Mengulik Pesan Nonverbal dalam Kesenian Tari Jogi
Berliana Windy Armanita
Kamis, 18 Desember 2025 |
701 kali
Sebagai
makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi. Komunikasi
memegang peranan terpenting dalam kehidupan manusia. Kata komunikasi yang dalam
Bahasa Inggris “communication”, diserap dari Bahasa Latin “communicatus”
yang berarti berbagi. Sehingga, komunikasi dapat diartikan sebagai proses
‘berbagi’ antara satu pihak atau lebih. Sementara itu, arti komunikasi secara
harfiah adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang
atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Pesan merupakan produk
utama dari komunikasi. Pesan tidak terbatas pada bentuk verbal, akan tetapi
juga dalam bentuk nonverbal. Menurut Webster’s New Collegiate Dictionary edisi
tahun 1977, komunikasi antar individu dapat disampaikan melalui lambang, tanda,
ataupun tingkah laku.
Sebutan
lain dari komunikasi nonverbal adalah bahasa tubuh. Bahasa tubuh dapat mencakup
ekspresi wajah, gerakan mata, gerakan tangan dan kaki, gerak tubuh, dan postur
tubuh. Seringkali komunikasi nonverbal dapat menyampaikan pesan yang lebih mendalam
daripada sekedar kata. Penggunaan komunikasi nonverbal di era globalisasi saat
ini memiliki manfaat tersendiri. Globalisasi membuat kegiatan komunikasi
bagaikan tanpa batas ruang dan waktu, yang mana diperlukan strategi tersendiri
untuk menyampaikan pesan dengan tepat tanpa harus menggunakan kata. Tidak hanya
karena globalisasi, keberagaman kebudayaan seringkali membuat komunikasi
nonverbal dipilih menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan.
Keberagaman
akan kebudayaan terlihat jelas di Indonesia. ‘Bhinneka Tunggal Ika’
dipilih sebagai semboyan karena Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang dihuni oleh lebih dari
300 kelompok etnis. Setiap kelompok etnis di Indonesia memiliki sistem budaya
dan tradisi yang khas. Tradisi tersebut bisa berupa bahasa daerah, makanan
daerah, lagu daerah, hingga tarian daerah. Setiap tradisi yang ada pasti
memiliki makna dan tujuan akan pesan yang disampaikan. Tarian daerah dianggap
sebagai salah satu bagian dari tradisi yang sarat akan makna dan pesan. Tarian
daerah yang akan kita bahas pada artikel kali ini adalah Tari Jogi khas
masyarakat Melayu.
Tari
Jogi merupakan tarian yang terinspirasi dari kegiatan sehari-hari perempuan
dari Suku Melayu Pulau Panjang. Istilah Jogi sendiri ditemukan di Pinang
Malaysia, joghee, joghe, joghi yang kemudian disebarkan oleh suku-suku bangsa
dan berkembang melalui proses difusi. Tari Jogi pertama kali ditampilkan di
hadapan masyarakat pada tahun 1900-an di Pekanbaru-Riau yang pada saat itu Kepulauan
Riau masih bergabung menjadi bagian wilayah administratif dari Riau. Tari Jogi
di Batam dilestarikan oleh Sanggar Budaya Melayu Pantai Basri, Kota Batam. Pada
tahun 2023, Tari Jogi resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.
Berbagai upaya dilakukan dalam rangka pelestarian Tari Jogi, termasuk melalui
studi pembelajaran akan pesan yang disampaikan dari gerakan Tari Jogi.
Tari
Jogi menampilkan suasana bahagia yang bercerita tentang aktivitas perempuan di
kala itu saat bersiap menyambut kepulangan suami dari melaut di kala itu. Pada
pementasan Tari Jogi, biasanya dimulai dengan iringan syair yang sarat akan
makna. Isi syair tersebut mengisahkan bahwa Tari Jogi berasal dari Pulau
Panjang yang ditampilkan dalam suasana bahagia dan menunjukkan bahwa kehidupan
yang berlangsung singkat ini harus dipenuhi dengan perasaan bahagia sebelum
ajal menjemput. Setelah syair selesai dilantunkan, dilanjutkan dengan
pementasan gerak Tari Jogi yang terdiri dari tujuh ragam gerak utama.
Gerak
merupakan elemen dasar dalam sebuah tarian yang mencakup ruang, waktu, tenaga,
dan bersinggungan dengan emosi dan perasaan. Tari Jogi memiliki tujuh ragam
gerak utama yang menyampaikan makna berbeda-beda. Tujuh ragam gerak tersebut
ialah Gerak Sembah, Gerak Pinggul/Kacak Pinggang, Gerak Cantik, Gerak
Berbedak/Bercermin, Gerak Berpakaian, Gerak Mencuci, dan Gerak Tarik Gulung
Benang.
Gerak
Sembah diposisikan sebagai gerakan pembuka dengan posisi tangan
sembah sembari menggerakkan bahu dan kaki yang dijinjit. Gerakan ini dapat
dimaknai sebagai permohonan izin dan penghormatan seorang perempuan kepada para
hadirin, leluhur, dan Tuhan sebelum memulai rangkaian persiapan menyambut
kepulangan suami. Gerakan kedua adalah Gerak Pinggul/Kacak Pinggang,
dengan posisi kedua tangan berada di pinggang. Secara simbolik, gerakan ini
menyampaikan pesan kebanggaan atas tubuh yang cantik. Sembari diiringi syair “Hai
Pinggangnya Ramping”, para penari elok memainkan Gerak Pinggul. Selanjutnya
adalah Gerak Cantik, dengan gerak tubuh ke samping kanan dan
posisi jari telunjuk di pipi. Gerakan ini dapat dimaknai sebagai kepercayaan
diri atas kecantikan wajah serta sebagai gerakan simbolik atas syair “Hai
pipiku licin paoh dilayang”. Gerakan keempat ialah Gerak
Berbedak/Bercermin, gerakan ini dilakukan dengan tangan kanan di pipi
bagaikan memegang bedak dan tangan kiri memegang cermin. Secara tidak langsung,
gerakan ini menyampaikan pesan tentang persiapan seorang perempuan agar
terlihat cantik jelita ketika menyambut kepulangan sang suami. Gerakan kelima
ialah Gerak Berpakaian, tangan kanan di bahu sebelah kanan, dan
tangan kiri di pinggang. Gerakan ini dianggap sebagai gerakan penanda dalam
serangkaian gerakan Tari Jogi karena gerakan ini diartikan sebagai upaya
pemilihan pakaian terbaik untuk memastikan diri tampil rapi dan sebagai bentuk
kasih sayang kepada suami yang akan disambut. Gerakan keenam adalah Gerak
Mencuci, yang menyiratkan aktivitas sehari-hari perempuan dan
menggambarkan tanggung jawab dalam rumah tangga. Gerakan terakhir adalah Gerak
Tarik Gulung Benang. Gerakan ini serupa gerakan menarik dan menggulung
benang seperti proses merajut yang dapat dimaknai sebagai rangkaian persiapan,
menyiratkan ketekunan, dan ‘proses merajut’ harapan seorang istri atas
keselamatan dan rezeki suami di laut. Gerak Tarik Gulung Benang juga sebagai
gerakan penutup serangkaian Tari Jogi.
Tujuh
ragam gerak Tari Jogi merupakan perwujudan kecantikan seorang perempuan dan
aktivitas sehari-hari seorang perempuan. Tari Jogi juga menyampaikan pesan dengan
dimensi ruang dan waktu yang berkaitan dengan Masyarakat Melayu, khususnya di
Batam. Namun pada pelaksanaannya, proses pemaknaan Tari Jogi bergantung pada kondisi
dan konteks karena keutuhan penyajian Tari Jogi diharuskan mengandung
unsur-unsur budaya setempat.
Sebagai
negeri yang kaya akan budaya, komunikasi antar budaya tidak akan pernah hilang
dari Indonesia. Dengan berbagai keberagaman yang ada, secara tidak langsung
kita diminta untuk memelihara rasa toleransi dan memiliki pemahaman akan adanya
perbedaan tersebut. Dengan memahami bahwa pesan dapat disampaikan bukan hanya
melalui kata, tetapi juga melalui gerakan tubuh dan ekspresi wajah dalam sajian
budaya, diharapkan akan memperkuat kesadaran akan keberagaman dan melestarikan
budaya Indonesia.
Daftar
Pustaka
1. Wibowo,
D. E., Mega, L. S., & Jayanti, M. S. (2019). Studi Laban Tari Jogi. Jurnal
Seri Tari, 8 (2), 227-237.
2. Ariani,
D. (2020). Estetika Tari Jogi pada Masyarakat Melayu di Kota Batam Kepulauan
Riau. https://share.google/mom8M9A2MEyIRiaHB.
3. Pohan,
D. D., & Fitria, U. S. (2021). Jenis-Jenis Komunikasi. Cybernetics:
Journal Educational Research and Social Studies, 2 (3), 29-37.
4. Kustiawan,
W., et al. (2022). Pengantar Komunikasi Non Verbal. Journal Analytical
Islamica, 11 (1).
5. Tamara,
M., Widyanarto, W., & Denny, E. W. (2022). Makna Gerak Tari Jogi Batam.
Jurnal Seri Tari, 11 (1), 68-76.
6. Redaksi.
(2023, 3 Oktober). Tari Jogi: Tradisi Berbagi Kebahagiaan di Pulau Panjang,
Kota Batam. Koropak. https://koropak.co.id/19846/tari-jogi-tradisi-berbagi-kebahagiaan-di-pulau-panjang-kota-batam.
7. Sugianto,
T. (2023). Keberagaman Budaya Indonesia. TANDA: Jurnal Kajian Budaya,
Bahasa, dan Sastra, 3 (6), 13-16.
8. Rahim,
Z., Atika, F. S., & Rosmiani, A. H. (2024). Komunikasi Verbal dan
Non-Verbal Dalam Konteks Antar Budaya dan Agama. SHOUTIKA: Jurnal Studi
Komunikasi dan Dakwah, 4 (2), 80-94.
9. Alwan,
M., Ashaf, A. F., & Trenggono, N. (2024). Pengaruh Komunikasi Nonverbal
dalam Meningkatkan Efektivitas Interaksi antar Budaya. Arus Jurnal Sosial
dan Humaniora, 4 (3). 1345-1350.
Sumber
foto: Media Center Kota Batam. https://mediacenter.batam.go.id/.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |