Seni Berbicara, Menemukan Fakta: Menakar Efektivitas Komunikasi Pemeriksa Piutang Negara
Ridwan Ahmad Setyo Prabowo
Senin, 22 Juni 2026 |
40 kali
Keberhasilan dalam penyelesaian piutang negara tidak hanya ditentukan oleh ketajaman analisis dokumen di atas meja, melainkan juga oleh kemampuan eksekusi di lapangan. Bagi seorang Pemeriksa Piutang Negara di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, tugas ini menuntut kompetensi komunikasi yang adaptif dan strategis. Di sinilah teknik komunikasi efektif memegang peranan krusial sebagai instrumen utama untuk mengumpulkan informasi yang akurat untuk mengamankan hak-hak keuangan negara.
Membedah Anatomi Komunikasi:
Dari Teori ke Lapangan
Secara mendasar, komunikasi
dipahami sebagai proses pemindahan fakta, gagasan, data, atau perasaan dari
satu individu ke individu lainnya. Lebih jauh lagi, pakar seperti Carl I.
Hovland menekankan bahwa komunikasi sejatinya merupakan upaya pembawa informasi
memberikan rangsangan untuk mengubah perilaku orang lain.
Dalam ekosistem pemeriksaan
piutang negara, siklus komunikasi ini berjalan dalam sebuah rantai elemen yang
saling bertautan:
Sebuah komunikasi dinilai
benar-benar efektif apabila pesan berhasil diterima dan dipahami sesuai maksud
awal, disetujui serta ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata oleh penerima
serta bersih dari hambatan-hambatan yang berarti.
Peta Karakter Komunikasi:
Formal vs Non-Formal
Di area penegakan piutang negara,
karakter komunikasi bergerak sangat dinamis. Aktivitas pemeriksaan dapat
bersifat Terbuka maupun Tertutup (Investigatif). Hal tersebut membagi
komunikasi ke dalam beberapa dimensi:
1.
Komunikasi Verbal dan Non-Verbal
Pemeriksa wajib menguasai komunikasi verbal (lisan dan
tulisan) sekaligus peka terhadap komunikasi non-verbal. Gestur tubuh, isyarat,
dan ekspresi wajah lawan bicara sering kali menyimpan kebenaran yang tidak
terucap lewat kata-kata.
2.
Komunikasi Formal dan Non-Formal
Ada kalanya komunikasi harus berjalan ketat mengikuti aturan dan struktur resmi lembaga. Namun, dalam konteks investigatif, komunikasi justru sengaja dilepaskan dari struktur kaku guna mencairkan ketegangan.
Berdiri Tegak dengan Sikap
Asertif, Bukan Agresif
Salah satu kompetensi psikologis
tertinggi yang wajib diadopsi oleh seorang pemeriksa adalah Komunikasi Asertif.
Asertif adalah kemampuan mengomunikasikan keinginan, perasaan, dan pikiran
dengan tetap menjaga serta menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.
Catatan Penting: Asertif sangat
berbeda dengan agresif. Perilaku agresif cenderung menekan, manipulatif, kasar,
dan mengecoh demi keuntungan sepihak, yang ujung-ujungnya justru menjatuhkan
martabat pemeriksaan itu sendiri.
Seorang pemeriksa yang asertif
akan mampu mempertahankan tujuan pemeriksaan dan menyampaikan kebenaran secara
tegas tanpa harus memaksakan kehendak atau menyerang personal lawan bicara.
Mereka menjaga pandangan mata dengan nyaman, mengatur intonasi suara agar tetap
berwibawa namun menyenangkan, aktif mendengarkan, serta selalu berorientasi
pada pencarian solusi terbaik.
Teknik Khusus: Jurus Elisitasi
dan Interview Strategis
Ketika metode komunikasi biasa
menemui jalan buntu, terdapat panduan teknis operasional yang dirancang khusus
untuk memecah kebuntuan di lapangan:
1.
Seni Elisitasi
Elisitasi adalah seni atau teknik berbicara dalam
pengumpulan informasi di lapangan secara terselubung. Ciri utamanya adalah
sasaran atau orang yang diajak bicara tidak menyadari bahwa mereka sedang
digali informasinya. Proses ini dilakukan tanpa kontrol paksaan, sehingga data
yang didapat biasanya mengalir alami meski awalnya terpenggal-penggal.
Sebelum
melancarkan elisitasi, pemeriksa harus mematangkan persiapan, antara lain:
·
Memahami maksud dan target sasaran elisitasi
dengan presisi.
·
Menguasai topik pembicaraan dan menyiapkan
skenario percakapan pembuka yang natural.
· Di lapangan, buatlah suasana hidup, gunakan analogi, beri pujian wajar, dan giring pembicaraan dari topik umum secara bertahap menuju substansi yang dibutuhkan.
2.
Strategi Interview Terselubung
Berbeda dengan interogasi formal, interview dalam
pemeriksaan piutang negara idealnya dilaksanakan secara non-formal atau
terselubung demi kenyamanan psikologis pihak yang diinterview.
Agar proses interview berjalan optimal dan objektif, pemeriksa disarankan untuk menjaga kenyamanan psikologis mitra bicara selama interaksi berlangsung. Dalam konteks ini, dokumentasi atau pencatatan sebaiknya tidak dilakukan secara mencolok demi menghindari kesan interogasi yang kaku. Sebagai alternatif, penggunaan media perekam yang diletakkan secara bijaksana dapat menjadi opsi efektif agar seluruh substansi pembicaraan tetap terdokumentasi dengan akurat tanpa mendistorsi kelancaran komunikasi.
Menembus Hambatan, Menjaga
Etika
Komunikasi yang andal dituntut
mampu memitigasi noise atau hambatan. Hambatan tersebut bisa berupa
hambatan internal yang terkait kondisi fisik dan psikologis personal, maupun
hambatan eksternal seperti gangguan lingkungan, perbedaan latar belakang
pendidikan, hingga prasangka personal.
Sebagai penutup, efektivitas komunikasi ini tidak akan bernilai tanpa fondasi etika yang kuat. Menghormati orang yang lebih tua, mengurangi kebiasaan menyela pembicaraan, serta senantiasa menerapkan prinsip kata 'Tolong', 'Maaf', dan 'Terima Kasih' adalah kunci utama yang membuat teknik komunikasi seorang Pemeriksa Piutang Negara tidak hanya tajam dalam mencari fakta, tetapi juga profesional dalam tindakan.
(Djois Andriyati Rihinawa)
Referensi:
Pusdiklat Kekayaan Negara dan Perimbangan Keuangan, BPPK. (2025). Modul Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Pemeriksa Piutang Negara: Teknik Komunikasi Efektif dalam Pemeriksaan Piutang Negara.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |