Dukung Keragaman Budaya Lokal, KPKNL Bima Ikut Meriahkan Puncak Festival Rimpu Mantika 2025
Ni Made Ayuning Pradnyani
Selasa, 06 Mei 2025 |
127 kali
Sabtu (26 April 2025), KPKNL Bima beserta jajaran Kemenkeu Satu Bima
ikut serta dalam Pawai Rimpu yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bima. Pawai
Rimpu ini merupakan puncak dari rangkaian Festival Rimpu Mantika 2025 yang
diselenggarakan mulai tanggal 24 – 26 April 2025. Seperti tahun-tahun
sebelumnya, penyelenggaraan pawai busana adat Bima ini berlangsung sangat
meriah dengan total jumlah peserta mencapai puluhan ribu. Puluhan stand bazar
UMKM dan pelaku ekonomi informal lainnya juga turut meramaikan puncak festival
yang diiringi dengan suguhan live musik.
Kali ini, rute pawai dimulai dengan berjalan kaki dari Paruga Nae dan diakhiri
di Lapangan Serasuba Kota Bima. Kemeriahan pawai sudah terlihat sejak sebelum
dimulainya acara. Suasana riuh menyelimuti kawasan kompleks Paruga Nae.
Kumpulan massa yang berasal dari berbagai kalangan menyemut di jalanan dan
taman-taman kota. Peserta pawai tahun ini sangat bervariasi, mulai dari
kelurahan, kecamatan, organisasi kemasyarakatan, BUMN, BUMD, dan instansi-instansi
pemerintahan yang berada di Kota dan Kabupaten Bima. Mereka memakai rimpu untuk
peserta perempuan dan sambolo untuk peserta laki-laki. Uniknya,
masyarakat yang menonton pawai pun juga tidak kalah, mereka menikmati pawai
dengan menggunakan riasan aksesoris adat bima seperti sarung dan selendang
tenun bermotif cerah yang menambah kemeriahan puncak festival. Pawai yang
mengusung tema “The Jewel of Bima” ini dilepas oleh Wali Kota Bima Bapak H.A.
Rahman H. Abidin tepat pukul 08.00 WITA.
Rimpu, merupakan cara berbusana masyarakat Mbojo
yang mendiami wilayah Bima – Dompu dengan menggunakan sarung tenun khas Bima
yang dikenal dengan Tembe Nggoli atau sarung tenun. Sarung hasil tenun
ini dipintal sendiri dengan tenunan khas Bima (Muna).
Cara penggunaan rimpu adalah dengan memakai sarung yang
melingkar pada kepala dimana yang terlihat hanya wajah perempuan pemakainya
dengan tujuan menutup aurat. Menurut catatan sejarah dan kutipan ensiklopedia,
cara berbusana tradisional suku Mbojo ini memperlihatkan kuatnya pengaruh perkembangan
Islam di Nusa Tenggara Barat, khususnya di wilayah Bima dan Dompu.
Keunikan dari penggunaan rimpu oleh perempuan Mbojo ini adalah bagi perempuan yang belum menikah memakai busana rimpu hanya kelihatan bagian mata dan telapak tangannya saja. Sementara bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga memakai busana rimpu boleh kelihatan wajahnya.
Untuk laki-laki, busana adat yang dipakai sangat beragam, namun yang
menjadi ciri khas adalah penggunaan sambolo. Sambolo adalah
sejenis topi atau ikat kepala yang terbuat dari kain tenun dan memiliki motif
mirip sarung songket. Sambolo ini dipadupadankan dengan atasan berupa kemeja
lengan panjang dan bawahan berupa celana panjang yang ditutup oleh kain sarung tenun bermotif senada
dan dilipat setengah. Kemudian, untuk menambah variasi busana, biasanya
ditambahkan selendang tenun yang dikalungkan di leher atau boleh diikatkan di
pinggang.
Menurut catatan sejarah dan ensiklopedia, cara berbusana adat laki-laki
Mbojo khususnya penggunaan sambolo ini dapat menunjukkan status sosial
pemakainya, apakah rakyat biasa, atau pakaian adat resmi yang biasanya dipakai
laki-laki yang sehari-hari bertugas di istana kesultanan Bima.
Kepala KPKNL Bima Benediktus Margiadi sesaat sebelum berangkat menuju pawai menyampaikan bahwa ajang keikutsertaan di pawai rimpu ini merupakan kesempatan bagi kantor vertikal Kementerian Keuangan untuk menunjukkan interaksi sosial dengan masyarakat. Bahwa dalam konteks keberagaman, setiap individu di Kementerian Keuangan mampu untuk bersosialisasi dengan masyarakat majemuk yang ditunjukkan dengan sikap toleransi dan kepekaan terhadap budaya lokal atau setempat. Para pegawai KPKNL Bima baik ASN maupun PPNPN kompak memakai busana adat nuansa putih untuk yang laki-laki, dan busana rimpu nuansa cerah warna-warni untuk yang perempuan. Harapan beliau, keanekaragaman budaya Indonesia dapat terus lestari sehingga nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya dapat terjaga dan bermanfaat sampai generasi yang akan datang.
Penulis berita: Samba, dokumentasi: Bohal Raja
Foto Terkait Berita