Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Biak
Jantelov: Nilai Profesionalisme melalui Kerendahan Hati

Jantelov: Nilai Profesionalisme melalui Kerendahan Hati

Alpha Akbar Radytia
Jum'at, 28 Agustus 2026 |   58 kali

Dalam perkembangan organisasi saat ini, profesionalisme tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis maupun ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Profesionalisme juga tercermin dari cara nilai tersebut diterapkan dalam kebiasaan dan budaya kerja sehari-hari. Penguatan etika kerja yang mampu beradaptasi dan menjunjung tinggi integritas merupakan landasan penting untuk mendukung transformasi birokrasi yang berkelanjutan.

Salah satu nilai etika yang berkembang di kawasan Skandinavia adalah Jantelov atau Hukum Jante. Konsep ini merupakan norma sosial yang mengedepankan kesetaraan, sikap rendah hati, dan pencapaian bersama daripada keunggulan individu. Intinya, setiap orang didorong untuk tidak menempatkan dirinya sebagai pihak yang lebih tinggi atau lebih unggul dibandingkan orang lain. Jika gagasan tersebut dipertemukan dengan karakter masyarakat Indonesia yang menjunjung kebersamaan serta etika, muncul refleksi tentang bentuk profesionalisme modern yang berpotensi untuk berkembang.

Janteloven meningkatkan kualitas hidup masyarakat Skandinavia dengan menekan budaya pamer status dan ambisi berlebihan, sehingga berhasil menurunkan tekanan akibat perbandingan sosial serta memperkuat rasa saling percaya dan kesetaraan. Dengan memprioritaskan kerendahan hati dan kesejahteraan kolektif di atas pencapaian individu, norma ini meruntuhkan sekat hierarki sosial dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih fokus pada kebahagiaan hidup yang seimbang (work-life balance), hubungan keluarga, serta keterlibatan komunitas yang inklusif.

Jantelov berasal dari lingkungan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun demikian, jika dilihat dari nilai dasarnya, terdapat sejumlah kesamaan yang kuat antara Jantelov dan budaya Indonesia yang menekankan tata krama, kebersamaan, serta penghormatan terhadap struktur sosial.

  • Mengurangi Ego Individu: Jantelov menghindarkan seseorang dari kecenderungan mempertontonkan keunggulan pribadi. Nilai tersebut selaras dengan filosofi ketimuran tentang pentingnya menjaga kerendahan hati.
  • Mengutamakan Keberhasilan Bersama: Dalam budaya Nordik, keberhasilan sering dipahami sebagai hasil kerja kolektif. Pemahaman ini memiliki kedekatan dengan semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
  • Menjaga Tenggang Rasa: Penekanan Jantelov terhadap keharmonisan kelompok mempertimbangkan perasaan, kebutuhan, dan kenyamanan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Perbedaan utamanya terdapat pada titik tekan masing-masing. Jantelov lebih menonjolkan kesetaraan hak atau egalitarianisme, sedangkan budaya Indonesia lebih kuat pada upaya menjaga harmoni sosial dan kesantunan. Perpaduan keduanya berpotensi membentuk budaya organisasi yang tetap santun, tetapi sekaligus terbuka, dinamis, dan adaptif.

Secara khusus dalam lingkungan kerja nilai dalam Jantelov dapat menjadi pengayaan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

• Integritas dan Kesempurnaan: Dorongan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan menghasilkan kinerja terbaik sekaligus tetap rendah hati, dan mempertahankan integritas dan etika.

• Sinergi: Semangat kolektif dalam Jantelov dapat memperkuat organisasi dan mengurangi berkembangnya ego sektoral.

• Pelayanan: prinsip ini juga mendukung perlakuan yang adil kepada seluruh pemangku kepentingan tanpa membedakan latar belakang mereka.

Jantelov memberikan pandangan lebih luas mengenai profesionalisme yang sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa kuat seseorang menampilkan prestasi pribadi di hadapan publik. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar kontribusi dan dampak nyata yang dihasilkan bagi kepentingan bersama.


Seksi PKN#Samber




Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon