Mengenal Bahaya Impostor Syndrome bagi Kinerja Organisasi
Satria Rahman
Senin, 09 Oktober 2023 |
5705 kali
Kinerja suatu organisasi baik langsung maupun tidak langsung dipengaruhi secara dominan oleh kualitas tenaga kerjanya atau sering disebut sumber daya manusia. Selain itu, begitu pentingnya sumber daya manusia menjadikan proses perubahan dan pembaharuan dalam organisasi tentunya harus melibatkan sumber daya manusia yang turut serta berperan penting di dalam organisasi. Oleh karena itu, penting bagi suatu organisasi untuk menjaga kualitas dari sumber daya manusia yang bekerja untuk organisasi tersebut sehingga selalu dapat bekerja secara optimal. Di antara aspek yang perlu untuk diperhatikan adalah kesehatan psikologis pegawai. Tidak hanya dari segi lahiriyah, kondisi psikologi juga memiliki pengaruh dalam hal kinerja individu yang secara kolektif juga berdampak pada kinerja organisasi.
Terdapat suatu kondisi psikologi yang walaupun bukan termasuk dari masalah gangguan jiwa namun dapat berdampak negatif dalam hal potensi yang memicu rasa cemas, stres, dan depresi pada seseorang. Fenomena psikologis tersebut adalah impostor syndrome. Istilah “Impostor Syndrome” ini pertama kali dikenalkan oleh dua psikolog yakni Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Di awal penelitian, diketahui sindrom ini banyak dijumpai pada wanita cerdas dengan capaian prestasi tinggi. Lalu, penelitian terus berlanjut dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa impostor syndrom tidak hanya pada wanita, tetapi juga ditemukan pada pria.
Seseorang yang mengalami kondisi impostor syndrome merasa bahwa kesuksesan atau pencapaian yang mereka raih sebenarnya tidak pantas atau tidak sesuai dengan kemampuan atau nilai mereka. Mereka yang mengalami kondisi psikologis ini cenderung meragukan kemampuan mereka sendiri dan juga merasa bahwa orang lain akan menemukan bahwa mereka sebenarnya tidak kompeten.
Adapun pengertian Impostor Syndrome menurut Psikolog Klinis UGM, Tri Hayuning Tyas, S.Psi., M.A., impostor syndrome atau impostor phenomenon merupakan fenomena psikologis dimana seseorang tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang ia raih. Dengan kata lain, orang yang mengalami impostor syndrome selalu mempertanyakan dirinya sendiri atas pencapaian atau prestasi yang telah diraih. Ia merasa kesuksesan yang berhasil diraih merupakan bentuk dari keberuntungan atau kebetulan semata, bukan karena kemampuan intelektual diri.
Impostor syndrome dapat dialami oleh individu dari berbagai kalangan. Tidak terkecuali bagi kalangan pegawai pada organisasi atau perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab diantaranya rendahnya kepercayaan diri sehingga meragukan kemampuan diri sendiri walaupun sebenarnya individu tersebut pernah memiliki prestasi yang nyata. Kemudian sikap suka membanding-bandingkan kinerja sendiri dengan kinerja rekan kerja sehingga merasa tidak sebanding atau merasa bahwa rekan kerja lainnya lebih kompeten. Dan kecenderungan ketiga yang dapat terjadi pada impostor syndrome adalah takut gagal yang menimbulkan individu tersebut tidak berani mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru. Dan kecenderungan-kecenderungan yang telah disebutkan tidak terbatas hanya pada tiga karakteristik tadi namun hanya mewakili beberapa dari karakteristik impostor syndrome.
Dari uraian pengenalan impostor syndrome di atas, lalu menimbulkan pertanyaan apakah karyawan atau pegawai yang mengalami impostor syndrome dapat berbahaya bagi organisasi. Impostor syndrome pada karyawan atau pegawai dapat berdampak negatif pada organisasi karena beberapa sebab di antaranya :
Penurunan produktivitas dan kreativitas yang disebabkan oleh ketakutan dalam menghadapi tantangan baru dan tanggung jawab tambahan sehingga dapat menyebabkan penurunan produktivitas yang akan juga berdampak negatif terhadap kinerja organisasi.
Peningkatan turnover (employee turnover) yang disebabkan oleh perasaan rendah diri karena merasa tidak pantas bekerja pada organisasi tersebut. Peningkatan turnover ini akan memunculkan biaya rekrutmen dan pelatihan pegawai baru.
Peningkatan konflik dan kurangnya kolaborasi disebabkan oleh individu yang mengalami imposter syndrome mungkin akan merasa terancam oleh rekan kerja lain yang lebih sukses atau lebih kompeten sehingga berpotensi menyebabkan konflik baik secara internal yakni dalam diri sendiri maupun eksternal yakni dengan rekan kerja, atasan atau stakeholder.
Dari dampak-dampak negatif tersebut, dapat diketahui bahwa impostor syndrome yang dialami oleh pegawai atau karyawan dalam suatu organisasi, sedikit atau banyak berpotensi menyebabkan produktivitas kerja yang tidak maksimal sehingga dapat menghambat dalam mencapai kinerja organisasi terbaik. Apalagi di tengah arus globalisasi sekarang yang menuntut setiap organisasi bisnis di manapun berada untuk memiliki kreativitas tinggi, terus menerus melakukan inovasi, dan meningkatkan fleksibilitas. Sehingga organisasi perlu menaruh perhatian yang besar terhadap kondisi psikologi pegawainya, salah satunya impostor syndrome dengan tujuan untuk memastikan bahwa setiap masalah yang dihadapi oleh pegawai dalam upaya berkontribusi kepada organisasi tidak terhambat.
Kemudian bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi oleh impostor syndrome. Terdapat beberapa saran yang dikutip dari codecademy.com yakni :
Ingatlah bahwa anda tidak sendirian
Suatu ketika, Anda merasa meragukan kemampuan Anda, ingatkan diri Anda bahwa itu normal. Hampir semua orang yang Anda kenal mungkin pernah mengalaminya. Hal ini mungkin dirasakan oleh orang-orang yang bekerja di bidang yang terkait dengan teknologi. Dan teknologi itu sendiri pada zaman sekarang berubah begitu cepat sehingga perlu untuk terus belajar. Pikiran seperti ini tentunya tidak hanya dirasakan oleh Anda seorang diri karena yang lain juga berada pada situasi yang sama.
Terbuka untuk menerima bantuan dari orang lain
Beberapa orang dengan impostor syndrome kesulitan menerima bantuan dari orang lain, sering kali mereka percaya bahwa mereka harus mandiri sepenuhnya. Hal ini seharusnya tidak terjadi karena kolaborasi adalah salah satu kunci kesuksesan. Jika merasa ragu dengan kinerja Anda di tempat kerja, mintalah tips atau bimbingan dari rekan kerja atau atasan sebagai mentor.
Temukan peluang Anda
Impostor Syndrome dapat meningkatkan ketakutan dan kekhawatiran, namun bukan berarti hal tersebut tidak beralasan. Jika terobsesi dengan kesenjangan dalam pengetahuan atau keterampilan yang belum dipelajari, maka dapat dilakukan dengan perbaikan, terus meningkatkan kompetensi.
Berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain
Kesuksesan orang lain bukanlah kegagalan Anda. Daripada membuang-buang waktu dan energi untuk membandingkan diri Anda dengan orang lain, fokuslah pada kekuatan Anda dan manfaatkan kekuatan tersebut.
Terima kegagalan sebagai pilihan
Seringkali kita merasa dilumpuhkan oleh rasa takut akan kegagalan. Ejekan dan rasa malu yang dibayangkan menghambat ambisi kita bahkan sebelum ambisi itu terwujud. Berapa banyak peluang yang kita lewatkan begitu saja karena kita terlalu khawatir dengan skenario terburuk. Dan bagian terburuknya adalah kegagalan tidaklah seburuk itu.
Sarai menjelaskan bagaimana belajar untuk mengatasi gagasan tentang kegagalan membantunya mengatasi impostor syndrome :
"Salah satu cara pandang baru yang saya gunakan sekarang adalah: Jika saya mencoba dan gagal, saya akan berada di posisi yang sama dengan jika saya tidak mencoba sama sekali. Setidaknya, jika saya mencoba, ada peluang untuk berhasil. Menyadari bahwa kegagalan biasanya memiliki hasil yang sama persis dengan tidak mencoba sama sekali telah membantu saya untuk melihat mencoba dan gagal menjadi kurang 'mengerikan' bagi saya. Lagi pula, tidak mencoba bukanlah sesuatu yang menakutkan, jadi mengapa kegagalan harus menjadi sesuatu yang menakutkan?"
Sumber :
Iswanto, Yun dan Adhie Yusuf. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Universitas Terbuka
https://www.codecademy.com/resources/blog/overcoming-impostor-syndrome/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |