#NilaiKami: Jaga Gizi Tepat Sasaran di Pelosok Sulawesi
Zakie Muhammad
Senin, 27 April 2026 |
168 kali
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan instrumen pro-rakyat Asta Cita untuk memperkuat kualitas SDM melalui perlindungan gizi dini. Dengan target menekan prevalensi stunting dari 21,5% menjadi di bawah 14%, keberhasilan program ini diproyeksikan menghemat triliunan rupiah anggaran kesehatan dan meningkatkan produktivitas nasional.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagai jantung logistik dan dapur pusat, menghadapi tantangan berat berupa risiko ketidaksesuaian standar bangunan serta disparitas harga material. Di wilayah kepulauan dan pegunungan terpencil, biaya konstruksi melonjak 1,5 hingga 2 kali lipat dibanding wilayah perkotaan. Guna mencegah dominasi pemodal besar dan marginalisasi aktor kecil di daerah, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi terobosan strategis untuk menyerap potensi kelompok petani dan nelayan lokal, seperti sayur-mayur Modoinding, jagung dan kelapa Pulau Walea Besar, hingga sagu dan padi ladang pegunungan Ulubongka.
Peran Penilai Pemerintah sangat sentral dalam menjaga akuntabilitas nilai aset SPPG guna mencegah overvaluation dan merespons ketidakpastian geopolitik minyak dunia. Penilai dituntut tajam memetakan potensi ekonomi riil agar investasi infrastruktur sepadan dengan kebutuhan gizi ribuan siswa SD, mulai dari tepian Danau Moat hingga pelosok To Wana. Melalui penilaian transparan berbasis data, negara menjamin setiap rupiah investasi dikonversi menjadi nutrisi lengkap bagi anak sekolah dan ibu hamil.

Presiden Prabowo dalam Peresmian 1.072 SPPG dan 18 Gudang Ketahanan Pangan serta Groundbreaking 107 SPPG Polri
di SPPG Polri Palmerah, Jakarta Selatan, Jumat (13/2). (Sumber: BPMI Setpres/Cahyo)
Tantangan Gizi dan Ketahanan Ekonomi di Masa Depan
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk lebih dari 60 juta penerima manfaat pada awal tahun 2026. Dikutip dari laman resmi Presiden RI tanggal 13 Februari 2026, Presiden berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program ini hingga tahun 2029 demi memutus mata rantai malnutrisi yang sempat menyentuh angka 25% pada masa lalu. Dalam pidatonya, beliau menginstruksikan standardisasi ketat di setiap dapur umum untuk menjamin kualitas nutrisi tanpa kompromi.
Di daerah terpencil, terdepan, dan terluar (3T), Badan Gizi Nasional (BGN) berupaya keras memenuhi target. BGN menargetkan pembangunan hingga 8.200 unit SPPG khusus di daerah 3T pada tahun 2026 guna memastikan aksesibilitas pangan. Melansir Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan bulan November 2025, tantangan utama di wilayah geografis sulit adalah manajemen keamanan pangan dan keberlanjutan fiskal di tengah keterbatasan infrastruktur. Meski demikian, sebaran SPPG terpencil kini telah mencapai 969 titik di Sulawesi dan lebih dari 2.000 titik di Papua agar pelayanan gizi semakin dekat dan cepat.

Suasana SPPG Polda Papua, Jayapura dalam penyajian menu spesial Hari Ulang Tahun Presiden Prabowo ke-74, Jumat (14/10). (Sumber: Humas Polda Papua)
Dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada APBN 2026, SPPG diposisikan sebagai garda terdepan dalam efisiensi anggaran kesehatan nasional. Melalui fokus intervensi gizi pada 82,9 juta penerima di seluruh Indonesia, ketepatan sasaran dan akuntabilitas sangat diperlukan agar MBG mampu menekan prevalensi penyakit pencernaan serta infeksi yang sering menyertai kondisi stunting. Dengan standar biaya Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi, negara melakukan penghematan preventif terhadap biaya pengobatan penyakit kronis di masa depan, sekaligus memastikan tumbuh kembang kognitif anak-anak di pelosok Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah tetap optimal.







| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |