Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
FGD Q2 2022: Work From Anywhere (WFA), Sistem dan Budaya Kerja Baru Kemenkeu

FGD Q2 2022: Work From Anywhere (WFA), Sistem dan Budaya Kerja Baru Kemenkeu

Hanifah Muslimah
Rabu, 15 Juni 2022 |   1698 kali

Pada Jumat (10/6) dan Senin (13/6), para pejabat administrator di lingkungan Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Triwulan II Tahun 2022 yang mengangkat dua topik utama yaitu: Cara Kerja Normal Baru: Work From Anywhere (WFA) dan Sistem dan Budaya Kerja Normal Baru Kemenkeu. 

Cara Kerja Normal Baru: Work From Anywhere (WFA)

Mengenai sistem kerja baru, berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, perlu dilakukan uji coba penerapan WFA. Hasil tersebut kemudian perlu dievaluasi setiap tiga bulan dan selanjutnya diputuskan apakah sistem kerja tersebut layak dilanjutkan dan diperluas. Terdapat kemungkinan bahwa WFA akan aktif diberlakukan di Kementerian Keuangan, mengingat selama pelaksanaan Work From Home di masa pandemi covid-19, kinerja tetap terjaga. Selain itu terdapat lesson learned selama WFH yaitu: Akan tetapi, terdapat beberapa tantangan dalam pemberlakuan WFA antara lain adanya ketimpangan beban kerja, infrastruktur WFH yang belum merata serta isu security.

Penerapan WFA di Kementerian Keuangan sendiri memiliki beberapa tantangan antara lain:

1. Generasi (diperlukan Generasi melek teknologi, fleksibel, dan kolaboratif. Per 1 Juni 2022, terdapat 1 persen Baby Boomer, 29 persen Generasi X, 41 persen Generasi Y dan 29 persen Generasi Z).

2. Status Pemangku Jabatan Fungsional (per 1 Juni terdapat 19persen Pemangku JF dan 81persen Non-Pemangku JF).

3. Sebaran kantor vertikal Kemenkeu (1.035 Kantor Vertikal dan 30 Kantor UPT).

Untuk itu, diperlukan pedoman umum (kriteria) dengan pengaturan Teknis sesuai kebutuhan di Unit Eselon I/LNSW.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Keuangan mengusung Budaya Kerja Kolaboratif Sebagai Ruang Kerja Masa Depan (Digital Governance). Terdapat lima budaya kerja yaitu:

1. Flexible Working Arrangements  melalui Work From Anywhere dan Flexible Work Schedule.

 2. Super Application melalui single digital government platform, office automation (e-Kemenkeu) serta re-engineering Nadine.

3. Capacity Building, yaitu Digital competency bagi ASN serta Corporate University (BPPK/STAN).

4. Tata Kelola, melalui Rekayasa proses bisnis (IT-led reform), Penyederhanaan struktur (delayering) serta Squad Team, dan terakhir

5. Talent Management melalui Sistem Karier Terbuka (Internal Job Vacancy) dan Manajemen Talenta.

Kementerian Keuangan juga memiliki konsepsi Transformasi Proses Bisnis dan Organisasi dari sebelumnya ‘organisasi yang kaku’ dimana organisasi merupakan model hierarki yang bersifat top-down, birokratis, instruksi bersifat detil dan teknis serta adanya silo, menjadi organisasi agile dan produktif. Dalam konsep baru ini, model organisasi beralih menjadi fungsional dimana implementasi pola kerja berupa matriks/squad team (misal decicated team by project & Kolaborasi JF). Tim disusun untuk meraih output yang jelas dan akuntabel. Dengan demikian, alokasi sumber daya lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan. Selain itu, struktur dan birokrasi tidak lagi menjadi terlalu penting karena penekanan lebih kepada project, output dan outcome.

Adaptasi pola kerja Kemenkeu ini telah dimulai sejak tahun 2018. Untuk Tahun 2022, diterapkan implementasi cara kerja kolaboratif (squad team) dan penyempurnaan Superapps Kemenkeu (Office Automation). Implementasi FWS ini dapat merujuk pada KMK-223/2020. Salah satu hasil evaluasi FWS di tahun 2020-2021 menunjukkan bahwa rata-rata kinerja organisasi di atas 100. Hal ini menunjukkan bahwa FWS tidak berdampak negatif terhadap kinerja.

Budaya Kerja Normal Baru Kemenkeu

Sistem kerja pada pandemi covid-19 dituangkan pada surat edaran yang diterbitkan sepanjang tahun 2020 dan 2021. Sistem kerja ini dikembalikan ke tiap-tiap kantor melihat karakteristik daerah dan tren pandemi yang ada. Nilai Kemenkeu yang dinilai paling penting untuk diterapkan yaitu Integritas.

Tiga perilaku yang paling diperlukan untuk sistem kerja baru yaitu:

1. Fleksibel adaptif terhadap perubahan

2. Disiplin diri meski tanpa diawasi dan tanggung jawab

3. Mudah dihubungi/diajak berkomunikasi/berkoordinasi

Hasil survey Central Transfomation Office Kemenkeu, Sistem WFH dianggap lebih efektif daripada sistem kerja sebelumnya bagi 51.90 persen responden.

Terdapat tiga arahan presiden terkait WFA:

1. WFA merupakan gagasan yang bagus sehingga harus direncanakan dengan matang,

2. Penerapan WFA harus menjamin terjaga etos kerja dan produktifitas ASN,

3. Siapkan aplikasi/sistem/platform yang mendukung termasuk infrastruktur teknologi yang dibutuhkan.

Untuk menuju sistem kerja baru (WFA), berdasarkan fakta empiris dibutuhkan penguatan budaya Kemenkeu bagi pegawai. Walaupun banyak pegawai yang mendapatkan reward, terdapat pula pegawai yang mendapatkan punishment. Urgensi Penguatan Kemenkeu ini didasarkan pada data HRIS, rekapitulasi keputusan Hukuman disiplin, hasil kinerja pegawai melalui e-performance, Laporan Sistem Pengendalian Intern Itjen Kemenkeu, Survei Employee Engagement, Data Penilaian Perilaku, Survei Mindset dan Perilaku, Survei MOFIN (The Ministry of Finance Organizational Fitness) serta perilaku negatif pegawai. 

Kemudian, disampaikan pula success story Pembangunan Corporate Culture di BI, Astra dan Tesla. Yang jelas, Budaya Kemenkeu yaitu Kemenkeu SATU harus senantiasa dibangun. SATU terdiri dari Sinergi, Adaptif, ber-Teknologi dan Unggul. Terbentuknya budaya ini dimulai dengan membuat kebiasaan yang sama oleh sekelompok orang dalam suatu organisasi, dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi kebiasaan, diwujudkan menjadi tindakan dan perbuatan, menjadi pikiran terhadap seseorang atau sesuatu hingga diyakini dalam jangka panjang sehingga dapat menentukan arah bersikap seseorang (values).

Sebagai milestone jangka pendek, quick wins pada tahun 2022 ditandai dengan:

1.     SE Sikap Dasar dan Kebiasaan Efektif

2.     Terlaksananya PJJ bagi Duta Transformasi

3.     Terlaksananya Program Bulan Ber-AKHLAK

4.     Terlaksananya Program Habituasi Budaya

5.     Terlaksananya Penguatan Lini Pertama dari Three-Lines of Defense (pelatihan integritas bagi Es. IV/III)

6.     Terlaksananya Pemilihan values champion Duta Transformasi dengan penerapan budaya terbaik

7.     Terlaksananya Reformasi Sistem Penghargaan

8.     Terlaksananya Monev Pengukuran Tingkat Kematangan Budaya SE Sikap Dasar dan Kebiasaan Efektif

Diharapkan di tahun 2024, Budaya Kemenkeu menjadi Role Model bagi instansi lainnya.

 

(Ellen Maharani/ Hanifah Muslimah)

Foto Terkait Berita

Floating Icon