Webinar: Bermain Komposisi Bersama Steven Sioe
Hanifah Muslimah
Kamis, 20 Januari 2022 |
387 kali
Pada Rabu (19/01), Kanwil DJKN
Lampung dan Bengkulu melaksanakan webinar fotografi dengan mengundang fotografer
berkelas internasional yaitu Steven Sioe. Pelaksanaan webinar ini disambut
antusias. Pasalnya, peserta webinar mencapai 800 orang yang terbagi 500 orang mengikuti
via Ruang Zoom dan sisanya via live streaming kanal Youtube. Peserta berasal
dari internal Kementerian Keuangan maupun eksternal dari seluruh Indonesia. Partisipasi
peserta dapat dibilang sangat aktif baik secara langsung maupun melalui zoom
chat. Dalam kesempatan ini, Royyani Jazuli dari KPKNL Bandar Lampung membawakan
acara dengan apik.
Mengapa Webinar Fotografi di
Awal Tahun?
Sambutan tuan rumah disampaikan
oleh Kepala Kantor Wilayah DJKN Lampung dan Bengkulu Arik Hariyono. Setelah memulai
salam dengan ucapan “Tabik Puun!” yang merupakan salam khas Lampung, Arik menyampaikan
hikmah dari ujian pandemi, dimana salah satunya adalah kita dapat memperoleh
pengetahuan dimanapun dan kapanpun, salah satunya webinar fotografi kali ini.
Awal tahun merupakan momen yang
tepat untuk meningkatkan kompetensi, khususnya mengenai kehumasan dalam
menjalankan komunikasi publik serta penguatan konsep collaborative action
menuju Kemenkeu Satu. Pembicara yang dihadirkan yaitu Steven Sioe pun dipilih
karena selain ilmu dan pengalamannya yang luar biasa, hidupnya diwarnai
berbagai kisah perjuangan yang dapat dijadikan motivasi bagi para peserta.
Kehumasan Merupakan Cerminan
Institusi
Direktur Hukum dan Hubungan Masyarakat
DJKN, Tri Wahyuningsih Retno Mulyani dalam
kesempatan ini mengungkapkan pentingnya
peningkatan kapasitas sumber daya manusia khususnya di bidang kehumasan. Hal
tersebut dikarenakan kehumasan dan karya-karyanya merupakan cerminan institusi.
Seseorang yang memiliki pengetahuan akan fotografi akan menghasilkan
dokumentasi-dokumentasi yang lebih berkualitas.
Kualitas dari sebuah
foto/dokumentasi terlihat dari bagaimana foto/dokumentasi dapat bercerita atau
bagaimana foto/dokumentasi tersebut memiliki rasa. Kualitas ini yang diharapkan
dapat pelan-pelan ditingkatkan, salah satunya melaui webinar fotografi Steven Sioe
ini.
Direktur yang disapa Ibu Ani ini
juga menyoroti tim kehumasan yang kerapkali menghasilkan dokumentasi yang lebih
berkualitas sebagai postingan pribadi ketimbang organisasi. Beliau pun
memberikan pertanyaan tentang tools fotografi yang paling tepat untuk
organisasi pemerintah dalam rangka menghasilkan dokumentasi yang lebih apik.
Knowledge Sharing Sesi Utama
Saat masuk ke inti acara, kegiatan
dipandu oleh Suryo Hartono, Kepala Seksi Informasi Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
yang juga merupakan pegiat fotografi.
Sebelum memberikan
knowledge sharing, Steven
Sioe atau yang biasa
dikenal dengan Om
Steve langsung menjawab
pertanyaan dari Direktur Hukum dan Hubungan Masyarakat DJKN
mengenai alat fotografi yang paling tepat untuk organisasi pemerintah. Om Steve
menyatakan bahwa seluruh peralatan yang dimiliki departemen (pemerintahan)
sudah sangat cukup dari sisi teknologi dan hal tersebut bukan hal yang krusial
menjadi hambatan dalam menghasilkan karya. Dicontohkan oleh beliau, dalam
perjalanan hunting ke hongkong berbekal hanya satu lensa fish-eye,
karya-karya yang dihasilkan pun baik. Kita tidak perlu menjadikan peralatan
sebagai suatu hambatan. Yang perlu terus diperbaiki adalah teknik memotret
seperti bagaimana mengatur lampu, background dan komposisi. Hal tersebut akan
kita sharing bersama dalam kesempatan ini.
Steven Sioe: Tidak Ada Yang
Tidak Mungkin
Om Steve mengawali kisahnya
dengan menyampaikan bahwa kita perlu punya mimpi walaupun kita tidak memiliki
apapun lainnya. Beliau mengisahkan kehidupan masa kecilnya yang jauh dari
kemapanan sebagai seorang anak bungsu dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga
sederhana dengan orangtua berprofesi sebagai guru dengan gaji minim. Sejak kecil,
melihat orangtua begitu sulit mencari nafkah, jarang sekali meminta sesuatu
kepada orangtua. Namun, Steve muda selalu memiliki keinginan ke luar negeri,
diam-diam ia menggunting foto luar negeri tulisan dokter Tanzil dan isrinya di Majalah
Intisari.
Pada suatu hari, tak disangka, ia
berkesempatan mengenyam kuliah di Brooks Institute, sekolah fotografi terbaik
di Amerika Serikat. Kuliah fotografi di Brooks Institute tidak mudah, Semester
I di tahun pertama ada 96 mahasiswa, tetapi yang lulus hanya kurang dari 25
orang. Steven merupakan satu-satunya orang Asia di waktu kelulusan.
Karena bukan berasal dari
keluarga mapan, untuk berkuliah, Steve bekerja sampingan menjadi loper koran bahkan
membersihkan toilet (janitor). “Saya kepingin generasi muda lebih maju
lagi. Kalau kita nggak punya apa-apa, Tuhan mau kita lebih rajin, lebih ulet,
lebih sabar. Bukan mengeluh,” pesan Om Steve.
Steven Sioe: Empat Unsur
Fotografi
Fotografi memiliki banyak aliran.
Namun Om Steve mempercayai dua unsur yang penting yang mempengaruhi kualitas
yaitu imajinasi fotografer dan cahaya. Bagaimana seorang
fotografer mempunyai ide
dan bagaimana melakukannya. Empat unsur yang perlu diperhatikan
yaitu:
a. Idea/input –
inspirasi dapat diperoleh
dari membaca buku,
mengunjungi museum, melihat sosial media atau menonton youtube hingga
mendengarkan musik. Dengan ide yang baik pasti foto yang dihasilkan juga baik (good
input, good output).
b. Creative – menjadi kreatif dilatih dalam waktu yang lama. Kreativitas dapat diperoleh dengan:
1) memperhatikan hal-hal yang
sederhana (simple) seperti sebuah sendok dengan lighting yang
berbeda;
2) berpikiran
terbuka (open mind)
seperti ketika mengunjungi
sebuah bangunan terbengkalai namun bersih di hongkong;
3) berpikiran positif (positive mind);
4) berpikiran bahwa semua hal
menarik (all things are interesting) misalnya memotret obyek plafon
dengan mengarahkan kamera ke atas.
Pada akhirnya, They can
imitate your style but they can’t imitate your creativity.
c. Plan – dalam membuat perencanaan,
seorang fotografer harus berpikir fleksibel.
d. Lighting -
memotret itu melatih
kesabaran kita, jika
kita menggunakan pencahayaan
matahari, dengan waktu yang berbeda, hasil yang kita dapatkan juga berbeda.
Dalam kesempatan ini pula, Om Steve memperlihatkan hasil-hasil karyanya, serta bagaimana teknik pencahayaan dapat membawa dimensi yang berbeda dan meningkatkan kualitas foto.
Sesi Ngobrol Bersama Erik
Susanto
Setelah sesi utama bersama Steven
Sioe, fotografi dikupas dari sisi internal yaitu dari Erik Susanto yang
merupakan pegiat Komunitas Fotografi DJKN.
Menurut Erik, Fotografi
berhubungan dengan “Apa yang kita lihat, Apa yang kita rasa”. Beliau mengakui
bahwa dalam memotret, dia tidak mendalami teknik. Dalam diskusi tersebut,
beliau mengungkapkan alternatif ide dalam memotret:
a. Alat foto, apa yang cocok bagi kita,
jika ingin memilih merk boleh sama dengan komunitas terdekat agar dapat belajar
bersama, lensa mana yang cocok? Atau mungkin cukup menggunakan handphone.
b. Flaneur (bahasa perancis), sebagai
sumber inspirasi dalam memotret.
Istilah ini berarti menyediakan
waktu luang dengan berjalan tanpa tujuan dalam rangka merelaksasi pikiran dan
menangkap hal-hal menarik untuk menciptakan sebuah karya.
c. Banal, terinspirasi dari
street-photographer sesuatu yang sangat biasa/hal-hal sehari-hari di sekeliling
kita.
d. Dimana
kita berdiri, berdiri
mencari angle. Berdiri
dalam artian prinsip/cara
bertutur lewat foto. Pengalaman hidup mempengaruhi persepsi kita menilai
realitas dalam mengambil foto.
e. Post processing, penerjemahan
proses atau cerita tadi misalnya cropping, make-it-black-and-white,
meluruskan foto dari lensa fish-eye.
Yang perlu diperhatikan adalah
setiap momen tidak akan berulang. Simple pun dapat bermakna. Eksplorasi
elemen-elemen sekitar yang bisa dimanfaatkan, momen unik keseharian, atau ciri
khas dari suatu daerah. Budaya Indonesia sangat kaya untuk dieskplorasi. Kemampuan
memotret ini harus terus dilatih bersama mentor yang tepat. Yang jelas, kita
tidak boleh takut/malu untuk explore atau untuk memulai.
Sesi Diskusi
Ada salah satu diskusi yang
menarik mengenai bagaimana cara memotret orang. Om Steve menjelaskan beberapa
pengalaman dalam memotret orang. Mengingat tipe orang berbeda-beda, ada yang
ramah dan terbuka. Namun biasanya untuk Dewan Direksi (Board of Director),
sulit untuk tersenyum karena pembawaan yang kaku dan serius. Jadi, jangan Anda
minta untuk tersenyum.
Sebuah pengalaman menarik, ada
seorang Direktur yang hanya menyediakan waktu beberapa menit untuk difoto
mengingat kesibukan dan lainnya. Padahal, bagi seorang fotografer, butuh minimal
30 menit untuk setting lighting. Biasanya sambil setting, Om
Steve akan mengobrol untuk mengkrabkan diri. Obrolan dapat apa saja, berkisar
dari hobi hingga achievement yang dapat membuat mereka membuka diri dan
relaks sehingga dapat tercipta hasil foto yang memuaskan.
Pada akhirnya, setiap
orang mampu menghasilkan foto yang berkualitas jika ada kemauan untuk selalu
mengasah kemampuan. Foto yang berkualitas tersebut tidak hanya berfungsi
sebagai dokumentasi tetapi dapat digunakan pula sebagai media komunikasi
organisasi.
Webinar bertajuk “Bermain
Komposisi Bersama Steven Sioe” ini masih dapat disaksikan melalui kanal Youtube
Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu pada alamat ini.
(Ellen Maharani)
Foto Terkait Berita