Integritas Zaman Now: Ketika Jadi Baik Itu Bukan Soal Gaya, Tapi Prinsip.
Corry Wulandari
Kamis, 19 Juni 2025 |
432 kali
Zaman sekarang, kita hidup di era yang
serba cepat. Informasi bisa viral dalam hitungan detik, pekerjaan multitasking
jadi standar, dan ekspektasi terhadap kinerja makin tinggi. Tapi di tengah
dinamika itu semua, satu hal yang tetap penting (dan justru makin relevan)
adalah: integritas.
Iya, integritas. Kata yang sering kita
dengar di pelatihan, slogan kantor, atau pidato pimpinan. Tapi, buat sebagian
orang, kata ini bisa terdengar “berat” atau bahkan membosankan. Padahal, kalau
dipahami lebih dalam, integritas itu bukan soal idealisme kaku. Justru, ini
adalah kompas pribadi, yang membantu kita tetap waras, lurus, dan kuat di tengah
tekanan dunia kerja yang kompleks.
Gak Harus Sempurna, Tapi Harus Konsisten
Banyak Gen Z yang sering merasa: “Kita ini generasi yang dibesarkan di tengah
perubahan, pandemi, digitalisasi, krisis iklim, bahkan krisis kepercayaan.” Maka
wajar kalau muncul pertanyaan: “Di dunia yang serba fleksibel dan abu-abu ini,
masih relevan nggak sih punya integritas?”
Jawabannya: sangat relevan. Karena
integritas bukan berarti sempurna atau suci. Tapi tentang pilihan sadar untuk
tetap jujur, bertanggung jawab, dan jadi versi terbaik dari diri
sendiri meskipun nggak ada yang lihat.
Contoh sederhana: ketika kamu nggak
‘ngakal-ngakalin’ jam kerja walau WFH. Atau nggak meng-copy-paste laporan lama
hanya karena deadline mepet. Bahkan ketika kamu berani mengakui kesalahan dan
bilang “Maaf, itu salah saya” , itu adalah bentuk integritas. Kecil? Mungkin.
Tapi dampaknya besar. Karena integritas itu menular dan membentuk kultur.
Cerita Si Nisa: “Jujur Nggak Selalu Nyaman,
Tapi Lega”
Salah satu cerita menarik datang dari Nisa (27), staf muda di sebuah kantor
pemerintahan. Ia baru setahun bekerja, ketika diminta bantu ‘beresin’ laporan
kegiatan yang realisasinya nggak sesuai anggaran. “Waktu itu bingung banget.
Senior minta aku ubah datanya, katanya udah biasa. Tapi hatiku gelisah.
Akhirnya aku ngobrol baik-baik, bilang aku nggak nyaman kalau harus
manipulasi,” cerita Nisa.
Awalnya, ia dianggap sok idealis. Tapi
beberapa bulan kemudian, kantornya kena audit, dan laporan itu jadi bahan
pemeriksaan. Karena datanya dia buat jujur dan lengkap, justru dialah yang
akhirnya dipercaya jadi koordinator kegiatan tahun berikutnya. “Ternyata benar,
jujur itu mungkin bikin nggak enak di awal, tapi efeknya jangka panjang dan
bikin hati tenang,” tambahnya.
Kisah seperti Nisa ini menggambarkan:
integritas itu bukan sekadar sikap diam-diam, tapi keberanian. Dan keberanian
itu, sangat relevan untuk generasi muda yang sedang membangun reputasi dan
karier.
Gen Z dan Pilihan Etis di Era Digital
Sebagai generasi yang melek digital, Gen Z sering dihadapkan pada dilema etika
yang bahkan belum pernah dialami generasi sebelumnya. Misalnya: apakah boleh
ambil desain dari internet tanpa kredit? Boleh nggak kirim data internal via
media sosial? Atau apakah sah menyebar informasi kantor di akun pribadi?
Semua itu mungkin terlihat sepele, tapi
sebenarnya menyentuh inti dari integritas: bagaimana kita tetap benar, bahkan
saat tidak ada yang tahu.
Di sisi lain, Gen Z juga punya kekuatan
besar: mereka kritis, cepat belajar, dan peduli nilai. Maka saat integritas
dipahami sebagai bagian dari jati diri, bukan sekadar peraturan, mereka bisa
jadi agen perubahan yang sangat kuat di kantor. Mulai dari transparansi kerja,
kolaborasi yang sehat, sampai keberanian menyuarakan kejanggalan. Itu semua
adalah ekspresi integritas versi Gen Z.
“Integritas Itu Investasi Branding Pribadi”
Bayangkan kalau kamu dikenal sebagai orang yang bisa dipercaya. Yang kalau
diberi tugas, hasilnya bisa diandalkan. Yang kalau ngomong, nggak pakai “drama
belakang layar.” Dalam dunia kerja, itu nilainya mahal banget. Karena reputasi
adalah personal brand yang nggak bisa dibentuk instan, tapi dimulai dari
kebiasaan sehari-hari.
Dan kabar baiknya, integritas itu nggak
perlu koneksi, nggak butuh modal besar, dan nggak harus nunggu jabatan tinggi.
Ia bisa dimulai hari ini, dari siapa pun, di level mana pun. Justru semakin
muda kamu mulai konsisten menjaga integritas, semakin kuat pondasi kariermu ke
depan.
Ayo Jadi Penular Kebaikan, Bukan Penonton!
Di era sosial media, kita sering tergoda jadi penonton atau komentator. Tapi di
dunia kerja, kita butuh lebih banyak ‘pemain’, yaitu orang yang nggak cuma mengkritik,
tapi memberi contoh.
Kita bisa mulai dari hal kecil:
menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak mengakali data, jujur saat evaluasi
diri, dan tidak ragu bilang “tidak” untuk sesuatu yang melanggar etika. Ketika satu
orang berani, orang lain akan ikut merasa aman untuk berbuat benar. Dan
perlahan, budaya integritas itu akan tumbuh jadi norma kolektif.
Mengutip Brené Brown, penulis dan peneliti
terkenal soal keberanian dan kepemimpinan:
“Integrity is choosing courage over comfort.”
Artinya, integritas adalah memilih keberanian di atas kenyamanan. Dan itu
adalah sikap keren karena nggak semua orang berani melakukannya.
Penutup: Karena Dunia Kerja Butuh Orang
Baik yang Tegas
Akhirnya, integritas bukan soal jadi ‘orang baik’ yang pasrah atau diam saja.
Justru sebaliknya: ini tentang jadi pribadi yang kuat, tegas, dan tahu kapan
harus berdiri untuk hal yang benar. Di era modern, di tengah tekanan kerja,
sorotan publik, dan kebisingan digital, integritas adalah bentuk keteguhan yang
paling keren.
Jadi, kalau kamu Gen Z dan merasa idealismu
“terlalu bersih” untuk dunia kerja, jangan kecil hati. Justru kamu sedang
membawa energi baru yang jujur, transparan, dan konsisten. Karena hari ini,
organisasi butuh lebih banyak orang kayak kamu.
Ingat: integritas itu nggak harus
viral, cukup nyata!
Dan dari situlah perubahan dimulai.
Dan harus dimulai dari diri kita sendiri.
Ditulis oleh : Seksi HI KPKNL Bontang
Tulisan ini dibuat dalam rangka kegiatan DJKN Integrity Week Tahun 2025.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel