KOTAMOBAGU – Bolaang Mongondow merupakan salah satu kabupaten di bagian barat Sulawesi Utara yang menyimpan potensi besar sebagai lumbung padi dan jagung nasional. Dengan dataran aluvial yang luas serta dikelilingi oleh tanah vulkanik kaya hara dan retensi nutrisi tinggi, menjadikan Bolaang Mongondow sebagai salah satu produsen jagung utama di Pulau Sulawesi dengan capaian yang menembus hingga 500 ribu ton jagung pada periode 2021-2022 lalu, serta mampu menyokong sebagian besar kebutuhan pakan ternak regional di Sulawesi Utara.

Gambar 1 (kiri), Dana-dana, tari pergaulan tradisional khas suku Mongondow. Gambar 2 (kanan), ilustrasi jagung.
(Sumber: YouTube/Sinemaritim ID).
Namun di setiap potensi terdapat risiko yang mengintai. Kondisi geografis Bolaang Mongondow yang didominasi berupa cekungan lembah, banyaknya aliran sungai besar, serta dikelilingi perbukitan curam di hulu, menyebabkan daerah sentra penghasil jagung seperti Kecamatan Lolak kerap dilanda banjir bandang. Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow, luapan air yang masif kerap merendam pemukiman dan lahan tani di Lolak hampir setiap tahunnya. Terakhir, banjir besar pada 3 Februari 2023 akibat luapan hebat Sungai Lobu melumpuhkan jalur Trans-Sulawesi dan merendam ratusan rumah di Desa Mongkoinit, Baturapa, serta Dulangon dengan dampak kerugian ekonomi serta ancaman gagal panen bagi para petani lokal.

Gambar 3 (atas), peristiwa banjir bandang di ruas arteri Jalan Trans-Sulawesi di Bolangitang, Bolaang Mongondow Utara.
Gambar 4 (bawah), peta kerentanan bahaya kekeringan meteorologis di pantai utara Bolaang Mongondow.
Pesisir Bolaang Mongondow saat ini berada di risiko ringan hingga sedang terhadap bahaya kekeringan. (Sumber: Infopublik.id, InaRISK BNPB)
Selain ancaman banjir, data indeks bahaya BNPB di tahun 2023 secara paralel mencatat Kabupaten Bolaang Mongondow masuk ke dalam kategori risiko sedang hingga tinggi terhadap bencana kekeringan. Dampak krisis air ini mengancam secara merata di sepanjang pesisir hingga area pegunungan utara, dari wilayah pertanian di Lolak, Sangtombolang, hingga ke Poigar di sisi Timur, yang kerap memicu ketidakpastian frekuensi tanam akibat hilangnya pasokan cadangan air di musim kemarau panjang.

Gambar 5, Bendungan Lolak di Desa Pindol, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow.
Mengelola Air, Membawa Manfaat
Kehadiran infrastruktur pengelolaan air di Bumi Totabuan menjadi titik balik krisis ekologis yang kerap melanda Lolak. Jumat, 23 Februari 2024 silam, Presiden RI Ke-7, Joko Widodo meresmikan Bendungan Lolak sebagai jawaban persoalan hidrologi dan kebutuhan air di ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow tersebut. Menelan biaya hingga Rp2,05 Triliun bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Jokowi menitip pesan pentingnya orkestrasi sumber daya air agar dapat memberi manfaat untuk masyarakat.
Gambar 6, Presiden RI Ke-7, Ir. H. Joko Widodo (memegang alat tabuh) meresmikan Bendungan Lolak, Jumat (23/2/2024).
(Sumber: Sekretariat Kabinet RI)
Bendungan ini ditopang oleh kapasitas tampungan total yang sangat masif mencapai 16,23 juta meter kubik dengan bentang luas daerah genangan sebesar 101,75 hektar. Berada di dalam Wilayah Sungai (WS) Dumoga-Sangkub dengan Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 72,83 km², karakteristik fisik bendungan utama dirancang setinggi 58 meter guna membendung aliran fluvial lebih optimal. Tak hanya sebagai penampung cadangan air, bangunan pelimpah (spillway) tipe samping pada bendungan ini bertindak sebagai garda utama pengendalian banjir yang mampu mereduksi debit air bah hingga 29,42% atau setara dengan 155,03 m³/detik.
Gambar 7, Bangunan Pelimpah (spillway) di Bendungan Lolak.
Saat ditemui oleh Tim Humas Kanwil DJKN Suluttenggomalut pada Rabu (29/7), Kepala Pengelola Bendungan Lolak, Daniel R. Simalango, menjelaskan bahwa peran Bendungan Lolak sangat krusial bagi mitigasi bencana banjir. Sepanjang menjabat sebagai kepala, Daniel mengaku telah dua hingga tiga kali menyaksikan arus banjir dari pegunungan kawasan hulu Lolak tertahan dan diintervensi oleh sistem katup bendungan sebelum memasuki dataran rendah yang padat permukiman serta lahan pertanian.
Gambar 8, Kepala Pengelola Bendungan Lolak, Daniel R. Simalango (ketiga dari kiri) bersama Tim Humas Kanwil DJKN
Suluttenggomalut di Menara Pandang Bendungan Lolak, Rabu (29/7/2026).
Bumi Totabuan yang Mandiri dan Berkelanjutan
Lanjut Daniel, keunggulan Bendungan Lolak sebagai tulang punggung ketahanan pangan terletak pada kepastian suplai air irigasi. Bendungan Lolak mampu mengaliri lahan pertanian hingga 2.214 hektar, terbagi untuk Daerah Irigasi (D.I.) Lolak Atas seluas 1.306 hektar dan D.I. Lolak seluas 908 hektar, yang membebaskan para petani dari ketergantungan sistem tadah hujan tradisional. Data tersebut bukan kebetulan, produktivitas jagung tercatat meningkat seiring dengan keberadaan bendungan yang juga aset negara di Sulawesi Utara ini. Dengan lonjakan signifikan sebesar 15 hingga 20 persen produksi jagung per tahun serta stabilitas hasil panen padi di Bolaang Mongondow setelah pengisian awal air waduk, pasokan bagi industri pakan regional menjadi kian kokoh. Selain itu, kebutuhan air baku juga disalurkan dari Bendungan Lolak sebanyak 500 liter/detik untuk menyokong sistem penyediaan air minum bagi sekitar 40.000 keluarga di Kecamatan Lolak dan sekitarnya.

Gambar 9 (kiri), ilustrasi air bersih. Gambar 10 (kanan), ilustrasi Macaca nigra (Yaki Hitam Sulawesi) yang merupakan satwa
endemik Bolaang Mongondow.
Dilansir dari Global Forest Watch, Sulawesi Utara telah kehilangan sekitar 130 ribu hektare atau setara dengan penurunan
10 persen tutupan hutan sejak tahun 2001 akibat laju perubahan iklim.
Selain itu, upaya Kantor Pengelola Bendungan Lolak dalam meningkatkan fungsi aset bendungan sebagai sumber energi baru terbarukan masih terus dilakukan. Menurut Data Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Sulawesi Utara dalam Renewable Energy Forum 2026, energi fosil masih mendominasi bauran energi di Bumi Nyiur Melambai, dengan sekitar 68 persen pasokan listriknya masih bergantung pada sumber konvensional non-EBT, termasuk pembangkit batu bara seperti PLTU Amurang di Minahasa Selatan. Diperkirakan, terdapat potensi sebesar 2,43 Megawatt (MW) energi listrik dihasilkan dari putaran turbin generator Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) apabila seluruh instalasi mekanikal-elektrikal telah sukses terpasang penuh. Potensi energi baru terbarukan ini diharapkan mampu memperkuat keandalan sistem kelistrikan bagi sekitar 2.700 rumah kepala keluarga (KK) dengan energi berkelanjutan.
Perwakilan KPKNL Manado, Elen Vairus Sabrina, yang turut serta dalam rombongan Kanwil DJKN Suluttenggomalut, ikut menggarisbawahi pentingnya partisipasi aktif dan kepedulian masyarakat luas dalam menjaga kondisi fisik aset negara yang serbaguna tersebut.
"Kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa setiap rupiah APBN yang diwujudkan menjadi Barang Milik Negara (BMN) adalah milik kita bersama. Karena fasilitas inilah yang mampu memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan secara langsung bagi rakyat, salah satunya melalui Bendungan Lolak yang kini menjadi tulang punggung utama kemandirian air dan kedaulatan pangan." pungkasnya.