DJKN Kalbar Bidik VALDASH untuk Bedah Potensi Ekonomi Daerah
Zakie Muhammad
Selasa, 29 September 2026 |
22 kali
PONTIANAK – Provinsi Seribu Sungai menyimpan potensi bak permata di setiap jengkalnya. Berada tepat di barat laut Nusantara, Kalimantan Barat merupakan jantung penggerak industri nasional, dengan deposit 420 juta ton cadangan bijih bauksit—atau 35% total cadangan di Indonesia—yang mampu menyuplai hingga 1 juta ton alumina per tahunnya. Kekayaan mineral ini menjadi pilar utama guna menyokong industri otomotif, industri berat, sampai teknologi panel surya yang kini diburu dunia untuk transisi energi global.

Gambar 1. Ilustrasi komoditas bauksit, kelapa sawit, dan ikan air tawar yang menjadi produk unggulan Kalimantan Barat. (Sumber: Kompas.id)
Tak cukup di sektor mineral, Kalimantan Barat mengambil peran vital sebagai hub energi dan protein bangsa. Dengan produksi mencapai 32 juta ton sawit dan perputaran rupiah yang menembus Rp1,5 triliun dari sektor perikanan budidaya air tawar setiap tahunnya, menjadikan Bumi Khatulistiwa melangkah maju tak cukup di lingkup ekstraktif, tetapi bergerak lurus menuju ke arah ekonomi baru yang berkelanjutan.
Penilai Pemerintah sebagai penerjemah nilai ekonomi berfungsi sakral dalam mengonversi setiap potensi menjadi nilai fiskal yang adil dan membangun. Setiap nilai dalam laporan penilaian mutlak mampu menentukan nilai limit lelang, tarif pemanfaatan aset, hingga penerimaan negara di setiap komoditas agar dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat dan kemajuan di daerah.
Mengurai Ketergantungan dan Tantangan Kemandirian
Sebagai provinsi otonom terbesar ke-2 di Indonesia, Kalimantan Barat masih berjuang mengejar setiap tangga kemandirian fiskal. Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura (UNTAN), Muhammad Fahmi, mengurai benang kusut struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Provinsi Seribu Sungai yang masih didominasi oleh alokasi Dana Transfer Ke Daerah (TKD) hingga 70 persen dari total pendapatan daerah. Tingginya ketimpangan vertikal ini membuat Kalimantan Barat sangat rentan dengan perubahan kebijakan di level pusat.
Sejalan dengan Fahmi, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran atau FITRA ikut menyoroti kebiasaan buruk pemerintah daerah yang sekadar mengelola aset untuk menggugurkan kewajiban administratif seperti opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau imbauan tertib pencatatan dari Kemendagri. Temuan berulang mulai dari keberadaan fisik aset hingga aset daerah yang beralih fungsi dan kepemilikan menjadi lingkaran setan yang sulit berhenti akibat kurangnya upaya inventarisasi oleh pengelola barang di daerah.

Gambar 2. Ilustrasi Tiga Produk Manufaktur berbahan dasar turunan bauksit (alumina). (Ilustrasi Kreatif)
Di tengah booming bauksit yang terus melonjak hingga 193% pada realisasi investasi kuartal II-2026, pengelolaan aset di Bumi Tanjungpura mutlak segera berbenah. Kalimantan Barat harus mampu menjemput bola proyeksi penerimaan dari sektor hilirisasi alumina versi Kemenko Perekonomian, yang mencapai Rp6,6 triliun per tahun mulai 2027. Kantor Wilayah DJKN Kalimantan Barat sebagai Regional Investing Advisory Agent juga wajib mengawal secara strategis setiap analisis kelayakan, kepatutan, serta iklim pasar investasi yang dikeluarkan para Penilai Pemerintah di daerah agar dapat mendisrupsi setiap hambatan pengelolaan aset daerah ke arah yang lebih produktif, melalui instrumen konsultasi dan pendampingan ekonomi yang efektif.
VALDASH, Sarung Tangan Bedah untuk Setiap Jengkal Potensi Daerah
Valuation Dashboard atau VALDASH, ekosistem digital milik Kanwil DJKN Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Suluttenggomalut) mengunci setiap data penilaian oleh Penilai Pemerintah menjadi satu dasbor tunggal. Berukuran jumbo dengan 1.917 laporan penilaian yang terbagi berdasarkan kompleksitas, status, jenis objek, hingga subjek pemohon, VALDASH bukan sekadar menara gading, tetapi juga alat pantau tunggal produktivitas penilai berdasarkan skor rata-rata kaji ulang laporan hingga efisiensi waktu penyelesaian penilaian aset.

Gambar 3. Diagram fitur unggulan Aplikasi Valuation Dashboard atau VALDASH Kanwil DJKN Suluttenggomalut.
Membedah secara detail proses advisory Penilai Pemerintah, VALDASH punya jurus sapu jagat guna memetakan setiap proyeksi penerimaan negara secara real-time. Dengan fitur tracking layanan di EWS Pelaporan Penilaian, fitur pemantauan (monitoring) terhadap proses kaji ulang, hingga sebaran objek dan potensi penerimaan, Kanwil DJKN dapat aktif memitigasi setiap risiko keterlambatan pelaporan dan mampu menelaah setiap potensi aset secara lebih akurat.
Selain itu, VALDASH menyediakan fitur ekstra berupa Integrasi Data Penilai Pemerintah pada Instansi Kementerian, Lembaga, hingga Daerah, serta Pemantauan Kepatuhan KEP-157 terkait fungsi pembinaan oleh Kanwil DJKN. Fitur ini menjadi jawaban mutlak Kanwil DJKN Kalimantan Barat untuk memantau kesehatan administrasi serta fisik aset daerah yang dikelola penilai daerah binaannya. Dalam kegiatan knowledge sharing bersama Kanwil DJKN Kalimantan Barat, Jumat (28/8) lalu, Kepala Bidang Penilaian Kanwil DJKN Suluttenggomalut, Rachmadi, menekankan peran penting VALDASH guna memastikan aset pemda dapat bekerja serta mampu mendeteksi setiap peralihan fungsi Barang Milik Daerah secara dini.

Gambar 4. Kepala Bidang Penilaian, Rachmadi (nomor dua dari samping atas kanan) membuka kegiatan Knowledge Sharing Aplikasi VALDASH
bersama Kanwil DJKN Kalimantan Barat, Jumat (28/8)
Kepala Seksi Penilaian II, Ade Setiana, juga menambahkan, ke depan VALDASH terus dikembangkan menjadi generasi kedua (Gen II) yang lebih kompatibel dan aman secara digital. Berbasis Microsoft Power BI, Ade berharap inovasi VALDASH dapat sejalan dengan prinsip keamanan data di lingkup Kementerian Keuangan serta mampu menjawab setiap tantangan Kanwil DJKN Kalimantan Barat dalam mengawal kemandirian fiskal Bumi Khatulistiwa.
Foto Terkait Berita