HUTANG: Antara Kebutuhan, Gengsi, dan Kesehatan Mental
Taufiqurrahman
Selasa, 03 Maret 2026 |
481 kali
Memahami psikologi di balik perilaku
berhutang
Pernah gak sih kamu merasa bingung sama
diri sendiri? Tahu kalau hutang adalah beban, tapi tetap aja gatal mau beli
barang yang sebenarnya gak urgent? Atau mungkin kamu punya teman yang
keliatannya hidup mewah, tapi ternyata boncos di mana-mana?
Fenomena ini bukan cuma soal "uang
habis", tapi juga tentang cara otak dan perasaan kita bekerja. Yuk, kita
bedah sisi psikologis orang yang berhutang. Bukan buat menghakimi, tapi biar
kita lebih paham diri sendiri dan orang lain!
MENGAPA
ORANG BERHUTANG? INI 4 TIPE UTAMANYA
Sebuah studi dari Universitas Indonesia
mengungkap bahwa perilaku berhutang tidak lagi semata-mata karena kondisi kekurangan,
tetapi dipengaruhi oleh gaya hidup, kepribadian, dan sistem nilai yang dianut
seseorang . Berdasarkan penelitian tersebut, kita bisa mengenali 4 tipe orang
berhutang:
1.
Tipe
Terpaksa (Survival Mode)
“Yang penting perut kenyang dulu, urusan
nanti belakangan”
Mereka berhutang untuk
kebutuhan dasar: makan, biaya berobat, atau uang sekolah anak. Bukan karena
gaya hidup, tapi karena keadaan mendesak. Sosiolog Nia Elvia menyebut bahwa
fenomena ini erat kaitannya dengan faktor ekonomi dan tingginya angka
kemiskinan yang mendorong masyarakat mencari dana cepat . Biasanya diiringi
rasa malu dan tekanan batin berat.
2.
Tipe
Gengsi (Konsumtif)
“Teman-teman pada liburan ke Korea, masa
aku cuma di rumah?”
Ini dia yang paling rentan
jebol dompetnya. Didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out) dan tekanan sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumen yang berhutang lebih mencerminkan
ciri-ciri kepribadian ekstrovert yang bersifat impulsive/spontan tanpa berpikir
panjang terlebih dahulu, menuruti kata hati, dan fleksibel . HP terbaru? Beli.
Kafe hits? Datang. Yang dikejar adalah dopamine rush /kepuasan sesaat
yang bikin ketagihan.
3.
Tipe
Investor (Produktif)
“Hutang buat modal usaha, insyaallah
balik modal..."
Mereka hitung-hitungan dulu
sebelum ambil hutang. Risiko diperhitungkan, tujuan jelas (modal usaha, beli
rumah, atau aset produktif). Biasanya lebih tenang karena hutang dilihat
sebagai alat, bukan beban.
4.
Tipe
Kecanduan (Addictive Spender)
“Gaji sudah habis? Ya udah, pinjam
lagi..."
Ini level yang lebih serius.
Tidak semua kebiasaan berutang disebut kecanduan. Seseorang disebut kecanduan
utang jika ia berutang untuk menopang hidupnya tanpa ada rencana pasti untuk
keluar dari utang tersebut . Mirip kecanduan judi atau belanja. Siklusnya: beli
→ senang → sadar → stres → beli lagi buat ngilangin stres. Lingkaran setan!
3
KESALAHAN BERFIKIR SEHINGGA HUTANG MENUMPUK
Dalam dunia behavioral finance,
para ahli menemukan beberapa bug/cacat dalam cara berpikir kita yang bikin
hutang susah dihindari :
1.
Prasangka
Masa Kini (Present Bias)
Otak kita memang didesain
buat mementingkan kesenangan saat ini daripada konsekuensi masa depan. Makanya
kita mikir, "Bayar bulan depan aja deh, yang penting dapet dulu
sekarang!"
2.
Mental
Accounting
Kita suka “mengkotak-kotakkan"
uang secara tidak logis. Contoh: punya uang tunai buat bayar hutang, tapi milih
bayar nanti karena uang di tabungan dianggap "khusus" . Padahal uang
ya uang, fungsinya sama aja!
3.
Optimisme
Tidak Realistis
Psikolog Raymond Tambunan
menjelaskan bahwa salah satu faktor orang terjebak utang adalah persepsi terhadap
risiko yang rendah "Ah, nanti juga ada jalan untuk lunasin" serta
minimnya kemampuan membuat perencanaan jangka menengah dan panjang . Kita
selalu mikir bulan depan pendapatan bakal naik.
Fenomena
"Lebih Galak Yang Ditagih": Penjelasan Neurosains
Pernah mengalami atau melihat orang yang
berutang justru lebih galak saat ditagih? Ternyata ini ada penjelasan medisnya!
Psikiater dr. Riati Sri Hartini, SpKj,
MSc, mengungkapkan bahwa respons agresif tersebut berkaitan erat dengan stres finansial
dan ancaman terhadap harga diri . Secara neurosains, tekanan saat ditagih utang
memicu reaksi di otak yang melumpuhkan logika .
·
Amigdala (pusat deteksi ancaman) menjadi sangat
aktif.
·
Prefrontal
cortex (pusat penilaian
rasional) justru melemah.
Akibatnya, otak masuk ke mode fight
or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif,
bukan reflektif . Ini bukan gangguan jiwa, melainkan respons stres akut yang
wajar. Tubuh dan pikiran sedang dalam kondisi tertekan, dan ketika ditagih,
perasaan malu, takut, dan terpojok muncul bersamaan .
Tips
Biar Terhindar Dari Jeratan Psikologis Hutang
Para ahli merekomendasikan beberapa
strategi untuk membangun pertahanan mental dan finansial :
1.
Tunda
dulu 24 jam sebelum mutusin beli barang mahal dengan cara kredit/cicil. Hambatan kecil ini seringkali cukup
untuk mengalahkan impulsif FOMO .
2.
Catat
semua pemasukan dan pengeluaran,
Tidak ada yang bisa diubah jika tidak bisa diukur . Lacak berapa persen pendapatan yang
digunakan untuk kebutuhan *vs* keinginan.
3.
Punya
dana darurat, Alokasikan minimal 10-20% pendapatan secara
otomatis segera setelah gajian. Ini adalah benteng yang mencegah Anda beralih
ke pinjaman online saat terjadi krisis .
4.
Kelola
tekanan sosial.
Kembangkan filter internal terhadap konten media sosial. Unfollow akun-akun
yang memicu FOMO dan gaya hidup tidak realistis .
5.
Bedakan
kebutuhan dan keinginan.
Semakin kita mengurangi keinginan tidak penting dan fokus pada kebutuhan, akan
semakin jauh dari kebiasaan berutang .
Pada akhirnya, memahami psikologi di
balik perilaku berhutang bukan berarti membenarkan atau menghakimi. Justru
dengan kesadaran ini, kita bisa lebih bijak mengelola keuangan dan lebih empati
pada mereka yang sedang berjuang keluar dari jerat utang. Karena sejatinya,
masalah hutang tidak selalu tentang angka di buku tabungan, tapi juga tentang
luka, gengsi, dan pergulatan batin yang tak terlihat.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Prasadjaningsih,
M. C. O., & Brotoharsojo, H. (1998). *Pengaruh gaya hidup, nilai,
kepribadian, sikap terhadap pilihan perilaku berhutang: Sebuah kajian lapangan*
[Tesis]. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
2.
Marzella,
A. (2024, September 13). Dari Dompet ke Pikiran: Hubungan Kompleks antara
Keuangan dan Kesehatan Mental. *DJKN Kementerian Keuangan*.
3.
Annisa,
B. (2025, Desember 11). Hidup YOLO, Gen Z Terlilit Utang Pinjol: Minim Literasi
atau FOMO? *Dupoin*.
4.
Richardson,
T. (2023, Juli 27). Kesehatan Mental Bisa Terganggu! Begini Tips agar Tak
Terjebak Manis di Awal dari Berutang. *Good Doctor*.
Hartini, R. S. (2026, Februari 5). Mengapa Orang Jadi Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Medisnya. *Media Indonesia*.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel