Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Bontang
Integritas Zaman Now: Ketika Jadi Baik Itu Bukan Soal Gaya, Tapi Prinsip.

Integritas Zaman Now: Ketika Jadi Baik Itu Bukan Soal Gaya, Tapi Prinsip.

Corry Wulandari
Kamis, 19 Juni 2025 |   432 kali

Zaman sekarang, kita hidup di era yang serba cepat. Informasi bisa viral dalam hitungan detik, pekerjaan multitasking jadi standar, dan ekspektasi terhadap kinerja makin tinggi. Tapi di tengah dinamika itu semua, satu hal yang tetap penting (dan justru makin relevan) adalah: integritas.

Iya, integritas. Kata yang sering kita dengar di pelatihan, slogan kantor, atau pidato pimpinan. Tapi, buat sebagian orang, kata ini bisa terdengar “berat” atau bahkan membosankan. Padahal, kalau dipahami lebih dalam, integritas itu bukan soal idealisme kaku. Justru, ini adalah kompas pribadi, yang membantu kita tetap waras, lurus, dan kuat di tengah tekanan dunia kerja yang kompleks.

Gak Harus Sempurna, Tapi Harus Konsisten

Banyak Gen Z yang sering merasa: “Kita ini generasi yang dibesarkan di tengah perubahan, pandemi, digitalisasi, krisis iklim, bahkan krisis kepercayaan.” Maka wajar kalau muncul pertanyaan: “Di dunia yang serba fleksibel dan abu-abu ini, masih relevan nggak sih punya integritas?”

Jawabannya: sangat relevan. Karena integritas bukan berarti sempurna atau suci. Tapi tentang pilihan sadar untuk tetap jujur, bertanggung jawab, dan jadi versi terbaik dari diri sendiri meskipun nggak ada yang lihat.

Contoh sederhana: ketika kamu nggak ‘ngakal-ngakalin’ jam kerja walau WFH. Atau nggak meng-copy-paste laporan lama hanya karena deadline mepet. Bahkan ketika kamu berani mengakui kesalahan dan bilang “Maaf, itu salah saya” , itu adalah bentuk integritas. Kecil? Mungkin. Tapi dampaknya besar. Karena integritas itu menular dan membentuk kultur.

Cerita Si Nisa: “Jujur Nggak Selalu Nyaman, Tapi Lega”

Salah satu cerita menarik datang dari Nisa (27), staf muda di sebuah kantor pemerintahan. Ia baru setahun bekerja, ketika diminta bantu ‘beresin’ laporan kegiatan yang realisasinya nggak sesuai anggaran. “Waktu itu bingung banget. Senior minta aku ubah datanya, katanya udah biasa. Tapi hatiku gelisah. Akhirnya aku ngobrol baik-baik, bilang aku nggak nyaman kalau harus manipulasi,” cerita Nisa.

Awalnya, ia dianggap sok idealis. Tapi beberapa bulan kemudian, kantornya kena audit, dan laporan itu jadi bahan pemeriksaan. Karena datanya dia buat jujur dan lengkap, justru dialah yang akhirnya dipercaya jadi koordinator kegiatan tahun berikutnya. “Ternyata benar, jujur itu mungkin bikin nggak enak di awal, tapi efeknya jangka panjang dan bikin hati tenang,” tambahnya.

Kisah seperti Nisa ini menggambarkan: integritas itu bukan sekadar sikap diam-diam, tapi keberanian. Dan keberanian itu, sangat relevan untuk generasi muda yang sedang membangun reputasi dan karier.

Gen Z dan Pilihan Etis di Era Digital

Sebagai generasi yang melek digital, Gen Z sering dihadapkan pada dilema etika yang bahkan belum pernah dialami generasi sebelumnya. Misalnya: apakah boleh ambil desain dari internet tanpa kredit? Boleh nggak kirim data internal via media sosial? Atau apakah sah menyebar informasi kantor di akun pribadi?

Semua itu mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya menyentuh inti dari integritas: bagaimana kita tetap benar, bahkan saat tidak ada yang tahu.

Di sisi lain, Gen Z juga punya kekuatan besar: mereka kritis, cepat belajar, dan peduli nilai. Maka saat integritas dipahami sebagai bagian dari jati diri, bukan sekadar peraturan, mereka bisa jadi agen perubahan yang sangat kuat di kantor. Mulai dari transparansi kerja, kolaborasi yang sehat, sampai keberanian menyuarakan kejanggalan. Itu semua adalah ekspresi integritas versi Gen Z.

“Integritas Itu Investasi Branding Pribadi”

Bayangkan kalau kamu dikenal sebagai orang yang bisa dipercaya. Yang kalau diberi tugas, hasilnya bisa diandalkan. Yang kalau ngomong, nggak pakai “drama belakang layar.” Dalam dunia kerja, itu nilainya mahal banget. Karena reputasi adalah personal brand yang nggak bisa dibentuk instan, tapi dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Dan kabar baiknya, integritas itu nggak perlu koneksi, nggak butuh modal besar, dan nggak harus nunggu jabatan tinggi. Ia bisa dimulai hari ini, dari siapa pun, di level mana pun. Justru semakin muda kamu mulai konsisten menjaga integritas, semakin kuat pondasi kariermu ke depan.

Ayo Jadi Penular Kebaikan, Bukan Penonton!

Di era sosial media, kita sering tergoda jadi penonton atau komentator. Tapi di dunia kerja, kita butuh lebih banyak ‘pemain’, yaitu orang yang nggak cuma mengkritik, tapi memberi contoh.

Kita bisa mulai dari hal kecil: menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak mengakali data, jujur saat evaluasi diri, dan tidak ragu bilang “tidak” untuk sesuatu yang melanggar etika. Ketika satu orang berani, orang lain akan ikut merasa aman untuk berbuat benar. Dan perlahan, budaya integritas itu akan tumbuh jadi norma kolektif.

Mengutip Brené Brown, penulis dan peneliti terkenal soal keberanian dan kepemimpinan:
Integrity is choosing courage over comfort.”
Artinya, integritas adalah memilih keberanian di atas kenyamanan. Dan itu adalah sikap keren karena nggak semua orang berani melakukannya.

Penutup: Karena Dunia Kerja Butuh Orang Baik yang Tegas

Akhirnya, integritas bukan soal jadi ‘orang baik’ yang pasrah atau diam saja. Justru sebaliknya: ini tentang jadi pribadi yang kuat, tegas, dan tahu kapan harus berdiri untuk hal yang benar. Di era modern, di tengah tekanan kerja, sorotan publik, dan kebisingan digital, integritas adalah bentuk keteguhan yang paling keren.

Jadi, kalau kamu Gen Z dan merasa idealismu “terlalu bersih” untuk dunia kerja, jangan kecil hati. Justru kamu sedang membawa energi baru yang jujur, transparan, dan konsisten. Karena hari ini, organisasi butuh lebih banyak orang kayak kamu.

Ingat: integritas itu nggak harus viral, cukup nyata! 
Dan dari situlah perubahan dimulai.
Dan harus dimulai dari diri kita sendiri.


Ditulis oleh : Seksi HI KPKNL Bontang
Tulisan ini dibuat dalam rangka kegiatan DJKN Integrity Week Tahun 2025. 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon