Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu
Resensi buku yang berjudul : The Power Of Negotiating, Sukses Negosiasi: Dengan Siapa Saja, Kapan Saja, dan di Mana Saja

Resensi buku yang berjudul : The Power Of Negotiating, Sukses Negosiasi: Dengan Siapa Saja, Kapan Saja, dan di Mana Saja

Antonius Suhenri
Jum'at, 07 Juni 2024 |   1620 kali

Resensi buku yang berjudul : The Power Of Negotiating, Sukses Negosiasi: Dengan Siapa Saja, Kapan Saja, dan di Mana Saja 

Pengarang buku : Asti Musman 

Cover :  

 

Tahun terbit : 2016 

Tebal halaman : 212 

Penerbit : Psikologi Corner, Yogyakarta 

Distributor Tunggal : PT. Anak Hebat Indonesia 

Ukuran buku : 15 cm x23 cm  

Profil Penulis : Asti Musman adalah nama pena dari Estiningdyah, SP. Ia merupakan ibu dua anak yang telah beranjak dewasa, Esza Prayojana Parapaga dan Parahita Raushan Fikra. Ia lahir di Tuban, Jawa Timur, 24 Juni 1968 . 

Alumni Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini suka menulis cerita pendek sejak kelas empat SD di Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur. Pernah bekerja sebagai reporter freelance di Bali Post (Bali), Harian Nusa (Bali), Bali News (Bali). Beberapa tulisannya dimuat di Koran Swadesi dan Simphoni (Jakarta) dan Djaka Lodhang (Yogyakarta). 

Sejak kuliah hingga saat ini bekerja sebagai praktisi media di Radio Top FM (Bali), Radio Plus (Bali), Radio Menara (Bali), Radio Global FM (Bali), Radio Global FM (Yogyakarta), Radio Swara Jogja (Yogyakarta), Eksekutif produser news dan feature JogjaTV. 

Pernah mengajar sebagai dosen FISE Unriyo Yogyakarta untuk mata kuliah Produksi Berita TV dan Dokumenter dan pernah menjabat sebagai Direktur Operasional Radio Global FM Jogja. Saat ini bekerja mandiri sebagai penulis. 

Hingga saat ini masih aktif menulis naskah sandiwara radio, menulis dan memproduksi iklan layanan masayrakat, dan dokumentasi beberapa kegiatan pemerintah maupun swasta. Lebih dari 30 buku telah ditulis oleh penulis. 

Ringkasan atau Sinopsis Buku : 

Sukses dalam negosiasi adalah ketika bernegosiasi tidaklah menyakitkan bagi pihak lawan. Sebab jika rasa sakit itu yang dirasakan maka kemenangan dalam negosiasi hanyalah semu semata atau hanya kita yang berjaya di atas penderitaan orang lain. Dalam bahasa jawa ada kalimat bijak yang menyatakan ,”Aja Mung Sukur Payu” artinya jangan hanya asal laku.  

Buku ini akan memandu anda bagaimana caranya untuk sukses bernegosiasi dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja dengan menerapkan segala pemahaman menyeluruh konsep 9 langkah menuju tujuan bernegosiasi yaitu menuju kelanggengan sebuah hubungan di atas segala-galanya dibandingkan dengan keuntungan yang semata-mata yang digambarkan dalam filosofi jawa: Tuna Satak Bathi Sanak, artinya untung sedikit tidak apa-apa asalkan semakin banyak bertambah saudara. Sebab dengan semakin bertambah kekayaan batin akan mendorong kekayaan fisik.  

Seorang negosiator yang sukses dan berhasil dikatakan yang memiliki kemampuan memahami sifat dan karakter mitra bukan hanya dari kelompok bangsa tertentu tetapi lintas budaya juga sehingga merasa mitra senang dan merasa menang. Oleh sebab itu dalam bernegosiasi memiliki prinsip, aturan dan larangan yang harus dipatuhi dalam bernegosiasi, begitulah kira-kira yang dikatakan dalam bukunya.  

Yang saya pahami dalam Buku ini adalah secara ilmunya luar biasa banyak memberikan new insight didalamnya karena meramu dari banyak toeri buku dan pengalaman hidup. Jadi seorang praktisi sekalipun membaca buku ini pasti mendapat new insight. Sangat disayangkan saya hanya akan membagikan kulitnya saja,  

Ringkasan kue besarnya buku ini memuat 9 langkah dalam bernegosiasi, yaitu : 

  1. 1. The Art of Negotiation/Memahami seni bernegoisasi : Langkah ini memberikan pemahaman awal mulai definisi dari berbagai pakar negosiasi, strategi dan format dalam bernegosiasi, serta yang terakhir proses negosiasi. Proses negosiasi ada 3 tahap mulai perencanaan dan persiapan yang matang, kegiatan negoisasi dan terakhir evaluasi. Persiapan yang baik merupakan dasar bagi negosiasi yang akan kita lakukan yang akan memberikan rasa percaya diri dan kesiapan mental. Dalam proses evaluasi, penting sekali negosiator membuat catatan-catatan apa yang telah disepakati dan membagikannya kepada semua pihak untuk segera diimplementasikan.  

  1. 2. Back to basic (Prinsip-prinsip negosiasi) Langkah ini merupakan langkah supaya pembahasan tidak melenceng. Prinsip umum menurut Patrice Lumumba (2013) contoh negosiasi harus bersifat negotiable artinya masalah yang dinegosiasikan memang pantas untuk dinegosiasikan. Dalam bisnis juga ada prinsip manurut Roger Dawson (2003) bahwa Berpura-pura bodoh itu pintar, jangan tertipu dengan bualan atau istilahnya bukan fun money, haruslah melihat secara real money (harus real), dan orang percaya pada apa yang dilihat sehingga pembaca diajarkan juga dari pengalaman pakar lain untuk berpegang dengan prinsip ini maka negoisasi tidak akan melenceng. 

  1. 3. Unethical Negotiation Tactics & Strategy. Langkah ini memberikan kemampuan pembaca untuk menghadapai taktik dan strategi yang tidak etis yang sering dilakukan oleh mitra negosiasi. Ada 3 mazhab dyang perlu diipelajari yaitu : The its Game Poker School, The Do The Right Thing Even if It Hurt:Idealist School, The What Goes Around Comes Around: Pragmatis School. Yang saya dapat bahwa dalam buku ini agar berbuatlah yang etis selayaknya dalam game ada pengaturan rule, tidak boleh berbohong, apabila berbohong memiliki efek negatif jangka panjang sehingga ada jargon Golden Rule yaitu perlakukan orang lain seperti dirimu sendiri. Luar biasa buku ini menurut saya seperti menjelaskan kepada saya apa yang kau tabur itulah yang kamu tuai. Taburlah yang baik maka yang baik datang padamu, kira-kira saya menangkap isi maszhab dalam buku ini. Lebih jauh lagi, dijelaskan strategi dan teknik Negosiasi dari pakar Carls Von Clusewitz bahwa kemenangan bukanlah yang tampak dipermukaan tetapi kedamaian yang didapatkan di akhir negosiasi.J Lewiicki, Saounders, dan Minton (dalam Patricia Lumumba, 2013) membagi strategi menjadi 2 yaitu Pola Distribution Bargaining (Fundamental menang kalah) dan Pola Integrative Bargaining (bermuara pada win-win solution/fleksibel). Yang menarik dari langkah ketiga menurut saya yaitu Gambit negosiasi awal dikatakan mintalah lebih dari apa yang kita harapkan, jangan pernah menyetujui tawaran pertama. Hindari konfrontatif. Selanjutnya ada Teknik gambit negosiasi tengah misalnya menghadapi orang yang tidak memiliki kewenangan untuik memutuskan, sampai kondisi Impasse (tidak menyukai isu pokok), Stalemate (kapal berhenti perlu menggeser derajat layar), Deadlock sehinga perlu pihak ketiga mediator atau arbitrator.  Buku ini mendalam juga membahas Gambit negosiasi akhir dalam menangani drama good guy dan bad guy. Disarankan oleh buku ini bahwa kita seumpama bermain catur dimana lawan kita adalah punya kemampuan yang sama, jadi jangan mudah tertipu oleh drama lawan.  Saya tangkap dari gambit catur, kita tidak akan tertipu, maka kita bisa menghapai berbagai taktik kecurangan misalnya motivasi tidak etis, persaingan, dan mengabaikan keadilan. Berbagai perlakukan tidak etis mulai Miss-interprestasi, Menggertak, Pemalsuan, Penipuan, Pluffing serta Intimidasi. Dan disebutkan taktik dan akal-akalan yang umum misalnya: kecurangan yang disengaja, perang psikologis dan taktik-taktik tekanan Posisional. 

  1. 4. Don’t get panic (memecahkan masalah negosiasi). Buku ini mengajarkan jangan panik selalu ada jalan keluar kalau ada kemauan dan dana, ada dengan cara pihak ketiga. Negosiasi tidak selalu mulus ketika deadlock sehingga perlu menyewa pihak ketiga dimana ada keuntungan dan kerugiannya. Penggunaan Arbitrasi dan Mediasi terdapat perbedaan. Arbitrasi dapat melakukan intervensi dan bersifat mengikat dan menimbulkan kondisi ketergantungan. Sedangkan Mediasi adalah mencari cara untuk mencapai tujuan berupa menyerahkan kepada pihak yang bernegosiasi untuk memperoleh persetujuan bersama. Buku ini juga mengajarkan cara menghadapi serangan dan bila terpojok supaya tidak panik. Jangan menipu hati nurani kalu saya tangkap kira-kira begini, kalau lawan yang benar dalam hati nurani kita tahu maka harus menerimanya, sebaliknya bila kita yang benar kita harus berusaha memberikan simpati atau empati kepada lawan dan memberikan point yang rasional, bukan malah menjatuhkan lawan.  Lebih lengkap dan tidak kalah penting saat mempraktekkan untuk memilih posisi duduk. Posisikan kita duduk tenang dan tidak menghadapi gerakan-gerakan yang ceroboh. Bila posisi ingin banyak bicara duduklah bersebrangan. Bila ingin dianggap penting maka duduklah di samping pembicara atau sang pemimpin.  Banyak lagi yang disampaikan termasuk menangani konflik dengan tepat yang terutama respect to people, jangan meremehkan orang, dan harus berdasarkan fakta kalau melabelkan orang lain haruslah positif mungkin kira-kira demikian buku ini mengajarkan. Apabila anda seorang yang berkepribadian kolaboratif sebagaimana nilai kemenkeu pilihlah manajmen konflik yang kerjasama. Ada banyak pilihan manajemen konflik sesuai situasi yang ada baik kompetisi, menghindar, kompromi atau kerjasama.  

  1. 5. Take over the issue (Penekanan masalah Negosiasi). Yang saya tangkap kira-kira begini yaitu langkah ini perlu dilakukan agar negosiasi berjalan lancar yaitu penekanan kepada masalah negosiasi bukan persoalan yang lain atau persoalan diluar masalah misalnya ngotot dengan posisi pendapat sendiri, tidak suka kepada orang lain/mitra negosiasi sebelum memahami kebenaran, dan masalah lainnya.  Ada beberapa tips dari buku ini yaitu : Jangan berdebat dengan posisi, pisahkan orang dengan masalah, empati atau pahami sudut pandang lawan secara persis (merasakan emosinya), jangan menyimpulkan maksud seseorang dari rasa khawatir kita, jangan salahkan mereka karena masalah yang kita hadapi, dan terakhir kenali emosi kita dan emosi pihak lawan. Lantas buku ini juga memberikan tipsnya jika terlanjur sudah emosi tetaplah tenang dan meminta maaf. 

  1. 6. Culture Focus (Gaya negosiasi antar bangsa). Keberhasilan negositor adalah memahami tentang komunikasi antar budaya maupun antar bangsa berbeda akan memudahkan sebuah negosiasi berlangsung untuk meraih kesepakatan bersama. Buku ini mengajarkan gaya negosiasi dari berbagai negara dan suku bangsa. Contoh orang Amerika yaitu : sangat berterus terang, Orang Amerika menjawab pertanyaan dengan satu kata, orang Amerika sangat patriotik, waktu adalah uang bagi orang Amerika, dsb. Berbeda dengan orang Jepang dimana ekspresi orang jepang tidak langsung agar lawan tidak kehilangan muka, dan menjawab pertanyaan dengan samar. Buku ini menjelaskan bagaimana menghadapi juga orang jawa, dan orang Jerman juga. Yang saya tangkap adalah kita harus mengenal bidaya mitra kita, apabila bangsa lain atau suku bangsa yang berbeda.  Kira-kira yang saya tangkap dari buku ini, saya ambil contoh saya sendiri dari suku batak. Nenek moyang orang batak adalah orang ditempa dari kesusahan hidup dan kerasnya lingkungan sehingga raut muka keras dan volume suara keras dan lantang namun sebenarnya hatinya lembut bukan sedang marah.kalau suaranya keras tetapi karena kebiasaan di kampung memanggil ternaknya suaranya harus keras sehingga terbawa kebiasaan namun orangya tulus, terus terang, dan tidak berbelit-belit, serta setia kawan.  

  1. 7. Fair Share : (Memahami karakter Pihak Lawan). Saya ibaratkan dengan istilah lain yaitu keseimbangan equlibrium terbentuk antara suply demand. Apabila tidak ada demand kita create demand dengan cara kita sendiri, begitu kira-kira. Atau yang saya tangkap lagi Game Theory adalah kunci rahasianya, aksi dan reaksi sehingga menghasilkan nol atau keseimbangan. Buku ini memberikan penekanan terhadap memahami pihak lawan terlebih dahulu dan menerapkan ilmu komunikasi efektif melalui komunikasi nonverbal dan verbal. Maksudnya saya ibaratkan pertama know your customer/stakeholders lalu gunakan komunikasi yang efektif. Yang saya tangkap lagi yaitu mengenal bukan sekedar memahami bila perlu punya database mitra/stakeholders mis dari KTP: nama, umur, jenis kelamin, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, hobi, asal daerah, dan riwayat pendidikan. Cari persamaan bila perlu misalnya hobi merokok, kita bawa sebungkus merokok bersama dengan mitra. Saya sering bawa rokok bila menghadapi preman di lapangan. Saya tidak bawa golok karena itu namanya mengajak berkelahi, kita harus ajak berteman untuk mencari tahu tentang mitra. Selanjutnya apabila kita bisa memahami teknik dan mendengarkan dengan seksama cara-cara yang dilakukannya misalnya: perkataan yang sering diulang-ulang, kebiasaan sehari-hari, dan gerak tangan dan mimik muka. Semuanya adalah kunci rahasia untuk membuka jalan pikiran dan keinginan (kebutuhan) pihak lawan.  Saya bisa simpulkan dengan 1 kalimat yaitu pay attention on body languages and what they said. Buku ini juga memberikan panduan prakteknya untuk komunikasi dua arah yang seimbang (argumentasi, menjawab pertanyaan, mendengar, mengajukan pertanyaan, mengomentari opini,orang lain dan mengusulkan ide baru untuk tim sendiri). Ada yang Langsung sederhana dan mengena (rangkuman ide dalam 3 atau 4 kalimat) dan ada yang fleksibel (senantiasa siap bisa mengubah arah percakapan). Yang saya tangkap bahw buku ini luar biasa mengajarkan tidak hanya mendengarkan lawan tetapi memperhatikan komunikasi nonverbal dan menjelaskannya secara detail misalnya gerakan tangan,(gerakan balpoin atau merokok) gerakan tangan secara tidak sadar (melipat tangan), gerakan tangan secara sadar, memberi tanda menunjuk, menawarkan, menolak, membagi atau membedakan, jabatan tangan erat, gerakan lain (merapikan rambut), cara duduk, mencondongkan badan, dsb. Di samping buku ini mengajarkan cara membaca bentuk wajah, dahi, dagu, mata, hidung, alis, dsb.  Selain non verbal, pentingnya juga komunikasi verbal misalnya perbedaan budaya dalam pemakaian kata tidak”, pesan yang jelas, membuka diri dan membaca situasi, Tidak semua buku menjelaskan juga strategi, buku ini memberikan strategi berbicara, mengatasi hambatan fisik dan hambatan semantik untuk meraih kepercayaan pihak lawan. Buku ini mengajarkan saya bahwa negosiator yang terlatih menjaga mata dan telinganya untuk mengikat pihak lawan.  Strategi yang lain dalam buku ini adalah berusaha menggali informasi dengan pertanyaan (detiled question). Karena pertanyaan adalah jendela pikiran, maka bertanya dengan cerdas baik yang dapat dikontrol maupun yang tidak dapat dikontrol jawabannya. Pertanyaan berfungsi untuk penentu arah negosiasi dan mendorong lawan berpikir kritis, namun hindarilah pertanyaan samar-samar tetapi bertanyalah untuk mengetahui motif dan tujuan lawan sehingga dapat mengendalikan hingga terjadi kesepakatan atau keputusan. Dan akhirnya menjadi pendengar yang baik dan mencatat semua dalam ingatan. Buku ini juga memberikan 10 tips yang dikatakan dalam buku ini istilahnya adalah firman dalam proses negoisasi. 

  1. 8. The X Factor (Pahami diri sendiri agar sukses bernegosiasi). Dalam buku ini ada X Factor kunci sukses berbicara yaitu kontak mata, berbicara agak keras agar terdengar, jangan terlalu cepat, ucapkan setiap kata dengan jelas, hilangkan kebiasaan latah, dan bernapaslah dengan baik. Suara yang efektif adalah suara yang meyakinkan, ada kemampuan terpendam, dan jagalah sikap, jangan mengucapkan kata-kata yang “terlarang’ kata-kata ekstra, kata-kata yang senonoh. Buku ini mengutip juga cara berbicara yang tepat dari penulis Eugene, 1993 yaitu memiliki pengetahuan akan masalah, memiliki empati (ikut merasakan persis seperti yang dirasakan oleh orang lain), antusiasme, dan bersungguh-sungguh, bijaksana, dan sopan.  

  1. 9. The Happy Steps (Menemukan Pilihan untuk kebaikan Bersama). Negosiator yang handal memiliki kecakapan dalam mengembangkan berbagai pilihan yang sangat dibutuhkan bagi seorang perunding.   

Dalam buku ini ilmu teori dan praktek tentang bagaimana menjadi negosiator sukses diuraikan dengan sangat jelas dan praktis sehingga harapannya pembaca buku mengerti betul cara menerapkannya dalam kasus sehari-hari, tidak perlu membaca buku yang lain, karena didalamnya sudah terkompilasi dengan sempurna.  

Dalam membaca buku ini, saya merasakan ada suatu pola smart tertentu dalam penyajian ide-ide yang ingin disampaikan. Membaca daftar isi saja anda sudah bisa mengerti maksud buku ini.secara keselurahan yaitu ada 9 langkah penting. Dalam kata pengantar dan bab 1 saja sudah bisa saya simpulkan konsep sukses dalam negosiasi dengan siapa saja, kapan dan dimana saja, selanjutnya anda sudah dapat mengerti proses negosiasi bagaimana, dari perencanaan sampai evaluasi dan diberikan penekanan pada tahap penting persiapan dan bagaimana win-win solution bisa dengan berbagai dinamika dan permasalahan bisa dihadapai dengan prinsip, teknik-teknik dan strategi dan langkah negosiasi dengan teknik komunikasi verbal dan non verbal yang efektif yang sesuai keadaan dan apa saja yang perlu dihindari serta apa saja yang perlu dikembangkan untuk kepentingan bersama.  

Walaupun anda sudah terbiasa melakukan negosiasi namun melanjutkan pembacaan ke bab-bab berikutnya seperti sebuah tantangan untuk mencari new insight. Buku ini seperti kitab kompilasi semua buku negoisasi. Anda tidak perlu repot-repot lagi membaca buku yang lain, buku ini sudah cukup luas pandangannya menurut saya bisa dipraktekkan untuk kehidupan sehari-hari 

Agar anda semakin tertarik dengan buku ini, saya akan perjelas untuk langkah ke 9 sebagai ultimate yaitu Happy Steps yang saya pelajari dari buku ini yaitu kita jangan egois (selfish). Buku ini mengibaratkan kesepakatan itu sebuah “jeruk” yang sering terjadi dimana hanya separuh kulitnya bukan seluruhnya bagi pihak yang memerlukan dan seluruh isinya bagi pihak yang lain. Buku ini mengajarkan mengapa unhappy itu dan mengapa jangan berbuat selfish seperti ini bisa terjadi sesuai pengalaman penulis yaitu disarankan jangan terlalu cepat menyimpulkan (premature judgement), jangan mencari jawaban tunggal (single answer), jangan asumsi harga mati (a fix pie), jangan dengar pendapat tentangmenyelesaikan masalah mereka merupakan urusan mereka sendiri). Dengan kata lain Buku ini mengajak anda cara menemukan jawaban kreatif dalam bernegosiasi misalnya pisahkan tindakan mencari pilihan dari upaya mengambil keputusan (separate inventing from deciding), lakukan brainstorming dengan tim anda sebelum brainstorming dengan lawan, dan melihatlah dari sudut pandang yang berbeda, dari berbagai perspektif ilmu dan profesi. Setelah itu ubahlah cakupan persetujuan yang diajukan, carilah kesepakatan yang saling menguntungkan. Untuk mencari kesepakatan yang saling menguntungkan kenali kepentingan bersama dan rangkailah beberapa kepentingan yang berbeda seperti ilustrasi buah jeruk tadi dimana salah satu pihak hanya membutuhkan kulitnya sedangkan yang lawan isinya dan terakhir adalah bertanyalah tentang pilihan lawan. Atau saya bisa katakan kalau lawan berkepentingan dengan kulitnya kasihlah seluruh kulitnya, dan kita isinya sesuai kepentingan kita. Selain itu ciptakan suasana yang memudahkan mereka sehingga dalam membuat keputusan tercipta persetujuan yang bijak secara bersahabat dan efesien. Saya lebih senang kata-kata terakhirnya yaitu kita mempermudah dan bukan mempersulit mitra dengan mengajukan pilihan dan akhirnya kita bersahabat.  

Teknik penulisan buku ini dimulai dari kesimpulan baru dijelaskan lebih dalam sampai tips-tips dari penulis, pola dalam tiap-tiap penyajian konsep adalah pola A-R-E-L, yaitu pola Assertion, Reasoning, Example, dan Link Back yang lengkap sehingga dari daftar isi kita sudah tahu arahnya kemana yaitu dari kesimpulan kemudian dijelaskan satu persatu mendalam dalam bab-bab berikutnyaKonsep mendalam yang akan disampaikan dibagi menjadi 9 bab, setiap bab diawali dengan judul bab yang mereprestasikan kesuluruhan bab (Assertion), lalu dilanjutkan dengan alasan mengapa hal yang akan dibahas di bab itu berguna untuk negosiasi(Reasoning), lalu dilanjutkan oleh contoh-contoh yang didapatkan penulis dari membaca dari sumber pakar negosiator atau didengarnya dari orang lain(Example), dan diakhiri oleh bukan hanya analisis contoh-contoh itu tentang bagaimana contoh-contoh itu membuktikan apa yang ingin disampaikan di awal (Link Back) tetapi juga ada tips-tips dari penulis agar bisa mencapai yang disampaikan di awal (Link Back).  

Metode menyampaikan ide dengan A-R-E-L memang sudah cukup terkenal di dunia negosiasi dan debat. Maka dari itu, melihat penulis membawakanya di bukunya adalah hal yang sangat menyenangkan. Dengan menggunakan metode ini, para pembaca yang sudah cukup berpengalaman di bidang negosiasi dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh buku ini hanya dengan membaca judul babnya. Sedangkan, untuk pembaca yang belum mengerti apa-apa tentang negosiasi dapat membaca buku ini dengan nyaman dan sepenuhnya mengerti, karena teknik penjelasan menggunakan metode A-R-E-L. Metode ini juga membantu pembaca lama untuk mengingat lagi apa yang pernah mereka baca hanya dengan membaca ulang daftar isi, tanpa harus membaca ulang keseluruhan buku.  

Dalam hal-hal yang disampaikan penulis di buku ini juga cukup solid, penjelasan-penjelasan mengapa dalam negosiasi harus melakukan hal-hal yang dikatakan penulis di buku ini juga jelas dan logis, contoh-contoh yang diberikan cukup memadai dan tepat sasaran. Dengan demikian tujuan dari buku ini tercapai supaya sukses dalam negoisasi dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. 

Kekurangan yang saya dapatkan dari buku ini salah satunya adalah tidak ada kata-kata mengutip pengalaman penulis sendiri dalam negoisasi dalam karirnya. Dalam buku ini, bab 1 adalah kesimpulan dan bab selanjutnya penjelasan bagaimana tekniknya untuk menjadi negosiator handal dengan berbagai contoh pengalaman pakar lain dan opini dari penulis Rekomendasi menurut saya, seharusnya karena buku ini lebih dari seorang dosen akademik tetapi juga praktisi yang mengajarkan mahasiswanya berdasarkan teori dan pengalaman orang lain baik dari buku dan didengar dari pakar lain dan diramu dengan ide dari penulis sehingga tercetus buku ini sempurna. Supaya orang lain yang membaca mengikutinya dan jangan melakukan kesalahan yang sama dalam bernegoisasi. Memang kata-kata pengalaman penulis dalam karir tidak disebutkan dalam contoh di setiap bab. Namun, berkat penjelasan yang dilakukan penulis secara jelas dari awal sampai akhir, ide yang ingin disampaikan tetap dapat tersampaikan dan kita tahu bahwa terdapat pengalaman dari penulis sendiri karena penulis memberikan tips-tips yang artinya adalah inti sari dari pemikiran dan pengalaman penulis. 

Kekurangan yang saya dapatkan lagi hanya pada ilustrasi cover grafik sampul buku, sedangkan judul buku, warna buku dan aksesoris sudah sangat menarik hati saya maupun calon pembaca ketika ke toko buku. Ilustasi cover grafik berupa tangan yang bersalaman mengisyaratkan seperti seorang yang dengan senang hati setuju membuat kesepakatan dan membantu atau saling menolong dalam negoisasi namun posisi tangan yang satu berada di atas dan yang satu di bawah padahal dalam teori negoisasi ibarat pemain catur dimana keduanya punya kemampuan yang sama atau simetris bukan terlihat miring. Saya menyarankan agar grafik covernya dibuat sejajar atau simetri.  

Saya senang membaca buku ini karena di setiap perubahan bab dimana diperlukan penekanan tentang bab tersebut dicantumkan quotes dari para pakar atau tokoh dunia yang terkenal misalnya Bab 4 tentang Don’t Get Panic maka di halaman sebelumnya dicantumkan qoutes dari John F Kennedy yang mengatakan: Marilah kita tidak pernah bernegosiasi untuk mengatasi ketakutan. Namun biarlah kita tidak pernah takut untuk bernegosiasi.  

Saya memberikan rating bintang 5 karena alur penyajian dan kerangka berpikirnya seperti buku-buku luar negeri dengan alur berpikir AREL (Assertion, Reasoning, Example, Link Back),  isinya berbobot, idenya dan tips-tipsnya banyak memberikan new insight dan rekomendasi bagi praktisi maupun akademisi. 

Namun, pada akhirnya, semua kekurangan yang saya berikan kepada buku ini tetap tidak akan mengalahkan kehebatanya. Kesimpulanya, buku ini adalah buku yang memuat teori dan praktek yang hebat serta tips-tips yang yang sungguh mangagumkan. Saya sangat merekomendasikan buku ini kepada semua orang, bukan hanya untuk para business man agar menjalankan prinsip Good Corporate Governance tetapi juga kepada para pegawai ASN dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai prinsip Good Corporate Government sehingga menjadi pemimpin yang amanah untuk mengabdi kepada rakyat dan Negara, karena buku ini memang akan mengajarkan teknik dan prinsip serta strategi sukses dalam komunikasi efektif dan negoisasi. 

 

Employee of the Finance Ministry. The views expressed are his own. 

Disclaimer: The opinions expressed in this article are those of the author. 

Penulis : Antonius Suhenri, Seksi Piutang Negara I, Bidang Piutang Negara, Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu 

Daftar Pustaka: 

  1. 1. Musman, Asti : The Power of Negotiation, Sukses Negosiasi dengan Siapa Saja, Kapan Saja, & Dimana saja, Psikologi Corner, 2016 

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon