Delineasi Central Business District Kota Balikpapan Berbasis Weighted Kernel Density Estimation
Supitriana
Rabu, 26 Agustus 2026 |
238 kali
Pendahuluan
Central Business
District (CBD)
merupakan simpul konsentrasi aktivitas ekonomi, perkantoran, ritel, dan layanan
keuangan. Sebagai kawasan beraksesibilitas dan bernilai lahan tertinggi, CBD
menentukan gradien harga properti, arah investasi, serta pola pergerakan
penduduk.
Bagi Penilai Pemerintah,
identifikasi lokasi CBD secara presisi memiliki konsekuensi teknis yang
langsung. Koordinatnya menjadi dasar penentuan penggunaan tertinggi dan terbaik
(highest and best use) atas suatu aset sekaligus fondasi penyusunan
gradien nilai tanah. Ketidaktepatan menetapkan titik pusat berpotensi merambat
menjadi kesalahan sistematis pada penilaian massal.
Penetapan Ibu Kota
Nusantara (IKN) di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, yang
berbatasan langsung dengan wilayah kota, menempatkan Balikpapan sebagai kota
transit dan penyangga utama. Pertumbuhan penduduknya konsisten pada kisaran 1,4
persen per tahun sejak 2021 hingga mencapai 766.502 jiwa pada semester II 2025.
Proyek Strategis Nasional, seperti Refinery Development Master Plan Kilang
Pertamina dan jalan tol menuju IKN, turut memicu ekspansi kawasan komersial dan
investasi properti.
Secara historis,
aktivitas ekonomi kota terkonsentrasi di Klandasan dan Pasar Baru yang
berkembang sejak era pelabuhan dan perdagangan. Namun, kemunculan Balikpapan Superblock
(BSB) sebagai kompleks mixed use yang memadukan pusat perbelanjaan,
hotel bisnis, dan perkantoran perbankan mengindikasikan pergeseran atau
pemekaran pusat aktivitas ekonomi. Fenomena tersebut konsisten dengan pola decentralization
of commerce yang lazim terjadi ketika pusat kota lama mencapai titik jenuh
kapasitas lahan.
Dari kesenjangan itu
lahir dua pertanyaan: di manakah koordinat presisi pusat aktivitas ekonomi
kota, dan apakah struktur spasial CBD-nya masih monosentris atau telah
polisentris. Kajian ini mengembangkan kerangka metodologis CBD Kota Pekanbaru
(Hartono, 2025) dan memperkaya validasinya melalui kerangka polisentrisitas
Kota Bandung (Wahyudi, 2025).
Metodologi
Pendekatan
dan Data
Kajian menggunakan
pendekatan kuantitatif deskriptif berbasis analisis geospasial multikriteria.
Pendekatan konvensional yang mengandalkan batas kelurahan atau kecamatan kurang
memadai untuk menangkap aktivitas ekonomi yang lintas batas dan dinamis.
Metode utama yang
diterapkan adalah Kernel Density Estimation (KDE), yaitu metode
statistik nonparametrik yang mengestimasi densitas titik spasial secara kontinu
dengan menerapkan fungsi kernel pada setiap titik data. Permukaan
kepadatan terbentuk tanpa memerlukan batas administratif sehingga delineasi
bertumpu penuh pada sebaran empiris.
Data primer berupa titik
koordinat points of interest (POI) fasilitas ekonomi dikumpulkan melalui
survei lapangan, validasi koordinat pada Google Maps, normalisasi format ke
sistem decimal degrees, serta atribusi penggunaan lahan dan bobot. Objek
mencakup tiga fungsi ekonomi utama, yaitu perdagangan, jasa keuangan, dan
akomodasi bisnis, yang dirinci menjadi sembilan kategori.
Tabel 1. Skema bobot kategori
POI
|
Kategori POI |
Jumlah |
W-base |
W-final |
Rasional |
|
Mal regional/pusat
perbelanjaan besar |
3 |
10 |
14,76 |
Inti CBD modern |
|
Hotel bintang 4–5
(MICE/bisnis) |
13 |
6 |
8,41 |
Aktivitas bisnis dan MICE |
|
Pusat perbelanjaan
menengah/plaza |
4 |
5 |
7,18 |
Ritel-jasa menengah |
|
Kantor cabang utama bank |
5 |
4 |
4,66 |
Simpul finansial regional |
|
Pasar modern/supermarket
mandiri |
10 |
3 |
4,13 |
Perdagangan harian |
|
Hotel bintang 2–3/hotel
bisnis |
62 |
3 |
4,05 |
Akomodasi bisnis menengah |
|
Kantor cabang pembantu/bank
daerah |
23 |
2 |
2,47 |
Layanan finansial reguler |
|
Hotel bintang 1/nonbintang |
15 |
1 |
1,28 |
Akomodasi kecil |
|
Kantor unit bank |
7 |
1 |
1,23 |
Layanan minimum |
Sumber: penulis (2026), diadaptasi dari Murphy (2017).
Dominasi hotel bintang
2–3 dan hotel bisnis, yang mencakup 43,66 persen data, merefleksikan karakter
Balikpapan sebagai kota transit sekaligus kota meeting, incentive,
convention, and exhibition (MICE) bagi pelaku usaha dan pekerja proyek
strategis nasional.
Skema
Pembobotan Berjenjang
Pembobotan disusun dua
tahap untuk mengatasi ketidaksetaraan hierarki antarkategori sekaligus
keseragaman bobot antarobjek dalam kategori yang sama. Tahap pertama menetapkan
bobot dasar (W-base) pada skala 1 sampai 10 yang merepresentasikan
hierarki fungsional-struktural antarkategori POI, mengacu pada kriteria
intensitas fisik-ekonomi dan fungsi dominan CBD menurut Murphy (2017). Mal
regional sebagai penanda inti CBD modern memperoleh bobot tertinggi, sedangkan
kantor unit bank memperoleh bobot terendah. Rentang yang lebih lebar daripada
skala 1 sampai 5 dipilih agar jarak hierarkis antarfasilitas proporsional.
Tahap kedua mengoreksi
bobot dasar melalui Skor Aktivitas dan Popularitas Ikonik (SAPI), faktor
koreksi berbasis data perilaku pengguna (user-generated data) dengan
premis bahwa intensitas ekonomi suatu fasilitas dapat didekati lewat jejak
digital interaksi publik. Skor ini terdiri atas komponen popularitas berupa
jumlah ulasan (70 persen) dan komponen kualitas berupa rating (30
persen).
Komponen popularitas
ditransformasi menggunakan logaritma natural untuk meredam pencilan ekstrem,
mengingat rentang jumlah ulasan sangat lebar, yaitu 2 hingga 17.516 ulasan;
tanpa transformasi itu, objek terpopuler akan mendominasi permukaan kepadatan.
Proporsi 70:30 ditetapkan karena volume interaksi publik merupakan proksi yang
lebih langsung terhadap intensitas ekonomi ruang, sedangkan rating
merepresentasikan persepsi kualitas yang tidak selalu sejalan dengan intensitas
kunjungan.
Bobot akhir (W-final)
dihitung secara multiplikatif dengan pengaruh SAPI dibatasi melalui pembagi 2
sehingga faktor pengali maksimum suatu objek adalah 1,5 kali bobot dasarnya
sehingga hierarki fungsional tahap pertama tetap terjaga. Faktor pengali
empiris berkisar antara 1,1594 hingga 1,4925 sehingga tidak terjadi pembalikan
urutan hierarki (rank reversal) antarkategori utama.
Penetapan
Parameter Bandwidth
Bandwidth adalah parameter paling krusial
dalam KDE karena menentukan kehalusan estimasi. Nilai yang terlalu kecil
menghasilkan overfitting berupa permukaan terfragmentasi, sedangkan yang
terlalu besar menyebabkan underfitting yang mengaburkan pola lokal.
Tiga skenario diuji,
yaitu bandwidth tetap 500 meter, bandwidth adaptif menurut aturan
Silverman sebesar ±933,46 meter, dan bandwidth tetap 1.000 meter.
Skenario terakhir dipilih karena merepresentasikan jangkauan pejalan kaki 10–15
menit, bersifat tetap sehingga dapat direplikasi pada kota lain, konsisten
dengan standar sistem informasi geografis Direktorat Penilaian dan Kantor
Wilayah, serta memenuhi kaidah Hukum Pertama Geografi Tobler (1970).
Tabel 2. Perbandingan
skenario bandwidth
|
Skenario bandwidth |
Karakter hasil |
Kesimpulan |
|
Tetap 500 meter |
Terlalu detail; banyak pulau
kepadatan |
Sesuai untuk analisis mikro |
|
Silverman (±933,46 m) |
Akurat; mengikuti sebaran di
garis pantai |
Unggul untuk riset akademik |
|
Tetap 1.000 meter |
Paling stabil; dua entitas
CBD terlihat jelas |
Dipilih sebagai parameter
utama |
Sumber: pengolahan penulis (2026).
Komputasi dijalankan
dengan Python (SciPy) pada Google Colaboratory, sedangkan visualisasi dan
validasi sebaran memakai QGIS.
Hasil Analisis
Identifikasi
Titik Episentrum
Estimasi weighted
kernel density estimation menghasilkan dua puncak kepadatan yang konsisten
pada kedua bandwidth yang diuji. Jarak antarkedua episentrum tercatat
1,91 kilometer: relatif dekat, tetapi cukup untuk membentuk dua pusat yang
berbeda karakter secara fungsional.
Tabel 3. Koordinat episentrum
CBD Kota Balikpapan
|
Tipologi |
Koordinat |
Fasilitas di sekitar
titik |
|
CBD Modern |
-1,274161 LS; 116,857764 BT |
Pentacity Mall, HyperMart
BSB, Quest Hotel |
|
CBD Tradisional |
-1,278542 LS; 116,841120 BT |
Swiss-Belhotel, Balikpapan
Ocean Square, BCA KCU |
Sumber: pengolahan penulis (2026).
Sebagai kendali
metodologis, permukaan kepadatan turut dihitung tanpa koreksi SAPI. Hasilnya,
SAPI mempertajam kontras inti kawasan tanpa memindahkan struktur bipolar.

Gambar 1. Peta klaster spasial dan titik episentrum CBD
Sumber: pengolahan penulis (2026).
Validasi
Statistik Pola Sebaran
Dua uji autokorelasi
spasial diterapkan pada seluruh titik POI berbobot. Nilai Global Moran’s I
yang positif mengindikasikan bahwa fasilitas ekonomi dengan bobot serupa
cenderung berkumpul pada lokasi berdekatan. Temuan itu diperkuat Nearest
Neighbor Analysis: jarak rata-rata teramati sekitar 228 meter, jauh lebih
rapat daripada jarak harapan pada distribusi acak, 384 meter. Kombinasi keduanya
memberikan validasi ganda atas temuan KDE.
Tabel 4. Hasil uji autokorelasi spasial
|
Metrik |
Nilai |
Interpretasi |
|
Global Moran’s I |
0,0862 |
Autokorelasi positif; pola
mengelompok |
|
Nearest Neighbor Ratio |
0,5949 |
Rn < 1; mengelompok
secara fisik |
|
Jarak rata-rata teramati |
0,002051° (±228 m) |
Lebih rapat daripada sebaran
acak |
|
Jarak rata-rata harapan |
0,003448° (±384 m) |
Pembanding sebaran acak |
|
Jarak antarpusat |
1,91 km |
Indikasi spesialisasi ruang |
Sumber: pengolahan penulis (2026).
Bukti
Tambahan Struktur Polisentris
Pengolahan data
mengidentifikasi tiga bukti pendukung. Pertama, visualisasi tiga dimensi
topografi kepadatan memperlihatkan puncak utama di kawasan BSB yang diikuti
bukit kepadatan sekunder. Kedua, profil melintang kepadatan sepanjang bujur kota
menunjukkan puncak tajam pada ±116,858° (CBD Modern) serta puncak sekunder pada
±116,838° dengan indeks lebih rendah, tetapi tetap signifikan. Ketiga, sebanyak
42,25 persen fasilitas ekonomi berada di luar radius tiga kilometer dari pusat
utama, mengonfirmasi subpusat pertumbuhan yang tersebar mengikuti jalan utama
ke arah utara dan timur kota.

Gambar 2. Topografi tiga dimensi kepadatan
Sumber: pengolahan penulis (2026).

Gambar 3. Profil melintang kepadatan
Sumber: pengolahan penulis (2026).
Struktur yang terbentuk
diistilahkan sebagai polisentrisitas linier berjenjang (tiered linear
polycentricity), yaitu kota yang tumbuh mengikuti koridor jalan utama
dengan dua pusat kegiatan atau lebih yang berbeda hierarki intensitasnya.
Uji
Sensitivitas Skema Pembobotan
Justifikasi konseptual
semata belum membuktikan bahwa perbedaan skema pembobotan berimplikasi material
terhadap hasil delineasi. Karena itu, sebagai pembanding disusun konstruksi Analytical
Hierarchy Process (AHP) dengan empat kriteria intensitas CBD menurut Murphy
(2017). Matriks perbandingan berpasangannya memiliki Consistency Ratio
0,0089, jauh di bawah ambang 0,10, sehingga sah sebagai instrumen. Ketika bobot
AHP diterapkan pada algoritma KDE yang identik, titik pusat CBD Modern bergeser
192,56 meter ke arah utara-barat laut, lalu divalidasi silang terhadap Zona
Nilai Tanah resmi pada platform Bhumi ATR/BPN.
Tabel 5. Validasi silang
kelas NJOP menurut skema pembobotan
|
Skema pembobotan |
Koordinat CBD Modern |
Kelas NJOP |
|
W-final (hasil utama) |
-1,274161 LS; 116,857764 BT |
Rp10.000.000–Rp20.000.000/m² |
|
AHP tanpa kalibrasi |
-1,272555 LS; 116,857116 BT |
Rp5.000.000–Rp10.000.000/m² |
Sumber: penulis (2026) dan Zona Nilai Tanah Bhumi ATR/BPN.
Pergeseran ±193 meter itu
menurunkan titik pusat CBD Modern satu kelas NJOP penuh. Setelah diskalakan
setara, AHP menaikkan bobot relatif hampir seluruh kategori berjenjang rendah:
kantor cabang pembantu naik 1,86 kali, hotel bintang 1 dan nonbintang 2,24 kali,
sedangkan hotel bintang 2–3 dan pasar modern masing-masing 1,45 kali.
Sebaliknya, mal regional sebagai penanda inti CBD modern tidak naik sama
sekali.
Tabel 6. Bobot kajian versus bobot AHP
|
Kategori POI |
W-base |
Bobot AHP |
AHP setara |
|
Mal regional/pusat
perbelanjaan besar |
10 |
21,52% |
10,00 |
|
Hotel bintang 4–5
(MICE/bisnis) |
6 |
17,10% |
7,95 |
|
Pusat perbelanjaan
menengah/plaza |
5 |
15,13% |
7,03 |
|
Kantor cabang utama bank |
4 |
12,27% |
5,70 |
|
Pasar modern/supermarket
mandiri |
3 |
9,36% |
4,35 |
|
Hotel bintang 2–3/hotel
bisnis |
3 |
9,36% |
4,35 |
|
Kantor cabang pembantu/bank
daerah |
2 |
8,02% |
3,73 |
|
Hotel bintang 1/nonbintang |
1 |
4,82% |
2,24 |
|
Kantor unit bank |
1 |
2,42% |
1,12 |
Sumber: penulis (2026). Kolom terakhir diskalakan ulang agar
setara dengan W-base.
Dampaknya kumulatif
karena kategori yang dinaikkan justru berjumlah terbanyak dan tersebar paling
merata mengikuti kepadatan permukiman, yaitu 100 dari 142 titik atau 70,42
persen data. AHP memindahkan sebagian besar massa bobot dari inti komersial
premium ke fasilitas kecil di permukiman sehingga permukaan kepadatan tertarik
menjauh dari BSB.
Temuan ini menegaskan
prinsip yang berlaku lebih luas: Consistency Ratio hanya menguji
konsistensi logis internal antarpenilaian berpasangan, bukan validitas eksternal
terhadap realitas spasial. Skema bobot yang murni teoretis dapat menghasilkan
nilai sangat baik, tetapi tetap menyimpang ketika berinteraksi dengan sebaran
data yang timpang antarkategori.
Temuan tersebut bukan
penolakan terhadap AHP. Metode itu justru lebih tepat ketika atribut perilaku
pengguna tidak tersedia, ketika objek kajian nonkomersial, atau ketika kajian
menuntut konsensus antarpemangku kepentingan. Sebagai penyempurnaan, diusulkan
skema hibrida: AHP panel ahli menetapkan bobot dasar antarkategori, lalu
dikoreksi SAPI pada tingkat objek dan dikalibrasi terhadap NJOP atau harga
transaksi aktual.
Implikasi
Penilaian massal yang
monosentris, dengan satu gradien nilai tanah yang menurun radial dari satu
titik pusat, kurang merepresentasikan realitas pasar Balikpapan. Kajian ini
merekomendasikan Zona Nilai Tanah polisentris: BSB dan Klandasan/Pasar Baru
masing-masing memiliki bobot dan gradien nilai tersendiri, dengan koordinat
hasil kajian sebagai basis gradien ganda dalam analisis penggunaan tertinggi
dan terbaik. Khusus BSB, disarankan penilaian prospektif karena nilainya
berpotensi masih terdiskon.
Bagi perencanaan daerah,
temuan ini menuntut sinkronisasi Rencana Tata Ruang Wilayah dengan struktur
bipolar yang telah terbentuk: penguatan konektivitas koridor Klandasan–BSB,
yaitu Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan M.T. Haryono; insentif investasi di
Balikpapan Utara dan Timur yang telah menampung 42,25 persen fasilitas ekonomi;
serta antisipasi urban sprawl di koridor pesisir sebagai ciri kota
linier.
Kombinasi weighted
KDE dengan uji Global Moran’s I dan Nearest Neighbor Analysis
layak menjadi modul dasar penentuan CBD di tingkat Kantor Wilayah maupun KPKNL
karena ekonomis, cepat, dan mudah direplikasi dengan perangkat lunak sumber
terbuka. Namun, sebagai panduan resmi, metodologi ini perlu dilengkapi Network
Analysis dan kalibrasi terhadap nilai pasar aktual.
Simpulan
Kajian ini
mengidentifikasi dua pusat aktivitas ekonomi utama, yaitu CBD Modern di
Balikpapan Superblock dan CBD Tradisional di Klandasan/Pasar Baru, yang
terpisah 1,91 kilometer. Signifikansi statistik pola mengelompok terkonfirmasi
melalui Global Moran’s I sebesar 0,0862 dan Nearest Neighbor Ratio
sebesar 0,5949.
Kota Balikpapan tengah
bertransformasi dari monosentris menuju polisentris linier berjenjang. BSB
menjadi episentrum ekonomi baru, sementara Klandasan/Pasar Baru bertahan
sebagai jangkar perdagangan dan perbankan konvensional.
Temuan ini memperkaya
diskursus tentang keragaman jalur transformasi CBD pada kota sekunder di
Indonesia. Berbeda dengan Pekanbaru yang masih monosentris dan Bandung yang
polisentrisitasnya digerakkan vitalitas budaya, polisentrisitas Balikpapan
digerakkan infrastruktur ritel, perhotelan, dan perbankan modern serta momentum
investasi sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara. Manifestasi
polisentrisitas amat bergantung pada konteks lokal sehingga harus diukur
empiris pada setiap kota. (R. Danang Dwi Kurniawan)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |