Analisis Penentuan Lokasi Central Business District (CBD) Kabupaten Bandung Barat Dengan Menggunakan Kernel Density Estimation (KDE)
Prinindia Rizky Setyoningtyas
Rabu, 23 September 2026 |
72 kali
Kabupaten Bandung Barat memiliki wilayah yang sangat luas dengan sebaran kawasan perkotaan yang terpisah secara geografis, seperti Padalarang, Ngamprah, Cihampelas, Cikalong Wetan, dan Lembang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai struktur ruang wilayah tersebut, khususnya apakah pola perkembangan ekonominya bersifat monosentris (berpusat pada satu titik tunggal) atau polisentris (memiliki beberapa pusat aktivitas). Untuk memahami struktur tersebut, keberadaan Central Business District (CBD) menjadi salah satu aspek penting untuk dikaji. CBD pada dasarnya merupakan kawasan yang memiliki konsentrasi aktivitas ekonomi dan perkotaan yang tinggi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, metode Kernel Density Estimation (KDE) berbobot menjadi salah satu pendekatan yang tepat digunakan dalam mengkaji penentuan lokasi Central Business District (CBD). KDE merupakan metode estimasi kepadatan nonparametrik yang mengubah data titik menjadi permukaan kepadatan kontinu sehingga area dengan intensitas aktivitas yang tinggi dapat diidentifikasi secara lebih objektif. Keunggulan metode ini terletak pada kemampuannya merepresentasikan variasi kepadatan secara kontinu tanpa bergantung pada batas administrasi tertentu, sehingga pola distribusi aktivitas dapat diamati secara lebih realistis.
Metodologi
Analisis Spasial Berbobot
Analisis dilakukan terhadap 29 titik lokasi
aktivitas ekonomi di Kabupaten Bandung Barat yang dikelompokkan ke dalam tiga
sektor utama yaitu:
- Sektor Perbankan: Sebanyak 11 lokasi dengan bobot
1.
- Sektor Hotel atau Resor: Sebanyak 10 lokasi
dengan bobot 2.
- Pusat Perbelanjaan dan Pasar Modern: Sebanyak 8
lokasi dengan bobot 3.
Setiap lokasi
diberikan bobot antara 1 hingga 3 sesuai karakteristik aktivitasnya, dengan total bobot
keseluruhan sebesar 55. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kernel Density
Estimation (KDE) untuk mengidentifikasi konsentrasi aktivitas secara spasial. KDE
sendiri merupakan teknik estimasi kepadatan nonparametrik yang
mentransformasikan data titik menjadi permukaan kepadatan yang bersifat kontinu,
sehingga wilayah dengan tingkat aktivitas tinggi dapat dideteksi secara lebih
objektif. Kelebihan utama teknik ini terletak pada kapasitasnya dalam
menggambarkan dinamika kepadatan secara kontinu terlepas dari batasan
administratif tertentu, membuat pola persebaran aktivitas tampak lebih realistis
untuk diamati.
Padalarang
sebagai Pusat Konsentrasi Utama dan Zona Inti CBD
Berdasarkan hasil analisis KDE berbobot menggunakan parameter bandwidth sebesar 0,003 derajat koordinat, kawasan Padalarang teridentifikasi sebagai pusat kepadatan tertinggi sehingga dapat dianggap sebagai pusat konsentrasi aktivitas utama atau CBD empiris Kabupaten Bandung Barat. Titik maksimum kepadatan ini terletak pada koordinat 107,501048° BT dan -6,839237° LS dengan nilai kepadatan mencapai 184.847,54.
Berdasarkan
klasifikasi permukaan kepadatan, zona inti yang terbentuk memiliki luas sekitar 228.194,82 m² atau setara dengan 22,82 hektare.
Dalam radius kurang dari 700 meter dari titik pusat tersebut, terdapat berbagai
fasilitas penting yang saling berdekatan, seperti fasilitas perbankan (BSI,
Mandiri, BRI, BTN), perhotelan (Amaris Hotel, Hotel Santika), hingga pusat
perbelanjaan (Mesra Plaza, Giant Ekstra, dan Yogya Supermarket Cimareme).
Indikasi Kuat
Struktur Ruang Polisentris
Meskipun
Padalarang mendominasi sebagai titik dengan kepadatan spasial tertinggi, profil
kepadatan terhadap jarak menunjukkan bahwa Kabupaten Bandung Barat memiliki
struktur ruang yang cenderung polisentris.
Analisis
profil kepadatan berdasarkan pola sebaran spasial, distribusi radius, dan profil kepadatan KDE membentuk beberapa puncak lokal (multi-peak) yang
mencerminkan terbentuknya empat klaster aktivitas utama di wilayah tersebut:
- Klaster 1 (Inti - Padalarang): Mencakup 9 lokasi
dengan kontribusi bobot sebesar 30,91%.
- Klaster 2 (Ngamprah-Cimareme-Citatah): Terletak
pada radius 2,5 hingga 3,8 km dari pusat utama dengan kontribusi bobot 20,00%.
- Klaster 3 (Cihampelas): Berada di bagian barat
wilayah dengan kontribusi bobot sebesar 9,09%.
-Klaster 4 (Cikalong Wetan-Lembang): Terletak pada
jarak 12 hingga 15,5 km dari pusat utama, namun memiliki kontribusi bobot
terbesar yaitu 40,00%, yang ditopang oleh masifnya sektor pariwisata, hotel,
resor, dan perdagangan.
Temuan menarik dari studi ini
mengungkapkan bahwa kawasan dengan kepadatan spasial tertinggi tidak selalu
identik dengan akumulasi bobot aktivitas terbesar. Padalarang unggul dari segi
konsentrasi titik terpadat, sementara kawasan Cikalong Wetan-Lembang memegang
skala aktivitas ekonomi yang lebih besar meskipun tersebar pada cakupan area
yang lebih luas.
Penerapan metode KDE berbobot terbukti efektif dalam memetakan pusat aktivitas ekonomi di wilayah kabupaten yang luas. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun Padalarang berfungsi sebagai jantung konsentrasi spasial utama, Kabupaten Bandung Barat pada dasarnya ditopang oleh sistem wilayah polisentris yang memiliki berbagai simpul pertumbuhan strategis. Pendekatan lanjutan yang melibatkan analisis multi-pusat dan integrasi jaringan transportasi direkomendasikan untuk memperkaya pemahaman tata ruang wilayah di masa mendatang.
Penulis
Ary
Tri Hermawan, Reza Ahmad Fauzi, Muhammad Japar Sidiq
Penilai Pemerintah KPKNL Bandung
Daftar Pustaka
Anas, A., Arnott, R., & Small, K. A. (1998). Urban spatial structure.
Journal of Economic Literature, 36(3), 1426–1464.
Deng, Y., Liu, J., Liu, Y., & Luo, A. (2019). Detecting urban
polycentric structure from POI data.
ISPRS International Journal of Geo-Information, 8(6), 283.
Leslie, T. F. (2010). Identification and differentiation of urban centers
in Phoenix through a multi- criteria kernel-density approach. International Regional Science Review,
33(2), 205–235.
McMillen, D. P. (2001). Nonparametric employment subcenter identification.
Journal of Urban Economics, 50(3), 448–473.
Murphy, R. E., & Vance, J. E. Jr. (1954). Delimiting the CBD. Economic
Geography, 30(3), 189–222.
Redfearn, C. L. (2007). The topography of metropolitan employment:
Identifying centers of employment in a polycentric urban area. Journal of Urban Economics, 61(3),
519–541.
Silverman, B. W. (1986). Density Estimation for Statistics and Data
Analysis. Chapman & Hall.
Thurstain-Goodwin, M., & Unwin, D. (2000). Defining and delineating the
central areas of towns for statistical monitoring using continuous surface representations.
Transactions in GIS, 4(4), 305–317.
Yu, W., Ai, T., & Shao, S. (2015). The analysis and delimitation of
Central Business District using network kernel density estimation. Journal of Transport Geography, 45,
32–47.
Huang, C., Xiao, C., & Rong, L. (2022). Integrating Point-of-Interest
Density and Spatial
Heterogeneity to Identify Urban Functional Areas. Remote Sensing, 14(17),
4201.
Luo, G., Ye, J., Wang, J., & Wei, Y. (2023). Urban Functional Zone
Classification Based on POI Data and Machine Learning. Sustainability, 15(5),
4631.
Yang, J., Zhu, J., Sun, Y., & Zhao, J. (2019). Delimitating Urban
Commercial Central Districts by Combining Kernel Density Estimation and Road Intersections: A Case Study in
Nanjing City, China.
ISPRS International Journal of Geo-Information, 8(2), 93.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |