Siaran Pers: APBN MEnumbuhkan, Melindungi, dan Tetap Kredibel
Rene Cicero Aipassa
Kamis, 24 September 2026 |
46 kali
|
Jakarta, 18 September 2026
|
|
Di tengah dinamika global, perekonomian
Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat, ditopang oleh
permintaan domestik yang terjaga, stabilitas ekonomi, serta sinergi kebijakan
fiskal dan moneter. APBN terus dikelola secara kredibel dan terukur untuk
menumbuhkan aktivitas ekonomi, mendorong investasi, melindungi
masyarakat, menjaga daya beli dan kesejahteraan, serta mendukung agenda
pembangunan prioritas Pemerintah secara berkelanjutan. |
|
Hingga 31 Agustus 2026, kinerja APBN tetap terjaga dan
solid, ditopang oleh Pendapatan Negara yang tumbuh positif serta Belanja
Negara yang terus dioptimalkan secara efektif dan terukur. Pelaksanaan
anggaran diarahkan untuk memperkuat daya dorong APBN terhadap pertumbuhan
ekonomi, menjaga perlindungan bagi masyarakat, serta mendukung agenda
prioritas nasional, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan
keberlanjutan fiskal. |
|
Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp2.055,6
triliun atau 65,2?ri target APBN 2026.
Realisasi ini tumbuh 25,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja
tersebut terutama didorong oleh Penerimaan Pajak sebesar Rp1.409,0 triliun
dengan pertumbuhan 24,1% (yoy), Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
sebesar Rp210,2 triliun yang tumbuh 7,8% (yoy), serta Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp435,1 triliun yang tumbuh 41,7%
(yoy). |
|
Sementara itu, Belanja
Negara terealisasi sebesar Rp2.295,7 triliun atau 59,7% APBN, tumbuh
17,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja Pemerintah Pusat
(BPP) mencapai Rp1.791,5 triliun, yang terdiri atas Belanja
Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp912,4 triliun atau tumbuh 33,0% (yoy)
dan Belanja non-K/L sebesar Rp879,1 triliun atau tumbuh 25,1% (yoy).
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp504,3 triliun atau
72,8?ri target APBN, dengan pertumbuhan lebih rendah 11,8% (yoy).
Pelaksanaan TKD terus dikelola agar tetap mendukung layanan dasar serta
pembangunan di daerah. |
|
Kinerja fiskal tetap terjaga dan dikelola secara kredibel,
tecermin dari defisit APBN sebesar 0,93% terhadap PDB, sesuai
dengan lintasan target APBN 2026. Selain itu, APBN mencatat surplus
keseimbangan primer sebesar Rp154,0 triliun. Perkembangan ini menunjukkan
pengelolaan fiskal dilakukan secara prudent untuk menjaga
kesinambungan fiskal. |
|
Kinerja sektor-sektor ekonomi utama menunjukkan pertumbuhan yang
positif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan penerimaan
pajak. Penerimaan pajak sektor perdagangan tumbuh kuat sebesar 41,2%,
diikuti pertambangan 44,0?n industri pengolahan 25,4%. Pertumbuhan ini
mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin menguat, didukung oleh
peningkatan perdagangan, industri, pertambangan, serta aktivitas sektor
pendukung lainnya. |
|
Perekonomian nasional terus menunjukkan kinerja yang positif dan terjaga. Pertumbuhan
ekonomi selama Semester I 2026 mencapai 5,45% ditopang permintaan
domestik yang tetap solid. Di sisi eksternal, neraca perdagangan
JanuariāJuli 2026 mencatat surplus USD3,7 miliar, mencerminkan
fundamental ekonomi yang tetap solid dan resilien. |
|
Inflasi tetap terkendali
pada Agustus 2026 sebesar 3,19% (yoy), di tengah dinamika harga pangan dan komoditas global. Inflasi inti
relatif stabil pada 2,92%, sementara perlambatan inflasi administered
prices menjadi 3,32% turut menunjukkan tekanan harga yang
terkendali. Kondisi ini mendukung stabilitas harga dan daya beli
masyarakat. |
|
Pemerintah akan terus menjaga
momentum pertumbuhan sekaligus kredibilitas APBN, sehingga
stabilitas ekonomi, akselerasi pembangunan, dan kepercayaan pasar dapat
dijaga secara simultan. APBN akan terus dioptimalkan untuk mendorong
aktivitas ekonomi dan investasi, mendukung agenda pembangunan prioritas
Pemerintah, serta memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan. |
|
APBN tetap
hadir untuk melindungi masyarakat,
menjaga daya beli dan kesejahteraan, serta mendorong
pemberdayaan ekonomi. Kredibilitas APBN akan terus dijaga melalui
pendapatan negara yang diperkuat, belanja yang semakin efektif dan produktif, serta defisit yang dikelola secara sehat, pruden, dan
terkendali. |
|
Deni Surjantoro Kepala Biro
Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan |