Simulasi Peran (Roleplay) Sebagai Strategi Pelatihan Untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Lelang
Aga Budiman
Senin, 25 Agustus 2025 |
870 kali
Perkembangan
layanan lelang saat ini terus berkembang dan menghadirkan tantangan baru,
layanan lelang tidak lagi terbatas dilakukan secara konvensional tetapi juga
dilakukan secara daring melalui platform e-auction
yaitu lelang.go.id.
Layanan lelang
terdiri dari empat tahap yaitu persiapan lelang, sebelum lelang (Pra Lelang),
pelaksanaan lelang dan setelah lelang (Pasca Lelang). Masing-masing tahap
menuntut petugas lelang untuk mampu berinteraksi dengan berbagai tipe pengguna
layanan lelang secara profesional dan komunikatif.
Peningkatan
kualitas layanan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pengguna
layanan. Dalam menghadapi tantangan tersebut
perlu dukungan petugas lelang yang tidak hanya memahami aspek teknis dan
regulasi, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, pengambilan keputusan, dan
pengelolaan konflik yang efektif kepada para pengguna layanan lelang. Kompetensi
petugas lelang dapat ditingkatkan melalui berbagai jenis pelatihan. Berdasarkan
pengalaman penulis dalam Diklat Pejabat Lelang, salah satu metode pelatihan
yang dinilai efektif adalah pendekatan simulasi peran (roleplay).
Artikel ini
membahas strategi pelatihan untuk meningkatkan kualitas layanan lelang melalui
pelatihan pendekatan simulasi peran (roleplay) sehingga
petugas lelang dapat mengembangkan keterampilan soft skill secara simultan serta membangun kepercayaan masyarakat
terhadap layanan lelang.
Pengertian Bermain peran adalah kegiatan mendramatisasi
perilaku orang-orang tertentu dalam suatu peran sosial dimasyarakat atau
organisasi, dengan maksud memberikan pemahaman tentang dinamika peran tersebut
(Hadari nawawi dalam kartini 2007).
Menurut Bonwell
& Eison (1991) simulasi
peran adalah strategi yang efektif untuk mendorong keterlibatan, kerja
kelompok, dan pemahaman mendalam, dibandingkan dengan
pembelajaran pasif seperti ceramah.
Simulasi peran
(roleplay) merupakan pendekatan pelatihan yang sangat efektif dan
relevan untuk diterapkan dalam meningkatkan kompetensi petugas lelang. Melalui
simulasi ini, petugas lelang dapat berlatih menghadapi berbagai situasi nyata
yang mungkin terjadi dalam layanan lelang, seperti berinteraksi dengan pengguna
layanan lelang yang beragam karakter dan latar belakangnya, menjelaskan
prosedur lelang secara jelas dan sistematis, hingga menangani keluhan atau
permasalahan yang muncul di lapangan.
Kegiatan simulasi
peran (roleplay) juga sangat fleksibel untuk dilakukan secara
berkala dalam pelatihan internal kantor, baik melalui in-house training
maupun pelatihan swakelola, dan bisa diselenggarakan secara langsung (tatap
muka) maupun daring. Bahkan, pelatihan dapat direkam dan dimanfaatkan sebagai
bahan evaluasi maupun pembelajaran berkelanjutan bagi seluruh petugas lelang. Dengan
pendekatan ini, peningkatan kualitas pelayanan lelang dapat terus dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan. Dengan kata lain, simulasi peran (roleplay) menjadi jembatan antara teori dan praktik, serta
memperkuat keterampilan interpersonal dan pemecahan masalah dalam berbagai
konteks nyata.
Simulasi peran (roleplay) memiliki keunggulan
dan tantangan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan dalam suatu program
pelatihan. Keunggulan simulasi peran (roleplay) adalah
dalam hal pengembangan soft skill kemampuan mengasah
ketangkasan petugas lelang dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat,
bahkan dalam kondisi penuh tekanan. Meskipun berada dalam situasi yang menuntut
respon segera, petugas lelang tetap dituntut untuk mematuhi prosedur dan
regulasi yang berlaku. Dalam konteks ini, simulasi peran (roleplay) melatih petugas lelang untuk tetap bersikap solutif
dan profesional tanpa memicu konflik, serta menjaga kepercayaan dan kenyamanan
pengguna layanan.
Selain itu meningkatkan empati petugas lelang dengan
memainkan peran sebagai pemohon, peserta lelang atau peran lainnya akan lebih
memahami sudut pandang dan kebutuhan pengguna layanan. Hal ini mendorong petugas
lelang untuk lebih tenang, sabar, dan profesional dalam menghadapi situasi
sulit, seperti keluhan, konflik, atau pertanyaan mendesak. Dengan begitu,
pelayanan yang diberikan tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga
prima dan berkesan bagi pengguna layanan lelang.
Simulasi peran (roleplay) juga merupakan
metode pelatihan yang unggul dibandingkan beberapa metode pembelajaran lainnya
seperti ceramah atau diskusi karena dari pengalaman yang diperoleh cenderung
lebih melekat dalam ingatan petugas lelang seakan
mengalaminya secara langsung, bukan hanya mendengar atau melihat, berbeda
dengan metode ceramah atau diskusi yang hanya menawarkan pemahaman teoritis.
Di sisi lain, simulasi
peran (roleplay)
juga memiliki sejumlah tantangan yaitu kebutuhan akan fasilitator yang memahami skenario, dinamika kelompok,
serta teknik evaluasi yang tepat, simulasi peran (roleplay) bisa menjadi tidak efektif atau
bahkan membingungkan petugas lelang.
Selain itu,
tidak semua petugas lelang merasa nyaman dalam situasi bermain peran. Rasa malu, gugup, atau takut tampil di depan orang lain
bisa menghambat partisipasi aktif, terutama bagi petugas lelang yang introvert atau belum terbiasa dengan
metode ini.
-
Peran: Petugas lelang dan pemohon
lelang.
-
Tujuan: Melatih kemampuan
petugas lelang dalam menyampaikan informasi secara jelas dan sistematis.
-
Simulasi: Pemohon
lelang kebingungan dengan alur pendaftaran permohoan lelang dan petugas lelang harus
menjelaskan secara informatif dengan sikap yang ramah.
2.
Menangani
komplain saat lelang terkait situasi terjadinya kesalahan teknis pada aplikasi
Simulasi peran (roleplay) merupakan salah satu
strategi metode pelatihan yang dapat meningkatkan kualitas layanan lelang dan
memungkinkan dilakukannya praktik berulang serta evaluasi kinerja secara
berkala. Melalui umpan balik yang konstruktif, petugas lelang dapat
mengidentifikasi kekurangan, memperbaiki cara komunikasi, serta memperkuat
kepercayaan diri dalam menjalankan tugasnya.
Dengan pelatihan yang tepat,
petugas lelang dapat menjaga kredibilitas layanan lelang dan meningkatkan
kepuasan pengguna jasa layanan lelang yang pada akhirnya akan meningkatkan
kepuasan pengguna layanan, baik dari sisi proses maupun hasil lelangnya.
Lelang, pasti prosesnya bagus harganya!
Sumber
Referensi
Nawawi, H.
(2003). Metode Penelitian
Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Bonwell, C.
C., & Eison, J. A. (1991). Active
Learning: Creating Excitement in the Classroom. Washington DC:
ASHE-ERIC Higher Education Reports.
Ade Lestari
& Aldri Frinaldi. (2023). Penerapan
Roleplay Layanan Sebagai Inovasi dan Budaya Untuk Peningkatan Kualitas Layanan
pada PT. BRI Kantor Unit Simpang Tiga. Menara Ilmu: Jurnal
Penelitian dan Kajian Ilmiah
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |