Bengkulu, Provinsi Bersejarah di Pesisir Barat Sumatra
Fasihah
Selasa, 21 April 2026 |
156 kali
Bengkulu adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatra dan menghadap langsung ke Samudra Hindia. Provinsi ini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sejarah kolonial, keindahan alam, serta kekayaan hayati yang unik, terutama bunga Rafflesia arnoldii yang sering dikaitkan dengan Bengkulu. Secara administratif, Bengkulu dibentuk sebagai provinsi tersendiri pada 18 November 1968 setelah dipisahkan dari Sumatera Selatan. Ibu koteanya Adalah kota Bengkulu, yang sekaligus menjadi pusat pemerintah, ekonomi, aktivitas budaya diwilayah tersebut.
Asal Usul Nama Bengkulu
Asal usul nama Bengkulu diyakini berasal dari kata "Bangkahan" atau "Bangkulu", yang merujuk pada peristiwa sejarah perang melawan orang Aceh, di mana terdengar teriakan "Empang ka Hulu" (hadang ke hulu). Ada juga cerita rakyat yang menyebutkan berasal dari kata "Bangkai di Hulu" sungai. Wilayah ini awalnya terdiri dari kerajaan kecil seperti Kerajaan Sungai Serut, sebelum menjadi daerah koloni Inggris (Bencoolen) dan akhirnya diresmikan sebagai provinsi pada 18 November 1968.
Sejarah Singkat
Wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Buddha Srivijaya pada abad ke-8. Kerajaan Shailendra dan Kerajaan Singosari menggantikan Srivijaya, namun tidak jelas apakah mereka memperluas pengaruhnya ke Bengkulu. Majapahit juga memiliki sedikit pengaruh di Bengkulu. Hanya ada beberapa 'kedatuan' kecil berdasarkan etnis seperti di Sungai Serut, Selebar, Pat Petulai, Balai Buntar, Sungai Lemau, Sekiris, Gedung Agung dan Marau Riang. Wilayah ini menjadi wilayah vasal Kesultanan Banten (dari Jawa Barat) pada awal abad ke-15 dan sejak abad ke-17 diperintah oleh Kesultanan Inderapura Minangkabau (sekarang di Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat).
Pengunjung Eropa
pertama ke daerah ini adalah Portugis, diikuti oleh Belanda pada tahun
1596. Perusahaan
Hindia Timur Britania mendirikan pusat perdagangan lada dan garnisun di
Bengkulu (Bencoolen) pada tahun 1685. Pada tahun 1714 Inggris membangun Benteng Marlborough ,
yang masih berdiri hingga sekarang. Pos perdagangan ini tidak pernah
menguntungkan bagi Inggris, karena terhambat oleh lokasi yang dianggap tidak
menyenangkan oleh orang Eropa, dan oleh ketidakmampuan untuk menemukan lada
yang cukup untuk dibeli. Tempat ini menjadi pelabuhan singgah sesekali bagi kapal-kapal
Hindia Timur milik EIC .
Pada tahun 1785, wilayah tersebut diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Inggris sebagai Bencoolen , sementara sebagian besar Sumatra dan kepulauan Indonesia lainnya merupakan bagian dari Hindia Belanda . Sir Stamford Raffles ditempatkan sebagai Letnan Gubernur Bencoolen (koloni tersebut pada saat itu berada di bawah Kepresidenan Bengal ) dari tahun 1818 hingga 1824, memberlakukan sejumlah reformasi termasuk penghapusan perbudakan, dan kehadiran Inggris meninggalkan sejumlah monumen dan benteng di wilayah tersebut. Meskipun kesulitan mempertahankan kendali atas wilayah tersebut sementara kekuasaan kolonial Belanda mendominasi sebagian besar Sumatra lainnya, Inggris tetap bertahan, mempertahankan kehadiran mereka selama kurang lebih 140 tahun sebelum menyerahkan Bengkulu kepada Belanda sebagai bagian dari Perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824 sebagai imbalan atas Malaka . Bengkulu kemudian tetap menjadi bagian dari Hindia Belanda hingga pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.
Pada awal tahun
1930-an, Sukarno , calon presiden pertama Indonesia,
dipenjara oleh Belanda dan sempat tinggal di Bengkulu, di mana ia bertemu
istrinya, Fatmawati . Pasangan
ini memiliki beberapa anak, termasuk Megawati
Sukarnoputri , yang kemudian menjadi Presiden perempuan pertama Indonesia.
Setelah kemerdekaan, Bengkulu awalnya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan , yang juga meliputi Lampung , Kepulauan Bangka-Belitung , dan wilayah yang sekarang menjadi Sumatera Selatan, sebagai sebuah residensi. Pada tahun 1968, Bengkulu memperoleh status provinsi, menjadi provinsi ke-26 di Indonesia, mendahului Timor Timur .
Bengkulu terletak dekat Patahan Sunda dan rawan gempa bumi dan tsunami. Gempa bumi Enggano Juni 2000 menewaskan sedikitnya 100 orang. Sebuah laporan baru-baru ini memprediksi bahwa Bengkulu "berisiko terendam banjir dalam beberapa dekade mendatang akibat gempa bumi bawah laut yang diprediksi terjadi di sepanjang pantai Sumatra" Serangkaian gempa bumi melanda Bengkulu pada bulan September 2007, menewaskan 13 orang.
Budaya
dan tradisi
Bengkulu itu bukan cuma dikenal karena sejarahnya,
tapi juga punya budaya dan tradisi yang cukup unik. Di daerah ini masih banyak
adat yang dijaga sampai sekarang, jadi kesannya memang kuat banget sebagai
daerah yang masih memegang warisan leluhur. Mulai dari upacara adat, kesenian,
sampai kain khas, semuanya punya ciri yang khas Bengkulu.
Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah Tabot.
Tradisi ini biasanya digelar setiap tahun dan jadi salah satu ikon budaya
Bengkulu. Tabot bukan cuma acara seremonial biasa, tapi juga punya nilai
sejarah dan makna religius yang kuat. Karena itulah, tradisi ini masih terus
dilestarikan dan sering menarik perhatian wisatawan.
Selain Tabot, Bengkulu juga punya tradisi adat lain
seperti Sedekah Rame dan Kenduri. Tradisi ini biasanya berhubungan dengan rasa
syukur, kebersamaan, dan doa bersama dalam masyarakat. Jadi, bukan cuma soal
acara adat, tapi juga soal cara masyarakat Bengkulu menjaga hubungan sosial dan
nilai-nilai kebersamaan.
Sumber : https://bengkuluprov.go.id/sekilas-bengkulu/
https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-7230256/7-upacara-adat-bengkulu-sarat-makna-dan-masih-dijaga-lintas-generasi
https://www.bengkulunews.co.id/empat-kesenian-bengkulu-yang-masuk-dalam-warisan-budaya-tak-benda
https://bengkulu.pikiran-rakyat.com/kabar-bengkulu/pr-2504714307/8-budaya-dan-tradisi-bengkulu-yang-masih-populer-dan-lestari-di-masyarakat-hingga-saat-ini
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/03/07/kekayaan-seni-budaya-provinsi-bengkulu-kearifan-lokal-yang-terus-dilestarikan
penulis : Yolanda Atmaretha
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |