Memaknai Gawi Etam dalam Pelaksanaan WFH di KPKNL Bontang
Wahyu Suryo Majid
Jum'at, 22 Mei 2020 |
2327 kali
Moto adalah kalimat, frasa, atau
kata yang tertera di atas sesuatu yang menggambarkan sifat atau kegunaan benda
itu, dan sebagai semboyan atau pedoman yang menggambarkan motivasi, semangat,
dan tujuan dari suatu organisasi. Moto biasanya ditulis atau diambil dari
bahasa kuno atau bahkan bahasa daerah setempat. Sebagai semboyan atau pedoman
dari sebuah organisasi, moto menjadi penting karena mampu mengarahkan kinerja
dari organisasi tersebut.
Sama halnya dengan KPKNL Bontang
yang mempunyai moto “Gawi Etam”. Moto
tersebut berasal dari bahasa Kutai lama. Apabila dimaknai secara kata per kata,
“Gawi” berarti Kerja dan “Etam” berati Kita. Sedangkan Gawi Etam sendiri
merupakan kepanjangan dari GiAt, WIbawa, EmpaTi, dan Amanah. Gawi Etam bermakna
bekerja bersama-sama, di mana berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Gawi
Etam merefleksikan semangat kebersamaan dari KPKNL Bontang yang dijiwai
semangat sinergi yang baik antara KPKNL Bontang dan stakeholder.
Motto ini juga selalu diteriakkan secara bersama-sama setelah apel pagi
dilaksanakan.
Namun adanya penyebaran virus Covid-19 di Indonesia yang
mulai berkembang dari awal Maret tahun 2020, pemerintah menginstruksikan agar
lebih banyak berdiam diri di rumah, bahkan para Aparatur Sipil Negara (ASN)
diminta untuk bekerja dari rumah yang lebih populer dengan istilah Work
From Home (WFH) untuk memutus mata rantai paparan virus tersebut. Sehingga
dengan adanya perubahan pola bekerja ini, turut mempengaruhi bagaimana cara
memaknai moto Gawi Etam dalam bekerja ini.
Lalu, bagaimana memaknai Gawi Etam pada pelaksanaan Work From Home seperti sekarang ini?
Giat
WFH pada prinsipnya hanya masalah tempat bekerja. Sedangkan
intensitas pekerjaan antara WFH dan WFO adalah sama. WFH juga bukan menjadi
alasan seorang pegawai menjadi bermalas-malasan. Contohnya adalah terkait presensi
pegawai. Sewaktu masih diberlakukan WFO, ketika pegawai merekam sidik jarinya
pada mesin absensi maka pada saat itu juga pegawai menyatakan bahwa dirinya
telah siap bekerja.
KPKNL Bontang memiliki budaya organisasi berupa apel pagi.
Ketika pandemi Covid-19 menyerang, hal tersebut bukanlah menjadi halangan untuk
tidak melaksanakan apel pagi. Apel pagi juga menjadi cara pimpinan untuk
mengontrol pekerjaan para pegawainya. Apel pagi juga menjadi sarana pimpinan
untuk menyemangati pegawainya supaya selalu giat dalam bekerja.
Giat juga memiliki hubungan dengan salah satu nilai-nilai
Kementerian Keuangan, yaitu “Profesionalisme”. Tempat kerja bukan menjadi alasan
seorang pegawai untuk tidak menjadi profesional. Seorang pegawai harus selalu
berkomitmen tinggi terhadap pekerjaannya di manapun tempatnya. Seorang pegawai
harus selalu giat dan tidak menunda-nunda pekerjaannya.
Wibawa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wibawa memiliki
pengertian pembawaan untuk dapat menguasai dan mempengaruhi, dihormati orang
lain melalui sikap dan tingkah laku yang lewat kepemimpinan serta memiliki daya
tarik.
Wibawa berkaitan dengan kecakapan dan ketegasan. Setiap
pegawai diharuskan memiliki intelektualitas dan keahlian dalam setiap pekerjaan
yang ditanganinya. Selain itu, wibawa juga dapat dilihat dari penampilan seorang
pegawai. Menjaga penampilan dengan tetap memakai seragam sehari-hari Kementerian
Keuangan ketika sedang melaksanakan webinar ataupun telekonferensi dengan pihak
lain merupakan salah satu contoh seorang pegawai dalam menjaga kewibawaan dan
profesionalismenya.
Wibawa juga dapat dinilai dari bagaimana sebuah instansi
pemerintah memberikan pelayanannya kepada para stakeholder terutama di masa pandemi seperti ini. Instansi
pemerintah dituntut untuk berinovasi dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada
para stakeholdernya. Hal ini sangat
penting untuk menjaga kewibawaan instansi-instansi pemerintah sebagai
penyelenggara layanan publik di mata para stakeholder.
Empati
Empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari perspektif
orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain.
Dalam keseharian di kantor, seorang pegawai dapat bertemu dengan pegawai
lainnya dengan beragam persoalan yang mereka alami. Dengan empati, seorang
pegawai dapat menjalin hubungan yang baik dengan pegawai lainnya. Begitu juga
seorang pimpinan dapat menjalin hubungan yang baik dengan bawahannya.
Lantas dengan adanya WFH ini membuat intensitas pertemuan
antar pegawai di kantor menjadi semakin berkurang. Namun hal ini tidak
mengurangi rasa empati antar pegawai, apalagi di situasi pandemi seperti ini.
Lagi-lagi apel pagi tidak hanya menjadi sarana pimpinan untuk mereviu pekerjaan
yang sudah berlalu dan merencanakan pekerjaan yang akan mendatang. Apel pagi
juga menjadi sarana untuk saling bertukar kabar antar pegawai, menjadi sarana
pimpinan untuk menanyakan kondisi para pegawainya maupun keluarganya di rumah.
Amanah
Amanah menjadi bagian yang terpisahkan dalam melaksanakan
pekerjaan sehari-hari. Seseorang yang diberikan amanah untuk melakukan sesuatu
berarti orang tersebut diberikan kepercayaan untuk melaksanakan sesuatu
tersebut. Hal ini juga berlaku terhadap aparatur sipil negara. Pegawai ASN
diberikan amanah oleh rakyat untuk memberikan pelayanan sebagai wakil dari
pemerintahan. Amanah ini tidak boleh disia-siakan.
Walaupun kebijakan WFH telah bergulir, seorang pegawai tetap harus
memiliki etos kerja yang tinggi untuk menyelesakan semua pekerjaan yang telah
diamanahkan kepadanya. Seorang pegawai harus tetap profesional dan
menyelesaikan pekerjaannya di manapun tempat bekerjanya.
Di sisi lain, seorang pegawai juga tidak boleh
menyalahgunakan amanah yang telah diberikan kepadanya. Jangan sampai
menyalahgunakan wewenang dan jabatan
yang dimilikinya untuk melakukan
tindakan yang melanggar peraturan dan memakan harta yang bukan menjadi haknya
seperti korupsi dan melakukan pungutan liar yang akan membawa kerugian dan
bencana bagi negara dan masyarakat banyak.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |