Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
HUTANG: Antara Kebutuhan, Gengsi, dan Kesehatan Mental

HUTANG: Antara Kebutuhan, Gengsi, dan Kesehatan Mental

Taufiqurrahman
Selasa, 03 Maret 2026 |   481 kali

Memahami psikologi di balik perilaku berhutang

 

Pernah gak sih kamu merasa bingung sama diri sendiri? Tahu kalau hutang adalah beban, tapi tetap aja gatal mau beli barang yang sebenarnya gak urgent? Atau mungkin kamu punya teman yang keliatannya hidup mewah, tapi ternyata boncos di mana-mana?

Fenomena ini bukan cuma soal "uang habis", tapi juga tentang cara otak dan perasaan kita bekerja. Yuk, kita bedah sisi psikologis orang yang berhutang. Bukan buat menghakimi, tapi biar kita lebih paham diri sendiri dan orang lain!

 

MENGAPA ORANG BERHUTANG? INI 4 TIPE UTAMANYA

Sebuah studi dari Universitas Indonesia mengungkap bahwa perilaku berhutang tidak lagi semata-mata karena kondisi kekurangan, tetapi dipengaruhi oleh gaya hidup, kepribadian, dan sistem nilai yang dianut seseorang . Berdasarkan penelitian tersebut, kita bisa mengenali 4 tipe orang berhutang:

1.     Tipe Terpaksa (Survival Mode)

“Yang penting perut kenyang dulu, urusan nanti belakangan”

Mereka berhutang untuk kebutuhan dasar: makan, biaya berobat, atau uang sekolah anak. Bukan karena gaya hidup, tapi karena keadaan mendesak. Sosiolog Nia Elvia menyebut bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan faktor ekonomi dan tingginya angka kemiskinan yang mendorong masyarakat mencari dana cepat . Biasanya diiringi rasa malu dan tekanan batin berat.

2.     Tipe Gengsi (Konsumtif)

“Teman-teman pada liburan ke Korea, masa aku cuma di rumah?”

Ini dia yang paling rentan jebol dompetnya. Didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out) dan tekanan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa konsumen yang berhutang lebih mencerminkan ciri-ciri kepribadian ekstrovert yang bersifat impulsive/spontan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, menuruti kata hati, dan fleksibel . HP terbaru? Beli. Kafe hits? Datang. Yang dikejar adalah dopamine rush /kepuasan sesaat yang bikin ketagihan.

3.     Tipe Investor (Produktif)

“Hutang buat modal usaha, insyaallah balik modal..."

Mereka hitung-hitungan dulu sebelum ambil hutang. Risiko diperhitungkan, tujuan jelas (modal usaha, beli rumah, atau aset produktif). Biasanya lebih tenang karena hutang dilihat sebagai alat, bukan beban.

4.     Tipe Kecanduan (Addictive Spender)

“Gaji sudah habis? Ya udah, pinjam lagi..."

Ini level yang lebih serius. Tidak semua kebiasaan berutang disebut kecanduan. Seseorang disebut kecanduan utang jika ia berutang untuk menopang hidupnya tanpa ada rencana pasti untuk keluar dari utang tersebut . Mirip kecanduan judi atau belanja. Siklusnya: beli → senang → sadar → stres → beli lagi buat ngilangin stres. Lingkaran setan!

 

3 KESALAHAN BERFIKIR SEHINGGA HUTANG MENUMPUK

Dalam dunia behavioral finance, para ahli menemukan beberapa bug/cacat dalam cara berpikir kita yang bikin hutang susah dihindari :

1.     Prasangka Masa Kini (Present Bias)

Otak kita memang didesain buat mementingkan kesenangan saat ini daripada konsekuensi masa depan. Makanya kita mikir, "Bayar bulan depan aja deh, yang penting dapet dulu sekarang!"

2.     Mental Accounting

Kita suka “mengkotak-kotakkan" uang secara tidak logis. Contoh: punya uang tunai buat bayar hutang, tapi milih bayar nanti karena uang di tabungan dianggap "khusus" . Padahal uang ya uang, fungsinya sama aja!

3.     Optimisme Tidak Realistis

Psikolog Raymond Tambunan menjelaskan bahwa salah satu faktor orang terjebak utang adalah persepsi terhadap risiko yang rendah "Ah, nanti juga ada jalan untuk lunasin" serta minimnya kemampuan membuat perencanaan jangka menengah dan panjang . Kita selalu mikir bulan depan pendapatan bakal naik.

 

Fenomena "Lebih Galak Yang Ditagih": Penjelasan Neurosains

Pernah mengalami atau melihat orang yang berutang justru lebih galak saat ditagih? Ternyata ini ada penjelasan medisnya!

Psikiater dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, mengungkapkan bahwa respons agresif tersebut berkaitan erat dengan stres finansial dan ancaman terhadap harga diri . Secara neurosains, tekanan saat ditagih utang memicu reaksi di otak yang melumpuhkan logika .

·       Amigdala (pusat deteksi ancaman) menjadi sangat aktif.

·       Prefrontal cortex (pusat penilaian rasional) justru melemah.

Akibatnya, otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif . Ini bukan gangguan jiwa, melainkan respons stres akut yang wajar. Tubuh dan pikiran sedang dalam kondisi tertekan, dan ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok muncul bersamaan .

 

Tips Biar Terhindar Dari Jeratan Psikologis Hutang

Para ahli merekomendasikan beberapa strategi untuk membangun pertahanan mental dan finansial :

1.     Tunda dulu 24 jam sebelum mutusin beli barang mahal dengan cara kredit/cicil. Hambatan kecil ini seringkali cukup untuk mengalahkan impulsif FOMO .

2.     Catat semua pemasukan dan pengeluaran, Tidak ada yang bisa diubah jika tidak bisa  diukur . Lacak berapa persen pendapatan yang digunakan untuk kebutuhan *vs* keinginan.

3.     Punya dana darurat,  Alokasikan minimal 10-20% pendapatan secara otomatis segera setelah gajian. Ini adalah benteng yang mencegah Anda beralih ke pinjaman online saat terjadi krisis .

4.     Kelola tekanan sosial. Kembangkan filter internal terhadap konten media sosial. Unfollow akun-akun yang memicu FOMO dan gaya hidup tidak realistis .

5.     Bedakan kebutuhan dan keinginan. Semakin kita mengurangi keinginan tidak penting dan fokus pada kebutuhan, akan semakin jauh dari kebiasaan berutang .

Pada akhirnya, memahami psikologi di balik perilaku berhutang bukan berarti membenarkan atau menghakimi. Justru dengan kesadaran ini, kita bisa lebih bijak mengelola keuangan dan lebih empati pada mereka yang sedang berjuang keluar dari jerat utang. Karena sejatinya, masalah hutang tidak selalu tentang angka di buku tabungan, tapi juga tentang luka, gengsi, dan pergulatan batin yang tak terlihat.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.     Prasadjaningsih, M. C. O., & Brotoharsojo, H. (1998). *Pengaruh gaya hidup, nilai, kepribadian, sikap terhadap pilihan perilaku berhutang: Sebuah kajian lapangan* [Tesis]. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

2.     Marzella, A. (2024, September 13). Dari Dompet ke Pikiran: Hubungan Kompleks antara Keuangan dan Kesehatan Mental. *DJKN Kementerian Keuangan*.

3.     Annisa, B. (2025, Desember 11). Hidup YOLO, Gen Z Terlilit Utang Pinjol: Minim Literasi atau FOMO? *Dupoin*.

4.     Richardson, T. (2023, Juli 27). Kesehatan Mental Bisa Terganggu! Begini Tips agar Tak Terjebak Manis di Awal dari Berutang. *Good Doctor*.

Hartini, R. S. (2026, Februari 5). Mengapa Orang Jadi Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Medisnya. *Media Indonesia*. 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon