Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Bandung
Kepemimpinan dalam Flexible Working Arrangement:  Membangun Kepercayaan, Bukan Sekedar Pengawasan

Kepemimpinan dalam Flexible Working Arrangement: Membangun Kepercayaan, Bukan Sekedar Pengawasan

Lilik Hermawan
Selasa, 28 Juli 2026 |   71 kali

Penerapan flexible working arrangement (FWA) di lingkungan pemerintahan menjadi salah satu langkah transformasi birokrasi menuju tata kelola yang lebih adaptif. FWA merupakan sistem kerja yang memungkinkan para pegawai memiliki fleksibilitas terkait kapan dan dimana mereka bekerja. Seiring waktu, istilah yang berkaitan dengan FWA semakin beragam seperti remote working, telework, flexible time, dan work from home (wfh). Melalui Surat Edaran MenPAN-RB Nomor 3 Tahun 2026, kebijakan wfh setiap hari jumat diterapkan bagi ASN baik di lingkup pemerintah pusat maupun daerah. Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan kejelasan bagi ASN dalam pelaksanaan tugas kedinasan, serta penyelenggaraan layanan publik yang lebih efisien, efektif, adaptif, fleksibel, responsif, dan berbasis digital di lingkungan Instansi Pemerintah

Konsep FWA sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi institusi pemerintah, khususnya Kementerian keuangan. Terbitnya Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 416 Tahun 2023 menjadi milestone penting yang menandai perubahan dalam pola kerja organisasi. FWA tidak lagi menjadi pengaturan kerja yang bersifat situasional, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi budaya kerja yang lebih fleksibel, adaptif, dan berorientasi pada kinerja. Bagi pegawai, kebijakan ini memberikan sejumlah manfaat seperti pengurangan waktu perjalanan, penghematan biaya transportasi, serta meningkatkan work life balance. Dengan dukungan teknologi digital dan mekanisme pengelolaan kinerja yang terukur di lingkungan Kementerian Keuangan, keberhasilan penerapan kebijakan ini sangat bergantung pada satu faktor yaitu kepemimpinan.

Di lingkungan kerja yang semakin fleksibel, pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan atas kehadiran pegawai. Mereka dituntut untuk dapat menumbuhkan kepercayaan, menginspirasi tim, dan memastikan setiap anggota tetap bekerja secara mandiri dan bertanggung jawab. Disinilah kepemimpinan transformasional menjadi pendekatan yang dapat diterapkan untuk membangun komitmen, meningkatkan employee engagement, dan membangun budaya kerja kolaboratif. Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang mampu menginspirasi dan memotivasi individu untuk mencapai kemampuan maksimal mereka, sekaligus membina budaya inovasi dalam organisasi. Pemimpin transformasional dikenal mampu memotivasi tim melalui tindakan mereka, bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan, dan memberikan masukan yang berguna serta konstruktif kepada setiap anggota tim. Pemimpin transformasional pada umumnya memiliki 4 (empat) karakteristik utama:

·        Idealized Influence

Pemimpin menjadi role model yang dihormati dan dipercaya oleh anggota tim. Hal ini ditunjukkan melalui integritas dan konsistensi antara perkataan dengan perbuatan yang dilakukan. Karaketistik ini menjadi penting dalam penerapan FWA karena dapat mendorong pegawai untuk menerapkan nilai-nilai yang sama dalam melaksanakan pekerjaan.

·        Inspirational Motivation

Pemimpin dapat mengkomunikasikan visi organisasi secara jelas. Mereka mampu membuat anggota tim memahami makna dari tugas sehari-hari sehingga dapat melihat dampak pekerjaan mereka terhadap organisasi dan terinspirasi untuk bekerja melebihi target yang telah ditetapkan.

·        Intellectual Stimulation

Pemimpin memberi ruang bagi anggota timnya untuk berpikir kritis, inovatif dan berani menyampaikan ide-ide baru. Pemimpin tidak memandang kegagalan sebagai kesalahan semata, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan melakukan perbaikan. Karakteristik ini mendorong tumbuhnya budaya inovasi dan pembelajaran yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja.

·        Individual Consideration

Pemimpin memberikan perhatian terhadap kebutuhan dan perkembangan setiap anggota tim. Mereka memberikan dukungan melalui pemberian pelatihan, pendampingan, perhatian terhadap kesejahteraan, serta kesempatan untuk mengikuti pelatihan.

              Penerapan FWA pada akhirnya memang dapat meningkatkan efisiensi, serta memberikan kesempatan bagi pegawai untuk menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun demikian, fleksibilitas tersebut juga diikuti oleh tantangan yang harus dimitigasi seperti menjaga komunikasi yang efektif, memastikan koordinasi lancar, dan mempertahankan responsivitas dalam memberikan pelayanan.  Pemimpin yang mampu beradaptasi, berkomunikasi dengan efektif, dan menjadi teladan adalah kunci utama agar ASN bisa melaksanakan fleksibilitas kerja tanpa menurunkan kualitas layanan kepada masyarakat. FWA adalah perjalanan bersama membangun budaya kerja yang lebih adaptif, dimulai dari pemimpin yang membangun kepercayaan hingga tercermin dari peningkatan employee engagement, kolaborasi, dan kinerja pegawai.

 

Referensi:

Albion, M. J., & Chee, M. (2006). Flexible Work Options Within the Organisational System.

Austin-Egole, I. S., Iheanacho, J. I., & Kpanah, P. I. (2023). Flexible Working Arrangements and Human Capital Development in Organizations: Key Issues. European Journal of Theoretical and Applied Sciences, 1(6), 166–174. https://doi.org/10.59324/ejtas.2023.1(6).17

Bernard M. Bass_ Ronald E. Riggio - Transformational Leadership, Second Edition-Lawrence Erlbaum Associates (2005).

Hayati, Keumala. (2022). Transformational Leadership How its Effect Work-Life Balance and Employee Engagement. Asian Journal of Economics, Business and Accounting. 22(22). ISSN :2456-639X

KMK Nomor 416 Tahun 2023 tentang Sistem Kerja Fleksibel di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Moradi Korejan, M., & Shahbazi, H. (2016). An analysis of the transformational leadership theory. Journal of Fundamental and Applied Sciences, 8(3), 452. https://doi.org/10.4314/jfas.v8i3s.192

Patricia, V., Matagi, L., & Nantamu, S. (2020). Transformational leadership, work engagement and performance among public service employees in uganda. EJBM. https://doi.org/10.7176/ejbm/12-23-03

Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 3 Tahun 2026

Yahaya, R., & Ebrahim, F. (2016). Leadership styles and organizational commitment: Literature review. Journal of Management Development, 35(2), 190-216.


Penulis  : Prinindia Rizky Setyoningtyas

Staf HI KPKNL Bandung

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon