Mengenal Stoicism dan Manfaatnya dalam Pekerjaan
Alpha Akbar Radytia
Senin, 12 Januari 2026 |
3965 kali
Hai Sobat KaEN, apa kabarnya nih? Semoga di awal Tahun 2026, Sobat KaEN
selalu semangat dan optimis ya dalam bekerja. Nah, agar kita semua dapat
bekerja dengan baik terutama saat berinteraksi dengan rekan kerja dan
menghadapi tekanan dalam pekerjaan, kita perlu mengetahui tentang stoicism, sebenarnya
apa yang dimaksud dengan stoicism tersebut dan manfaat apa saja yang dapat kita
peroleh dengan mempelajarinya? Tidak perlu menunggu lama, yuk kita bahas
bareng-bareng!!
Pengertian stoicism
Stoicism adalah suatu filosofi yang menekankan akan
pentingnya pengendalian diri, pemikiran rasional, dan penerimaan terhadap
hal-hal di luar kendali. Adapun istilah stoik sendiri berasal dari
bahasa Yunani “stoikos“, yang berarti dari stoa (serambi atau beranda).
Di dalam praktiknya, filosofi stoicism mengajak
seseorang untuk memisahkan hal-hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak,
kemudian meresponsnya dengan tenang dan rasional. Meski berkembang pada zaman
kuno, konsep ini tetap relevan hingga saat ini, termasuk dalam menghadapi dunia
kerja yang serba cepat dan penuh tuntutan.
Manfaat menerapkan stoicism
Menerapkan mindset atau pola pikir stoicism akan sangat membantu di dalam dunia pekerjaan.Stoikisme
akan mendorong seseorang untuk tidak bereaksi secara emosional saat menghadapi
situasi yang tidak dapat dikendalikan. Contoh perilaku stoik dalam dunia
kerja dapat terlihat dari seorang karyawan yang tenang
saat mendapatkan kritik atau masukan dari atasan di kantor. Alih-alih
emosi, orang stoik akan merenungkan kritik dan memanfaatkannya untuk berkembang.
Contoh lainnya adalah ketika proyek yang telah dikerjakan berbulan-bulan
dibatalkan oleh klien.Seorang yang menerapkan stoikisme dapat menerima
kenyataan tersebut tanpa berlarut dalam kekecewaan, lalu segera mencari solusi
atau pelajaran yang bisa diambil.
Adapun, beberapa manfaat yang akan didapatkan
dengan menerapkan stoicism di tempat kerja adalah sebagai berikut.
Cara menerapkan
stoicism di tempat kerja
Kita telah membahas
tentang pengertian dan manfaat stoicism dalam pekerjaan,lantas bagaimana
cara menerapkannya? Berikut ini adalah beberapa cara sederhana untuk menerapkan
filosofi stoik di tempat kerja.
Setiap hari di tempat kerja, Anda akan
dihadapkan pada berbagai situasi yang tidak selalu bisa dikontrol, seperti
sikap rekan kerja dan keputusan atasan. Prinsip stoicism menekankan hanya fokus pada hal yang dapat
dikendalikan, mencakup pikiran, tindakan, dan respons diri sendiri. Dengan
begitu, Anda tidak akan menghabiskan energi untuk hal-hal yang berada di luar
kendali sehingga mampu bekerja secara lebih efektif.
Refleksi diri adalah kebiasaan penting dari
filosofi stoicism. Di akhir hari kerja, cobalah renungkan situasi apa
saja yang Anda hadapi dan bagaimana respons Anda. Menurut Kenan
Institute of Private Enterprise Research, karyawan yang menggunakan
15 menit terakhir dari jam kerjanya untuk refleksi diri produktivitasnya naik
hingga 23 persen. Kondisi ini terjadi karena selama refleksi
diri, karyawan tersebut dapat lebih memahami apa saja yang
perlu diperbaiki dan bisa ditingkatkan.
Dalam dunia pekerjaan, kritik adalah suatu hal
biasa. Alih-alih tersinggung atau marah, prinsip stoicism mengajarkan untuk menanggapinya dengan pikiran
terbuka. Anggaplah kritik sebagai peluang untuk berkembang, bukan
serangan pribadi. Berbekal kepala dingin, Anda bisa memilah mana kritik yang
membangun dan mana yang tidak relevan.
Stoikisme mendorong Anda untuk tidak
menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian besar. Anda bisa mulai
dengan mensyukuri hal-hal kecil, seperti kopi hangat pada pagi hari, pekerjaan
yang selesai tepat waktu, atau rekan kerja yang sangat membantu. Rasa
syukur atas hal kecil membantu menjaga suasana hati tetap positif dan mendorong
untuk lebih menghargai proses. Hal ini juga bisa membuat Anda menjadi
lebih produktif.
Sering kali, tekanan terbesar di tempat kerja
datang dari ekspektasi pada hasil. Filosofi stoicism mengajak untuk melepaskan keterikatan pada hasil akhir
dan fokus pada proses kerja. Ketika menaruh perhatian pada
kualitas proses yang dilakukan, hasil umumnya dapat mengikuti dengan
sendirinya. Cara ini juga meningkatkan
motivasi diri meski hasil tidak sesuai harapan.
Konflik adalah suatu hal yang wajar di
lingkungan pekerjaan. Orang stoik umumnya tidak langsung bereaksi dengan emosi
ketika menghadapi perbedaan pendapat. Mereka akan berusaha mendengarkan
dan memahami sudut pandang lawan bicara, kemudian baru merespons secara tenang
dan rasional untuk bisa meredakan konflik.
Premeditatio malorum dalam filosofi stoik mempunyai arti merenungkan
kemungkinan terburuk sebelum sesuatu
terjadi. Hal ini dapat diterapkan saat Anda perlu menghadapi
presentasi, wawancara, atau negosiasi penting. Dengan membayangkan
kemungkinan terburuk, seperti pertanyaan sulit atau penolakan, Anda bisa lebih
siap mental dan tidak terkejut bila situasi sulit benar-benar terjadi.
Jadi, kesimpulannya dengan menerapkan stoicism
diharapkan dapat bersikap bijak dan penuh kesadaran dalam bertindak sebagai
langkah awal menuju kehidupan kerja yang lebih seimbang dan bermakna.
Sumber:
Definition of stoic. (n.d.). Merriam-Webster Dictionary. Retrieved July 13, 2025, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/stoic
Stoicism. (n.d.). Cambridge Dictionary. Retrieved July 13, 2025, from https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/stoicism
Stoicism. (2023). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved July 13, 2025, from https://plato.stanford.edu/entries/stoicism/
Demuth, W. (2023). Stoic wisdom in modern self-defense: Embracing premeditatio malorum. Center for Violence Prevention and Self Defense Training. Retrieved July 13, 2025, from https://www.cvpsd.org/post/stoic-wisdom-in-modern-self-defense-embracing-premeditatio-malorum
Bailey, J. R., & Rehman, S. (2022). Don’t underestimate the power of self-reflection. Harvard Business Review. Retrieved July 13, 2025, from https://hbr.org/2022/03/dont-underestimate-the-power-of-self-reflection
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |