Mengenal Distraksi Digital dan Tips Jitu untuk Membatasinya
Fildzah Rio
Kamis, 31 Maret 2022 |
33166 kali
Pernahkah
dalam melaksanakan pekerjaan rutin di kantor, alih-alih menuntaskan pekerjaan,
anda malah iseng scroll down feed Instagram
atau sekedar menonton siaran ulang pertandingan sepakbola tim favorit di
Youtube?
Atau
pernahkah anda mencermati berapa jam yang kita lalui dalam sehari dengan fokus
pada layar ponsel atau laptop dibandingkan dengan berapa jam yang kita habiskan
untuk produktif dalam bekerja?
Apabila anda
pernah mengalami hal-hal tersebut di atas, waspadalah karena itu merupakan
tanda-tanda anda mengalami distraksi digital. Sebuah artikel dari The Guardian
pada tahun 2018 menyatakan berdasarkan hasil penelitian, orang cenderung memeriksa
ponsel setiap 12 menit dan bahkan paling sering saat bangun tidur.[1] Kebiasaan ini nantinya
akan berbahaya untuk kesehatan mental jangka panjang dan kita harus belajar
untuk berhenti sejenak dan memikirkan mengenai fenomena ini. Distraksi digital merupakan studi yang sudah menjadi
pembahasan sejak tahun 2005. Akan tetapi, pandemi Covid-19 yang membatasi
kegiatan fisik manusia justru semakin meningkatkan interaksi manusia dengan gadget sehingga hal inilah yang menjadi concern dalam penulisan artikel ini.
Tidak dapat
dipungkiri, kemajuan teknologi dengan media sosial semakin mempengaruhi pola
hidup manusia. Arus informasi yang datang tanpa terbendung, kebutuhan
pekerjaan, kebutuhan bersosialisasi secara daring, dan konten media sosial yang
sangat menarik merupakan pemicu terjadinya distraksi digial. Distraksi digital
secara sederhana dapat diartikan sebagai gangguan karena perangkat media
elektronik dan media yang memecah konsentrasi dari pekerjaan utama yang sedang
dilakukan.
David Greenfield,
Ph.D seorang akademisi psikiatri dari University of Connecticut pernah membahas
mengenai distraksi digital dalam sebuah artikel berjudul ‘Digital Distraction :
Internet and Smartphone Addiction’. Greenfield yang juga seorang pendiri The
Center for Internet and Technology Addiction (CITA) bahkan menganalogikan
internet sebagai mesin jackpot
terbesar di dunia. Ia berpendapat, internet beroperasi pada jadwal penguatan
rasio variabel penguatan neurobiologis; ketika anda sedang online, anda tidak pernah tahu apa yang akan anda dapatkan dan
kapan anda akan mendapatkannya ditambah seberapa diinginkan, menonjol, dan
menyenangkan konten itu nantinya. Seperti inilah kerja mesin ‘jackpot’.
Ketidakpastian itulah yang membuat otak manusia waspada dan saat kita
mendapatkan ‘reward’ tersebut.[2]
Sebuah studi
oleh Cliford Nass dari Stanford University menunjukkan, orang yang sudah
terbiasa berkegiatan sambil tetap sibuk memperhatikan konten digital tidak memperhatikan,
mengingat, dan mengatur tugasnya sebaik orang yang tetap fokus pada satu hal di
satu waktu. Hasilnya tentu saja adalah turunnya produktivitas dan keterlibatan,
baik di kantor maupun di rumah.[3]
Sejalan
dengan studi Nass, Dr. Larry Rosen, seorang akademisi dari California State
University sebagaimana dikutip dari artikel Harvard Business Review yang
berjudul ‘Conquering Digital Distraction’ menyebutkan melakukan multitasking atau menyambi pekerjaan
tidak akan selalu berhasil, kecuali salah satu pekerjaan tersebut bersifat
otomatis.[4] Misalnya, manusia tidak
akan pernah benar-benar dapat fokus jika mengikuti rapat daring sambil
melakukan pekerjaan lain. Gloria Mark, dari The University of California pernah
meneliti mengenai hal tersebut dan hasilnya, seorang karyawan rata-rata butuh 3
menit fokus pada pekerjaan, kemudian teralihkan oleh hal lain (biasanya gadget)
dan baru bisa kembali fokus bekerja 20 menit kemudian.
Bagaimana semua ini bisa terjadi? Studi Dr. Larry Rosen menyimpulkan manusia menjadi sangat mudah mengalami distraksi digital karena adanya istilah-istilah sebagai berikut :
Seluruh
bentuk kecemasan ini berbatasan langsung dengan obsesi atau kompulsi. Manusia
secara konstan mengecek laptop, ponsel,
dan tablet karena mereka khawatir jika mendapatkan informasi baru, setelah
orang lain, terlambat membalas e-mail, atau terlambat memberi komentar dan
tombol ‘like’ di media sosial.
Jika
dibiarkan secara terus menerus, distraksi digital tentu saja membahayakan
produktivitas dan interaksi pegawai di
dunia nyata. Berikut adalah beberapa cara untuk sejenak melepaskan diri dari
distraksi digital untuk kesehatan mental yang lebih baik :
Digital detox merupakan suatu upaya mengurangi
penggunaan gadget dalam periode waktu
tertentu. Upaya ini sangat berguna untuk meningkatkan
interaksi sosial di masyarakat dengan lebih baik tanpa adanya gangguan. Bukan
hanya itu, digital detox ini juga bisa mengurangi risiko tekanan stres yang
didapatkan dari konektivitas media dan informasi yang terus bergerak cepat.
Aktivitas fisik seperti berolahraga, berjalan di
taman, dan berkebun secara teratur dapat mengalihkan pikiran dari gadget sementara waktu. Fokus dalam
melakukan hal-hal tersebut juga mendorong kreativitas karena memberikan momen
sejenak untuk memikirkan hal-hal penting lain seperti self development.
Kegiatan membaca buku merupakan salah satu bentuk
pengalihan dari distraksi digital yang ampuh karena memberikan ruang di otak
untuk berimajinasi dan memberikan informasi-informasi baru yang lebih mudah
dicerna.
Poin ini menjadi sangat krusial karena
sesungguhnya manusia lah yang harus mengontrol penggunaan gadget, bukan
sebaliknya. Terapkan aturan yang harus ditaati setiap hari, misalnya : tidak
menyalakan gadget serta merta ketika
bangun tidur, menghindari pemakaian gadget saat sedang fokus dalam pembicaraan/rapat
dengan rekan kerja, dan menghidupkan silent
mode sementara waktu apabila sudah sampai di rumah untuk berinteraksi
dengan keluarga lebih maksimal.
Apabila kelima tips tadi sudah dilakukan secara kontinyu selama 21 hari atau lebih, maka secara klinis, hal tersebut akan menjadi suatu kebiasaan.[5] Penggunaan gadget tidak selamanya buruk, pun di zaman sekarang nyaris seluruh aspek kehidupan kita didukung oleh gadget namun penggunaan secara berlebihan tentu saja akan berdampak negatif kepada pribadi maupun lingkungan sekitar. Oleh karenanya, dibutuhkan kebijaksanaan dalam menghadapi distraksi digital. Semoga berhasil! (Fildzah Rio, Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Bandung. Ilustrasi : https://muthuca.com/2019/07/26/digital-distraction-synopsis/)
[1] https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2018/oct/14/the-lost-art-of-concentration-being-distracted-in-a-digital-world
[2] https://www.psychologytoday.com/intl/blog/virtual-addictions/201710/digital-distraction-internet-and-smartphone-addiction
[3] https://hbr.org/2015/06/conquering-digital-distraction
[4] https://hbr.org/2015/06/conquering-digital-distraction
[5] https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2018/oct/14/the-lost-art-of-concentration-being-distracted-in-a-digital-world
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |