Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Biak
Bagaikan Karang di Pasifik: Mengakar Kearifan Lokal dalam Membangun Security Awareness di KPKNL Biak

Bagaikan Karang di Pasifik: Mengakar Kearifan Lokal dalam Membangun Security Awareness di KPKNL Biak

Alpha Akbar Radytia
Selasa, 21 Juli 2026 |   68 kali

Biak Numfor, yang akrab dijuluki "Kota Karang Panas," berdiri kokoh berhadapan langsung dengan luasnya Samudra Pasifik. Karakter alam yang tangguh ini membentuk Suku Byak menjadi pelaut-pelaut andal yang dihormati di seantero pesisir utara Papua. Kini, di era digital, ketangguhan yang sama sangat dibutuhkan oleh jajaran pegawai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Biak, bukan lagi untuk menaklukkan gelombang laut, melainkan untuk menghadapi badai ancaman siber.

Sebagai garda terdepan Kementerian Keuangan di wilayah ujung timur Indonesia, KPKNL Biak mengelola data yang sangat krusial. Mulai dari tata kelola Barang Milik Negara (BMN) yang strategis, pengelolaan piutang negara, hingga pelaksanaan lelang secara elektronik (e-Auction). Digitalisasi layanan ini membawa efisiensi tinggi, namun di saat yang sama membuka celah bagi ancaman seperti peretasan, phishing, hingga kebocoran data.

Oleh karena itu, keamanan informasi tidak bisa lagi hanya disandarkan pada pundak tim Information Technology (IT). Security Awareness (kesadaran keamanan) harus mengakar menjadi denyut nadi seluruh pegawai, sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Biak.

Filosofi Pelaut Byak: Keamanan Siber Adalah "Perahu Bercadik" Kita

 

Dalam tradisi maritim Suku Byak, sebuah perahu bercadik (wairama) tidak akan bisa mengarungi lautan ganas jika hanya mengandalkan satu orang. Ada nahkoda yang memberi arah, ada pendayung, dan ada yang bertugas menjaga keseimbangan cadik.

Analogi ini sangat relevan dengan postur keamanan informasi di KPKNL Biak:

1. Satu Kebocoran Kecil Menenggelamkan Seluruh Perahu (Mengurangi Human Error)

Di tengah laut, satu lubang kecil di dasar perahu bisa berakibat fatal bagi seluruh awak. Di dunia maya, satu kelalaian kecil—seperti pegawai yang tidak sengaja mengklik tautan phishing atau menggunakan password yang lemah—dapat membuka pintu bagi hacker untuk meretas sistem Kemenkeu. Security Awareness memastikan setiap "awak kapal" di KPKNL Biak tahu cara mendeteksi "kebocoran" dan segera mencegahnya.

2. Melindungi Harta Karun Perjalanan (Menjaga Aset Informasi Kritis)

KPKNL Biak menyimpan "harta karun" berupa data identitas pemohon lelang, dokumen kepemilikan aset negara yang bernilai triliunan, serta data sensitif debitur. Kesadaran keamanan memastikan setiap pegawai memperlakukan data-data ini dengan kehati-hatian tingkat tinggi, menjaganya dari akses pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

3. Membunyikan Tifa Peringatan (Membangun Budaya Komunikasi & Pelaporan)

Dalam budaya Papua, Tifa dibunyikan untuk mengumpulkan warga atau memberi peringatan. Dalam konteks security culture, setiap pegawai KPKNL Biak didorong untuk tidak takut membunyikan "Tifa" (melapor ke tim keamanan/IT) jika menemukan hal yang mencurigakan, seperti email aneh atau sistem yang error, alih-alih menyembunyikannya.

 

Langkah Membangun Ketahanan Digital di KPKNL Biak

Untuk menjadikan KPKNL Biak setangguh karang dalam hal keamanan informasi, beberapa langkah bernuansa lokal dapat diterapkan:

Edukasi Berkelanjutan dengan Pendekatan Komunal: Alih-alih hanya modul e-learning yang kaku, sisipkan pesan-pesan keamanan siber dalam briefing pagi atau morning call yang hangat dan penuh rasa kekeluargaan, khas budaya kerja di daerah.

Kenali "Cuaca" Digital (Identifikasi Risiko): Sama seperti pelaut yang membaca rasi bintang dan arah angin, pegawai KPKNL Biak harus selalu di-update mengenai tren penipuan terbaru, terutama penipuan berkedok lelang online yang sering menyasar masyarakat.

Kolaborasi "Mananwir" (Keteladanan Pimpinan): Mananwir atau tokoh pemimpin dalam adat Biak memegang peran kunci. Kepala KPKNL Biak dan para pejabat pengawas harus menjadi role model dalam kepatuhan keamanan informasi (misalnya: tidak membagikan password, selalu mengunci layar komputer saat ditinggalkan).

Kesimpulan

Menjaga keamanan informasi di lingkungan Kementerian Keuangan, khususnya di KPKNL Biak, bukanlah halangan atau tugas tambahan yang memberatkan, melainkan bentuk pertahanan diri institusi. Dengan mengadopsi semangat pelaut Byak yang tangguh, waspada, dan bergotong-royong menjaga perahunya, KPKNL Biak dapat mengarungi lautan transformasi digital dengan aman.

Mari wujudkan budaya Security Awareness yang kokoh—setangguh karang panas di Samudra Pasifik—demi menjaga aset negara dan melayani masyarakat dengan integritas dan rasa aman. 

 

 Penulis : Alpha Akbar / KPKNL Biak#Samber

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon