Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel KPKNL Banda Aceh
Mengenal Sick Building Syndrome

Mengenal Sick Building Syndrome

Khana Karrina
Senin, 31 Oktober 2022 |   9637 kali

Di Lingkungan Kementerian keuangan hari dan jam kerja diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 221/PMK.01/2021 tentang Hari dan Jam Kerja serta Penegakan Disiplin Berkaitan dengan Pembayaran Tunjangan Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan. Pegawai Kemenkeu harus bekerja sekitar delapan jam sehari atau 42 jam dan 45 menit selama 5 (lima) hari kerja dalam seminggu pada hari Senin hingga hari Jumat.

Pekerja kantor yang menghabiskan waktu di dalam ruang berpendingin udara, duduk di depan layar komputer selama kurang lebih delapan jam sehari, walaupun terlindung dari paparan cuaca panas, namun kegiatan bekerja di dalam ruang ternyata mempunyai potensi yang berakibat buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Sejak sekitar tahun 1970, pekerja kantor di seluruh dunia sering mengeluhkan iritasi membrane mukosa, kelelahan, dan sakit kepala ketika bekerja di gedung-gedung spesifik. Gejala-gejala ini akan membaik dan hilang sama sekali setelah meninggalkan gedung. Keadaan ini yang dikenal sebagai Sick Building Syndome (SBS). Sick Building Syndrome merupakan sakit yang diakibatkan dari lingkungan kerja yang kurang sehat. Aktivitas yang tidak mengenal waktu, kurangnya waktu istirahat, dan daya tahan tubuh yang menurun membuat seseorang lebih beresiko terserang penyakit. Pekerja kantoran tak luput dari ancaman kesehatan ini.

Penyebab keluhan tersebut biasanya tidak diketahui secara pasti dan keluhan tersebut biasanya akan hilang setelah penghuni gedung meninggalkan gedung. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan oleh SBS ini antara lain keluhan pada saluran pernapasan dan penyakit kronis lainnya.

Penyebab Sick Building Syndrome ialah kualitas udara dalam ruangan yang tercemar oleh radikal bebas (bahan kimiawi) yang berasal dari dalam maupun dari luar ruangan, misalnya pencemaran oleh mikroba ataupun disebabkan karena ventilasi udara yang kurang baik. Adapun macam-macam polutan yang dapat mencemari lingkungan antara lain adalah asap rokok dan ozon yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, volatile organic compounds yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, debu, gas CO dan lain-lain. Beberapa gejala yang tampak sebagai indikasi SBS antara lain:

  1. sakit Kepala
  2. iritasi mata
  3. badan cepat letih
  4. perut terasa kembung
  5. hidung berair
  6. tenggorokan gatal
  7. kesulitan berkonsentrasi
  8.  kulit terasa kering
  9. batuk yang tidak kunjung sembuh

Menghilangkan sumber kontaminasi penyebab SBS adalah cara terbaik dalam mencegah gejala-gejala tersebut dirasakan oleh penghuni kantor. Selain itu diperlukan peran dari pemberi kerja dan pengelola gedung untuk melakukan perawatan lingkungan dan alat-alat kerja yang baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh idividu untuk mencegah timbulnya dampak Sick Building Syndrome (SBS) sebagai berikut:

  1. Keluar gedung saat waktu istirahat untuk menghirup udara segar dan mengalihkan mata dari layar,
  2. Penempatan mesin fotokopi di ruangan dengan ventilasi udara yang baik,
  3. Menyediakan ruangan khusus merokok dan buat jalur ventilasi untuk asap buangannya sedemikian rupa sehingga tidak bercampur dengan sirkulasi udara lainnya;
  4. Membuka jendela secara berkala untuk membantu proses pertukaran udara dalam dan udara luar runagan;
  5. Menjaga suhu dan kelembaban ruangan dalam batas kontaminan biologis sulit bertahan hidup;
  6. Melaporkan bila ada gejala-gejala SBS.

Dampak buruk yang diberikan terhadap sindrom ini dapat menganggu produktivitas kerja akibat gejala-gejala yang dirasakan tersebut. Untuk itu, lebih baik mencegah daripada mengobati dan lebih baik merawat secara rutin daripada mengeluarkan biaya serta mengorbankan kesehatan sendiri.

“Lebih baik mecegah daripada mengobati”

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon