Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
Webinar: Bermain Komposisi Bersama Steven Sioe

Webinar: Bermain Komposisi Bersama Steven Sioe

Hanifah Muslimah
Kamis, 20 Januari 2022 |   387 kali

Pada Rabu (19/01), Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu melaksanakan webinar fotografi dengan mengundang fotografer berkelas internasional yaitu Steven Sioe. Pelaksanaan webinar ini disambut antusias. Pasalnya, peserta webinar mencapai 800 orang yang terbagi 500 orang mengikuti via Ruang Zoom dan sisanya via live streaming kanal Youtube. Peserta berasal dari internal Kementerian Keuangan maupun eksternal dari seluruh Indonesia. Partisipasi peserta dapat dibilang sangat aktif baik secara langsung maupun melalui zoom chat. Dalam kesempatan ini, Royyani Jazuli dari KPKNL Bandar Lampung membawakan acara dengan apik.

Mengapa Webinar Fotografi di Awal Tahun?

Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah DJKN Lampung dan Bengkulu Arik Hariyono. Setelah memulai salam dengan ucapan “Tabik Puun!” yang merupakan salam khas Lampung, Arik menyampaikan hikmah dari ujian pandemi, dimana salah satunya adalah kita dapat memperoleh pengetahuan dimanapun dan kapanpun, salah satunya webinar fotografi kali ini.

Awal tahun merupakan momen yang tepat untuk meningkatkan kompetensi, khususnya mengenai kehumasan dalam menjalankan komunikasi publik serta penguatan konsep collaborative action menuju Kemenkeu Satu. Pembicara yang dihadirkan yaitu Steven Sioe pun dipilih karena selain ilmu dan pengalamannya yang luar biasa, hidupnya diwarnai berbagai kisah perjuangan yang dapat dijadikan motivasi bagi para peserta.

Kehumasan Merupakan Cerminan Institusi

Direktur Hukum dan Hubungan Masyarakat DJKN, Tri Wahyuningsih Retno  Mulyani dalam kesempatan ini mengungkapkan  pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia khususnya di bidang kehumasan. Hal tersebut dikarenakan kehumasan dan karya-karyanya merupakan cerminan institusi. Seseorang yang memiliki pengetahuan akan fotografi akan menghasilkan dokumentasi-dokumentasi yang lebih berkualitas.

Kualitas dari sebuah foto/dokumentasi terlihat dari bagaimana foto/dokumentasi dapat bercerita atau bagaimana foto/dokumentasi tersebut memiliki rasa. Kualitas ini yang diharapkan dapat pelan-pelan ditingkatkan, salah satunya melaui webinar fotografi Steven Sioe ini.

Direktur yang disapa Ibu Ani ini juga menyoroti tim kehumasan yang kerapkali menghasilkan dokumentasi yang lebih berkualitas sebagai postingan pribadi ketimbang organisasi. Beliau pun memberikan pertanyaan tentang tools fotografi yang paling tepat untuk organisasi pemerintah dalam rangka menghasilkan dokumentasi yang lebih apik.

Knowledge Sharing Sesi Utama

Saat masuk ke inti acara, kegiatan dipandu oleh Suryo Hartono, Kepala Seksi Informasi Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu yang juga merupakan pegiat fotografi.

Sebelum  memberikan  knowledge  sharing,  Steven  Sioe  atau  yang biasa  dikenal  dengan  Om  Steve  langsung  menjawab  pertanyaan  dari  Direktur Hukum dan Hubungan Masyarakat DJKN mengenai alat fotografi yang paling tepat untuk organisasi pemerintah. Om Steve menyatakan bahwa seluruh peralatan yang dimiliki departemen (pemerintahan) sudah sangat cukup dari sisi teknologi dan hal tersebut bukan hal yang krusial menjadi hambatan dalam menghasilkan karya. Dicontohkan oleh beliau, dalam perjalanan hunting ke hongkong berbekal hanya satu lensa fish-eye, karya-karya yang dihasilkan pun baik. Kita tidak perlu menjadikan peralatan sebagai suatu hambatan. Yang perlu terus diperbaiki adalah teknik memotret seperti bagaimana mengatur lampu, background dan komposisi. Hal tersebut akan kita sharing bersama dalam kesempatan ini.

Steven Sioe: Tidak Ada Yang Tidak Mungkin

Om Steve mengawali kisahnya dengan menyampaikan bahwa kita perlu punya mimpi walaupun kita tidak memiliki apapun lainnya. Beliau mengisahkan kehidupan masa kecilnya yang jauh dari kemapanan sebagai seorang anak bungsu dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana dengan orangtua berprofesi sebagai guru dengan gaji minim. Sejak kecil, melihat orangtua begitu sulit mencari nafkah, jarang sekali meminta sesuatu kepada orangtua. Namun, Steve muda selalu memiliki keinginan ke luar negeri, diam-diam ia menggunting foto luar negeri tulisan dokter Tanzil dan isrinya di Majalah Intisari.

Pada suatu hari, tak disangka, ia berkesempatan mengenyam kuliah di Brooks Institute, sekolah fotografi terbaik di Amerika Serikat. Kuliah fotografi di Brooks Institute tidak mudah, Semester I di tahun pertama ada 96 mahasiswa, tetapi yang lulus hanya kurang dari 25 orang. Steven merupakan satu-satunya orang Asia di waktu kelulusan.

Karena bukan berasal dari keluarga mapan, untuk berkuliah, Steve bekerja sampingan menjadi loper koran bahkan membersihkan toilet (janitor). “Saya kepingin generasi muda lebih maju lagi. Kalau kita nggak punya apa-apa, Tuhan mau kita lebih rajin, lebih ulet, lebih sabar. Bukan mengeluh,” pesan Om Steve.

Steven Sioe: Empat Unsur Fotografi

Fotografi memiliki banyak aliran. Namun Om Steve mempercayai dua unsur yang penting yang mempengaruhi kualitas yaitu imajinasi fotografer dan cahaya. Bagaimana  seorang  fotografer  mempunyai  ide  dan  bagaimana  melakukannya. Empat unsur yang perlu diperhatikan yaitu:

a.  Idea/input  –  inspirasi  dapat  diperoleh  dari  membaca  buku,  mengunjungi museum, melihat sosial media atau menonton youtube hingga mendengarkan musik. Dengan ide yang baik pasti foto yang dihasilkan juga baik (good input, good output).

b.  Creative – menjadi kreatif  dilatih dalam waktu yang  lama. Kreativitas  dapat diperoleh dengan:

1) memperhatikan hal-hal yang sederhana (simple) seperti sebuah sendok dengan lighting yang berbeda;

2)  berpikiran   terbuka   (open   mind)   seperti   ketika   mengunjungi   sebuah bangunan terbengkalai namun bersih di hongkong;

3)  berpikiran positif (positive mind);

4) berpikiran bahwa semua hal menarik (all things are interesting) misalnya memotret obyek plafon dengan mengarahkan kamera ke atas.

Pada akhirnya, They can imitate your style but they can’t imitate your creativity.

c.   Plan – dalam membuat perencanaan, seorang fotografer harus berpikir fleksibel.

d.  Lighting  -  memotret  itu  melatih  kesabaran  kita,  jika  kita  menggunakan pencahayaan matahari, dengan waktu yang berbeda, hasil yang kita dapatkan juga berbeda.

Dalam kesempatan ini pula, Om Steve memperlihatkan hasil-hasil karyanya, serta bagaimana teknik pencahayaan dapat membawa dimensi yang berbeda dan meningkatkan kualitas foto.

Sesi Ngobrol Bersama Erik Susanto

Setelah sesi utama bersama Steven Sioe, fotografi dikupas dari sisi internal yaitu dari Erik Susanto yang merupakan pegiat Komunitas Fotografi DJKN.

Menurut Erik, Fotografi berhubungan dengan “Apa yang kita lihat, Apa yang kita rasa”. Beliau mengakui bahwa dalam memotret, dia tidak mendalami teknik. Dalam diskusi tersebut, beliau mengungkapkan alternatif ide dalam memotret:

a.  Alat foto, apa yang cocok bagi kita, jika ingin memilih merk boleh sama dengan komunitas terdekat agar dapat belajar bersama, lensa mana yang cocok? Atau mungkin cukup menggunakan handphone.

b.  Flaneur (bahasa perancis), sebagai sumber inspirasi dalam memotret.

Istilah ini berarti menyediakan waktu luang dengan berjalan tanpa tujuan dalam rangka merelaksasi pikiran dan menangkap hal-hal menarik untuk menciptakan sebuah karya.

c.  Banal, terinspirasi dari street-photographer sesuatu yang sangat biasa/hal-hal sehari-hari di sekeliling kita.

d.  Dimana   kita   berdiri,   berdiri   mencari   angle.   Berdiri   dalam   artian prinsip/cara bertutur lewat foto. Pengalaman hidup mempengaruhi persepsi kita menilai realitas dalam mengambil foto.

e.  Post processing, penerjemahan proses atau cerita tadi misalnya cropping, make-it-black-and-white, meluruskan foto dari lensa fish-eye.

Yang perlu diperhatikan adalah setiap momen tidak akan berulang. Simple pun dapat bermakna. Eksplorasi elemen-elemen sekitar yang bisa dimanfaatkan, momen unik keseharian, atau ciri khas dari suatu daerah. Budaya Indonesia sangat kaya untuk dieskplorasi. Kemampuan memotret ini harus terus dilatih bersama mentor yang tepat. Yang jelas, kita tidak boleh takut/malu untuk explore atau untuk memulai.

Sesi Diskusi

Ada salah satu diskusi yang menarik mengenai bagaimana cara memotret orang. Om Steve menjelaskan beberapa pengalaman dalam memotret orang. Mengingat tipe orang berbeda-beda, ada yang ramah dan terbuka. Namun biasanya untuk Dewan Direksi (Board of Director), sulit untuk tersenyum karena pembawaan yang kaku dan serius. Jadi, jangan Anda minta untuk tersenyum.

Sebuah pengalaman menarik, ada seorang Direktur yang hanya menyediakan waktu beberapa menit untuk difoto mengingat kesibukan dan lainnya. Padahal, bagi seorang fotografer, butuh minimal 30 menit untuk setting lighting. Biasanya sambil setting, Om Steve akan mengobrol untuk mengkrabkan diri. Obrolan dapat apa saja, berkisar dari hobi hingga achievement yang dapat membuat mereka membuka diri dan relaks sehingga dapat tercipta hasil foto yang memuaskan.

Pada akhirnya, setiap orang mampu menghasilkan foto yang berkualitas jika ada kemauan untuk selalu mengasah kemampuan. Foto yang berkualitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi tetapi dapat digunakan pula sebagai media komunikasi organisasi.

Webinar bertajuk “Bermain Komposisi Bersama Steven Sioe” ini masih dapat disaksikan melalui kanal Youtube Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu pada alamat ini.

(Ellen Maharani)

Foto Terkait Berita

Floating Icon