Menkeu Sri Mulyani: Pembangunan Infrastruktur harus Berkelanjutan, Inklusif, dan Tangguh Iklim
Rene Cicero Aipassa
Jum'at, 13 Juni 2025 |
331 kali
Jakarta, 12/6/2025 Kemenkeu – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri
Mulyani Indrawati menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang
berkelanjutan, inklusif, dan tangguh terhadap risiko iklim dalam menghadapi
tantangan global dan kebutuhan domestik yang terus meningkat. Hal tersebut
disampaikan Menkeu dalam acara International Conference on Infrastructure (ICI)
2025 yang digelar di Jakarta, Kamis (12/6).
Dalam sambutannya, Menkeu mengungkapkan bahwa kebutuhan
investasi infrastruktur Indonesia pada periode 2025 hingga 2029 diperkirakan
mencapai USD625 miliar. Namun, kemampuan pendanaan pemerintah pusat dan daerah
hanya mampu menutup sekitar 40 persen dari kebutuhan tersebut. Oleh karena itu,
keterlibatan sektor swasta dan penciptaan skema pendanaan yang inovatif menjadi
sangat krusial.
“Kita menghadapi gap pendanaan yang besar. Ini akan
membutuhkan partisipasi sektor swasta dan dukungan dari banyak mitra, juga
menuntut terciptanya mekanisme pendanaan yang inovatif,” ujar Menkeu.
Menkeu juga menyoroti tekanan global yang kian meningkat,
mulai dari ketegangan geopolitik hingga perlambatan ekonomi dunia. Di tengah
ketidakpastian tersebut, risiko perubahan iklim turut memperumit perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Menkeu menyebutkan bahwa perubahan
iklim diperkirakan dapat menyebabkan 260 juta orang mengalami perpindahan
tempat tinggal di dalam negeri mereka masing-masing pada tahun 2050.
“Saat ini, infrastruktur bukan lagi sekadar menghubungkan
jalan, pelabuhan, dan kota, melainkan juga tentang menghubungkan pembangunan
dengan dampaknya. Infrastruktur harus dirancang dengan ketahanan iklim,
tanggung jawab lingkungan, sekaligus memberikan hasil yang inklusif, sejalan
dengan tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Menkeu.
Dalam merespon berbagai tantangan tersebut, Pemerintah
Indonesia telah menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari strategi pembiayaan
infrastruktur. Sejumlah instrumen yang telah dikembangkan antara lain kerangka
kerja ESG (Environmental, Social, and Governance) untuk pembiayaan
infrastruktur, Project Development Facility (PDF), Viability Gap Fund (VGF),
skema Availability Payment, jaminan pemerintah melalui Indonesia Infrastructure
Guarantee Fund (IIGF), dan platform SDG Indonesia One yang dikelola oleh PT
Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Platform SDG Indonesia One telah berhasil menghimpun komitmen
dari 38 mitra dengan total USD3,29 miliar, dan telah menyalurkan USD399 juta
untuk mendukung 111 proyek pengembangan dan 7 proyek pembiayaan. Dalam hal
pembiayaan publik, Indonesia juga menjadi salah satu negara berkembang pertama
yang menerbitkan Green Sukuk, baik secara domestik maupun global, dengan nilai
penerbitan global mencapai USD6,6 miliar dan penerbitan domestik mencapai
Rp78,7 triliun. Menkeu berharap seluruh kerangka dan instrumen yang telah
dibangun dapat memperkuat agenda pembangunan infrastruktur di bawah
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini akan menjadi perjalanan panjang. A long and winding
road, seperti lirik lagu. Tapi kita yakin akan mencapai tujuan Indonesia untuk
menjadi negara yang makmur, berkeadilan,” pungkasnya. (dep/al)