Rumah Gratis Program Pemerintah: Perspektif Real Public Infrastructure dalam Rangka Hari Kekayaan Negara ke-18
Antonius Suhenri
Senin, 04 November 2024 |
364 kali
Rumah
Gratis Program Pemerintah: Perspektif Real Public Infrastructure dalam Rangka Hari
Kekayaan Negara ke-18
Dalam rangka merayakan Hari Kekayaan
Negara (HKN) ke-18 tanggal 1 November 2024, DJKN telah melaksanakan International
Webinar secara daring bertajuk “Public Asset Infrastructure dan
Social Welfare : Measuring Impact and
Maximizing Benefit”. Penulis tertarik untuk menerapkan new
insight apa yang diterima dari webinar tersebut dengan program rumah gratis
bagi 3 juta rakyat miskin.
Rumah gratis program Pemerintah tersebut
ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan diharapkan dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia emas tahun 2045. Salah satu
rumah yang akan dibahas adalah rumah gratis di daerah akses jalan Mauk-Teluk Naga,
tepatnya di Jalan Raya Cituis, Kabupaten
Tangerang. Program Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat tersebut disambut
positif dan baik oleh mayarakat serta terdapat pengusaha yang baik hati bersedia
mendukung Program pemerintah dalam menyediakan rumah gratis bagi rakyat tidak
mampu. Rencana tahun 2025 akan segera dibangun.
Pembangunan rumah gratis adalah termasuk
dalam Pembangunan infrastruktur (KPPIP, 2021). Pembangunan rumah merupakan salah
satu dari 6 sektor prioritas selain sanitasi air, transportasi urban, jaringan
gas, manajement limbah, dan Kesehatan.
Dan prioritas pembiayaan dimulai
dari yaitu Private (Swasta), PPP
(partnership), SOE/ROE, dan APBN/APBD. Pembiayan untuk efesiensi diusahakan
dari sektor Private (swasta).
Dari hasil penelitian penulis
secara kuantitatif dari berbagai sumber media bahwa rumah gratis dimaksud di
daerah dekat teluk naga.Ini adalah murni sumbangan para pengusaha yang artinya
modal kerja dari swasta atau kategori pembiayaan dari private. Jadi rumah gratis
dibangun oleh para pengusaha baik tanah dan bangunan/rumah, sehingga dana APBN
tidak dilibatkan dalam pengadaan tanah dan Pembangunan rumah gratis di dekat teluk
naga.
Secara konsep Real Infrastruktur
yang baik adalah tidak hanya menyediakan sarana secara fisik yang bisa langsung
dinikmati misalnya bangunan rumah susun gratis, bangunan jalan, akses transportasi
publik (bus, Cummuter Line), bandara, rumah, bangunan gedung, monumen budaya,
museum, tetapi harus memiliki aspek essential yang penting lainnya, yaitu:
-
meningkatnya akses ke tempat kerja,
-
meningkatnya akses transportasi sehingga lebih
cepat dan efesien ke layana public
-
meningkatnya akses ke tempat Pendidikan sehingga
kualitas SDM meningkat,
-
meningkatnya akses health care sehingga semakin bahagia
dan sehat,
-
tersedia Clean Water untuk kebutuhan minuman
yang sehat,
-
dan juga kebutuhan energi bagi semua lapisan masyarakat
sehingga memenuhi kebutuhan energi mis PLN, PDAM di rumah tangganya.
-
Diharapkan dengan rumah gratis meningkatkan
kualitas hidup dan mengurangi kesenjangan ekonomi serta meningkatkan peluang untuk
keluar dari kemiskinan.
Menurut hemat penulis rumah
gratis di daerah Jalan Raya Cituis bagi yang bekerja sebagai petani sangat cocok
karena akses jalan ke sawah cukup dekat, artinya akses ke tempat bekerja sudah
sangat dekat. Akses jalan Mauk ke Teluk naga adalah akses yang cukup baik,
apalagi akan dibangun jalan tol yang tembus PIK 2. Secara teori harga tanah sekitar
pembangunan akses jalan tol akan semakin meningkat karena akses jalan yang
lebih baik yang disediakan.
Investasi yang tepat pada rumah gratis
adalah investasi yang mendorong produktivitas ekonomi dan meningkatkan
competitiveness. Selain itu memperbaiki
kualitas hidup masyarakat, mengurangi kesenjangan ekonomi dan pendapatan, dan
membuka lapangan pekerjaan. Dengan dibangunnya rumah gratis dan akses jalan tol
maka diharapkan rakyar dapat lebih mudah mengakses pelayanan publik dan menghasilkan
peluang baru atau membuat pekerjaan baru.
Rumah gratis memberikan angin
segar berupa permodalan bagi rakyat miskin karena mereka akan memiliki tempat
tinggal untuk dapat hidup layak bagi keluarganya sehingga mereka memiliki aset
dan akses serta tidak digolongkan rakyat miskin karena telah memiliki perlindungan
hukum untuk tinggal karena memiliki sertipikat rumah. Dan tentunya memiliki sertipikat
secara gratis yang bisa dijaminkan untuk mendapatkan pembiayaan mikro atau UMKM.
Dan dari hasil usaha UMKM tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki hidup dan
keluar dari kemiskinan.
Tantangan global yaitu bagaimana
infratruktur tersebut tetap sustainable. Secara jangka pendek aset infrastruktur
bisa dinikmati dan menjadi salah satu kebanggaan (pride) dan hiburan
rakyat, tetapi tantangan kedepan bahwa aset tersebut bukan hanya jangka pandek
tetapi Long Term yaitu tetap sustainable bisa dinikmati oleh rakyat dan anak cucu.
Tantangan lain yaitu Letak geografis kepulauan dan tentunya
dipengaruhi akses jalan, laut dan udara dan sosial budaya mempengaruhi kebutuhan dari
masing-masing wilayah. Setiap wilayah memiliki keunikan tersendiri sehingga
dalam Pembangunan infrastruktur, dalam memperoleh tanah atau membangun
infrastruktur harus jeli memperhatikan kebutuhan masing-masing wilayah yang
tidak bisa diseragamkan.
Dengan demikian perolehan aset
dari sejak perencanaan pengadaan aset sangat penting. Jadi ketika menghasilkan aset maka aset
tersebut menjadi Real Infrastrucutre yang tidak hanya menghasilkan
return tetapi juga economy dan social welfare. Return yang
dihasilkan ada 2 yaitu return secara keuangan dan return dampak
ekonomi dan sosial. Return keuangan tetap bertujuan baik yaitu Penerimaan
Negara yang tentunya akan digunakan kembali untuk modal membangun infrastuktur
lainnya sehingga siklus Pembangunan dapat merata di seluruh daerah.Sedangkan
return secara dampak ekonomi dan sosial dari Pembangunan rumah gratis juga
dapat dinikmati oleh semua lapisan rakyat dan bahkan sampai ke luar negeri.
Penulis mengambil data dari BPS
dan menggunakan analisis Input- Output dan analisis ICOR (Incremental Output
Ratio) di daerah Teluk Naga (Kabupaten Tangerang). Analisis ICOR bertujuan untuk menghitung
jumlah modal awal atau investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan output
masyarakat dari semua sektor untuk sebesar Rp.1 setiap tahun di Kabupatan Tangerang.
Untuk Analisis ICOR berdasarkan
publikasi BPS tahun 2021, di Kabupaten Tangerang adalah sebesar 5,35 kali artinya
untuk setiap harapan kenaikan output atau pendapatan sebesar Rp.1 milyar
diperlukan modal atau Investasi sebesar 5,35 Milyar. Jadi untuk menghasilkan
output Rp.1 milyar diperlukan minimal Rp.5,35 milyar. (BPS, 2021). Jadi dampak
ekonominya dari modal tersebut adalah 1/5,35 yaitu 0,185. Dampak investasi sekitar
18,5?ri modal untuk semua sektor. Menurut penulis cukup rendah dikarenakan factor
covid di tahun 2021.
Namun ternyata Data Input Output
di daerah Kabupaten Tangerang di BPS Kabupaten Tangerang belum ada dibuat
sehingga analisis Input output tidak dapat dilakukan. Penulis tidak dapat melakukan
perhitungan Input-Output di Kabupaten Tangerang, namun dari data Input-Output BPS
Provinsi, penulis mendapat angka pengganda 1,18 kali untuk investasi sebesar Rp.
300.000.000 sehingga besarnya perubahan nilai menjadi Rp. 356.000.000 sebagai
efek modal Pembangunan dan biaya operasional Pembangunan rumah gratis. Angka yang dipakai dalam tulisan ini hanya
asumsi sehingga dapat dimungkinkan terjadi perubahan pada saat implementasi kedepannya
sesuai kondisi lapangan.
Setelah dilakukan Input-Output Methods, untuk Real Infrastuktur harus dilakukan tahapan Ex-Post Evaluation. Tahap evaluasi terhadap kinerja proyek infrastruktur rumah gratis dengan melakukan 2 metode yaitu random (sample) dan observasi input/observasi outcome. Hasilnya dapat dijadikan bahan evaluasi tergantung keunikan masing-masing wilayah. Untuk rumah gratis harus dicari korelasi antara penyediaan rumah gratis dengan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan, penurunana kemiskinan, meningkatnya Kesehatan, muncul pekerjaan baru usaha UMKM, muncul usaha baru mikro lainnya, lahan sawah semakin produktif, meningkatnya akses kepada Pendidikan. manfaat sosial sekitar, tempat wisata, dan sebagainya yang menjadi kriteria utama untuk menilai efektifitas biaya yang telah dikeluarkan untuk mengurangi kemiskinan dengan adanya rumah gratis.
Belajar dari peran Pembiayaan Private/Swasta yang berani mengambil risiko permodalan dalam Pembangunan infrastruktur rumah gratis maka dituntut peran para Penilai Direktorat Jenderal yang melakukan Penilaian asset negara dengan sebaik-baiknya, dan peran para Pengelola Kekayaan Negara yang dilakukan sebaik-baiknya.
Oleh sebab itu dalam merayakan Hari Kekayaan Negara ke-18, dituntut supaya Aset BMN yang dalam waktu dekat
tidak digunakan dapat dinilai untuk disewakan. Asset BMN yang terlantar dapat
dimanfaatkan sesuai HBU untuk disewakan, asset BMN idle dapat disewakan, asset
BMN eks BPPN/Eks PPA/eks BLBI dapat disewakan, asset barang jaminan dapat
disewakan, barang yang dikuasai Negara dapat dijual melalui lelang atau
disewakan, asset Negara yang sedang tidak digunakan untuk Tupoksi dapat
disewakan. Dan kekayaan Negara Lain-lain seperti Asset Negara dari Pertamina
Hulu Mahakam. Eks PKP2B (Batubara), Eks Pertamina yang merupakan aset eks KKKS
dapat optimal disewakan, dan lain sebagainya.
Dan tentunya tetap memelihara seluruh aset Negara dengan
rasa kecintaan atas asset negara dan bukti cinta negeri kita
Indonesia yang indah.
Tag : #HKN ke-18#AssetManager #SemakinCintaAsetNegeri # JafungPenilai#DJKN-DINAMIS #DJKNCintaNegeri
Penulis : Antonius Suhenri
Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan
kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Daftar pustaka :
1. 1. International Seminar, “Public Asset
Infrastructure dan Social Welfare : Measuring Impact and Maximizing Benefit”, 2024
2.
2. Milford Bateman, Land Titling and Microcredit in
Cambodia: Examining the Reality of Hernando de Soto’s ‘Three Steps to Heaven’,
MDPI, 2024
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |