Bagaikan Karang di Pasifik: Mengakar Kearifan Lokal dalam Membangun Security Awareness di KPKNL Biak
Alpha Akbar Radytia
Selasa, 21 Juli 2026 |
68 kali
Biak Numfor, yang akrab dijuluki "Kota
Karang Panas," berdiri kokoh berhadapan langsung dengan luasnya Samudra
Pasifik. Karakter alam yang tangguh ini membentuk Suku Byak menjadi
pelaut-pelaut andal yang dihormati di seantero pesisir utara Papua. Kini, di
era digital, ketangguhan yang sama sangat dibutuhkan oleh jajaran pegawai
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Biak, bukan lagi untuk
menaklukkan gelombang laut, melainkan untuk menghadapi badai ancaman siber.
Sebagai garda terdepan Kementerian Keuangan di
wilayah ujung timur Indonesia, KPKNL Biak mengelola data yang sangat krusial.
Mulai dari tata kelola Barang Milik Negara (BMN) yang strategis, pengelolaan
piutang negara, hingga pelaksanaan lelang secara elektronik (e-Auction).
Digitalisasi layanan ini membawa efisiensi tinggi, namun di saat yang sama
membuka celah bagi ancaman seperti peretasan, phishing, hingga kebocoran data.
Oleh karena itu, keamanan informasi tidak bisa
lagi hanya disandarkan pada pundak tim Information Technology (IT). Security
Awareness (kesadaran keamanan) harus mengakar menjadi denyut nadi seluruh
pegawai, sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Biak.
Filosofi Pelaut Byak: Keamanan Siber Adalah
"Perahu Bercadik" Kita
Dalam tradisi maritim Suku Byak, sebuah perahu
bercadik (wairama) tidak akan bisa mengarungi lautan ganas jika hanya
mengandalkan satu orang. Ada nahkoda yang memberi arah, ada pendayung, dan ada
yang bertugas menjaga keseimbangan cadik.
Analogi ini sangat relevan dengan postur
keamanan informasi di KPKNL Biak:
1. Satu Kebocoran Kecil Menenggelamkan Seluruh
Perahu (Mengurangi Human Error)
Di tengah laut, satu lubang kecil di dasar
perahu bisa berakibat fatal bagi seluruh awak. Di dunia maya, satu kelalaian
kecil—seperti pegawai yang tidak sengaja mengklik tautan phishing atau
menggunakan password yang lemah—dapat membuka pintu bagi hacker untuk meretas
sistem Kemenkeu. Security Awareness memastikan setiap "awak kapal" di
KPKNL Biak tahu cara mendeteksi "kebocoran" dan segera mencegahnya.
2. Melindungi Harta Karun Perjalanan (Menjaga
Aset Informasi Kritis)
KPKNL Biak menyimpan "harta karun"
berupa data identitas pemohon lelang, dokumen kepemilikan aset negara yang
bernilai triliunan, serta data sensitif debitur. Kesadaran keamanan memastikan
setiap pegawai memperlakukan data-data ini dengan kehati-hatian tingkat tinggi,
menjaganya dari akses pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Membunyikan Tifa Peringatan (Membangun
Budaya Komunikasi & Pelaporan)
Dalam budaya Papua, Tifa dibunyikan untuk
mengumpulkan warga atau memberi peringatan. Dalam konteks security culture,
setiap pegawai KPKNL Biak didorong untuk tidak takut membunyikan
"Tifa" (melapor ke tim keamanan/IT) jika menemukan hal yang
mencurigakan, seperti email aneh atau sistem yang error, alih-alih
menyembunyikannya.
Langkah Membangun Ketahanan Digital di KPKNL
Biak
Untuk menjadikan KPKNL Biak setangguh karang
dalam hal keamanan informasi, beberapa langkah bernuansa lokal dapat
diterapkan:
Edukasi Berkelanjutan dengan Pendekatan
Komunal: Alih-alih hanya modul e-learning yang kaku, sisipkan pesan-pesan
keamanan siber dalam briefing pagi atau morning call yang hangat dan penuh rasa
kekeluargaan, khas budaya kerja di daerah.
Kenali "Cuaca" Digital (Identifikasi
Risiko): Sama seperti pelaut yang membaca rasi bintang dan arah angin, pegawai
KPKNL Biak harus selalu di-update mengenai tren penipuan terbaru, terutama
penipuan berkedok lelang online yang sering menyasar masyarakat.
Kolaborasi "Mananwir" (Keteladanan
Pimpinan): Mananwir atau tokoh pemimpin dalam adat Biak memegang peran kunci.
Kepala KPKNL Biak dan para pejabat pengawas harus menjadi role model dalam
kepatuhan keamanan informasi (misalnya: tidak membagikan password, selalu
mengunci layar komputer saat ditinggalkan).
Kesimpulan
Menjaga keamanan informasi di lingkungan
Kementerian Keuangan, khususnya di KPKNL Biak, bukanlah halangan atau tugas
tambahan yang memberatkan, melainkan bentuk pertahanan diri institusi. Dengan
mengadopsi semangat pelaut Byak yang tangguh, waspada, dan bergotong-royong
menjaga perahunya, KPKNL Biak dapat mengarungi lautan transformasi digital
dengan aman.
Mari wujudkan budaya Security Awareness yang kokoh—setangguh karang panas di Samudra Pasifik—demi menjaga aset negara dan melayani masyarakat dengan integritas dan rasa aman.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |