Kepemimpinan dalam Flexible Working Arrangement: Membangun Kepercayaan, Bukan Sekedar Pengawasan
Lilik Hermawan
Selasa, 28 Juli 2026 |
71 kali
Penerapan flexible working
arrangement (FWA) di lingkungan pemerintahan menjadi salah satu langkah
transformasi birokrasi menuju tata kelola yang lebih adaptif. FWA merupakan sistem
kerja yang memungkinkan para pegawai memiliki fleksibilitas terkait kapan dan
dimana mereka bekerja. Seiring waktu, istilah yang berkaitan dengan FWA semakin
beragam seperti remote working, telework, flexible time, dan work
from home (wfh). Melalui Surat Edaran MenPAN-RB Nomor 3 Tahun 2026,
kebijakan wfh setiap hari jumat diterapkan bagi ASN baik di lingkup pemerintah
pusat maupun daerah. Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan kejelasan bagi
ASN dalam pelaksanaan tugas kedinasan, serta penyelenggaraan layanan publik
yang lebih efisien, efektif, adaptif, fleksibel, responsif, dan berbasis
digital di lingkungan Instansi Pemerintah
Konsep FWA sebenarnya bukan
merupakan hal yang baru bagi institusi pemerintah, khususnya Kementerian
keuangan. Terbitnya Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 416 Tahun 2023 menjadi
milestone penting yang menandai perubahan dalam pola kerja organisasi. FWA
tidak lagi menjadi pengaturan kerja yang bersifat situasional, tetapi juga
menjadi bagian dari transformasi budaya kerja yang lebih fleksibel, adaptif,
dan berorientasi pada kinerja. Bagi pegawai, kebijakan ini memberikan sejumlah
manfaat seperti pengurangan waktu perjalanan, penghematan biaya transportasi,
serta meningkatkan work life balance. Dengan dukungan teknologi digital dan mekanisme pengelolaan kinerja yang terukur di lingkungan Kementerian Keuangan,
keberhasilan penerapan kebijakan ini sangat bergantung pada satu faktor yaitu
kepemimpinan.
Di lingkungan kerja yang semakin
fleksibel, pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan atas kehadiran
pegawai. Mereka dituntut untuk dapat menumbuhkan kepercayaan, menginspirasi
tim, dan memastikan setiap anggota tetap bekerja secara mandiri dan bertanggung
jawab. Disinilah kepemimpinan transformasional menjadi pendekatan yang dapat
diterapkan untuk membangun komitmen, meningkatkan employee engagement,
dan membangun budaya kerja kolaboratif. Kepemimpinan transformasional adalah gaya
kepemimpinan yang mampu menginspirasi dan memotivasi individu untuk mencapai
kemampuan maksimal mereka, sekaligus membina budaya inovasi dalam organisasi.
Pemimpin transformasional dikenal mampu memotivasi tim melalui tindakan mereka,
bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan, dan memberikan masukan
yang berguna serta konstruktif kepada setiap anggota tim. Pemimpin
transformasional pada umumnya memiliki 4 (empat) karakteristik utama:
·
Idealized Influence
Pemimpin
menjadi role model yang dihormati dan dipercaya oleh anggota tim. Hal
ini ditunjukkan melalui integritas dan konsistensi antara perkataan dengan
perbuatan yang dilakukan. Karaketistik ini menjadi penting dalam penerapan FWA
karena dapat mendorong pegawai untuk menerapkan nilai-nilai yang sama dalam
melaksanakan pekerjaan.
·
Inspirational Motivation
Pemimpin
dapat mengkomunikasikan visi organisasi secara jelas. Mereka mampu membuat anggota
tim memahami makna dari tugas sehari-hari sehingga dapat melihat dampak
pekerjaan mereka terhadap organisasi dan terinspirasi untuk bekerja melebihi
target yang telah ditetapkan.
·
Intellectual Stimulation
Pemimpin
memberi ruang bagi anggota timnya untuk berpikir kritis, inovatif dan berani
menyampaikan ide-ide baru. Pemimpin tidak memandang kegagalan sebagai kesalahan
semata, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan melakukan perbaikan.
Karakteristik ini mendorong tumbuhnya budaya inovasi dan pembelajaran yang
dibutuhkan dalam lingkungan kerja.
·
Individual Consideration
Pemimpin
memberikan perhatian terhadap kebutuhan dan perkembangan setiap anggota tim. Mereka
memberikan dukungan melalui pemberian pelatihan, pendampingan, perhatian
terhadap kesejahteraan, serta kesempatan untuk mengikuti pelatihan.
Penerapan
FWA pada akhirnya memang dapat meningkatkan efisiensi, serta memberikan kesempatan
bagi pegawai untuk menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Namun demikian, fleksibilitas tersebut juga diikuti oleh tantangan yang
harus dimitigasi seperti menjaga komunikasi yang efektif, memastikan koordinasi
lancar, dan mempertahankan responsivitas dalam memberikan pelayanan. Pemimpin yang mampu beradaptasi, berkomunikasi
dengan efektif, dan menjadi teladan adalah kunci utama agar ASN bisa
melaksanakan fleksibilitas kerja tanpa menurunkan kualitas layanan kepada
masyarakat. FWA adalah perjalanan bersama membangun budaya kerja yang lebih
adaptif, dimulai dari pemimpin yang membangun kepercayaan hingga tercermin dari
peningkatan employee engagement, kolaborasi, dan kinerja pegawai.
Referensi:
Albion, M. J., & Chee, M.
(2006). Flexible Work Options Within the Organisational System.
Austin-Egole, I. S., Iheanacho, J.
I., & Kpanah, P. I. (2023). Flexible Working Arrangements and Human Capital
Development in Organizations: Key Issues. European Journal of Theoretical and
Applied Sciences, 1(6), 166–174. https://doi.org/10.59324/ejtas.2023.1(6).17
Bernard M. Bass_ Ronald E. Riggio -
Transformational Leadership, Second Edition-Lawrence Erlbaum Associates (2005).
Hayati, Keumala. (2022).
Transformational Leadership How its Effect Work-Life Balance and Employee
Engagement. Asian Journal of Economics, Business and Accounting. 22(22). ISSN
:2456-639X
KMK Nomor 416 Tahun 2023 tentang
Sistem Kerja Fleksibel di Lingkungan Kementerian Keuangan.
Moradi Korejan, M., & Shahbazi,
H. (2016). An analysis of the transformational leadership theory. Journal of
Fundamental and Applied Sciences, 8(3), 452. https://doi.org/10.4314/jfas.v8i3s.192
Patricia, V., Matagi, L., &
Nantamu, S. (2020). Transformational leadership, work engagement and
performance among public service employees in uganda. EJBM. https://doi.org/10.7176/ejbm/12-23-03
Surat Edaran Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 3 Tahun 2026
Yahaya, R., & Ebrahim, F. (2016). Leadership styles and organizational commitment: Literature review. Journal of Management Development, 35(2), 190-216.
Penulis : Prinindia Rizky Setyoningtyas
Staf HI KPKNL Bandung
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |