoalan. Sikap ini dapat terlihat ketika seseorang mulai menghindari percakapan tertentu, menjaga jarak, atau memilih diam setiap kali topik tersebut kembali dibahas. Sementara rationalization merupakan upaya membuat tindakannya terasa masuk akal bagi diri sendiri. Contohnya, seseorang mungkin merasa bahwa tindakannya dapat dimaklumi karena dilakukan dalam kondisi tertekan, memiliki niat yang baik, atau terjadi akibat kurangnya informasi yang diterima saat itu. Sikap ini mungkin kerap dipandang sebagai bentuk pembenaran, padahal dalam banyak situasi hal tersebut juga dapat menjadi respons psikologis untuk melindungi diri dari rasa malu, cemas, atau bersalah. Denial, avoidance, dan rationalization mungkin membantu seseorang bertahan secara emosional, tetapi dampaknya pada orang lain tetap nyata.
Ketika kekeliruan dalam pengambilan sikap atau keputusan di lingkungan kerja membuat suasana menjadi tidak kondusif, respons setiap orang dapat berbeda-beda. Tidak semua orang bereaksi sepenuhnya berdasarkan logika; dalam situasi tertentu, tekanan emosional maupun kondisi psikologis dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi konflik, kritik, atau rasa bersalah. Apa yang terlihat sebagai sikap tidak peduli, mungkin sebenarnya merupakan kesulitan menghadapi rasa bersalah yang belum siap diterima. Apa yang tampak seperti menghindari tanggung jawab, bisa jadi merupakan kebingungan menghadapi konsekuensi dan tekanan yang muncul. Demikian pula, apa yang kadang dianggap sebagai sikap manipulatif, mungkin merupakan bentuk ketidaknyamanan menghadapi rasa malu atau ketakutan kehilangan penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Meski demikian, memahami kemungkinan pergulatan di balik sebuah respons tidak berarti mengabaikan dampak yang dirasakan orang lain.
Profesionalisme dalam Nilai Kementerian Keuangan didefinisikan sebagai bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik, dengan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi. Profesionalisme bukan berarti tidak ada ruang untuk kekeliruan. Justru, sikap profesional terlihat ketika seseorang bersedia bertanggung jawab atas konsekuensi dan memiliki komitmen untuk memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.
Sejalan dengan itu, lingkungan organisasi yang sehat juga perlu memberikan ruang untuk memahami. Tidak semua kekeliruan muncul dari niat buruk, dan tidak semua respons manusia lahir dari kondisi emosional yang stabil. Karena itu, empati dan komunikasi terbuka menjadi hal penting dalam menjaga kondusivitas organisasi. Mewujudkan keseimbangan ini tentu bukan hal yang mudah sehingga membutuhkan kesadaran dan keterlibatan semua pihak. Seseorang yang melakukan kesalahan perlu bersikap profesional dengan berani mengakui dan bertanggung jawab atas tindakannya, sementara lingkungan kerja tetap mengedepankan empati tanpa kehilangan batas profesional. Empati bukan berarti memaklumi semua hal, melainkan memberikan ruang untuk perbaikan, pemulihan hubungan kerja, dan dukungan emosional yang sehat.
Pada akhirnya, organisasi bukan ruang kaku yang hanya menuntut kompetensi dan pencapaian tanpa cela, melainkan wadah berbagai emosi yang kompleks, di mana kekeliruan adalah hal yang mungkin terjadi dan konflik merupakan bagian dari dinamika manusia. Organisasi tumbuh tidak hanya melalui angka dan capaian, tetapi juga melalui peran manusia-manusia di dalamnya yang terus belajar, memperbaiki diri, serta menjaga empati satu sama lain.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |